Showing posts with label Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik. Show all posts
Showing posts with label Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik. Show all posts

Monday, June 4, 2012

Tubuh Kayu dan Hati Batu

Xia Tong hidup pada zaman Dinasti Jin. Ia berbakat dalam berbagai bidang, termasuk menjadi seorang pembicara yang fasih. Suatu ketika ia berada di ibukota untuk melakukan beberapa bisnis, seorang pejabat militer berpangkat tinggi bernama Jia Chong mendengar reputasi Xia Tong dan bermaksud mengunjunginya.

Jia Chong tidak hanya mengagumi Xia Tong tetapi juga ingin menang darinya demi memperkuat kekuasaannya.

Xia Tong tidak mementingkan keuntungan dan ketenaran, tidak suka bertarung demi kekuasaan, dan tidak berkeinginan untuk ditunjuk menjadi seorang pejabat. Ketika Jia Chong datang mengunjunginya, ia sudah mengetahui bahwa Jia Chong akan mencoba meyakinkannya. Xia Tong menolak dengan halus. Namun, Jia Chong tidak menyerah dan mencoba merayunya dengan cara lain.

Jia Chong segera memerintahkan pasukannya yang gagah, iringan kereta dan marching band untuk melakukan pertunjukan tepat di depan Xia Tong dan berkata, “Jika Anda menerima tawaran saya, Anda bisa menjadi pemimpin pasukan, begitu agungnya!”

Xia Tong tidak tergerak.

Jia Chong kemudian meminta banyak gadis-gadis cantik yang mengenakan gaun elegan dan perhiasan berharga untuk menari mengelilingi Xia Tong.

“Jika Anda menerima tawaran saya untuk menjadi seorang pejabat, Anda dapat memiliki semua gadis-gadis cantik ini.”

Xia Tong duduk di sana dengan tubuh tegak seolah-olah ia tidak melihat apa-apa.

Akhirnya Jia Zhong menyerah dan dengan marah berkata, “Tubuh Xia Tong terbuat dari kayu dan hatinya dari batu!” Dengan demikian, Xia Tong kembali ke rumah.

Sejak itu ungkapan “Sebuah tubuh kayu dan hati batu” diteruskan kepada generasi selanjutnya. Ini berarti bahwa seseorang sangat teguh dan tidak dapat tergoda oleh ketenaran atau kekuasaan.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Thursday, May 31, 2012

Menghukum Tanpa Kekerasan

Alkisah di negeri tiongkok kuno, tinggallah seorang ayah yang sangat bijaksana, beserta anak lelakinya disuatu desa yang damai. Sang ayah sangat menyayangi anak lelaki, namun dalam mendidik anaknya sang ayah tidak pernah memarahinya ataupun menggunakan kekerasan.

Pada suatu hari, sang ayah mengajak sang anak ke kota untuk membeli kuda. Mereka pun menumpang kereta kuda dari desa ke kota, karena jarak antar desa ke kota sangat jauh, tanpa merasa lelah, dan sang anak sangat senang karena baru kali ini lah dia menuju ke kota.

Sesampainya di kota, sang anak yang begitu gembira terus melihat sekeliling kota, dia menoleh ke kiri dan ke kanan, dan tanpa disadari, dia melihat ada pertunjukkan drama di tengah kota, dan timbullah niat untuk menonton pertunjukkan tersebut. Dia pun memisahkan diri dari ayahnya yang berjalan didepannya menuju ke pasar kota.

Hari sudah semakin siang, sang ayah terlihat panik mencari sang anak kesana kemari, setelah mengetahui anaknya tidak ada dibelakangnya. Dia begitu gelisah, semua liku pasar di kota tersebut pun di laluinya demi mencari anak kesayangannya itu. Akhirnya, dalam kebingungannya, dia duduk disebuah taman kota didekat pasar, dengan pandangan kosong. Tanpa disadarinya sang anak yang telah menonton pertunjukkan drama pun menghampiri ayahnya. Melihat anaknya datang sang ayah begitu gembira dan berkata :

"Darimana kamu dari tadi nak, ayah menelusuri seluruh pasar ini tapi tidak menemuhi mu"
"Saya mengikuti ayah dari belakang, namun karena ayah begitu cepat jalannya, saya pun tertinggal dan tersesat ayah" Kata anaknya berbohong

Sang ayah yang mengetahui anaknya bohong, pun tersenyum dan berkata :
"Baiklah, aku sebagai ayah tidak mampu menjaga mu, bahkan sampai kamu tersesat, mari kita pulang ke rumah, hari sudah semakin sore. Kamu naikilah kuda yang baru ayah beli, ayah akan berjalan kaki untuk merenungi kesalahan ayah"

Sang anak yang begitu terkejut mendengar jawab sang ayah, bermaksud ingin bicara, namun ayahnya telah berjalan kedepan menuju ke rumahnya didesa. Dalam penyesalannya sang anak melihat sang ayah yang berjalan penuh peluh di mukanya, terus berjalan menuju kedesa, untuk menemani ayah, sang anak memperlambat laju kuda yang dikendarainya.

Berjam-jam sang ayah berjalan menuju ke desa, dan dengan penuh isak tanggis sang anak pun turun dari kuda, dan menuntun ayahnya untuk menaikki kuda, sambil berkata:
"Saya tahu saya salah, saya telah berbohong, tolong jangan siksa diri ayah lagi, naik lah ke atas kuda ayah"

Ayah tersenyum sambil memeluk anak kesayangannya itu.

Kekerasan tidak bisa dihadapin dengan kekerasan, namun kekerasaan harus dihadapin dengan kelembutan, pepatah yang sangat menarik, mencerminkan pribadi sang ayah dalam cerita diatas, dalam mendidik anak dipenuhi oleh kasih sayang, mendidik tanpa kekerasan, sungguh suatu kebijakkan yang patuh kita contoh. Andai saja kita mampu menirunya, tentu dunia ini akan dipenuhi kebahagiaan
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Friday, May 25, 2012

Jembatan Bisikan

Sekitar 3000 tahun lalu, kaum terapung dari negeri Cina kuno tinggal di atas rumah-rumah di atas air.  Mereka makan malam di udara terbuka. Setiap keluarga tinggal di atas panggung di sebuah teluk.  Ketika seorang anak lelaki sudah tumbuh dewasa, dia akan berdiri di tepi panggungnya dan memanggil.  Gadis yang dicintainya akan memanggilnya kembali. 


Lalu pemuda itu akan membangun sebuah jembatan dari panggungnya menuju panggung si gadis.

Jika keluarga si pemuda menyukai si gadis, mereka akan membantu membangun jembatan itu.  Kedua rumah mereka akan digabungkan dan kedua keluarga akan menjadi satu.


Pada suatu hari, seorang pemuda terapung mendengar bisikan dari atas cakrawala.  Bisikan itu datang dari seorang gadis yang tinggal nun jauh di sana.  Mereka saling memanggil dalam kurun waktu yang lama dan kemudian mereka memutuskan untuk menikah.


Jika keluarga si pemuda tidak setuju pada gadis yang berasal dari kalangan yang berbeda dan terlalu jauh.  Tapi si pemuda bersikeras maka Ia mulai membangun jembatan menuju cakrawala.  Ia menggali dalam ke dasar laut untuk membangun fondasi yang kuat.


