Showing posts with label Ketaatan. Show all posts
Showing posts with label Ketaatan. Show all posts

Thursday, October 4, 2012

Wanita Pertama yg Masuk Surga

Adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah. Wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali..!! Kaget? Sama seperti Fatimah ketika itu, yang mengira dirinyalah yang pertama kali masuk surga.

Siapakah Muti’ah?
Karena rasa penasaran yang tinggi, Fatimah pun mencari seorang wanita yang bernama Muti’ah ketika itu. Beliau juga ingin tahu, amal apakah yang bisa membuat wanita itu bisa masuk surga pertama kali?

Setelah bertanya-tanya, akhirnya Fatimah mengetahui rumah seorang wanita yang bernama Muti’ah. Kali ini ia ingin bersilaturahmi ke rumah wanita tersebut, ingin melihat lebih dekat kehidupannya. Waktu itu, Fatimah berkunjung bersama si kecil, Hasan. Setelah mengetuk pintu, terjadilah dialog.

“Di luar, siapa?” kata Muti’ah tidak membukakan pintu.
“Saya Fatimah, putri Rasulullah”

“Oh, iya. Ada keperluan apa?”
“Saya hanya berkunjung saja”

“Anda seorang diri atau bersama dengan lainnya?”
“Saya bersama dengan anak saya, Hasan?”

“Maaf, Fatimah. Saya belum mendapatkan izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki”

“Tetapi Hasan masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga kan? Maaf ya. Kembalilah besok, saya akan meminta izin dulu kepada suami saya”
“Baiklah” kata Fatimah dengan nada kecewa. Setelah mengucapkan salam, ia pun pergi.

***


Keesokan harinya, Fatimah kembali berkunjung ke rumah Muti’ah. Selain mengajak Hasan, ternyata Husein (saudara kembar Hasan) merengek meminta ikut juga. Akhirnya mereka bertiga pun berkunjung juga ke rumah Muti’ah. Terjadilah dialog seperti hari kemarin.

“Suami saya sudah memberi izin bagi Hasan”
“Tetapi maaf, Muti’ah. Husein ternyata merengek meminta ikut. Jadi saya ajak juga!”

“Dia perempuan?”
“Bukan, dia lelaki”
“Wah, saya belum memintakan izin bagi Husein.”

“Tetapi dia juga masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia juga lelaki. Maaf ya. Kembalilah esok!”
“Baiklah” Kembali Fatimah kecewa.

***

Namun rasa penasarannya demikian besar untuk mengetahui, rahasia apakah yang menyebabkan wanita yang akan dikunjunginya tersebut diperkanankan masuk surga pertama kali.

Akhirnya hari esok pun tiba. Fatimah dan kedua putranya kembali mengunjungi kediaman Mutiah. Karena semuanya telah diberi izin oleh suaminya, akhirnya mereka pun diperkenankan berkunjung ke rumahnya.

Betapa senangnya Fatimah karena inilah kesempatan bagi dirinya untuk menguak misteri wanita tersebut. Menurut Fatimah, wanita yang bernama Muti’ah sama juga seperti dirinya dan umumnya wanita.

Ia melakukan shalat dan lainnya. Hampir tidak ada yang istimewa. Namun, Fatimah masih penasaran juga. Hingga akhirnya ketika telah lama waktu berbincang, “rahasia” wanita itu tidak terkuak juga. Akhirnya, Muti’ah pun memberanikan diri untuk memohon izin karena ada keperluan yang harus dilakukannya.

“Maaf Fatimah, saya harus ke ladang!”
“Ada keperluan apa?”

“Saya harus mengantarkan makanan ini kepada suami saya”
“Oh, begitu”

Tidak ada yang salah dengan makanan yang dibawa Muti’ah yang disebut-sebut sebagai makanan untuk suaminya. Namun yang tidak habis pikir, ternyata Muti’ah juga membawa sebuah cambuk.

“Untuk apa cambuk ini, Muti’ah?” kata Fatimah penasaran.
“Oh, ini. Ini adalah kebiasaanku semenjak dulu”
Fatimah benar-benar penasaran. “Ceritakanlah padaku!”

