Tuesday, May 1, 2012

Usai Menyaksikan Jenazah Raja Fahd, Seorang Pendeta Italia Masuk Islam

Jenazah Raja Fahd

Hidayah Allah datangnya tidak bisa diraba-raba. Apabila Allah menghendaki maka ia akan mendatangi hamba yang berbahagia itu. Demikianlah kisah seorang pendeta asal Italia.

Seorang pendeta terkenal di Italia mengumumkan masuk Islam setelah menyaksikan jenazah raja Arab Saudi, Fahd bin Abdul Aziz, untuk kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal itu terjadi setelah ia melihat betapa sederhananya prosesi pemakaman jenazah yang jauh dari pengeluaran biaya yang mahal dan berlebihan.

Sang mantan pendeta telah mengikuti secara seksama prosesi pemakaman sang Raja yang bersamaan waktunya dengan jenazah yang lain. Ia melihat tidak ada perbedaan sama sekali antara kedua jenazah tersebut. Keduanya sama-sama dishalatkan dalam waktu yang bersamaan.

Pemandangan ini meninggalkan kesan mendalam tersendiri pada dirinya sehingga gambaran persamaan di dalam Islam dan betapa sederhananya prosesi pemakaman yang disaksikan oleh seluruh dunia di pekuburan ‘el-oud’ itu membuatnya masuk Islam dan merubah kehidupannya. Tidak ada perbedaan sama sekali antara kuburan seorang raja dan penguasa besar dengan kuburan rakyat jelata. Karena itulah, ia langsung mengumumkan masuk Islam.

Salah seorang pengamat masalah dakwah Islam mengatakan, kisah masuk Islamnya sang pendeta tersebut setelah sekian lama perjalanan yang ditempuh mengingatkan pada upaya besar yang telah dikerahkan di dalam mengenalkan Islam kepada sebagian orang-orang Barat. Ada seorang Da’i yang terus berusaha sepanjang 15 tahun untuk berdiskusi dengan pendeta ini dan mengajaknya masuk Islam. Tetapi usaha itu tidak membuahkan hasil hingga ia sendiri menyaksikan prosesi pemakaman Raja Fahd yang merupakan pemimpin yang dikagumi dan brilian. Baru setelah itu, sang pendeta masuk Islam.

Sang Muslim baru yang mengumumkan keislamannya itu pada hari prosesi pemakaman jenazah pernah berkata kepada Dr al-Malik, “Buku-buku yang kalian tulis, surat-surat kalian serta diskusi dan debat yang kalian gelar tidak bisa mengguncangkanku seperti pemandangan yang aku lihat pada pemakaman jenazah raja Fahd yang demikian sederhana dan penuh toleransi ini.”

Ia menambahkan, “Pemandangan para hari Selasa itu akan membekas pada jiwa banyak orang yang mengikuti prosesi itu dari awal seperti saya ini.”

Ia meminta agar kaum Muslimin antusias untuk menyebarkan lebih banyak lagi gambaran toleransi Islam dan keadilannya agar dapat membekas pada jiwa orang lain. Ia menegaskan, dirinya telah berjanji akan mengerahkan segenap daya dan upaya dari sisa usianya yang 62 tahun in untuk menyebarkan gambaran Islam yang begitu ideal. Semoga Allah menjadikan keislamannya berkah bagi alam semesta

Sumber: Gizanherbal.wordpress.com
source : kumpulankisahmuallaf.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Al Malik Ar-Rahiim


Dia adalah sultan Badruddin Abu Al Fadhaa’il Lu’lu’ Al Armeni An-Nuuri Al Atabiki budak Sultan Nuruddin Arsalan Syah bin Sultan Izzuddin Mas’ud bin Maudud bin Zanki bin Aaqasqar sang penguasa Maushil.

