Showing posts with label kisah muallaf pria. Show all posts
Showing posts with label kisah muallaf pria. Show all posts

Tuesday, May 1, 2012

Usai Menyaksikan Jenazah Raja Fahd, Seorang Pendeta Italia Masuk Islam

Jenazah Raja Fahd

Hidayah Allah datangnya tidak bisa diraba-raba. Apabila Allah menghendaki maka ia akan mendatangi hamba yang berbahagia itu. Demikianlah kisah seorang pendeta asal Italia.

Seorang pendeta terkenal di Italia mengumumkan masuk Islam setelah menyaksikan jenazah raja Arab Saudi, Fahd bin Abdul Aziz, untuk kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal itu terjadi setelah ia melihat betapa sederhananya prosesi pemakaman jenazah yang jauh dari pengeluaran biaya yang mahal dan berlebihan.

Sang mantan pendeta telah mengikuti secara seksama prosesi pemakaman sang Raja yang bersamaan waktunya dengan jenazah yang lain. Ia melihat tidak ada perbedaan sama sekali antara kedua jenazah tersebut. Keduanya sama-sama dishalatkan dalam waktu yang bersamaan.

Pemandangan ini meninggalkan kesan mendalam tersendiri pada dirinya sehingga gambaran persamaan di dalam Islam dan betapa sederhananya prosesi pemakaman yang disaksikan oleh seluruh dunia di pekuburan ‘el-oud’ itu membuatnya masuk Islam dan merubah kehidupannya. Tidak ada perbedaan sama sekali antara kuburan seorang raja dan penguasa besar dengan kuburan rakyat jelata. Karena itulah, ia langsung mengumumkan masuk Islam.

Salah seorang pengamat masalah dakwah Islam mengatakan, kisah masuk Islamnya sang pendeta tersebut setelah sekian lama perjalanan yang ditempuh mengingatkan pada upaya besar yang telah dikerahkan di dalam mengenalkan Islam kepada sebagian orang-orang Barat. Ada seorang Da’i yang terus berusaha sepanjang 15 tahun untuk berdiskusi dengan pendeta ini dan mengajaknya masuk Islam. Tetapi usaha itu tidak membuahkan hasil hingga ia sendiri menyaksikan prosesi pemakaman Raja Fahd yang merupakan pemimpin yang dikagumi dan brilian. Baru setelah itu, sang pendeta masuk Islam.

Sang Muslim baru yang mengumumkan keislamannya itu pada hari prosesi pemakaman jenazah pernah berkata kepada Dr al-Malik, “Buku-buku yang kalian tulis, surat-surat kalian serta diskusi dan debat yang kalian gelar tidak bisa mengguncangkanku seperti pemandangan yang aku lihat pada pemakaman jenazah raja Fahd yang demikian sederhana dan penuh toleransi ini.”

Ia menambahkan, “Pemandangan para hari Selasa itu akan membekas pada jiwa banyak orang yang mengikuti prosesi itu dari awal seperti saya ini.”

Ia meminta agar kaum Muslimin antusias untuk menyebarkan lebih banyak lagi gambaran toleransi Islam dan keadilannya agar dapat membekas pada jiwa orang lain. Ia menegaskan, dirinya telah berjanji akan mengerahkan segenap daya dan upaya dari sisa usianya yang 62 tahun in untuk menyebarkan gambaran Islam yang begitu ideal. Semoga Allah menjadikan keislamannya berkah bagi alam semesta

Sumber: Gizanherbal.wordpress.com
source : kumpulankisahmuallaf.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Friday, March 30, 2012

Subhanallah, Pria Yahudi Ini Mengislamkan Jutaan Orang

Pria Yahudi

♥ Bismillahirrahmaanirrahiim ♥

Jad adalah seorang pria keturunan Yahudi. Di pertengahan hidupnya, ia memeluk agama Islam. Setelah bersyahadat, ia mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani.

Jad pun memutuskan hidupnya untuk berkhidmat dalam dakwah Islamiyah. Dia berdakwah ke negara-negara Afrika dan berhasil mengislamkan jutaan orang.

Sejatinya, Ibunda Jadullah adalah Yahudi fanatik, seorang dosen di salah satu lembaga tinggi. Namun di tahun 2005, dua tahun setelah kematian Jadullah, ibunya memeluk agama Islam.