Keluarganya tidak membantu.  Kata mereka, tradisi menikahi tetangga memberikan kekuatan pada komunitas mereka. Mereka menamakan jembatan si pemuda “Jembatan Bisikan“.  Mereka menyuruhnya berhenti membangunnya.  Namun si Pemuda tidak peduli.  Ia membangun jembatan itu selama delapan tahun.


Ketika jembatan selesai, ia bertemu dengan gadis yang berbisik dari cakrawala.  Mereka pun menikah di atas jembatan istimewa itu. Tahun berikutnya, badai besar datang menghantam.  Badai itu memusnahkan rumah panggung kaum terapung, namun jembatan bisikan itu tetap tegar !


Begitulah pula dengan kita.  Benda yang membutuhkan waktu lama untuk membangunnya akan membutuhkan waktu lama pula untuk memusnahkannya.


Melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan itu memang sulit.  Tapi setelah ia tuntas, maka tidak bisa lagi dibuyarkan.  Untuk memastikan agar tradisi lama tetap bisa mempertahankan kekuatannya, maka ubahlah.


Cerita di atas sangat mengesankan dan maknanya sangat dalam.  Dalam cerita itu, andapun dapat menangkap makna-makna yang luar biasa.


Bagi anda yang menginginkan kesuksesan bisnis, maka cerita jembatan cina kuno itu, harusnya memberi anda inspirasi dan semangat.  Dalam cerita itu, terkandung kunci-kunci sukses yang abadi. 


Kunci-kunci itu tak terbantahkan.  Ia telah berulang kali digunakan oleh semua orang sukses.  Tak peduli orang-orang sukses tersebut tadinya miskin, cacat, didiskriminasi, bodoh, mau bunuh diri, atau bagaimana pun. Kunci-kunci itu telah menolong mereka.  Kunci-kunci yang sama akan terus menolong siapa saja yang benar-benar ingin sukses.


Apa saja kunci-kunci sukses dalam cerita itu?  Saya menemukan ada tiga yang utama:


1.    Tujuan yang jelas.
2.    Berani merubah tradisi
3.    Kesabaran tiada akhir.


1.    Tujuan yang jelas.


Tujuan sang pemuda jelas.  Ia harus menghubungkan rumahnya dengan rumah gadis idamannya dengan sebuah jembatan.


Sang pemuda tahu, jembatan itu panjang.  Maka ia membangun jembatan yang sangat kuat.  Karenanya, jembatan itu harus dibangun dengan fondasi yang sangat dalam ke dasar laut.  Perhitungan tepat.  Jembatan itu tahan dihantam badai.


Tujuan jelas sangat penting dalam bisnis.  Inilah awal semua cerita bisnis.  Apakah tujuan anda berbisnis?  Apakah uang dan kekayaan melimpah?  Atau Kedudukan terhormat?  Popularitas?  Atau pembuktian diri?  Atau apa?


Saya menawarkan, buatlah tujuan bisnis anda adalah : Memberi manfaat besar bagi sesama dengan menggunakan kekayaan berlimpah. Jadi, berbisnis itu memang untuk  kaya.  Punya uang dan kekayaan melimpah.  Tapi uang dan kekayaan itu hanya alat.  Alat untuk memberi manfaat untuk sesame.


Jadi, buat penghasilan anda Rp. 5 milyar per bulan.  Maka anda dapat membangun rumah sakit gratis, sekolah gratis, beasiswa, investasi bisnis kecil, dan sebagainya.  Pokoke tujuan anda adalah memberi manfaat bagi sesama.  Dengan begitu hidup anda akan tenang dan bahagia.


Otak anda akan bekerja sesuai tujuan anda.  Bila tujuan anda  Rp. 100 juta, maka otak anda akan bekerja di tingkat Rp. 100 juta itu.  Coba tetapkan tujuan Rp. 1 juta, maka otak anda akan bekerja sepersepuluhnya.  Karenanya, tetapkan tujuan bisnis tinggi.  Dengan itu, otak dan tindakan anda akan mengikuti.


Setelah menetapkan tujuan, berhati-hatilah pada pada Pencuri Mimpi.  Pencuri Mimpi adalah orang-orang yang berusaha mencuri tujuan anda.  Mereka menghalangi anda.  Mereka melemahkan semangat anda.  Mereka mengatakan masalah dan resiko yang akan anda hadapi.  Mereka juga memberi gambaran kegagalan anda.


Bila anda menuruti kata mereka, saya pastikan anda akan berhenti.  Sang pemuda Cina akan berhenti membangun jembatan ketika ia mendengar kata-kata keluarganya untuk berhenti dan hanya mencari istri dari tetangganya saja.  Keluarga sang pemuda telah berusaha menjadi pencuri mimpi.  Untung sang pemuda tak mendengarkannya.


Pernahkan anda ingin kenalan dengan gadis/pria yang menarik bagi anda? Begitu anda mau bergerak, anda mendengar suara-suara negatif di benak anda.  Anda ikuti suara negatif itu.  Anda pasti berhenti bergerak.


Anda paling-paling  cuma memandangnya dari kejauhan.  Anda bayangkan betapa enaknya bisa kenalan.  Tapi anda masih tidak bergerak.  Tapi begitu anda berpikir : “Saya akan mengenalnya.  Apapun yang terjadi.  Malu, malu dah.“  Jreng anda pun bertindak.


2. Berani Merubah Tradisi


Sang pemuda Cina hidup dalam suatu tradisi.  Menikah dengan tetangga.  Tapi ia tidak mau menerima tradisi itu.  Ia merubahnya.  Ia menginginkan sesuatu yang tidak biasa.
 
Karena itu, ia jadi orang luar biasa.  Meski untuk itu, ia harus membayar harganya.  Tidak didukung keluarga dalam kerja besarnya.


Dalam hidup banyak tradisi.  Misalnya sekolah tinggi, dapat kerja bagus.  Banyak orang yang ingin bisnis tapi tidak berani merubah tradisi itu.  Akhirnya keingingan itu terpendam dan hilang.  Mereka menyerah pada tradisi.  Mereka memilih jadi orang biasa-biasa saja.


Pilihannya ada pada anda.  Apakah anda benar-benar mau mencapai tujuan anda di atas.  Bila benar-benar mau, maka anda harus membayar harganya.


Harga tujuan mengikuti tujuannya.  Bila tujuan anda rendah, maka harganya juga rendah.  Bila tujuan anda tinggi, maka harganya juga tinggi.


Bila anda ingin pendapatan Rp.100 juta per bulan, anda tidak mungkin mendapatkannya dengan menjadi karyawan.   Anda harus berbisnis. Meski dengan begitu anda harus berjuang merubah banyak tradisi.  Terutama tradisi dalam pikiran anda sendiri.


Dalam diri setiap manusia, ada hambatan mental.  Apakah bentuknya keraguan, ketakutan, kurang percaya diri, dan sebagainya.  Ketika hambatan mental ini muncul, maka anda pasti jadi orang yang kendur semangat dan takut menghadapi resiko.  Anda cenderung mundur ke belakang.


Untuk mengatasi masalah ini, anda harus fokus pada tujuan anda.  cara praktis, anda teriakkan tujuan anda berulang kali.  Sang pemuda Cina pun begitu. Keraguan dan ketakutan menghampirinya.  Tapi ia fokus pada tujuannya.  Keinginannya menikah dengan gadis pujaan, membakar lagi semangatnya.


Cara kedua, ingatlah bila anda menyerah anda harus memulai berjuang dari awal.  Itu kondisi yang lebih buruk daripada meneruskan perjuangan. 


