Showing posts with label Taubat. Show all posts
Showing posts with label Taubat. Show all posts

Tuesday, July 10, 2012

Pedagang Asongan

Ada seorang pedagang asongan di Stasiun Gambir, istrinya datang mengeluh ke pedagang asongan tersebut. menceritakan anaknya sedang butuh uang Rp. 70rb untuk bayar SPP anaknya. karena sudah beberapa bulan menunggak.

Istri : Bang, kita butuh uang Rp. 70rb, untuk bayar SPP anak kita. sudah beberapa bulan menunggak.
Pedagang Asongan : iya, moga besok jualan laku.
Istri : Bang, sholat-sholat. coba sholat, moga Allah memberi uang 70Rb besok. abang minta sama Allah malam ini abang minta allah, agar anak kita ga di keluarin, biar anak kita bisa sekolah.
Pedagang Asongan : iya kali ya, selama ini saya susah duit gara-gara susah sholat kali ya. ya udah, saya sholat deh. tapi tanggung sudah isya' besok aja kali ya?.
Istri : Bang, kalau abang bisa datang malam ini, datang malam ini biar rejeki datang besok pagi. kalau sholat besok pagi nanti rejeki dateng besok siang. sedang kita butuh besok pagi.
Pedagang Asongan : ow gitu ya? ya udah sholat ini ya?

Lalu Pedagang Asongan tersebut sholat isya, dan berdoa kepada Allah setelah sholat isya'.
Pedagang Asongan : Ya Allah, saya butuh Rp. 70Rb. Aamiin.

Subuh bangun lagi untuk sholat subuh. dan berdoa kepada Allah. dengan doa yang sama.
Pedagang Asongan : Ya Allah, saya butuh Rp. 70Rb. Aamiin.

Lalu Pedagang Asongan ini berangkat ke stasiun gambir untuk menjual dagangannya. dan Alhamdulillah sampai jam 8 tidak ada yang beli. sampai pedagang asongan tersebut mengeluh.

Pedagang Asongan : aku ga sholat rizki saya ada aja. meskipun cuman seribu, tapi tetep aja ada. eh saya sholat kok malah ga ada yang beli sama sekali.

wakttupun berjalan jam 9,10 dan 11. tetep aja ga ada yang beli sama sekali. pedagang itupun bilang.

Pedagang Asongan : kalau sampai jam 12 ga ada yang beli. udah dach, saya ga sholat lagi. baru sholat isya' ama subuh aja kayak gini. apalagi kalau sholat dhuhur? makin susah aja nanti.

Tapi dia inget pesen istrinya. "Bang, kalau nanti sampai dhuhur belum dapet rejeki, abang sholat lagi. entar kalau sholat dhuhur moga rejeki dateng pas sholat ashar."

Akhirnya pedagang itupun sholat dhuhur. dan berdoa kepada Allah setelah sholat dhuhur.

Pedagang Asongan : Ya Allah, kalau emang susah buat engkau, yang 70rb, ya udah ga usah di pikirin. pokoknya pulang nanti jangan sampai ga bawa duit. Aamiin...

setelah sholat dhuhur kembali menjual dagangannya. sampai asharpun tidak ada yang beli sama sekali. sehingga dia berpikir-pikir untuk sholat ashar atau enggak? bingung sampai hampir kelewat sholat ashar. akhirnya di putuskan untuk sholat ashar. "sholat aja dach".

Lalu pedangan asongan tersbut sholat di masjid dekat Stasiun gambir. lalu berdoa.

pedagang asongan : Ya Allah, masak permen satu aja ga laku....

setelah sholat ashar selesai. belum sempet keluar dari masjid. lalu ada seorang pemuda dateng.

Pemuda : Bang, ada permen asem manis?
Pedagang Asongan : (Kaget campur bingung, kok dia tahu saya pedangan asongan? ) eh, iya ada ada... butuh berapa?
Pemuda : satu biji aja Bang.
Pedagan Asongan : ( yach cuman satu biji? tega amat Allah. minta laku satu biji, sama allah beneran cuamn di kasih rejeki laku satu permen ). Ya udah bentar saya ambil.

Lalu pedagan asongan tersebut ambil permen yang di minta pemuda tersebut.

Pemuda : berapa ini bang?
Pedagang Asongan : yach, cuman satu aja. terserah dach mau kasih berapa...
Pemuda : (menyerahkan uang Rp. 100rb) ini pak
Pedagang Asongan : yach gede banget uangnya pak? ga ada kembalian. uang kecil aja dach. seribu aja. seribu.
Pemuda : Pak, bapak kan butuh uang Rp. 70rb, ini buat bapak, kembaliannya buat bapak.