Ibunda Jadullah menuturkan, putranya menghabiskan usianya dengan berdakwah. Dia mengaku telah melakukan beragam cara untuk mengembalikan putranya pada agama Yahudi. Namun, selalu gagal.

''Mengapa seorang Ibrahim yang tidak berpendidikan dapat mengislamkan putraku,'' ujar sang ibu terheran-heran. Sedangkan dia yang berpendidikan tinggi tak mampu menarik hati putranya sendiri kepada agama Yahudi.

[Kisah Jad dan Ibrahim]

Lima puluh tahun lalu di Prancis, Jad bertetangga dengan seorang pria Turki berusia 50 tahun. Pria tersebut bernama Ibrahim. Ia memiliki toko makanan yang letaknya di dekat apartemen tempat keluarga Jad tinggal. Saat itu usia Jad baru tujuh tahun.

Jad seringkali membeli kebutuhan rumah tangga di toko Ibrahim. Setiap kali akan meninggalkan toko, Jad selalu mengambil coklat di toko Ibrahim tanpa izin alias mencuri.

Pada suatu hari, Jad lupa tak mengambil coklat seperti biasa. Tiba-tiba, Ibrahim memanggilnya dan berkata bahwa Jad melupakan coklatnya. Tentu saja Jad sangat terkejut, karena ternyata selama ini Ibrahim mengetahui coklatnya dicuri. Jad tak pernah menyadari hal tersebut, dia pun kemudian meminta maaf dan takut Ibrahim akan melaporkan kenakalannya pada orang tua Jad.

"Tak apa. Yang penting kamu berjanji tidak akan mengambil apapun tanpa izin. Lalu, setiap kali kamu keluar dari sini, ambillah cokelat, itu semua milikmu!" ujar Ibrahim. Jad pun sangat gembira.

Waktu berlalu, tahun berubah. Ibrahim yang seorang Muslim menjadi seorang teman bahkan seperti ayah bagi Jad, si anak Yahudi. Sudah menjadi kebiasaan Jad, dia akan berkonsultasi pada Ibrahim setiap kali menghadapi masalah.

Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengeluarkan sebuah buku dari laci lemari, memberikannya pada Jad dan menyuruhnya membuka buku tersebut secara acak. Saat Jad membukanya, Ibrahim kemudian membaca dua lembar dari buku tersebut kepada Jad dan memberikan saran dan solusi untuk masalah Jad. Hal tersebut terus terjadi.

Hingga berlalu 14 tahun, Jad telah menjadi seorang pemuda tampan berusia 24 tahun. Sementara Ibrahim telah berusia 67 tahun.

Hari kematian Ibrahim pun tiba. Namun sebelum meninggal, dia telah menyiapkan kotak berisi buku yang selalu dia baca acapkali Jad berkonsultasi. Ibrahim menitipkannya kepada anak-anaknya untuk diberikan kepada Jad sebagai sebuah hadiah.

Mendengar kematian Ibrahim, Jad sangat berduka dan hatinya begitu terguncang. Karena selama ini, Ibrahim satu-satunya teman sejati bagi Jad, yang selalu memberikan solusi atas semua masalah yang dihadapinya.

Selama 17 tahun, Ibrahim selalu mempelakukan Jad dengan baik. Dia tak pernah memanggil Jad dengan "Hei Yahudi" atau "Hei kafir" bahkan Ibrahim pun tak pernah mengajak Jad kepada agama Islam.

Hari berlalu, setiap kali tertimpa masalah, dia selalu teringat Ibrahim. Jad pun kemudian mencoba membuka halaman buku pemberian Ibrahim. Namun, buku tersebut berbahasa arab, Jad tak bisa membacanya. Ia pun pergi menemui salah satu temannya yang berkebangsaan Tunisia. Jad meminta temannya tersebut untuk membaca dua lembar dari buku tersebut. Persis seperti apa yang biasa Ibrahim lakukan untuk Jad.

Teman Jad pun kemudian membaca dan menjelaskan arti dua lembar dari buku yang dia baca kepada Jad. Ternyata, apa yang dibaca sangat pas pada masalah yang tengah dihadapi Jad. Temannya pun memberikan solusi untuk masalah Jad.

Rasa keingin tahuannya terhadap buku itu pun tak bisa lagi dibendung. Ia pun menanyakan pada kawannnya, "Buku apakah ini?" tanyanya. Temannya pun menjawab, "Ini adalah Alquran, kitab suci umat Isam," ujarnya.