Cara ketiga, ingatlah bahwa semua hal buruk itu pasti berlalu. Betapa susahnya pun anda sekarang, semua kesusahan itu akan berlalu.  Anda akan mengenang kesusahan itu sebagai hal yang indah.


Cara keempat, berkumpullah dengan orang-orang yang sudah sukses mengatasi hambatan mental dalam dirinya.  Bergaul dengan orang yang pantang menyerah akan berpengaruh pada diri anda. 


Cara kelima, bacalah kisah-kisah hidup orang-orang sukses.  Pelajari apa sih rahasia mereka. 


Cara keenam, lihat sekeliling anda.  Cari orang-orang gagal.  Perhatikan hidup mereka yang menderita.  Ingatlah bila anda tidak mau menderita seperti mereka, anda harus berbuat yang berbeda dengan mereka.


3. Kesabaran Tiada Akhir.
Sang Pemuda membangun jembatannya selama 8 tahun.  Itu berarti ia bekerja keras selama itu.  Ia juga harus mengatasi keluarganya yang merintangi.   Dan yang terpenting, ia harus mengatasi keraguan dalam dirinya sendiri. 


Sang pemuda Cina sukses.  Kesuksesan yang ia raih karena ia BERSABAR TIADA AKHIR.


Ia sabar bekerja.  Ia sabar menahan rintangan orang tua.  Ia sabar mengatasi masalah-masalah teknis pembangunan jembatan.  Ia sabar menanti kekasihnya.  Sang kekasih pun sabar menantinya.  Apa yang terjadi bila sang pemuda tidak sabar?  Ia akan mengubur tujuannya!!!  Ia akan mencari gadis tetangga saja.  Dengan begitu, ia  hanya perlu membangun jembatan pendek.  Itupun dibantu keluarganya.
Itulah yang terjadi dengan para pebisnis yang tidak sabar.  Berbagai masalah yang ia hadapi membuatnya menyerah berusaha.  Akhirnya ia kubur mimpinya.

Banyak orang yang telah mulai bisnis, lalu berhenti ketika masalah timbul.  Ketika bisnisnya turun, keluarga tidak mendukung, bisnis banyak pesaing, konsumen mengeluh, suplayer curang,  dan sebagainya mereka berhenti.  Bukannya berpikir dan bertindak untuk mengatasinya. Duh,…


Saya punya seorang teman yang tidak sabaran.  Bisnisnya terus berganti.  Suatu kali ia buka konveksi.  Eh, tiga bulan berikutnya, ia ganti bisnis jadi agen asuransi.  Belum dua bulan, ia ganti lagi jadi bisnis aquarium.  Tidak lama berselang, ia beralih ke bisnis multimedia. 


Saya katakana padanya: “Bila anda tidak sabar dalam satu bidang bisnis, anda tidak akan sukses. Sabar dan atasi masalah”.  Semoga saja ia melakukannya.


Bersabar memang berat.  Tapi tidak bersabar, jauh lebih berat.  Ketika anda berhenti berusaha mencapai tujuan anda, anda harus memulai lagi dari awal.  Selain itu, makin sering anda berhenti berusaha mencapai tujuan, maka lama-lama tujuan anda akan turun. 


Misalnya tujuan awal anda adalah Rp. 100 juta per bulan.  Bisnis anda adalah voucher pulsa.  Anda sudah berusaha tapi belum berhasil.  Anda pun memutuskan berhenti.  Nah, ketika anda akan berbisnis lagi, anda pasti menurunkan tujuan anda.  “Sudah terbukti Rp. 100 juta tidak bisa dicapai.  Karena itu tujuan saya sekarang adalah Rp. 50 juta.“ 


Duh,… satu kegagalan membuat tujuan turun 50%.  Apalagi bila harus gagal seperti Thomas Alva Edison.  Ia gagal 10.000 kali.  Untungnya, Edison bersabar. Tujuannya tidak berubah.  Ia harus menemukan logam yang tepat untuk bola lampunya.


Bersabar yang benar harus cerdas.  Apa artinya?  Bila satu cara untuk mencapai tujuan gagal, maka bersabarlah untuk melakuan cara lain yang berbeda.  Bila anda masih berpikir dengan cara yang sama, maka pasti tindakannya juga sama.  Bila tindakan anda sama, maka pasti hasilnya juga sama.  Itulah sebabnya bersabar harus cerdas.  Artinya terus berpikir cara-cara lain yang berbeda untuk mendapat hasil yang berbeda.


Disinilah letak penting kreatifitas dalam bersabar.  Bila anda bersabar tapi tidak kreatif, maka anda akan seperti keledai yang jatuh berulang kali di lubang yang sama. 


Anda akan gagal berulang kali, tapi anda tidak belajar dari kegagalan itu.  Kegagalan anda jadi tidak ada artinya.  Anda jadi benar-benar gagal.  Orang sabar, harus cerdas.  Jadilah kreatif. 


Orang sabar dan kreatif akan mendapat hasil yang berbeda dari orang biasa. Bisnisnya akan berkembang lebih baik.  Sabar membuat mereka tenang menghadapi masalah.  Kreatif membuat mereka bisa terus menemukan solusi berbagai masalah yang terjadi.source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Wednesday, May 16, 2012

Xin Shi yang Cantik

Pada zaman Chun Qiu ada seorang wanita yang terkenal dengan kecantikannya, namanya Xin Shi. Xin Shi diakui sebagai salah satu dari empat wanita tercantik sepanjang perjalanan sejarah bangsa China. Karena itu, jika kita berjalan-jalan ke negeri China, ada eksesori dengan gambar empat wanita tercantik di China, salah satu di antaranya Xin Shi. Sayangnya Xin Shi yang cantik saat itu sakit-sakitan. Wajahnya pucat dan ia sering mengeluh sakit di bagian dadanya.

Akan tetapi, saat ia meringis kesakitan, orang yang melihatnya masih mengatakan bahwa dia tetaplah cantik. Tak mengherankan ada orang-orang saat itu mengatakan, “Meskipun sakit dan wajahnya pucat, Xin Shi masih tetap kelihatan cantik.”


Xin Shi mempunyai tetangga yang juga adalah seorang gadis, namanya Dong Shi. Ketika makin lama makin banyak orang yang memuji Xin Shi, Dong Shi merasa tidak suka dan iri hati. Karena itu kepada orang banyak ia berbicara, “Apa lebihnya Xin Shi, apalagi wajahnya yang sering pucat dan meringis menahan sakit. Sebenarnya kecantikanku tidak jauh beda dengan Xin Shi.” Tetapi setiap orang yang mendengar ucapannya selalu tertawa sinis sambil berlalu. Hal itu membuat Dong Shi semakin membenci Xin Shi. Ia selalu berpikir, “Aku harus bagaimana supaya orang memujiku dan tidak terus menerus memuji Xin Shi?”

Suatu hari penyakit Xin Shi kumat lagi, tetapi saat itu ia tidak bisa istirahat. Ia harus pergi ke sungai untuk mencuci kain tenun. Karena itu, satu tangannya memegang keranjang berisi kain tenun dan satu tangan lagi memegang dadanya yang sakit. Ia pun tidak bisa berjalan cepat menuju sungai. Di tengah perjalanan ia berpapasan dengan Dong Shi. Dong Shi melihat wajah Xin Shi pucat pasi dan meringis kesakitan. Awalnya Dong Shi sangat marah dan berkata lirih, “Orang ini yang dibilang ‘walaupun kesakitan tetapi tetap cantik’, tetapi pada pemandangan saya tidaklah demikian!” Lalu Dong Shi sungguh-sungguh melihat wajah Xin Shi yang sedang menahan sakit tersebut dan dalam hati ia berkata, “Wah, ternyata memang pendapat banyak orang benar bahwa walau menahan sakit, Xin Shi tetap terlihat cantik! Aku tidak boleh terus-menerus iri dan membencinya. Orang akan semakin tidak suka kepadaku. Sebenarnya aku harus bagaimana?”