Lalu pedagang asongan tersebut terharu dan menangis tersedu2 sehingga lupa dia belum berterima kasih kepada pemuda tersbut. dan mencari pemuda itu tapi tidak menemukannya..






source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Monday, July 2, 2012

Pintu surga telah terbuka

Diceritakan dari Abdul Wahid bin Zaid, bahwa dia menuturkan sebuah kisah menarik. Dia bercerita:
Suatu ketika aku berada dalam sebuah kapal, tiba-tiba kapal yang aku tumpangi bersama seluruh penumpang terbawa oleh angin kencang menuju ke sebuah pulau. Pulau itu sepertinya kosong, tidak berpenghuni. Aku kemudian berjalan menuju pulau itu dan mendapati seorang manusia yang sedang menyembah sebuah berhala. Dia sepertinya sedang khusuk dengan meditasinya itu.

Aku dan beberapa orang mencoba untuk mendekatinya. Melihat ada yang datang, dia menatapku dengan penuh selidik. Aku tersenyum, tanda persahabatan, dia membalas tersenyum.
"Engkau sembah berhala itu, padahal berhala itu adalah buatan manusia, " kataku.
"Kalau begitu, kalian sendiri menyembah apa?"
Sambil bertanya, dia berdiri seraya menatap kami yang datang.
"Kami menyembah Tuhan yang menciptakan langit, bumi dan laut."
"Siapa yang memberitahukan semua itu kepada kalian?"
"Dia mengutus seorang rasul – seorang utusan kepada kami."
"Apa yang dilakukan terhadap utusan itu?"
"Malaikat membawakan kepada-Nya."
"Apakah dia meninggalkan sesuatu atau tanda kepada kalian?"
"Ya, dia meninggalkan kitab dari malaikat itu."
"Tunjukkan sesuatu kepadaku dari kitab itu."

Aku lalu membacakan ayat-ayat Alquran dari surah Ar-Rahman. Mendengar aku membaca ayat-ayat suci Alquran Surah Ar-Rahman tersebut, dia mendengarkan penuh khusuk, sesekali telinganya didekatkan untuk menangkap suaraku. Aku terus membacakan ayat-ayat Alquran itu dibacakan. Tangisnya tiada henti sampai aku selesai membaca seluruh Surah Ar-Rahman tersebut.
"Tidaklah patut kita berbuat durhaka kepada pemilik firman suci ini." katanya dengan penuh keyakinan dan kemantapan.
Kemudian aku mengajak dia untuk masuk agam islam.
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah." dia mengucapkan kalimat syahadat dengan keyakinan yang mantap. Wajahnya penuh semangat. Akhirnya, orang itu kami ajak bersama untuk naik kapal yang kami tumpangi.
Ketika malam sudah gelap dan kami telah selesai melakukansalat isya, kami pun bersiap-siap untuk menuju tidur.
"Apakah Tuhan yang kalian beritahukan kepadaku itu tidur sebagaimana kalian tidur."
"Tidak, Tuhan kami tidak tidur. Dia hidup kekal dan Dia yang awal dan Dia pula yang akhir, serta Dia tidak tidur."
"Kalau begitu, kalian adalah sejelek-jeleknya hamba. Kalian tidur, sedangkan Tuhanmu tidak tidur. Tidakkah lebih baik malam ini kalian terus menyembahNya?"
Aku merasa kerdil dihadapan orang yang baru saja memeluk agama islam ini. Ternyata kecintaannya kepada Tuhan Yang Maha Pencipta begitu besar, begitu kuat. Sedangkan aku? Aku begitu kecil dihadapannya. Malam itupun kami bermunajat kepada Allah bersamanya.
Ketika kami tiba di tempat tujuan, dan dia meminta izin untuk menuju ke suatu tempat, kami kumpulkan beberapa uang untuknya, sekedar rasa simpatik.
"Untuk apa uang ini?"
"Ini uang untkmu. Engkau bisa pergunakan untuk keperluanmu."
"Kalian telah menunjuki suatu jalan yang aku tidak melihatnya sebelumnya. Dulu aku menyembah selain Allah, namun aku tidak terlantar. Apakah sekarang Allah akan menelantarkan aku, sedangkan aku kini telah mengenal-Nya?"
Lagi-lagi aku menjadi kecil di hadapan orang itu. Dia penuh dengan keyakinan akan Tuhan Allah yang baru dikenalnya.
Tiga hari setelah kejadian itu, aku memperoleh berita bahwa dia dalam keadaan sakit yang amat parah, bahkan dikabarkan bahwa dia sedang dalam sakaratul maut. Aku lalu menemui dia.
"Apakah engkau ada keperluan?" Tanyaku.
"Seluruh keperluanku telah dipenuhi oelh Tuhan yang mengeluarkan aku dari pulau itu. Aku akan tidur selamanya di tempat-Nya."
Beberapa hari setelah kejadian itu aku bermimpi. Aku melihat dalam mimpiku itu ada seorang gadis di suatu taman yang indah.
"Bawalah orang itu – orang yang baru masuk Islam itu – dengan penuh kedamaian dan kesejahteraan. Telah lama aku rindu kepadanya." Ucap gadis itu.
Mendengar ucapan gadis itu, aku terbangun. Dan aku mendapati orang itu-yang baru saja masuk islma-ternyata meninggal dunia. Dan kami pun segera menguburkannya.
Lagi-lagi di dalam tidurku, aku bermimpi bertemu dengan dia. Aku melihat dia memakai mahkota sedang berada di kapalnya. Dan di sisinya terdapat bidadari-bidadari. Dia tersenyum melihatku.
Dia membacakan ayat-ayat AlQur’an: Malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan):’keselamatan atas kamu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.’ (QS. Ar-Ra’d: 23-24)source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Monday, June 25, 2012