Jad tak percaya sekaligus merasa kagum. Jad pun kembali bertanya, "Bagaimana cara menjadi seorang Muslim?"

Temannya menjawab, "Dengan mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat." Kemudian, Jad pun memeluk agama Islam.

Setelah menjadi Muslim, Jad mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani. Nama tersebut diambil sebagai ungkapan penghormatan kepada Al-Qur'an yang begitu istimewa dan mampu menjawab semua permasalahan hidupnya selama ini.

Sejak itu, Jad memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupya untuk menyebarkan ajaran yang ada pada Alquran.

Suatu hari, Jadullah membuka halaman Alquran pemberian Ibrahim dan menemukan sebuah lembaran. Lembaran tersebut bergambar peta dunia, ditandatangani Ibrahim dan bertuliskan ayat An-Nahl 125.

"Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik..." Jad pun kemudian yakin bahwa lembaran tersebut merupakan keinginan Ibrahim untuk dilaksanakan oleh Jad.

Jadullah pun meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika. Salah satu negara yang dikunjunginya yakni Kenya, di bagian selatan Sudan dimana mayoritas penduduk negara tersebut beragama Kristen.

Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari enam juta orang dari suku Zolo. Jumlah ini hanya dari satu suku tersebut, belum lagi suku lain yang berhasil dia Islamkan. Subhanallah.
____________________________________________________________
Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat.
SilaHkan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun.Semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
source : kumpulankisahmuallaf.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Sunday, February 19, 2012

Dr. Roger Hadden, Memeluk Islam Karena Trinitas


Dr. Roger Hadden

Roger Hadden adalah seorang dokter gigi berasal dari Dungannon, Irlandia Utara. Ia membuka praktek dokter giginya di Inggris. Namun, ia telah lama tinggal di Skotlandia.

Hadden dibesarkan dari keluarga Kristen, dan ia adalah telah memutuskan menjadi Kristen sejak lahir. Meskipun dibesarkan dengan ajaran Alkitab, namun ia tidak terlalu mengikuti prinsip-prinsip yang diajarkan.


Hadden layaknya pemuda Inggris kebanyakan, sangat suka bersenang-senang tanpa mengenal batas. Ketika remaja ia mengaku tidak menjalankan agama apa pun, termasuk Kristen. “Saya selalu percaya bahwa Tuhan itu ada,” ujarnya.

Ia meyakini alam semesta ada penciptanya dan manusia tidak bisa menciptakan dirinya sendiri. Ketika terus berusaha berpikir tentang Tuhan dari waktu ke waktu, Hadden selalu terganjal dalam keyakinannya.

Ketika melanjutkan studi ke jenjang universitas, ia bertemu banyak Muslim. Pada saat itu ia dan teman-teman Muslimnya terus bergulat dalam diskusi yang membahas tentang keyakinan. Hadden sangat menikmati diskusi-diskusi tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, Hadden ingin bersikeras memperdalam keagamaannya dan keyakinan Kristennya.

Ketika memasuki tahun terakhir kuliahnya di universitas, Roger Hadden membuat rencana untuk mereformasi keyakinannya dan menjadi seperti orang tuanya dulu; Kristen taat. Dan ia memutuskan untuk memulai memahami bacaan Alkitab.

Ia memulainya dengan memantapkan konsep Trinitas, yang selalu mengganggu pikirannya. Karena pada waktu itu pemahaman agama Kristennya masih awam, kadang ia cukup bingung untuk berdoa. “Apakah doa saya akan ditujukan kepada Tuhan Bapa atau Yesus,” ujarnya.

Hadden kemudian berbicara dengan beberapa pemuka agama Kristen, untuk mendapatkan penjelasan akan konsep Tritunggal. Namun, tak satu pun dari mereka yang dapat meyakinkan dirinya.

Ia kemudian memutuskan untuk terus membaca dan memahami Alkitab, dengan mencari kebenaran di dalamnya.

“Masalah Trinitas membingungkan saya. Karena mengapa semua Nabi dalam Perjanjian Lama berdoa kepada Tuhan dan melakukan tindakan benar berharap pengampunan Tuhan? Dan tidak ada yang berdoa kepada Yesus?” gusarnya.

Bahkan tidak disebutkan kata ‘Trinitas’ dalam Perjanjian Lama, dan sebagian pemuka Kristen bahkan berpendapat tidak ada dalam Perjanjian Baru. Hadden tahu, Tuhan tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang, jadi pasti ada yang salah dengan ini.