Ia menyaksikan Xin Shi makin lama berjalan menjauhinya. Ia terus berpikir dan berpikir dan akhirnya mendapat ide, “Xin Shi dengan wajahnya yang tampak sakit terlihat cantik oleh orang-orang , pasti baik jika aku berjalan di belakangnya dan berpura-pura sakit juga seperti dia. Mungkin hanya dengan cara ini orang juga bisa melihat kecantikanku.” Lalu, ia tersenyum gembira dan berlari supaya tidak terlalu jauh dari Xin Shi. Ketika ia berjalan mengikuti Xin Shi, ada seorang nenek tua. Lalu Dong Shi segera berpura-pura sakit.

Waktu nenek itu memperhatikan orang yang berjalan di belakang Xin Shi, dan ternyata adalah Dong Shi, nenek tua itu ingin menolongnya. “Nona Dong Shi kamu sakit apa?” tanya nenek itu. Dong Shi pun balik bertanya kepada nenek tua itu, “Nenek, jika penampilanku seperti ini apakah aku tambah cantik seperti Xin Shi?”

Waktu nenek itu mendengar pertanyaan itu, ia jadi mengerti bahwa Dong Shi cuma berpura-pura sakit. Nenek tua itu pun tidak dapat menahan tawanya, dan ia tertawa lepas sekali. Setiap kali bertemu orang, Dong Shi selalu mendapat respon yang sama, orang pada tertawa. Dong Shi berpikir orang-orang mulai memuji dan menyukainya, tetapi lama-kelamaan ia paham bahwa orang-orang mengejeknya. Akibatnya, dengan marah ia bertanya kepada orang-orang banyak yang kebetulan berkumpul di suatu tempat, “Kenapa kalian menertawakanku? Bukankah kalian berpendapat wajah Xin Shi yang sakit juga terlihat cantik. Kenapa waktu wajahku tampaknya sakit kalian tidak menyebutku cantik?” Ketika mendengar ucapan Dong Shi mereka pun berhenti tertawa.

Di antara orang tersebut ada yang menyahutnya, “Gadis bodoh, Xin Shi pada dasarnya memang sangat cantik. Jadi, walaupun dia tampak pucat dan kesakitan ia tetap kelihatan cantik. Kamu bukanlah Xin Shi. Kalau kamu berpura-pura sakit seperti ini bukan tambah cantik, tetapi tambah jelek!”

Wajah Dong Shi merah padam saat mendengar perkataan orang itu. Dong Shi malu dan akhirnya mengetahui bahwa perkataan dan tanggapan orang yang ditemuinya itu benar. Akhirnya ia berlari dengan cepat pulang ke rumah. Mulai saat itu ia tidak lagi ingin meniru wajah Xin Shi yang tampak kesakitan karena ia sudah tahu dengan pasti Dong Shi bukanlah Xin Shi.

Sejak saat itu orang di negeri China selalu mengatakan orang yang suka meniru orang lain dengan sebutan Dong Shi Xiao Pin.

Mutiara Hikmat :

Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri. tidak perlu merasa iri karena orang memuji penampilan orang lain dan tidak terlalu memuji penampilan diri kita. belajar mengakui kelebihan orang lain dan memperbaiki kekurangan diri sendiri itu sering membuat hidup akan lebih baik ketimbang iri terhadap kelebihan orang lain dan berusaha untuk menjadi orang lain atau bahkan menjelekan orang lain.

Diri kita di ciptakan sama berharganya dengan orang lain, kita pasti punya kelebihan tersendiri. Oleh karena itu, Kelebihan yang ada yang kita miliki perlu kita asah dan kembangkan dengan baik. Jika kita mencoba meniru-niru supaya mirip dengan orang lain maka hasilnya kemungkinan besar adalah orang menertawakan kita karena kita akan tampak mengelikan.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Monday, May 14, 2012

Mujur atau Malang?

Ada sebuah cerita Cina kuno tentang seorang laki-laki tua yang sikapnya dalam memandang kehidupan berbeda sama sekali dengan orang-orang lain di desanya.

Rupanya laki-laki tua ini hanya mempunyai seekor kuda, dan pada suatu hari kudanya kabur. Para tetangganya datang dan menaruh belas kasihan kepadanya, mengatakan kepadanya betapa mereka ikut sedih karena kemalangan yang menimpanya.

Jawabannya membuat mereka heran.

"Tapi bagaimana kalian tahu itu kemalangan?" dia bertanya.

Beberapa hari kemudian kudanya pulang, dan ikut bersamanya dua ekor kuda liar. Sekarang si laki-laki tua punya tiga ekor kuda. Kali ini, tetangga-tetangganya mengucapkan selamat atas kemujurannya.

"Tapi bagaimana kalian tahu itu kemujuran?" dia menjawab.

Pada hari berikutnya, sementara sedang berusaha menjinakkan salah seekor kuda liar, anak laki-lakinya jatuh dan kakinya patah.

Sekali lagi, para tetangga datang, kali ini untuk menghibur si laki-laki tua karena kecelakaan yang menimpa anaknya.

"Tapi bagaimana kalian tahu itu kemalangan?" dia bertanya.

Kali ini, semua tetangganya menarik kesimpulan bahwa pikiran si tua kacau dan tidak ingin lagi berurusan dengannya.

Walaupun demikian, keesokan harinya penguasa perang datang ke desa dan mengambil semua laki-laki yang sehat untuk dibawa ke medan pertempuran. Tetapi anak si laki-laki tua tidak ikut diambil, sebab tubuhnya tidak sehat!

Kita semua akan menghayati kehidupan yang lebih tenang kalau kita tidak terlalu tergesa-gesa memberikan penilaian kepada peristiwa yang tejadi. Bahkan apa yang paling kita benci, dan yang masih menimbulkan reaksi negatif kalau terpikirkan oleh kita, mungkin memainkan peranan positif dalam hidup kita.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Wednesday, May 9, 2012

Oey Tambah Sia - Sang PlayBoy Jakarta Dihukum Gantung Belanda

Mengaet pesinden

Pesta meriah di kabupaten Pekalongan semakin semarak karena kehadiran seorang pesinden tenar bernama Mas Ajeng Gundjing. M.A. Gundjing itu sebenarnya putri seorang mamtancamat. Kenapa ia menjadi pesinden? konom semasa kecil ia pernah sakit parah,sehingga hampir tidak tertolong. Dalam keadaan sulit itu, orang tua untuk bernadar. Kalau anak ini sembuh,kelak ia akan belajar menjadi pesinden.

Gundjing sembuh dan tumbuh menjadi gadis cantik yang pandai menari dan melagukan tembang denganmerdu, sampai tidak ada tandingannya di Pekalongan. OeyTambahsia si matakeranjang segera jatuh hati pada biduan jelita itu.berbagai cara ditempuhnya untuk mendekati dan memikat pesinden itu. Ternyata Tambahsia berhasil. Gundjing menerima uluran tangannya.sebelum pestadi kabupaten resmi usai dan Tambahsia pulang, pesinden itu sudah diboyong ke cirebon lalu dibawa ke Betawi oleh kaki-tangan Tambahsia. Di Betawi Gundjing ditempatkan di pasangrahan Ancol, yang membuat penghuni lama merasa kurang senang.