Dia dahulunya adalah seorang budak yang paling disayangi oleh tuannya yaitu Nuruddin. Dia merupakan guru bagi keluarganya. Ketika Nuruddin meninggal dunia, dia diwarisi oleh anaknya yang bernama Al Qaahir. Pada saat kematian raja Al Adil sultan Al Qahir Izzuddin Mas’ud menyerahkan tampuk kekuasaan kepada putranya. Setelah itu dia meninggal dunia. Dalam keadaan yang demikian, Lu’lu’ mulai bangkit untuk mengatur pemerintahan. Sedangkan, sang sultan yang saat itu masih kecil bersama saudaranya hanyalah sebagai lambang saja. Dan, selanjutnya dia pun diangkat sebagai sultan pada tahun 630 H.

Sultan Lu’lu’ adalah sosok pahlawan yang pemberani, memiliki tekad kuat, berpengalaman, berjiwa pemimpin, sewenang-wenang dan zhalim. Namun, dia disayang oleh banyak rakyatnya. Dia, juga pemimpin yang dermawan, bertanggung jawab dan rupawan. Dia suka beramah-tamah serta bermuka manis terhadap Tatar dan para penguasa Islam lainnya. Dia sangat berwibawa dalam mengatur pemerintahan. Dia bahkan pernah melakukan pembunuhan atas beberapa pejabatnya dan keharusan membayar denda atas beberapa penguasa jazirah. Sebagian manusia pun berlebih- lebihan terhadapnya dan menganggapnya dengan “Si Pedang tajam yang terbuat dari emas.” Dia juga sangat memperhatikan para rakyatnya. Dia hidup di dunia sekitar 90 tahun. Dia, yang dianugerahi wajah kemerah-merahan dan postur tubuh yang menawan di sangka oleh sebagian orang yang melihatnya seperti orang masih berumur 30-50 tahun.

Dia pernah merayakan hari besar Sa’aanin yang merupakan salah satu dari sisa syiar penduduk setempat. Pada perayaan itu, dia persembahkan sebuah meja makan yang sangat besar. Dia mendatangkan para penyanyi dan menyediakan cawan-cawan yang berisi minuman keras. Dia bersenang-senang dan menghamburkan banyak keping emas yang selanjutnya diperebutkan oleh para hadirin yang ada. Perayaan ini, mengakibatkan dia dibenci oleh rakyatnya karena di dalamnya terkandung unsur penghidupan kembali syi’ar nasrani. Dikatakan, “Dia suka mengagungkan hari besar nasrani, dia bahkan beranggapan bahwa Isa bin Maryam adalah tuhan. Ketika engkau ingatkan dia akan kebesaran Arihiyyah. Maka, Armaniyah pun berkata, tidurlah untuk sebuah keagungan”

Dikatakan bahwa dia bertindak sesuai intruksi Hulagho, bersahabat dengannya serta mempersembahkan barang-barang berharga kepadanya. Di antara barang- berharga itu adalah sebuah perhiasan yang sangat indah. Anehnya, ketika Hulagho memintanya untuk menaruhnya di telinga Hulagho, dia menurut saja. Dia mulai melubangi telinga itu dan memasukkan anting-anting di telinganya. Setelah itu, dia pulang ke negaranya sebagai bawahan Hulagho dan wajib membayar upeti untuknya. Begitulah, akhirnya dia meninggal dunia di Maushil pada tahun 657 H.

Sepeninggalnya pemerintahan dipegang oleh putranya Ash-Shalih Ismail yang saat itu mempersunting putri Hulagho. Suatu ketika, Ash-Shalih membuat istrinya marah. Dan, hal ini menyebabkan Tatar datang ke Maushil dan melakukan pengepungan selama 10 bulan. Maka, istrinya diambil kembali oleh Tatar. Kemudian, Ash-Shalih pun menjemputnya di bangsa Tatar. Namun, ternyata mereka menghianatinya. Tatar pun mulai membumihanguskan Maushil.
source : cara-global.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Ibnu Al Abbaar


Dia bernama Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Abu Bakar Al Qudhaa’I Al Andalusi Al Balansi, nama panggilannya Al Abbaar atau Ibnu Al Abbaar. Dia merupakan seorang imam, alim, pandai berpidato, penghafal Al Qur’an, bagus bacaan Al Qur’anya dan kebanggaan para ulama.