Filosofi Botol Kecap

Dikisahkan ada seorang pengusaha kaya yang tampak bahagia. Uang bukan masalah baginya. Usahanya maju, dia jarang rugi, hampir semua bisnisnya mendatangkan keuntungan berlipat. Seakan-akan, uang itu mengejar-ngejar dirinya.

Dia pun memiliki istri yang cantik, anak-anak yang sehat dan lucu. Akan tetapi, di balik kesuksesannya itu ada banyak perilaku buruk yang dia lakukan. Pengusaha ini gemar melakukan maksiat.

Karena berkantong tebal, dia dengan mudah bisa bergonta-ganti pasangan alias main perempuan, melakukan kecurangan dalam bisnis, mengonsumsi makanan dan minuman haram, dan beragam kemaksiatan lainnya.

Sampai suatu ketika, dia mengalami sebuah peristiwa yang mengubah hidupnya. Anaknya yang berusia tiga tahun meninggal dunia karena kecelakaan yang disebabkan keteledoran dirinya. Peristiwa itu membawa perubahan dalam dirinya.


Dia bertobat dan bertekad untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang biasa dia lakukan. Dia pun mulai belajar melakukan shalat, pergi ke masjid, melaksanakan puasa Ramadhan, dan sebagainya.

Di tengah upaya perbaikan diri itulah, krisis moneter yang menghantam pada tahun 1998 telah membawa perubahan drastis dalam bisnisnya. Perlahan, tetapi pasti, dia mengalami kebangkrutan. Satu per satu perusahaan miliknya gulung tikar dan berpindah tangan.

Utangnya membengkak sehingga tabungan dan depositonya di bank serta properti dan kendaraannya habis untuk menutupi utang-utangnya itu. Jika sebelumnya kata "gagal" dan "rugi" seakan menjauh darinya, sekarang kedua kata itu seakan lekat dengannya.

Jika sebelumnya gelimang rupiah demikian mudah dia dapatkan, sekarang uang recehan pun seakan enggan mendekat kepadanya. Telah berkali-kali, dia mencoba bangkit, merintis kembali bisnisnya, tetapi berkali-kali pula dia gagal. Tumpukan emosi negatif seakan tumpah ruah di otaknya.

Dalam kesulitan hidup yang mengimpit tersebut, dia mempertanyakan keadilan Tuhan. Saat tenggelam dalam kemaksiatan, begitu mudahnya rezeki didapat, tetapi setelah meninggalkan kemaksiatan, rezeki pun ikut meninggalkan dirinya.

"Apakah ada yang salah? Ke mana doa-doa yang selama ini dia panjatkan? Apakah Tuhan tidak mendengar atau tidak sudi mengabulkan doaku? Bukankah Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang serta akan mengabulkan doa-doa dari setiap hamba-Nya?"

Begitu keluhnya. Memang, di tengah kesulitan itu, kuantitas ibadah semakin berlipat-lipat. Namun, itu semua seakan belum cukup untuk mengembalikannya pada "kehidupan normal".

Berkali-kali, dia mendatangi ustaz dan kiai untuk meminta doa dan nasihat. Saat diberi doa atau amalan tertentu, dia akan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Namun, lagi-lagi semuanya berakhir dengan kekecewaan. Dia pun mulai meragukan para kiai dan ustaz tersebut yang katanya hanya pandai berteori. Mana buktinya?