Baru seminggu di Bintang Mas, Gundjing jatuh sakit. Entah karena Ancol yang kurang sehat atau karena tidak tahan menhadapi sikap para penghuni lama. Melihat Gundjingsakit, buru-buru Tambahsia memindahkannya ke Tangerang, ke tanah Psar Baru milknya. Tambahsia pribadi mengawasi perawatannya sampai pesinden itu sembuh, sehingga praktis Tambahsia lebih banyak berada di Tangerang ketimbang di tempat lain.

Betapapun cintanya Tambahsia kepada Gundjing, ia tetap tidak bisa meninggalkan kebiasaan buruknya untuk berburu gadis, janda maupun istri orang lain. Pemuka masyarakat Cina dan anggota Dewan Cina tidak mampu menertibkannya. Diam-diam mereka memendam dendam dan yakin suatu ketika Oey Tambahsia akan ketemu Batunya. Sementara itu Tambahsia sendiri semakin takabur, sebab merasa tidak ada kekuatan yang mampu mengekangnya.

Mata gelap
Ketika berkunjung ke pekalongan itu, Tambahsia berkenalan dengan anak letnan Cina di kota itu. Pemuda bernama Liem Soe king itu pindah ke Betawi untuk membangun kehidupannya. Agaknya ayahnya tidak meninggalkan warisanbesar, sehingga ia tidak bisa hidup tanpa bekerja. Ia pandai dan rajin, sehingga dipungut mantu oleh Mayor Tan Eng Goan, yaitu dinikahkan dengan salah seorang putrinya dari selir.

Berkat koneksi mertua, ia diangkat menjadi pengelola gabungan pemborong (pachter) madat, yangmerupakan usaha gabungan lima orang Pemuka Cina, termasuk Tan Eng Goan. Pada masa itu pemerintah Hindia Belanda memonopoli semua pembuatan dan perdagangan madat (apium) dan penjualannya kepada konsumen diserahkan kepada para pachter.

Sekalipun pernah berkenalan di Pekalongan, Liem Soe King tidak bergaul dengan Oey Tambahsia, sebab Liem lebih dekat dengan para pemuka Cina yang bermusuhan dengan Tambahsia, di samping kedudukannya sebagai menantu Tan Eng Goan. Pada suatu ketika, Tambahsia mendengar dari kaki-tangannya bahwa seorang perempuan kerabatnya jatuh hati kepada Liem. Pendekatan entardengan cara apa, ternyata tidak ditanggapi oleh Liem. Oey Tambahsia menganggap hal ini sebagai penghinaan dan aib besar bagi keluarganya. Mungkin juga Oey sudah lama tidak suka kepada Liem yang dianggap antek para pemuka Cina dan Oey merasa tidak di pandang, karena Liem tidak datang kepadanya untuk melanjutkan perkenalan mereka di Pekalongan. Boleh jadi juga dendamnya dikobarkan oleh para antek dan penjilat yang selalu mengelilinginya.

Maka Oey Tambahsia bertekad untuk menyingkirkan Liem Soe King.

Ternyata hal itu tidak mudah ia menyingkirkan korban-korbannya yang lain. Liem Soe King selalu di kawal ke mana pun ia pergi. Lagi pula ia sudah mendengar ancaman Tambahsia sehingga selalu waspada. Tambahsia bertambah geram karena anak nuahnya tidak berdaya melenyapkan orang yang dibencinya. Maka timbullah muslihat keji di benaknya.

Rencana keji
Oey Tambahsia menggodok rencananya masak-masak. Ia menyuruh kokinya menbuat kue yang harus diisi dengan roomvla (seperti isi kue sus, rasanya manis).Kue itu disuruhnya hidangkan di atas piring dan ditaruh di kamar Tambahsia.Roomvla-nya tidak diisikan dulu. Lalu Tanbahsia mengambil racun dan dicampurnya dengan roomvla. Ia memerintah seseorang memanggil seorang begundalnya yang bernama Oey Tjoen Kie (Tjeng Kie). Antek yang biasa disuruh mencarikan perempuan itu bergegas ke rumah majikannya. Didapatkan Tambahsia sedang tidur-tiduran sambil menghisap madat. Tambahsia mempersilakan Tjoen Kie iktu mengisap. Tawaran itu diterima dengan senang hati.Setelah bersama-sama meneguk teh panas, Tjoen Kie merasa lapar dan makan kue-kue di piring tanap dipersilakan lagi. Dengan mata setengah terpejam Tambahsia melihat Tjoen Kie melahap dau buah kue.

“Kamu makan kue itu, Kie?”tanya Tambahsia.
“ya, Sia. Maaf, habis saya lapar…”jawab Tjoen kie takut kena marah.
“wah,celaka!”seru Tambahsia pura-pura terkejut.”Kamu bakal mati, sebab kue iu beracun!”

Tjoen Kie lega karena tidak dimarahi. ia tenang-tenang saja sebab mengira majikannya bergurau.
“Jangan main-main ah, Sia.”katanya
“Betul!”kata Tambahsia sambil bangkit.”Sungguh kamu bakal mati. tapi jangan khawatir. aku akan mengurus segalanya dan akan menjamin hidup keluargamu kalau kamu mau menuruti kehendakku.”

Tjoen Kie masih mengira majikannya bercanda. Mustahil Tambahsia sekeji itu?Namun kemudian ia merasa perutnya sakit. Ia terus menerus mereguk teh dengan harapan sakitnya berkurang, tetapi ternyata bertambah. Ketika sakitnya sudah tidak tertahankan lagi ia berteriak-teriak dan melupakan hubungannya denganmajikannya.Ia memaki-maki Tambahsia sebagai orang kejam dan jahat. Ia menanyakan apa alasannya sampai ia disingkirkan dengan cara sekejam itu.

OeyTambahsia menghiburnya seraya berkata, mati pun Tjoen Kie tidak sia-sia,sebab ada tujuannya, Lalu ia menbujuk begundalnya itu agar mau memberikan keterangan tertulis bahwa yang memberi racun itu … Liem Soe King.

keadaan Tjoen Kie makin lama makin parah sampai akhinya rupanya ia tidak berdaya lagi melawan kehendak majikannya. Atau mungkinkan iamanusia berjiwa budak yang tidak bisa berpikir lain, sehingga setuju saja dibuatkan keterangan tertulis di muka notaris yang dipanggil oleh Tambahsia dan disaksikan oleh polisi dan pejabat lain?Menurut pengakuan yang didiktekan oleh Tambah itu, Tjoen Kie disurh menagih utang kepada Liem, tetapi tidak dibayar. Sebaliknya ia persilakan duduk dan diberi minuman. Ketika perutnya mulai sakit, ia melapor kepada Tambahsia.

Tidak lama setelah menandatangani pernyataan itu Tjoen Kie meninggal. Mayatnya dibawa ke Stadsverband (rumah sakit) di Glodok untuk diperiksa. Sementara itu Tambahsia mengirimkan peti jenazah dan pelengkapan lain ke rumah keluarga mendiang di jembatan Lima. Polisi membuat prose verbal lalu mencari Liem Soe King yang dituduh membunuh Oey Tjoen Kie.

Dirumah Liem Soe King, polisi mendapat keterangan bahwa Liem sudah empat hari tidak pulang. Diduga ia sedang sibuk main judi di rumah perkumpulannya.