Dia lahir pada tahun 595 H.

Abu Ja’far bin Az-Zubair berkata, “Dia merupakan ahli hadits yang cakap, pengumpul banyak hadits, teliti, mumpuni, penulis banyak hadits, pandai berpidato, ahli sastra serta hafal Al Qur’an.” 

Aku katakan, “Dia merupakan sosok yang mengetahui banyak tentang tokoh-tokoh di masanya. Ahli sejarah, memiliki perjalanan hidup yang tersanjung. Fashih lidahnya, terhormat jalan hidupnya, sangat menjunjung sopan santun dan merupakan salah satu dari orang yang memiliki makna yang dalam di setiap tulisannya. Dia juga mempunyai banyak karangan, di antaranya adalah Takmilah Ash-Shilah yang terdiri dari 3 jilid dan aku memilih di antaranya yang berkualitas.”

Ketika di Andalus terjadi penjajahan oleh tentara Nashrani, dia hijrah dari sana. Dan, tinggal di Tunisia untuk beberapa waktu. Aku mendengar, bahwa sebagian musuh-musuhnya menghasud penguasa Tunis untuk mencelakainya. mereka mengatakan bahwa Ibnu Al Anbaar bekerja sebagai sejarawan, pandai mengambil hati manusia serta para penguasa. Hal ini, mengakibatkan sang penguasa tersinggung dan akhirnya menangkap Al Anbar. Al Anbar, ketika merasa sudah dekat dengan ajalnya, dia berkata kepada putranya, “Ambil kudamu dan pergilah ke mana saja kamu suka. Maka, ketika dia di hadapkan kepada penguasa Tunisia. Sang penguasa pun seketika itu juga menyuruh  untuk membunuhnya. –kami berlindung dari keburukan  setiap orang yang berhati jahat-.

Salah satu karya beliau adalah Al Arba’uun yang berarti empat puluh. Buku ini, dia kumpulkan dari 40 guru, dari 40 buku yang merupakan karya 40 ulama, dari 40 rawi dari 40 Tabi’in dari 40 Sahabat yang masing- masing dari mereka mempunyai 40 nama julukan dan berasal dari 40 Qabilah serta buku ini juga terdiri dari 40 bab.

Aku juga mendapati 1 juz buku yang pernah dia tulis. Buku ini dia beri nama Durar As-Simthi fi khoiri As- Sibthi Alaihi As-Sallam. Khoiru As-Sibthi yang dimaksud adalah Al Husain. Penulis secara terang-terangan menulis hal baru di belakang yang punya nama ini, yaitu kata Alahi As-Salam. Sebagaimana dia juga menyebutkan Ali RA. sebagai orang yang menerima wasiat kekhalifahan dari nabi. Namun, dia malah mendapatkannya dari Mu’awiyyah. Hal ini secara jelas menunjukkan akan kesyiahannya. 

Dia meninggal dunia pada tahun 658 Hijriyyah di Tunisia.
source : cara-global.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Al Mursi


Sosok yang mempunyai nama lengkap Dzu An-Nun Syarafuddin Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad As-Sulami Al Mursi Al Andalusi ini, adalah seorang imam yang alim dan cakap, tauladan umat, ahli tafsir, ahli hadits juga ahli tata bahasa.

Dia lahir di Mursiyah pada sekitar permulaan tahun 570 H.

Dia menulis, membaca dan mengumpulkan dari kitab- kitab yang bermutu. Meskipun telah dibacakan kepadanya. Namun, dia tetap menjual barang miliknya hanya demi harga sebuah kitab. Dia rajin memperdalam ilmu agama, cerdas akalnya serta kuat agamanya.  

Ibnu An-Najjar berkata, “Dia adalah sosok yang zuhud, wara’, banyak ibadahnya, sederhana kehidupannya, terjaga kesuciannya, tidak banyak bergaul, disiplin, tinggi budi pekertinya, mulia dan penyayang. Sungguh.. Aku tidak pernah melihat manusia sesempurna dia.”