“Begini, setiap hari suamiku pergi ke ladang untuk bercocok tanam. Setiap hari pula aku mengantarkan makanan untuknya. Namun disertai sebuah cambuk. Aku menanyakan apakah makanan yang aku buat ini enak atau tidak, apakah suaminya seneng atau tidak. Jika ada yang tidak enak, maka aku ikhlaskan diriku agar suamiku mengambil cambuk tersebut kemudian mencambukku. Ini aku lakukan agar suamiku ridlo dengan diriku. Dan tentu saja melihat tingkah lakuku ini, suamiku begitu tersentuh hatinya. Ia pun ridlo atas diriku. Dan aku pun ridlo atas dirinya”

“Masya Allah, hanya demi menyenangkan suami, engkau rela melakukan hal ini, Muti’ah?”
“Saya HANYA MEMERLUKAN KERIDHOANNYA. Karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada SUAMI-YANG-BAIK dan sang suami ridlo kepada istrinya”

“Ya… ternyata inilah rahasia itu”
“Rahasia apa ya Fatimah?” Mutiah juga penasaran.
“Rasulullah mengatakan bahwa dirimu adalah wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali. Ternyata semua gara-gara baktimu yang tinggi kepada seorang suami yang sholeh.”

***

Subhanallah,
intinya :
Seorang anak berusaha mencari keridhoaan ORTU-nya...
Dan jika anda seorang istri carilah bagaimana mendapatkan keridho'an suami.!!source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Monday, July 16, 2012

Mendahulukan Allah SWT

Ibnu Abbas r.a menceritakan keadaan para sahabat yang disibukkan dengan pekerjaan dan perdagangannya. Tatkala azan berkumandang, mereka langsung meninggalkan pekerjaan dan perdagangannya, kemudian berduyun-duyun menuju masjid untuk shalat berjamaah.

Begitu pula yang disaksikan oleh Abdullah bin Umar r.a ketika datang ke sebuah pasar. Ketika tiba waktu shalat berjemaah, para pedagang serentak menutup toko-toko mereka dan bersama-sama berjalan menuju masjid.

Abdullah bin Umar r.a berkata, "Mereka inilah yang diberitakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, 'Orang yang tidak dilalaikan oteh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat).' " (
QS. An-Nur [24]: 37)

Rasulullah saw memberitakan mereka dalam sabdanya, yang dikutip dari kitab Durul Mantsur karangan Allamah Jalaluddin Suyuti dari Fadhail 'Amal, Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandhalawi r.a, "Pada hari kiamat ketika Allah SWT mengumpulkan manusia pada suatu tempat, Aliah SWT akan mensajukan tiga pertanyaan. Pertanyaan pertama, "Siapakah yang memuji Allah pada waktu senang dan susah?" Maka sekumpulan manusia akan bangun, lalu masuk ke dalam surga tanpa hisab. Pertanyaan kedua, "Siapakah yang meninggalkan tempat tidurnya dan menghabiskan malamnya untuk mengingat Altah SWT dengan perasaan takut dan penuh harap?" Lalu, sekumpulan manusia akan berdiri dan masuk ke dalam surga tanpa hisab. Pertanyaan ketiga, "Siapakah yang perdagangannya tidak menghalanginya dari mengingat Allah?" Kemudian sekumpulan manusia pun akan bangun, lalu masuk surga tanpa hisab. Setelah ketiga kumpulan manusia itu masuk surga, barulah dimulai penghisaban atas manusia yang lainnya."
source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Allah SWT sebagai Saksi

Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bercerita tentang dua orang Bani Israel yang meminjamkan uang sebesar 1.000 dinar kepada temannya. Uang sebesar itu bukanlah jumlah yang sedikit. Kemudian si pemberi utang meminta temannya yang akan ia pinjami uang untuk mendatangkan seorang saksi.

Ia berkata, "Datangkanlah beberapa saksi agar mereka menyaksikan utang piutang ini."

Temannya menjawab, "Cukuplah Allah sebagai saksi bagiku!"

Kemudian si pemberi utang meminta lagi, "Datangkanlah seseorang yang bisa menjamin utangmu!"

Temannya kembali menjawab, "Cukuplah Allah yang menjaminku!"

Pemberi utang pun berkata, "Engkau benar!"