Tamu dari Pekalongan
Sementara itu di tempat lain berlangsung sebuah lakon lain. Seorang laki-laki muda berpakaian seperti priyayi Jawa, suatu hari berkunjung ke rumah Oey Tambahsia. Ia mengaku bernama Mas Sutedjo, datang dari Pekalongan untuk mencari adiknya, M.Am Gundjing. Seingat Tambahsia, Gundjing tidak pernah menyebut-nyebut mempunyai kakau laki-laki. Meskipun agak kurang senang dan bercuriga terhadap lelaki tampan itu, ia menyuruh tamunya itu diantarkan ke kampung Pasar Baru di Tangerang.

Mas Sutedjo disambut hangat oleh M.A.Gundjing, sebagia layaknya saudara yang lama tidak bertemu dan datang dari jauh. Masa itu perjalanan Pekalongan – Jakarta harus ditempuh selama beberapa hari dengan kereta pos yang diterik kuda. Karena itu wajar saja kalau Gundjing menawari kakaknya tinggal lebih lama di Tangerang, sebelum kembali ke Pekalongan. Mas Sutedjo tampaknya cukup betah tinggal di rumah besar yang di keliling oleh kebun yang luas, dengan staf pelayan yang siap melayani segala keperluannya. Ia tinggal lebih lama dari rencana semula karena mingkin belum cukup melepaskan rindunya kepada adiknya tercinta.

Selain menyanyi dan menari, Gundjing juga pandai membatik, yang dilakukannya pada waktu laungnya. Sutedjo dihadiahnya sehelai kain batik halusnya sebagai kenang-kenangan. Pakaian itu langsung dikenakan oleh Sutedjo.

Sementara itu, mat-mata di kalangan staf pelayan di kampung Pasar Baru melaporkan hal-hal yang bukan didasarkan pada fakta, tetapi semata-mata pada prasangka. Kecurigaan Tambahsia semakin memperkuat rasa cemburunya. Apalagi melihat hubungan akrab pria ganteng dengan perempuan cantik yang umurnya tidak berjauhan itu.

Mas sutedjo
Terbakar oleh api cemburu buta, Tambahsia menyuruh tukang pukulnya, Piun dan Sura, untuk menyingkirkan lelaki tampan dari Pekalongan itu. Kedua jawara bayaran yang sudah berpengalaman itu melaksanakan perintah dengan cepat dan rapi. Malam itu juga Mas Sutedjo tidak pulang ke wisma Pasar Baru dan tidak seorang pun memberitahukan kepada adiknya ke mana perginya laki-laki malang itu. Ia menjadi korban kesekian dari Tambahsia yang kejam.

Cuma saja si Piun membuat kesalahan besar. Melihat kain batik tulis yang dikenakan korbannya, terbit sifat tamaknya. Ia mengambilnya, padahal Sura mengingatkan agar kain itu dibuang saja.

Sementara itu Liem Soe King berhasil ditemukan di salah sebuah rumah judi di Meester Cornelis (jatinegara) oleh orang-orang suruhan mertuanya. Liem sangat terkejut oleh tuduhan yang ditimpakan kepadanya Ia segera menghadap mertua, memberitahukan bahwa ia tahu-menahu perkara pembunuhan itu. setelah itu ia langsung melapor ke polisi.

Karena menurut bukti-bukti tertulis Liem terlibat peracunan, polisi terpaksa menahannya, sementera mereka mengumpulkan bukti-bukti dan saksi-saksi lain untuk menyusun berkas perkara. Mayor Tan Eng Goan tentu saja tidak tinggal diam. ia berusaha menyelamatkan menantunya. ia mendapat keterangan bahwa Liem tidak berada di tempat kejadian saat peristiwa peracunan itu. Liem memiliki alibi kuat yang didukung empat saksi. Ternyata kegemarannya berjudi menyelamatkannya dari perangkap Oey Tambahsia.

Empat orang kawan mainnya di rumah judi, salah seorang diantaranya jaksa dari bekasi, membuat pernyataan di bawah sumpah . karena itu , polisi yang tidak yakin dengan kesalahan Liem, mengeluarkannya dari tahanan.

Rahasia kue beracun
Dirumahnya, secara kebetulan Liem mendengar salah seorang pembantu rumah tangganya, Jiran, bercerita, Kata Jiran, Kakak perempuannya bekerja sebagai juru masak di rumah Oey Tambahsia. memergoki majikannya sedang memasukkan bubuk ke dalam kue yang disimpan di kamar tidur. Liem sangat tertarik pada cerita itu dan menyuruh Jiran agar memanggil kakaknya.

Dari juru Masak itu, Liem mendengar Tambahsia menyuruh membuat kue yang memakai roomvla, tetapi roomvla itu tidak langsung dimasukkan ke kue. Sang juru masakan melihat majikannya di dalam kamar tidur.

Liem bergegas melaporkan keterangan ini kepada Asisten Residen Keuchenius yan bertugas menangani perkara-perkara kepolisian. Keuchenius tentu saja tidak mau menelan begitu saja keterangan ini, tetapi meninta bukti. Liem menyarankan agar rumah Oey Tambahsia digeledah. Siapa tahu roomvla beracun masih bisa ditemukan.

penggerebekan dilakukan keesokan hairnya saat masih pagi sekali. Pasukaan polisi dipimpin oleh asisten residen sendiri. Ternyata Oey tambahsia sedang tidak berada di rumah, tetapi sisa kue masih ada, juga semangkuk roomvla di kolong ranjang. mungkin Tambahsia begitu yajin tidak akan pernah dituduh melakukan peracunan, sehingga lalai menyingkirkan barang bukti ini. Menurut pemeriksaan polisi, racun dalam roomvla itu sama dengan yang ditemukan dalam jenazah eoy Tjoen kie.

Di arena adu jago
Liem terus berusah mengumpulkan bukti kejahatan Tambahsia. dengan bergegas ia pergi ke Tangerang. Di sana ia berhasil membujuk M.A. Gundjing untuk bersedia menjadi saksi dalam perkara hilangnya kakak kandungnya. Di depan Asisten residen, Gundjing mengungkapkan kecurigaannya terhadap Piun yang secara sembrono mengenakan kain batik tulis milik kakaknya yang hilang.

Polisi menginterogasi Piun dan jawara itu terpaksa mengaku bahwa atas perintah majikannya, bersama Sura ia membunuh Mas Sutedjo dan menguburkan jenazah korbannya di kebun tebu, dalam lingkungan tanah milik Oey Tambahsia.

Polisi mencari Oey Tambahsia yang tidak ada di rumahnya. Di Bintang Mas, Ancol, pria kaya itu pun tidak kelihatan bayangannya. Ternyata sejak pagi ia sudah berangkat ke Pasar Asem(daerah pecenongan?). Polisi menemukannya di arena penyabungan ayam. Para petaruh gempar, karena mengira polisi menggrebek tempat taruhan gelap itu.

Petugas menghampiri Oey Tambahsia. Ia sangat terperanjat, tetapi yaki uangnya akan menyelamatkannya. ia menyadari bahwa ia dikenakan tuduhkan berat, bukan sekadar bersengketa dengan Tan Eng Goan.

Tongkat bertombol emas
Tempat tahanan Oey Tambahsia dijaga ketat, langsung di bawah pengawasan schout(sekaut,kepala polisi). Oey mencoba menyuap seorang polisi agar menyampai pesan kepada adik kandungnya. Opas itu disuruhnya membawa tongkatnya yang tombol emas kepada adiknya di rumah, tetapi ditangkap ketika akan memasuki rumah Oey Makau di Patekoan.