Di ambang keputusasaan, pertolongan Allah pun datang melalui salah seorang kenalannya. Dia adalah seorang dosen agama di sebuah perguruan tinggi ternama. Dosen itu tidak membawakannya uang, menawarkan kerja sama bisnis, atau hal lain yang bersifat materi.

Namun, dia membawa nasihat yang mampu mengubah paradigma berpikir mantan pengusaha kaya ini. Tidak banyak dalil yang dia ungkapkan. Dia hanya memberikan analogi dan perlambang saja.

Katanya, "Seseorang tidak bisa mengisi botol penuh kecap dengan air putih, sebelum kecapnya dibuang terlebih dahulu. Baru setelah itu, kita bisa memasukkan air putih. Itu pun masih ada sisa-sisa kecap yang belum terbuang sehingga air yang kita masukkan masih akan bercampur dan berwarna hitam. Air itu harus dibuang lagi sehingga botol benar-benar bersih dari kecap. Baru setelah itu, air yang kita masukkan benar-benar bening karena tidak tercampur lagi dengan kecap. Analoginya, kecap itu adalah harta yang kita miliki dan air putih itu adalah doa dan amal ibadah yang kita lakukan. Antara maksiat dan kebaikan tidak akan mungkin bisa bersatu. Karena itu, ketika seseorang ingin menyucikan dirinya, semua kotoran yang ada dalam diri dan harta harus dibuang dan dibersihkan. Ada banyak skenario Tuhan untuk 'membersihkan' harta seseorang sehingga harta kotor yang dimilikinya benar-benar terkuras, mungkin dibangkrutkan usahanya, kena tipu, dan sebagainya. Andaipun semuanya sudah terkuras, boleh jadi masih ada kotoran yang masih tersisa dalam diri dan harta. Allah Swt. akan meinbersihkannya dengan penyakit, musibah, atau lainnya, sembari dia menahan rezeki dari orang itu. Nah, ketika dia sudah benar-benar bersih, Allah Swt. akan membukakan jalan rezeki yang halal kepadanya. Yang jadi masalah, apakah kita sabar atau tidak dalam proses pembersihan itu?"

Nasihat ini mampu menjawab pertanyaannya selama ini tentang keadilan Tuhan, tentang ijabah doa, tentang makna pertobatannya. Allah Swt. mengambil sebagian besar kekaya-annya bukan karena Allah benci, melainkan Allah amat sayang dan cinta kepada hamba-hamba-Nya yang bertobat.

Sebabnya, bagaimana mungkin mengisikan nasi dan sup yang lezat ke dalam mangkuk yang blepotan dengan kotoran. Tentu sangat bijak jika mangkuk itu dibersihkan terlebih dahulu. Begitu pula qada Allah, sebelum menuangkan limpahan rahmat dan ampunan-Nya, dia akan membersihkan orang tersebut dari jelaga kemaksiatan yang masih hinggap dalam diri dan hartanya.

Beberapa tahun berlalu, mantan pengusaha kaya ini sudah berada kembali di jalur kesuksesan bisnisnya. Walau belum sesukses dahulu, tanda-tanda ke arah itu sudah mulai terlihat di hadapannya. Ibaratnya, dia tengah mengisi botol nasibnya dengan air putih keberhasilan setelah dia menumpahkan hitamnya air kemaksiatan.

Rentetan kegagalan dalam bisnis telah membawa perubahan positif dalam diri pengusaha ini walau sebelumnya dia nyaris jatuh pada keputusasaan. Filosofi botol kecap yang disampaikan temannya telah membuka sudut pandang baru terhadap makna ujian dan makna hidup yang sebenarnya.

Dalam bahasa manajemen, pengusaha ini telah mengalami reinventing atau menemukan kembali tujuan hidupnya. Dalam Al Qur'an, ada sebuah pertanyaan, fa aina tadzhabun? Ke mana engkau hendak pergi? Satu pertanyaan yang dilontarkan kepada Nabi Ibrahim seperti tertera dalam QS At Takwir, 81: 26.

"Maka ke manakah kamu akan pergi?"

Jawabannya ada dalam QS Ash Shaffat, 37: 99, "Dan dia (Ibrahim) berkata, 'Sesungguhnya aku harus pergi (mengha-dap) kepada Tuhanku, dia akan memberi petunjuk kepadaku.'" Artinya, Nabi Ibrahim menemukan kembali Allahnya di situ.
source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com