Setelah itu, ia memberikan 1.000 dinar kepada temannya dan menetapkan waktu pengembaliannya. Semua didasarkan atas saling percaya karena mereka menjadikan Allah SWT sebagai saksi dan penjamin.
Namun, kapal yang menuju daerahnya tidak kunjung tiba. Ia pun berusaha mencari kapal yang dapat membawanya kembali, tetapi hasilnya nihil. Kemudian ia pun mengambil sebatang kayu dan melubanginya, lalu memasukkan uang 1.000 dinar ke dalamnya dan sebuah surat kepada temannya.


Setelah menutup rapat kayu tersebut, ia menuju laut seraya berkata, "Ya Allah, sungguh Engkau telah mengetahui bahwa aku meminjam uang kepada teman saya sebanyak 1.000 dinar. Ia memintaku seorang penjamin dan kukatakan bahwa cukup Engkau sebagai penjamin dan ia rela dengannya. Aku pun telah berusaha keras untuk mendapatkan kapal agar dapat mengembalikan uang yang telah aku pinjam darinya, tetapi aku tidak mendapatkan kapal itu. Karena itu, aku titipkan ia kepada-Mu."

Lalu, ia melemparkan kayu berisi uang yang jumlahnya besar tersebut ke laut sehingga terapung-apung, lalu ia pulang.

Sementara itu, temannya yang memberi utang menyusuri tepian laut menanti kedatangan temannya yang akan melunasi utang. Namun, ia tidak melihat satu kapal pun bertepi di lautnya. Tiba-tiba ia melihat potongan kayu terdampar di hadapannya. Terbesit dalam pikirannya untuk menggunakan kayu tersebut sebagai kayu bakar. Kemudian dibawalah kayu itu pulang ke
rumah.

Setibanya di rumah, ia membelah kayu tersebut bersama istrinya. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat di dalamnya terdapat uang 1.000 dinar. Tidak kurang dan tidak lebih.

Mereka membaca surat yang diselipkan di dalam kayu tersebut. Akhirnya, mereka tahu bahwa kayu itu adalah kiriman temannya yang berutang untuk melunasi utangnya. Mereka pun memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah mengantarkan kayu tersebut hingga sampai kepada yang berhak.

Beberapa hari kemudian, teman yang dulu berutang datang ke rumah temannya yang meminjami utang. Ia belum tahu kalau kayu itu telah sampai dengan selamat ke tujuannya.

Kemudian ia membawa uang 1.000 dinar untuk dibayarkan seraya berkata, "Demi Allah, aku terus berusaha untuk mendapatkan kapal agar bisa sampai kepadamu dengan uangmu, tetapi aku sama sekali tidak mendapatkan kapal. Baru sekarang aku bisa memperoleh kapal yang mengantarku kemari."

Teman yang memberi pinjaman berkata, "Bukankah engkau telah melunasi utangmu?"

Temannya menjawab, "Bukankah aku telah beritahukan kepadamu bahwa aku tidak mendapatkan kapal sebelum ini dan baru sekarang aku tiba di sini?"

"Sesungguhnya Allah telah menunaikan apa yang telah engkau kirimkan kepadaku melalui kayu. Oleh karena itu, bawalah uang 1.000 dinarmu kembali. Semoga keberkahan senantiasa menyertaimu!"

Akhirnya, mereka berdua benar-benar menyaksikan bahwa utang piutang antara mereka melibatkan pertolongan Allah SWT yang nyata sebagai saksi dan penjamin.

Kisah ini merupakan penjelasan ayat Al-Qur'an Surat Ali Imran [3]: 75-76, "Dan di antaraAhli Kitab ada yang jika engkau percayakan kepadanya harta yang banyak, niscaya dia mengembalikannya kepadamu. Tetapi ada (pula) di antara mereka yang jika engkau percayakan kepadanya satu dinar, dia tidak mengembalikannya kepadamu, kecuali jika engkau selalu menagihnya. Vam» demikian itu disebabkan mereka berkata, "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang buta huruf." Mereka mengatakan hai yang dusta terhadap Allah, padahal mereko mengetahui. Sebenarnya barangsiapa menepati janji dan bertakwa maka sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertakwa." (
QS Ali Imran [3]: 75-76)

Kemudian teman yang berutang itu pun pergi berlayar untuk suatu keperluan. Waktu berlalu dan tibalah waktu pembayaran utang yang telah mereka sepakati. Teman yang berutang mencari kapal agar ia dapat kembali ke daerahnya untuk melunasi utangnya.source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Monday, July 2, 2012

MALAM PESTA SEORANG PENGANTIN WANITA

Kisah nyata yang diceritakan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al Ahmad ini terjadi di Abha, ibu kota Provinsi Asir Arab Saudi.