Dia pernah menyenandungkan syair kepadaku:

“Barangsiapa yang mengharapkan selamat, tiada lain hanya dengan mengikuti Rasulullah
 Ini adalah satu-satunya jalan yang lurus. sedangkan, yang lain adalah sesat dan tertolak”
 Ikutilah Al Qur’an dan As-Sunnah yang shahih. Niscaya kamu akan mendapatkan petunjuk
 Janganlah pernah bertanya kenapa dan bagaimana. Karena, itu hanya akan membutakan
 Agama adalah yang dibawa Rasul, Sahabat, Tabiin dan mereka yang istiqamah di jalannya”
Abu Syamah berkata, “Al Mursi adalah sosok yang suka seni, teliti, sering melaksanakan haji, sederhana kepribadiannya, menulis banyak buku serta diterima kehadiranya di pemerintahan.”
Yaqut berkata, “Al Mursi adalah salah satu  sastrawan di masaku. Dia mampu menguraikan kitab Al Mufashshal karya Az-Zamakhsyari. Dia bahkan sempat ta’jub dengan 70 bagian dari buku itu.”
Dia berkata,

“Aku katakan kepadamu tentang luapan cinta yang terpendam di hati ini, tidakkah ekor matamu itu sudi untuk memenuhi panggilanku.
Mata ini pun buta karena sakit yang disebabkan oleh kelopak mata yang kau miliki. dan, esok hari sakitku ini pun bertambah karena sakit yang menimpamu.”
Aku katakan, “Dia mempunyai bait-bait yang sangat dalam artinya sebagaimana di atas. Sungguh, dia adalah lautan ilmu pengetahuan.”

Aku pernah membaca catatan Al Kindi, bahwa kitab- kitab Al Mursi saat itu disimpan di Damaskus. Dan, Sultan menyuruh menjualnya. Akhirnya, Mereka pun setiap hari selasa harus memikul kitab-kitab ini ke Dar As-Sa’adah. Para ulama banyak yang hadir untuk ikut membelinya. Kitab-kitab itu pun akhirnya terjual setelah kurang lebih satu tahun lamanya. Di antara kitab-kitab itu terdapat beberapa di antaranya kitab yang sangat tinggi nilainya. Bahkan, terdapat pula tafsir yang saat itu belum diselesaikan oleh penulisnya. Pada akhirnya, Kitab-kitab ini mampu terjual dengan harga yang sangat mahal.
Al Mursi meninggal dunia pada tahun 655 H di Arisy (Mesir) ketika sedang menuju ke Damaskus.
source : cara-global.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Al Qummaini


Dia adalah Syaikh yang mempunyai nama lengkap Yusuf Al Qummaini, dia lahir di Damaskus. Sebagian orang mempunyai keyakinan lebih tentangnya. Hal ini, di karenakan kemampuannya menyingkap hal-hal gaib sebagaimana yang dilakukan oleh para peramal. Dia suka tinggal di tempat-tempat sampah dan kotor yang merupakan tempat para syetan. Dia juga suka berjalan tanpa alas kaki, menyapu sampah-sampah yang berserakan, membersihkan pakaianya yang kotor dengan air kencingnya, berjalan dengan terhuyung-huyung, lengan bajunya panjang, kepalanya terbuka, suka bermain dengan anak-anak kecil, pendiam dan sedikit tersenyum, tinggal di pembuangan air kamar mandi milik Nuruddin, hatinya adalah teman dialognya, mendengarkan hatinya adalah nalurinya, perkataannya melenakan setiap hati orang yang mendengarnya. Dia adalah wali Allah SWT menurut para penggikutnya.