Hadden kemudian berbicara dengan teman-temannya di Universitas. Beberapa mereka beragama Sikh, Katolik, ateis, dan beberapa juga ada yang Muslim. Keingintahuan telah merubah hidup Hadden sepenuhnya, dan ia menemukan jawaban dari sahabat Muslimnya.

Dalam Islam diperintahkan menyembah satu Tuhan, yang tidak memiliki mitra atau partner dengan-Nya. “Saya sangat tertarik dengan konsep ini,” kata Hadden. Namun, Hadden terus membaca Alkitab dan membandingkan sumber-sumber Kristen dengan Alquran dan buku-buku Islam.

Ia menemukan bahwa Muslim percaya Tuhan mengirim pesan kepada umat manusia melalui para nabi yang berbeda sejak Adam, manusia pertama. Dan semua nabi itu hanya percaya pada satu Tuhan, Allah SWT. Dan Muslim juga percaya bahwa akan ada hari perhitungan di akhir dunia nanti, ketika semua orang akan dibangkitkan dan dihakimi.

“Saya menyadari bahwa inilah yang saya percaya. Dan apa saya pikir, seperti inilah Alkitab berkata pada saya,” kata dia. Hadden kemudian mendiskusikan hal-hal tersebut dengan kedua orang tuanya, namun mereka tidak terlalu terkesan.

Beberapa bulan memperoleh karunia dan hidayah Allah, Hadden memantapkan hati untuk menjadi seorang Muslim. Ia pun memutuskan memeluk Islam.

Ia meyakini keputusannya ini adalah langkah yang tepat. “Alhamdulillah, terima kasih Allah,” ujarnya.

Hadden kini mencoba menjadi Muslim sejati dan berusaha membantu orang lain. Hari-harinya diisi dengan ibadah, shalat lima waktu dan tadarus (membaca) Alquran. Teman-teman Hadden di universitas sempat terkejut dengan perubahannya, terutama sejawatnya di kedokteran gigi.

Orang tua Hadden pun marah besar, mereka percaya sang anak sudah dicuci otaknya. Ia ingat ketika pertama kali memberi tahu orang tuanya bahwa ia memilih menjadi seorang Muslim, mereka tidak terlalu terkesan.

Kedua orang tuanya mengatakan langkah Hadden itu adalah “tindakan yang dibenci agama”. Namun, itu tidak menyurutkan langkah sang dokter gigi untuk menjadi pengikut Rasulullah. Beberapa bulan kemudian ia memutuskan bersyahadat.

Walaupun sejak masuk universitas Hadden selalu berjauhan dengan orang tuanya, tetapi ia terus mencoba untuk mengunjungi mereka. Kini, ia merasa hubungan dengan orang tuanya telah membaik. Sebab, berlaku baik kepada mereka (orang tua) adalah perintah Allah dalam Alquran.

“Saat ini saya bekerja sebagai dokter gigi di Inggris. Dan telah menikah dengan seorang wanita Muslimah setahun yang lalu. Dan berkat karunia Allah, kami dianugerahi seorang anak bernama Ismael,” tuturnya.
source : kumpulankisahmuallaf.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Saturday, February 18, 2012

Kisah Masuk Islam Jerry S Pesirahu

Jerry S Pesirahu

AMBON, MALUKU (voa-islam.com) - Di tengah semaraknya acara Kristenisasi berkedok pengobatan massal yang dilakukan oleh DR Peter Youngren di Ambon ternyata tidak menghalangi Jerry untuk memperoleh hidayah Allah. Allah Subhanallahu Wata'ala justru membukakan hati Jerry yang Nasrani untuk menerima ajaran Islam di saat DR Peter Youngren mencoba membius kaum Muslimin dengan aksi pengobatannya yang pada hakikatnya adalah pemurtadan.

Laki-laki bernama lengkap Jerry Suryo Pesirahu, 24 tahun, bertempat tinggal di kampung Kristen Lateri di depan Pom bensin, menyatakan masuk Islam pada Kamis 16 Februari 2012 sekitar pukul 19.30 WIT bertempat di rumah Ustadz Sudirman Perumnas Waiheru Blok 3 kecamatan Teluk Ambon Baguala.  Dengan penuh keyakinan dan tanpa paksaan, Jerry yang sebelumnya adalah pemeluk Kristen Advent mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda ia masuk Islam.