“Setelah melaksanakan shalat Maghrib dia berhias, menggunakan gaun pengantin putih yang indah, mempersiapkan diri untuk pesta pernikahannya. Lalu dia mendengar azan Isya, dan dia sadar kalau wudhunya telah batal.

Dia berkata pada ibunya : “Bu, saya mau berwudhu dan shalat Isya.”

Ibunya terkejut : “Apa kamu sudah gila? Tamu telah menunggumu untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu? Semuanya akan terbasuh oleh air.”

Lalu ibunya menambahkan : “Aku ibumu, dan ibu katakan jangan shalat sekarang! Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, ibu akan marah kepadamu”


Anaknya menjawab : “Demi Allah, saya tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga saya shalat. Ibu, ibu harus tahu “bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Pencipta”!!

Ibunya berkata : “ Apa yang akan dikatakan tamu-tamu kita tentang mu, ketika kamu tampil dalam pesta pernikahanmu tanpa make-up?? Kamu tidak akan terlihat cantik dimata mereka! dan mereka akan mengolok-olok dirimu !

Anak nya berkata dengan tersenyum : “Apakah ibu takut karena saya tidak akan terrlihat cantik di mata makhluk? Bagaimana dengan Penciptaku? Yang saya takuti adalah jika dengan sebab kehilangan shalat, saya tidak akan tampak cantik dimata-Nya”.

Lalu dia berwudhu, dan seluruh make-up nya terbasuh. Tapi dia tidak merasa bermasalah dengan itu.

Lalu dia memulai shalatnya. Dan pada saat itu dia bersujud, dia tidak menyadari itu, bahwa itu akan menjadi sujud terakhirnya.

Pengantin wanita itu wafat dengan cara yang indah, bersujud di hadapan Pencipta-Nya.

Ya, ia wafat dalam keadaan bersujud. Betapa akhir yang luar biasa bagi seorang muslimah yang teguh untuk mematuhi Tuhannya!

Banyak orang tersentuh mendengarkan kisah ini. Ia telah menjadikan Allah dan ketaatan kepada-Nya sebagai prioritas pertama.

--- SubhanAllah...---source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Pintu surga telah terbuka

Diceritakan dari Abdul Wahid bin Zaid, bahwa dia menuturkan sebuah kisah menarik. Dia bercerita:
Suatu ketika aku berada dalam sebuah kapal, tiba-tiba kapal yang aku tumpangi bersama seluruh penumpang terbawa oleh angin kencang menuju ke sebuah pulau. Pulau itu sepertinya kosong, tidak berpenghuni. Aku kemudian berjalan menuju pulau itu dan mendapati seorang manusia yang sedang menyembah sebuah berhala. Dia sepertinya sedang khusuk dengan meditasinya itu.

Aku dan beberapa orang mencoba untuk mendekatinya. Melihat ada yang datang, dia menatapku dengan penuh selidik. Aku tersenyum, tanda persahabatan, dia membalas tersenyum.
"Engkau sembah berhala itu, padahal berhala itu adalah buatan manusia, " kataku.
"Kalau begitu, kalian sendiri menyembah apa?"
Sambil bertanya, dia berdiri seraya menatap kami yang datang.
"Kami menyembah Tuhan yang menciptakan langit, bumi dan laut."
"Siapa yang memberitahukan semua itu kepada kalian?"
"Dia mengutus seorang rasul – seorang utusan kepada kami."
"Apa yang dilakukan terhadap utusan itu?"
"Malaikat membawakan kepada-Nya."
"Apakah dia meninggalkan sesuatu atau tanda kepada kalian?"
"Ya, dia meninggalkan kitab dari malaikat itu."
"Tunjukkan sesuatu kepadaku dari kitab itu."