Aku sering sekali melihat orang yang sepertinya. Mereka yang hilang akalnya dan terbelakang mentalnya. Mereka menyukai hal-hal najis, tidak shalat, tidak puasa, suka bicara yang kotor-kotor. Namun, mereka memiliki kemampuan untuk menyingkap hal-hal yang gaib. Demi Allah, ini adalah mirip dengan yang dimiliki oleh para rahib dan para tukang sihir. Demikian juga, yang dialami para penderita epilepsi, pemakan ular. mereka berani masuk kedalam api. Sedangkan mereka adalah para pelaku perbuatan keji. Sekali lagi, demi Allah!! mereka adalah mirip dengan Musailamah dan Al Aswad yang juga mampu menyingkap hal-hal gaib.
Dia meninggal dunia pada tahun 657 H.
source : cara-global.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Ibnu Taimiyah


Dia bernama Majdu Ad-Din Abu Al Barakat Abdu As- Salam bin Abdullah bin Al Khadhir Al Harrani bin Taimiyah. Dia adalah seorang imam, ahli fikih dan merupakan syaikh madzhab Hanbali. 

Dia lahir pada tahun 509 H.

Dia adalah sosok yang cakap, jenius dan luas pemahamannya. Dia menulis banyak buku dan sastra, menguasai ilmu Qira’ah Sab’ah serta referensi bagi para ulama fikih.

Aku mendengar syaikh Taqiyuddin Abu Al Abbas berkata, “Syaikh Jamaluddin bin Malik berkata, Allah SWT memudahkan ilmu fikih bagi syaikh Majd ini sebagaimana Dia melunakkan besi bagi Nabi Daud AS. Syaikh melanjutkan, kakekku adalah sosok yang memiliki kecerdasan yang luar biasa.” 

Al Burhaan Al Maraghi menceritakan bahwa dia pernah bertemu dengan syaikh Al Majd. Kemudian, dia menanyakan satu masalah. syaikh menjawab, “Masalah itu dapat dijawab melalui 60 sudut pandang. Yang pertama begini, yang kedua begini dan begitu seterusnya sehingga sampai yang keenam puluh. Lalu dia berkata, aku memberimu kebebasan untuk berdiskusi atas jawaban-jawabanku tadi.” Maka Al Burhan pun akhirnya tertunduk dan menghormati syaikh.

Syaikh Taqiyuddin berkata, “Aku bangga dengan kakekku, dia mampu mengahafal teks-teks buku dan beberapa madzhab yang ada pada saat itu. Dia juga mampu menjabarkan semua itu tanpa mengalami kesulitan sedikitpun.”

Imam Abdullah bin Taimiyah menceritakan bahwa kakeknya tumbuh dalam keadaan yatim. Kemudian, dia pergi menyertai anak pamannya ke Irak. Saat itu, dia berumur 13 tahun dia menginap dan mendengar anak pamannya itu mengulang-ulang banyak masalah tentang perbedaan madzhab. kemudian, dia menghafal semua yang didengarnya itu. Suatu hari Al Fakhr Isma’il berkata, “Apa yang dimiliki oleh anak kecil sesperti ini?” Maka Al Majd kecil pun bergegas dan berkata “Syaikh, aku sudah hafal pelajaran ini.” Kemudian, dia mulai memperdengarkannya. Syaikh sendiri akhirnya tertunduk dan mengakui kecerdasannya. Dia berkata, “Sungguh anak kecil ini kelak menjadi pembaharu Islam.”

Dia tinggal di Baghdad selama 6 tahun hanya untuk  menuntut illmu. Kemudian, dia kembali lagi ke kampungnya. Setelah itu, Dia berangkat yang kedua kalinya ke Baghdad. Hal ini dilakukan sebelum tahun 620 H. Di kota ini dia menghabiskan waktunya untuk menambah ilmu dan menulis beberapa kitab. Pekerjaan ini dia lakukan atas dorongan takwa, mengikuti sunnah dan keagungan ilmu.
Dia meninggal dunia di Harraan pada tahun 652 H.
source : cara-global.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Pot Kosong

Pada suatu ketika, seorang Kaisar China ingin memilih pengganti tahtanya. Kaisar tersebut sudah tua & tidak memiliki putra. Karena ia sangat menyukai bunga & tumbuhan, ia memutuskan untuk memanggil semua anak di kerajaannya & memberikan mereka masing – masing sebiji benih.
Ia mengatakan bahwa anak yang memiliki hasil terbaik dalam waktu enam bulan akan memenangkan kompetisi tersebut & akan menjadi penerus tahtanya.