Jerry lahir dari ayah orang Ambon dan Ibu berasal dari Surabaya Jawa Timur. Ibunda Jerry sebelumnya adalah seorang Muslimah tapi kemudian murtad setelah menikah dengan ayah Jerry yang beragama Kristen. Ayah Jerry sendiri sudah meninggal sejak lama.

Keinginan Jerry untuk masuk Islam sudah terbetik sejak lama, tepatnya pada tahun 1999 ketika terjadi konflik antara kaum Muslimin dan kaum salibis di Maluku. Keinginan tersebut sepertinya agak aneh memang karena Jerry ingin masuk Islam justru disaat  sedang terjadinya konflik antara umat Islam dan Kristen. Niat itu terus dipupuk Jerry hingga ia mendapatkan waktu dan kesempatan yang tepat untuk merealisasikan keinginannya tersebut pada Kamis kemarin.

Beberapa waktu sebelumnya, di tengah keinginan yang semakin membuncah membuat Jerry menemui seorang teman lamanya yang beragama Islam bernama Haris yang bekerja sebagai Office Boy di sebuah kantor pemerintah Maluku. Kepada Haris ia menanyakan bagaimana caranya ia masuk Islam?. Karena Haris merasa kurang begitu pandai dalam masalah ajaran Islam maka ia menanyakan kepada teman kerjanya yang bernama Andi yang juga bekerja di kantor tersebut sebagai security.

Oleh Andi Jerry kemudian dibawa menemui Ustadz Sudirman yang bertempat tinggal di Perumnas Waiheru Blok 3 kecamatan Teluk Ambon Baguala. Dalam pertemuan tersebut Ustadz Sudirman menganjurkan agar Jerry mempelajari Islam terlebih dahulu selama sepekan sebelum memutuskan untuk masuk Islam.

Setelah seminggu maka pada tanggal 16 Februari 2012 sekitar pukul 19.30 bertempat di rumah Ustadz Sudirman dan dengan disaksikan oleh puluh kaum Muslimin yang hadir dalam acara tersebut, Jerry mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda ia masuk Islam. Jerry kemudian mengganti namanya menjadi Muhammad Suryo.

Ketika dihubungi Voa-Islam melelui ponsel Jerry mengatakan bahwa sebelum dirinya, kakak laki-lakinya yang bernama Robby juga telah masuk Islam dan tidak dihalangi oleh ibunya. Hal itu juga yang menyebabkan keinginannya untuk masuk Islam semakin kuat disamping ia juga telah mempelajari Islam terlebih dahulu.

Jerry juga meminta bertemu dan berharap untuk bisa mengikuti kajian Islam yang diadakan oleh voa-islam setiap pekannya.

Mudah-mudahan Jerry yang kini bernama Muhammad suryo akan giat mempelajari Islam sehingga bisa menjadi seorang Muslim yang taat dan istiqomah...Amiin. (AF)
source : kumpulankisahmuallaf.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Saturday, December 10, 2011

Kisah Komandan Korea Selatan Masuk Islam





Aku telah menemukan cahaya kehidupan yang sesungguhnya, aku ingin berada dalam cahaya tersebut, dan cahaya itu adalah Islam. (Kapten San Jin-Gu)
Kali ini saya akan mengutipkan kisah yang cukup menakjubkan untuk para pembaca semuanya. dibaca ya… :D
***
Kapten San Jin-Gu adalah salah satu komandan Brigade-11SF, pasukan pengaman PBB dari Korea Selatan yang ditugaskan di Iraq.
Kapten San dan pasukannya bertugas di wilayah Irbil, Iraq Utara. Ketika bertugas di wilayah tersebut, beliau sering mengamati orang-orang Muslim bersolat berjamaah di Masjid.
Kebetulan markas pasukannya berada dekat dengan masjid. Dia sangat hairan dengan gerakan-gerakan solat tersebut.
Oleh kerana ingin tahu, beliau mencuba meniru seluruh gerakan solat dan mempraktikkan di biliknya secara sendirian. Ketika mempraktikan itulah dia merasakan ada ketenangan dan perasaan damai yang hadir dalam hatinya.
Itulah sebabnya, pergerakan solat tersebut kemudiannya dijadikan program meditasi dalam pasukan yg dipimpinnya (disamping Yoga), dan ternyata sebahagian besar anggota-anggotanya setelah melakukan gerakan-gerakan solat tersebut, mereka merasakan perasaan yang sama, mereka juga merasa lebih tenang dan damai.
Sejak itu Kapten San berinisiatif mempelajari Islam untuk mengenalnya lebih dalam lagi, dan akhirnya dia memutuskan untuk memeluk Islam.
Ketika niatnya ingin memeluk Islam disampaikan kepada anggota-anggotanya, beliau berkata : Aku telah menemukan cahaya kehidupan yang sesungguhnya, aku ingin berada dalam cahaya tersebut, dan cahaya itu adalah Islam. Tanpa di duga, secara spontan 37 anggota bawahan yang dipimpin olehnya mengangkat tangan mereka, sebagai tanda ikut bersama komandan mereka – juga untuk memeluk Islam.
Wallahu’alam….