Aku lalu membacakan ayat-ayat Alquran dari surah Ar-Rahman. Mendengar aku membaca ayat-ayat suci Alquran Surah Ar-Rahman tersebut, dia mendengarkan penuh khusuk, sesekali telinganya didekatkan untuk menangkap suaraku. Aku terus membacakan ayat-ayat Alquran itu dibacakan. Tangisnya tiada henti sampai aku selesai membaca seluruh Surah Ar-Rahman tersebut.
"Tidaklah patut kita berbuat durhaka kepada pemilik firman suci ini." katanya dengan penuh keyakinan dan kemantapan.
Kemudian aku mengajak dia untuk masuk agam islam.
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah." dia mengucapkan kalimat syahadat dengan keyakinan yang mantap. Wajahnya penuh semangat. Akhirnya, orang itu kami ajak bersama untuk naik kapal yang kami tumpangi.
Ketika malam sudah gelap dan kami telah selesai melakukansalat isya, kami pun bersiap-siap untuk menuju tidur.
"Apakah Tuhan yang kalian beritahukan kepadaku itu tidur sebagaimana kalian tidur."
"Tidak, Tuhan kami tidak tidur. Dia hidup kekal dan Dia yang awal dan Dia pula yang akhir, serta Dia tidak tidur."
"Kalau begitu, kalian adalah sejelek-jeleknya hamba. Kalian tidur, sedangkan Tuhanmu tidak tidur. Tidakkah lebih baik malam ini kalian terus menyembahNya?"
Aku merasa kerdil dihadapan orang yang baru saja memeluk agama islam ini. Ternyata kecintaannya kepada Tuhan Yang Maha Pencipta begitu besar, begitu kuat. Sedangkan aku? Aku begitu kecil dihadapannya. Malam itupun kami bermunajat kepada Allah bersamanya.
Ketika kami tiba di tempat tujuan, dan dia meminta izin untuk menuju ke suatu tempat, kami kumpulkan beberapa uang untuknya, sekedar rasa simpatik.
"Untuk apa uang ini?"
"Ini uang untkmu. Engkau bisa pergunakan untuk keperluanmu."
"Kalian telah menunjuki suatu jalan yang aku tidak melihatnya sebelumnya. Dulu aku menyembah selain Allah, namun aku tidak terlantar. Apakah sekarang Allah akan menelantarkan aku, sedangkan aku kini telah mengenal-Nya?"
Lagi-lagi aku menjadi kecil di hadapan orang itu. Dia penuh dengan keyakinan akan Tuhan Allah yang baru dikenalnya.
Tiga hari setelah kejadian itu, aku memperoleh berita bahwa dia dalam keadaan sakit yang amat parah, bahkan dikabarkan bahwa dia sedang dalam sakaratul maut. Aku lalu menemui dia.
"Apakah engkau ada keperluan?" Tanyaku.
"Seluruh keperluanku telah dipenuhi oelh Tuhan yang mengeluarkan aku dari pulau itu. Aku akan tidur selamanya di tempat-Nya."
Beberapa hari setelah kejadian itu aku bermimpi. Aku melihat dalam mimpiku itu ada seorang gadis di suatu taman yang indah.
"Bawalah orang itu – orang yang baru masuk Islam itu – dengan penuh kedamaian dan kesejahteraan. Telah lama aku rindu kepadanya." Ucap gadis itu.
Mendengar ucapan gadis itu, aku terbangun. Dan aku mendapati orang itu-yang baru saja masuk islma-ternyata meninggal dunia. Dan kami pun segera menguburkannya.
Lagi-lagi di dalam tidurku, aku bermimpi bertemu dengan dia. Aku melihat dia memakai mahkota sedang berada di kapalnya. Dan di sisinya terdapat bidadari-bidadari. Dia tersenyum melihatku.
Dia membacakan ayat-ayat AlQur’an: Malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan):’keselamatan atas kamu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.’ (QS. Ar-Ra’d: 23-24)source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Monday, June 25, 2012

Penjaga Malam

Imam Baihaqi meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. hendak bermalam di sebuah tempat sepulangnya dari peperangan. Beliau dan pasukannya mendirikan perkemahan di sana. Ammar bin Yasir r.a dari kaum Muhajirin dan Abbad bin Bashir r.a dari golongan Anshar menawarkan diri untuk menjaga kemah Rasulullah saw.