Semua anak di China ingin memenangkan kontes tersebut. Berkumpullah banyak anak – anak di istana pada hari ketika Sang Kaisar memberikan biji benih. Setiap anak membawa pulang satu biji benih di tangannya.


Salah seorang anak bernama Jun. Ia pandai berkebun, semua orang di desanya mengatakan bahwa ia seorang petani muda terbaik di desa itu. Ia dengan hati – hati membawa benih dari Sang Kaisar pulang ke rumahnya.

Di rumah, ia mencoba menumbuhkan biji benih itu dalam sebuah pot dengan teliti & sebaik – baiknya.

Satu minggu sesudahnya , Cheun memberitahukan bahwa biji benihnya sudah bertunas. Manche kemudia mengatakan bahwa dalam potnya sudah muncul tunas muda. Lalu Wong pun menyatakan hal yang sama. Jun menjadi bingung – tak ada satu pun dari anak – anak tersebut yang dapat menanam pohon sebaik dirinya! Tapi biji benih Jun tidak tumbuh.

Segera semua pot di seluruh desa itu telah bertunas. Kemudian anak – anak tersebut memindahkan tanaman mereka keluar supaya tunas mudanya mendapatkan sinar matahari yang cukup. Segera, puluhan tunas muda dalam pot di desa Jun telah bertumbuh daun. Tapi biji benih Jun tidak tumbuh.

Jun kebingungan – apa yang salah? Dengan seksama Jun memindahkan biji benihnya ke dalam pot baru. Ia mengubah cara menanamnya, tapi tetap saja biji benih Jun tidak tumbuh.

Enam bulan berlalu. Semua anak harus membawa tanaman mereka ke istana untuk dinilai. Cheun, Manchu, Wong & ratusan anak lainnya menyiapkan pot tanaman mereka. Kemudian mereka memakai pakaian terbaik yang mereka miliki. Beberapa orangtua mendampingi putra mereka membawakan tanamannya.

“Apa yang harus kulakukan?” Tanya Jun pada orangtuanya.
“Biji benihku tidak mau tumbuh! Pot milikku kosong!”
“Kau sudah melakukan yang terbaik,” jawab ayahnya.
“Jun, bawa saja pot milikmu kepada Kaisar,” balas ibunya, “Itulah usaha terbaikmu.”

Jun membawa pot kosong miliknya ke istana. Ia merasa malu, tapi apa yang dikatakan orangtuanya benar. Ia telah berusaha sebaik mungkin.

Di istana, semua anak berbaris rapi. Mereka menunjukkan tanamannya. Kemudian Sang Kaisar memeriksanya satu per satu.

Ketika ia mendatangi Jun, ia mentertawakannya & bertanya,”Apa ini? Kau membawakan aku pot kosong??”

“Ya, Yang Mulia,” jawab Jun,”Saya mencoba sebaik mungkin. Saya menanam biji benih Yang Mulia berikan dengan tanah subur. Saya menjaga & mengamatinya setiap hari. Ketika biji benihnya tidak tumbuh, saya memindahkannya ke dalam pot baru. Saya bahkan memindahkannya kembali. Tapi tetap saja tidak tumbuh. saya minta maaf Yang Mulia.” Jelas Jun sambil menggelengkan kepala.

“Hmm,” jawab Sang Kaisar,”Aku akan memilihmu sebagai penerusku,” lanjutnya. Semua orang terkejut. Tapi kemudian Sang Kaisar berkata,”Saya tidak tahu darimana anak – anak ini mendapatkan biji benihnya. Tidak mungkin ada yang tumbuh dari biji – biji benih yang aku berikan pada mereka. Aku telah merebus semua biji benihnya.”

Dan dia tersenyum pada Jun & berkata,”Kau adalah satu – satunya anak yang mau jujur kembali dengan membawa pot kosong.”
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com