source : kumpulankisahmuallaf.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Thursday, November 24, 2011

Kisah Matthieu Cioccocini


kisah muallaf
Matthieu Cioccocini. pemuda berusia 22 tahun asal Prancis ini pertama kali belajar agama adalah agama Islam. Sejak kecil, kedua orang tuanya tidak pernah menanamkan pendidikan agama, karena ayahnya seorang ateis dan ibunya yang beragama Katolik juga jarang ke gereja.

Beruntung, Cioccocini yang lahir di kawasan timur laut Prancis–sebuah wilayah yang berdekatan dengan Belgia–sejak usia 13 tahun pindah ke South Western Coast yang banyak komunitas imigran muslimnya. Diantara teman-temannya di kalangan imigran muslim, hanya Cioccocini yang asli orang Prancis.

“Pertama kali menerima pelajaran agama, adalah tentang agama Islam. Terima kasih buat teman-teman dan keluargaku, serta semua kawan-kawan muslim dari Maroko, Turki, Aljazair dan Tunisia,” ungkap Cioccocini.

Bersama mereka, Cioccocini sering berolahraga bersama. Suatu hari ketika sedang bermain sepakbola, anggota dari kelompok dakwah Fi Sabilillah datang ke lapangan, dan memberikan ceramah agama Islam. Cioccocini dan teman-temannya menghentikan permainan, dan mendengarkan ceramah itu. Itulah awal Cioccocini mengenal Islam.

Mulanya, Cioccocini menghindar ketika kelompok itu datang dan memberikan ceramah agama Islam. Salah seorang anggota Fi Sabilillah lalu memanggil Cioccocini untuk ikut mendengarkan, kemudian mengundangnya datang ke masjid untuk melihat dan mengetahui sendiri apa dan bagaimana agama Islam.

“Saya datang ke masjid dan mulai tertarik. Saya memutuskan untuk datang lagi ke masjid untuk ikut salat, bertanya pada banyak orang tentang Islam dan saya makin jauh terlibat dalam agama ini,” ujar Cioccocini, yang sekarang sedang mengambil gelar master di bidang administrasi bisnis di Universitas Victoria, Selandia Baru.

“Bisa dikatakan, saya sangat tertarik dengan agama Islam, karena sebelumnya saya tidak tahu apa-apa tentang agama. Saya terkagum-kagum, misalnya melihat orang berpuasa, tidak makan apapun di siang hari selama satu bulan. Saya bertanya-tanya, bagaimana bisa orang-orang itu melakukannya,” imbuhnya.

“Bahkan hanya selama Ramadan, bahkan dalam beragam manifestasi dalam agama Islam setelah Ramadan, seperti Hari Raya Idul Fitri dan sejenisnya, buat saya sangat menakjubkan. Saya lalu memutuskan untuk mendalami agama Islam,” sambung Cioccocini yang bercita-cita ingin terjun ke bidang bisnis internasional.

Usia Cioccocini mungkin masih sangat muda ketika akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Namun kedua orang tua Cioccocini tidak keberatan puteranya masuk Islam. Teman-teman muslim Cioccocini agak terkejut melihat sikap orang tuanya itu, “Oleh sebab itu mereka menganggap saya sebagai anak sendiri, dan ingin banyak membantu saya. Mereka tidak mau saya kecewa. Mereka menganggap saya sebagai bagian dari keluarga besar. Ini sangat mengesankan,” ungkap Cioccocini.