Mereka pun berjaga di puncak bukit yang kemungkinan akan dilalui oleh musuh. Abbad r.a berkata kepada Ammar r.a, "Bagaimana kalau kita berjaga secara bergiliran? Sekarang aku yang berjaga dan kamu boleh tidur. Berikutnya giliran kamu yang berjaga dan aku yang tidur."

Ammar r.a menyetujuinya, lalu merebahkan diri dan langsung terlelap dengan nyenyaknya. Sambil berjaga, Abbad r.a melaksanakan shalat. Tiba-tiba sebatang anak panah musuh menancap di tubuhnya. Disusul dengan dua anak panah berikutnya.


Ia pun segera menyelesaikan shalatnya, lalu mencabut ketiga anak panah tersebut. Setelah itu, ia membangunkan sahabatnya yang tertidur, "Hai, Ammar! Bangunlah, ada musuh!"
Mereka berdua pun menembus kegelapan malam mencari musuh penembak anak panah tersebut. Namun, mereka kalah cepat. Musuh telah lebih dahulu kabur.

Situasi pun aman kembali. Ammar r.a terkejut ketika menyadari bahwa tubuh Abbad r.a sudah berlumuran darah. Ia pun bertanya kepada Abbad r.a, "Subhanallah, mengapa kamu tidak membangunkanku?"

Abbad r.a menjelaskan peristiwa yang menimpanya, "Ketika aku berjaga, aku melaksanakan shalat dan tengah membaca Surat Al-Kahfi. Aku tidak akan ruku' sebelum menyelesaikan bacaan surat itu. Namun, ketika aku merasa anak panah ketiga menembus tubuhku, aku khawatir dengan keselamatan Rasulullah saw. Lalu, aku segera menyelesaikan shalatku dan membangunkanmu. Jika tidak, sudah pasti aku akan menamatkan bacaan surat tersebut sebelum ruku' meskipun aku akan mati tertancap panah musuh."
source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Thursday, June 14, 2012

Kubah Ajaib

Suatu hari, Nabi Sulaiman menerima wahyu dari Allah agar pergi ke tepian sebuah pantai untuk menyaksikan keajaiban yang akan ditunjukkan Allah kepadanya. Beliau pun segera pergi ke pantai tersebut dengan diiringi para pengikutnya.

Setibanya di pantai, Nabi Sulaiman terus mengintai-ngintai untuk mencari sesuatu, seperti yang dikatakan oleh Allah. Setelah lama mencari, dia tidak menjumpai apa pun selain desiran ombak dan butir-butir pasir yang terhampar luas.

Perdana menterinya yang bernama Asif bin Barkhiya meminta izin untuk menyelam ke dalam samudra. Setelah mendapat izin, dia membaca sesuatu dan terus menyelam ke dalam laut. Tidak lama kemudian, Asif menjumpai sebuah kubah yang sangat indah.
Dengan kuasa yang diberikan oleh Allah, Asif dapat membawa kubah tersebut naik ke darat dan diletakkan di hadapan Nabi Sulaiman. Putra Nabi Daud ini sangat takjub melihat keindahan kubah tersebut. dia segera masuk dan mendapati seorang pemuda berada di dalamnya. meninggal dunia, dia memanggil si Pemuda

Setelah ibunya meninggal dunia, tidak lama kemudian, ayahnya pun meninggal dunia. Sebelum meninggal dunia, dia juga telah ridha terhadap pengkhidmatan yang diberikan olehnya. Dia pun berdoa agar anaknya diletakkan di suatu tempat yang tidak dapat diganggu oleh setan.

Doa kedua orang tuanya itu diijabah oleh Allah 'Azza wa Jalla. Suatu hari, ketika pemuda itu berjalan-jalan di tepian pantai, dia melihat sebuah kubah yang sedang terapung di tepian pantai. Ketika dia menghampiri kubah tersebut, ada suara yang menyeru agar dia masuk ke dalamnya.