Polisi memeriksa tongkat itu. Ternyata didalam tombolnya terdapat kertas yang memuat pesan agar Makaumenyuruh Piun dan Sura kabur secepatnya. Kesaksian mereka bisa memberatkan perkaranya. Surat itu kelak malah menjadi buktiyang memberatkan di sidang pengadilan.

Di sidang pengadilan, Tambahsia terus menyangkal semua tudahan, walaupun tuduhan jaksa di dukung oleh saksi-saksi dan bukti-bukti yang meyakinkan. keluarga Oey meminta jasa seorang pengacara terkenal masa itu, yaitu Mr.B. Bakker yang mendapat honor tinggi di samping hadiah seratus gulden kalau ia berhasil menyelamatkan Oey Tambahsia.

Betapa pandainya pun Mr. bakker, ia tidak bisa membantah bukti yang diajukan penuntut umum. akhirnya, hakim ketua mejatuhkan hukum mati di tiang gantungan kepada Oey Tambahsia. Mr. Bakker mengajukan naik banding. Mahkamah Agung meneliti lagi perkara itu dan membenarkan serta memperkuat keputusan pengadilan sebelumnya. Harapan satu-satunya hanyalah meminta grasi kepada gubernur jenderal. setelah lama menunggu. tibalah surat ketetapan yang menyatakan pejabat tinggi itu menolak permohonan pengampunan Oey Tambah.

pada hari yang ditentukan untuk pelaksanaan hukuman matinya,Oey Tambahsia menaiki mimbar tempat tiang gantungan dengan sikap tenang. Dandanannya rapi. Ia mengenakan baju Cina dan celana putih. Wajah berseri. bersamanya digantung pula Puin dan Sura.

Maka berakhirlah riwayat Oey Tambah yang menggemparkan seluruh lapisan masyarakat Betawi dan menjadi buah bibirsampai lama. Kasihnya ditulis menjadi buku atau syair. Waktu menemui ajal di taing gantungan itu tambah baru berumur 31 tahun.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Tuesday, May 1, 2012

Pot Kosong

Pada suatu ketika, seorang Kaisar China ingin memilih pengganti tahtanya. Kaisar tersebut sudah tua & tidak memiliki putra. Karena ia sangat menyukai bunga & tumbuhan, ia memutuskan untuk memanggil semua anak di kerajaannya & memberikan mereka masing – masing sebiji benih.
Ia mengatakan bahwa anak yang memiliki hasil terbaik dalam waktu enam bulan akan memenangkan kompetisi tersebut & akan menjadi penerus tahtanya.

Semua anak di China ingin memenangkan kontes tersebut. Berkumpullah banyak anak – anak di istana pada hari ketika Sang Kaisar memberikan biji benih. Setiap anak membawa pulang satu biji benih di tangannya.


Salah seorang anak bernama Jun. Ia pandai berkebun, semua orang di desanya mengatakan bahwa ia seorang petani muda terbaik di desa itu. Ia dengan hati – hati membawa benih dari Sang Kaisar pulang ke rumahnya.

Di rumah, ia mencoba menumbuhkan biji benih itu dalam sebuah pot dengan teliti & sebaik – baiknya.

Satu minggu sesudahnya , Cheun memberitahukan bahwa biji benihnya sudah bertunas. Manche kemudia mengatakan bahwa dalam potnya sudah muncul tunas muda. Lalu Wong pun menyatakan hal yang sama. Jun menjadi bingung – tak ada satu pun dari anak – anak tersebut yang dapat menanam pohon sebaik dirinya! Tapi biji benih Jun tidak tumbuh.

Segera semua pot di seluruh desa itu telah bertunas. Kemudian anak – anak tersebut memindahkan tanaman mereka keluar supaya tunas mudanya mendapatkan sinar matahari yang cukup. Segera, puluhan tunas muda dalam pot di desa Jun telah bertumbuh daun. Tapi biji benih Jun tidak tumbuh.

Jun kebingungan – apa yang salah? Dengan seksama Jun memindahkan biji benihnya ke dalam pot baru. Ia mengubah cara menanamnya, tapi tetap saja biji benih Jun tidak tumbuh.

Enam bulan berlalu. Semua anak harus membawa tanaman mereka ke istana untuk dinilai. Cheun, Manchu, Wong & ratusan anak lainnya menyiapkan pot tanaman mereka. Kemudian mereka memakai pakaian terbaik yang mereka miliki. Beberapa orangtua mendampingi putra mereka membawakan tanamannya.

“Apa yang harus kulakukan?” Tanya Jun pada orangtuanya.
“Biji benihku tidak mau tumbuh! Pot milikku kosong!”
“Kau sudah melakukan yang terbaik,” jawab ayahnya.
“Jun, bawa saja pot milikmu kepada Kaisar,” balas ibunya, “Itulah usaha terbaikmu.”

Jun membawa pot kosong miliknya ke istana. Ia merasa malu, tapi apa yang dikatakan orangtuanya benar. Ia telah berusaha sebaik mungkin.

Di istana, semua anak berbaris rapi. Mereka menunjukkan tanamannya. Kemudian Sang Kaisar memeriksanya satu per satu.

Ketika ia mendatangi Jun, ia mentertawakannya & bertanya,”Apa ini? Kau membawakan aku pot kosong??”

“Ya, Yang Mulia,” jawab Jun,”Saya mencoba sebaik mungkin. Saya menanam biji benih Yang Mulia berikan dengan tanah subur. Saya menjaga & mengamatinya setiap hari. Ketika biji benihnya tidak tumbuh, saya memindahkannya ke dalam pot baru. Saya bahkan memindahkannya kembali. Tapi tetap saja tidak tumbuh. saya minta maaf Yang Mulia.” Jelas Jun sambil menggelengkan kepala.

“Hmm,” jawab Sang Kaisar,”Aku akan memilihmu sebagai penerusku,” lanjutnya. Semua orang terkejut. Tapi kemudian Sang Kaisar berkata,”Saya tidak tahu darimana anak – anak ini mendapatkan biji benihnya. Tidak mungkin ada yang tumbuh dari biji – biji benih yang aku berikan pada mereka. Aku telah merebus semua biji benihnya.”

Dan dia tersenyum pada Jun & berkata,”Kau adalah satu – satunya anak yang mau jujur kembali dengan membawa pot kosong.”
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Wednesday, April 25, 2012

Kisah Tang Jiangshan ( Reinkarnasi yang Mengharukan )

sebuah kisah reinkarnasi yang mengharukan, mengisahkan pengalaman dari Tang Jiangshan dari kecamatan Gan Cheng, kota Dong Fang di timur pulau/propinsi Hai Nan.

Tang Jiangshan lahir pada tahun 1976, sewaktu berumur 3 tahun pada suatu hari ia tiba-tiba mengatakan kepada kedua orangtuanya: “Saya bukan anak kalian, pada kehidupan lampau nama saya adalah Chen Mingdao, ayah kehidupan lampauku bernama San Die. Rumah saya di Dan Zhou, dekat laut.” Omongan ini kalau didengar orang lain bagaikan omong kosong, perlu diketahui, Dan Zhou terletak di utara pulau Hai Nan, berjarak 160 km dari kota Dong Fang.