Cioccocini memang beruntung karena tidak harus menghadapi penolakan dari kedua orang tuanya, seperti yang sering dialami para mualaf. Kedua orang tua Cioccocini memberikan kebebasan baginya untuk memilih. Di sisi lain, orang tua Cioccocini ingin putra mereka berada di lingkungan yang aman dan bagi ayah-ibu Cioccocini masjid adalah tempat yang aman, tidak seperti jalanan dimana anak-anak bisa saling memaki, mencuri dan tawuran.

“Mereka lebih senang saya berdiam diri di masjid daripada sering keluyuran di jalanan,” kata Cioccocini tentang sikap ayah dan ibunya.


Cioccocini berpendapat bahwa Islam adalah hal terbaik untuknya. Islam mengajarkannya untuk saling menghormati pada setiap orang, membentuk pola pikirnya dan mengajarkan bagaimana ia harus berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Islam juga mendorong umatnya untuk selalu belajar dan menuntut ilmu.

“Sayang sekali, beberapa teman saya tidak tertarik atau tidak mau melibatkan diri dengan Islam. Mereka akhirnya menjadi pecandu narkoba atau pecandu minuman keras … menjalin hubungan pria dan wanita sebelum menikah … Beruntung saya menemukan Islam dan Islam banyak menolong saya dalam menjalani kehidupa sehari-hari,” tukas Cioccocini.

Ia juga berpendapat, Islam “obat penyembuh” bagi mereka yang membutuhkan. Cioccocini mencontohkan, para tahanan di dalam penjara yang berusaha untuk belajar Islam, mereka akhirnya menjadi orang-orang yang sangat baik. Mereka yang kecanduan narkoba atau minuman beralkohol, ketika mengenal Islam mereka bertobat dan menjadi bersih kembali.

“Islam adalah obat penyembuh yang paling manjur, dan Allah Swt. adalah dokter yang paling hebat yang bisa kita temui untuk merawat kita. Jika kita sungguh-sungguh menemukan-Nya, Dia akan banyak membantu kita,” kata Cioccocini.

Sejak memutuskan menjadi bersyahadat, Cioccocini mengaku tidak pernah menghadapi persoalan terkait jadi dirinya sebagai orang Prancis sekaligus sebagai seorang muslim. Namun ia tak mengelak, bahwa sekarang ini di Eropa, orang mulai ketakutan melihat perkembangan Islam yang begitu pesat. Mereka melihat Islam sebagai agama yang terlalu cepat masuk ke Eropa dan khawatir melihat banyak orang Eropa yang masuk Islam.

Masyarakat Prancis, kata Cioccocini, pada umumnya percaya saja dengan apa yang diberitakan media massa tentang Islam, bahwa Muslim itu teroris dan senang berpoligami, bahwa perempuan itu direndahkan dan citra negatif lainnya yang ciptakan media tentang Islamd dan Muslim.

“Mereka percaya saja dan tidak berusaha mencari kebenarannya. Mereka tidak berusaha membuka buku dan percaya saja dengan apa yang mereka dengar …”

“Tapi untungnya, orang-orang di sekeliling saya mulai memahami bahwa Islam tidak seburuk yang mereka sangka, karena mereka melihat perilaku dan sikap saya pada mereka, dan melihat bahwa saya bisa menjadi seorang mahasiswa yang baik, dan Islam tidak sejahat seperti yang mereka yakini selama ini,” papar Cioccocini.

“Begitu pula dengan kedua orang tua saya. Saya sempatkan berdiskusi dengan mereka, dan mereka mengatakan bahwa akhirnya mereka tahu kalau Islam adalah hal terbaik untuk saya, bahwa saya sangat beruntung telah menemukan Islam, padahal kedua orang tua saya bukan seorang muslim,” sambungnya.

Cioccocini menyatakan sangat bahagia menemukan Islam dan berharap ia bisa istiqomah sebagai seorang muslim. Islam akan menjadi bagian pendidikan untuk anak-anak, istri dan seluruh aspek kehidupannya kelak.

“Saya cuma ingin berpesan pada semua orang, berusahalah dari diri sendiri untuk mengenal Islam. Bukalah buku. Membaca dan belajar bukan hal yang sulit. Anda bisa buka internet atau Youtube dan sejenisnya untuk menemukan Islam. Insya Allah, Allah Swt akan menolong kalian,” tandas Cioccocini.


Sumber : Kisahmuallaf

Link : http://kumpulankisahmuallaf.blogspot.com/source : kumpulankisahmuallaf.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com