Ketika sudah berada di dalam, tiba-tiba saja kubah tersebut bergerak dan masuk ke dasar lautan. Tidak lama kemudian, datanglah seseorang yang memperkenalkan diri sebagai
Pemuda tersebut tidak sadar kalau kubahnya telah diangkat ke daratan. Dia tengah sibuk bermunajat kepada Allah. Nabi Sulaiman memberi salam. Pemuda itu menyambut salam dengan perasaan terkejut. Nabi Sulaiman memperkenalkan dirinya kepada pemuda itu, yaitu bahwa dia adalah seorang nabi yang diperintahkan Allah untuk melihat keajaiban yang dikaruniakan kepadanya.

Nabi Sulaiman bertanya kepada pemuda tersebut, bagai-mana dia bisa berada di dalam kubah yang terletak di dasar laut. Pemuda tersebut menceritakan bahwa dia telah berkhidmat kepada orang tuanya selama tujuh puluh tahun. Ayahnya adalah seorang yang lumpuh, sedangkan ibunya seorang yang buta.

Suatu hari, ketika ibunya hendak

Kubah tersebut mempunyai empat penjuru, setiap penjuru mempunyai pintu. Pintu pertama terbuat dari mutiara, pintu kedua terbuat dari zamrud berwarna merah, pintu ketiga terbuat dari jauhar, sedangkan pintu keempat terbuat dari zabarjad. Pintu-pintu tersebut terbuka luas, tetapi sangat aneh, air tidak masuk ke dalamnya.
malaikat utusan Allah. Dia mengatakan, bahwa kubah itu adalah anugerah Allah kepadanya sebagai balasan atas pengabdiannya kepada kedua orang tuanya.

Dia pun boleh tinggal sesukanya di sana tanpa perlu mengkhawatirkan segala kebutuhan hidupnya. Malaikat itu mengatakan bahwa dia diperintahkah Allah untuk membawa kubah tersebut ke dasar laut. Sejak itulah, sang Pemuda terus bermunajat kepada Allah sampai Allah berkenan mengangkatnya ke darat.

"Berapa lama engkau telah berada di dalam kubah ini?" tanya Nabi Sulaiman.

Pemuda itu menjawab, "Saya tidak menghitungnya, tetapi saya memasukinya pada masa Nabi Ibrahim."

Nabi Sulaiman terdiam lalu berkata, "Itu artinya, engkau telah berada di dalam kubah ini selama dua ribu empat ratus tahun." Nabi Sulaiman melanjutkan, "Wajahmu tidak berubah, malah tetap muda walaupun sudah dua ribu empat ratus tahun lamanya. Bagaimana engkau bisa hidup di dalam kubah di dasar lautan itu?" tanya Nabi Sulaiman.

"Di dalam kubah itu sendiri, aku tidak tahu di mana berada. Di langitkah atau di udara, tetapi Allah tetap memberikan rezeki kepadaku ketika aku tinggal di dalam kubah ini."

"Bagaimana Allah memberi makan kepadamu?"

"Jika aku merasa lapar, Allah menciptakan pohon di dalam kubah lalu buahnya aku makan. Jika aku merasa haus, keluarlah air yang teramat bersih, lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu."

"Bagaimana engkau mengetahui perbedaan siang dan malam?" tanya Sulaiman semakin heran.

"Apabila telah terbit fajar, kubah ini menjadi putih, dari situ aku mengetahui kalau hari itu sudah siang. Apabila matahari terbenam, kubah akan menjadi gelap dan aku mengetahui hari sudah malam," tuturnya.

Nabi Sulaiman pun bertanya apakah sang Pemuda mau ikut bersamanya atau tetap tinggal di dalam kubah.

"Nikmat apa lagi yang harus aku minta selain dari nikmat yang dikaruniakan oleh Allah kepadaku ini," jawabnya.

"Adakah engkau ingin pulang ke tempat asalmu."

"Ya, antarkanlah aku ke tempat asalku."

Setelah kubah tersebut kembali ke tempat asalnya, Nabi Sulaiman berkata kepada kaumnya, "Kalian telah melihat keajaiban yang dikaruniakan oleh Allah. Lihatlah betapa besar balasan yang Allah berikan kepada orang yang taat kepada orang tuanya dan betapa besar siksaannya kepada orang yang durhaka kepada kedua ibu-bapaknya."

Beliau pun beranjak meninggalkan tempat tersebut dan bersyukur kepada Allah karena telah memberikan kesempatan untuk menyaksikan salah satu kekuasaan-Nya.
source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com