Selain itu Tang Jiangshan mengatakan bahwasanya dirinya dibunuh dengan menggunakan golok dan tombak di dalam aksi kekerasan pada masa revolusi kebudayaan, konon di bagian pinggangnya masih terdapat bekas luka bacok peninggalan kehidupan masa lalu. Yang membuat orang merasa takjub ialah Tang Jiangshan mampu berbicara dialek Dan Zhou dengan sangat fasih. Orang Dan Zhou berbicara bahasa Jun, berbeda sekali dengan dialek Hok Kiannya kota Dong Fang, seorang bocah berumur beberapa tahun bagaimana bisa?

Pada saat Tang Jiangshan berumur 6 tahun, mendesak keluarga membawanya mengunjungi kerabatnya pada kehidupan masa lampau. Keluarganya tidak mau, maka ia mogok makan, akirnya sang ayah menurutinya, dan di bawah pengarahannya berkendaraan menuju tempat dimaksud di desa Huang Yu, kecamatan Xin Ying – kota Dan Zhou. Tang Jiangshan langsung menuju ke hadapan pak tua Chen Zan Ying, menggunakan bahasa Dan Zhou dan memanggilnya “San Die”, mengatakan dirinya bernama Chen Mingdao, adalah putra Chen Zan Ying yang pada masa revolusi besar kebudayaan oleh karena bentrokan fisik sehingga dibinasakan orang. Sesudah meninggal terlahir kembali di kecamatan Gan Cheng – kota Dong Fang, kini datang mencari orang tua kehidupan masa lampaunya.

Mendengar penuturan itu, Chen Zan Ying sejenak tertegun tak tahu bagaimana harus bersikap. Kemudian si anak kecil menunjukkan kamar tidur kehidupan masa lampaunya, dan menghitung satu persatu benda-benda pada kehidupan lampaunya. Menyaksikan semuanya ini dengan kenyataan pada masa lalu sama sekali tidak meleset, pak tua Chen Zan Ying saking terharunya berpelukan menangis dengan Tang Jiangshan dan memastikan ia memang adalah kelahiran kembali anaknya yang bernama Chen Mingdao.

Tang Jiangshan juga telah mengenali kedua kakak perempuan dan kedua adik perempuannya serta para sobat kampung lainnya, bahkan termasuk teman wanita pada kehidupan masa lampaunya: Xie Shuxiang. Semua kejadian ini telah membuat takluk kerabat dan tetangga Chen Mingdao. Sejak saat itu, “Manusia aneh dari 2 masa kehidupan”: Tang Jiangshan memiliki 2 rumah dan 2 pasang orang tua. Ia setiap tahun hilir mudik antara Dong Fang dan Dan Zhou. Si tua Chen Zan Ying beserta keluarga dan orang-orang desa pada menganggap Tang Jiangshan sebagai Chen Mingdao. Oleh karena Chen Zan Ying tidak memiliki putra lainnya, Tang Jiangshan berperan menjadi anaknya dan berbakti hingga tahun 1998 ketika Chen Zan Ying meninggal dunia.

Para petugas bagian editor dari majalah tersebut pada awalnya juga tidak percaya akan hal tersebut, namun melalui pemeriksaan berulang kali dan pembuktian lapangan, mau tak mau juga mengakui kebenaran tentang kejadian tersebut.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Saturday, July 9, 2011

AKU GEMBIRA MASUK NERAKA

Empat bayangan hitam mengendap-endap mendekati bangunan rumah yang luas itu. Tembok tinggi bukan merupakan halangan berarti bagi empat bayangan yang tampaknya adalah tokoh dunia persilatan.Dalam sekejab mereka telah masuk ke dalam halaman dan bersiap menuju ruang tidur utama. Tampak mereka sangat menguasai lapangan,

membuktikan market survey telah dilakukan dengan baik. Tapi mereka tak sadar, ada satu sosok berjubah abu-abu menguntit di belakang mereka. Jubah abu- abu dan toya tampaknya sudah menjadi brand image Wu Wo (Tiada Aku).


Ia telah menguntit ke empat orang itu sejak siang hari setelah mendengar rencana jahat mereka ingin melakukan pencurian di rumah si tua Le Shi (Gemar Berdana). Dalam waktu relatif singkat mereka berhasil menguras harta Le Shi. Peti-peti berisi harta yang berat bukan halangan bagi empat bayangan yang bertubuh kekar itu, halangan sesungguhnya adalah pemuda bertoya yang berdiri di tengah halaman itu. Tak ada waktu untuk berbasa-basi, empat golok terayun serempak menyergap Wu Wo. Bukan hal yang sulit bagi toya Wu Wo untuk menaklukkan empat golok, tapi melakukannya tanpa keributan, itu tidak mungkin. Ini benar-benar pertarungan, bukan cerita komik silat.

Tiga orang terkapar pingsan di halaman, seorang lagi berhasil melarikan diri melompati dinding tembok. Semua penghuni rumah terbangun dari mimpi indah. Bunyi kentongan kayu terdengar berkejaran memecah keheningan dini hari yang masih gelap gulita itu. Rumah yang semula sudah cukup terang itu berubah menjadi benderang. Suara riuh terdengar baik dari dalam maupun luar rumah. Sesaat terdengar gedoran pintu depan yang keras. Para pembantu tergopoh- gopoh membukanya dan serombongan penduduk masuk dengan menyeret sesosok tubuh berjubah hitam.

“Pak tua Le Shi, kami tangkap maling ini,” demikian teriak salah seorang dari kerumunan itu.Halaman itu menjadi lebih benderang karena hampir setiap orang masuk dengan membawa sebatang obor. “Berani-beraninya menyatroni Pak tua Le Shi. Memangnya kalian punya berapa nyawa?” “Bawa ke pos keamanan!” “Masih ada lagi tidak anteknya?” Teriakan demi teriakan terdengar saling bersahutan. Uniknya, semua teriakan itu dengan sekejap berhenti saat seorang lelaki tua keluar dari ruang utama. Tak sulit menebaknya, ia adalah si empunya rumah, pak tua Le Shi. Terasa sekali wibawa pak tua ini, dalam waktu singkat suasana kembali senyap. “Anak muda, terima kasih atas pertolonganmu. Bagaimana menyebut namamu?” “Amituofo, nama saya Wu Wo. Tak menyangka Anda sangat dihormati dan disayangi penduduk kota ini.” “Ha, ha, mereka terlalu berlebihan. Saya tak lebih hanya seorang tua yang hari-harinya bagaikan ikan yang hidup di air yang semakin berkurang,” jawab Le Shi sambil mengajak Wu Wo masuk ke dalam rumah. “Kalau mendengar pembicaraan penduduk tadi, Anda dikenal sebagai seorang hartawan yang dermawan,” Wu Wo duduk di kursi tamu. “Adalah sulit untuk berbagi dengan orang lain.” “Anak muda, saya tidak berani menerima pujianmu.”

“Paman Le Shi, ini bukan pujian, juga bukan saya seorang diri yang mengucapkannya. Kebajikan Paman tidak saja tersohor ke seluruh kota, bahkan ke seluruh negeri. Dalam perjalanan ke tempat ini saya telah banyak mendengar cerita menakjubkan tentang kebajikan Paman. Selama ini yang saya tahu untuk menjadi kaya adalah sulit, tetapi bersedia membagi kekayaan dengan orang lain, itu jauh lebih sulit. Saya tidak mengerti bagaimana Paman bisa melakukan semua ini?” “Sebagai siswa Buddha, anak muda, perbuatan yang kita lakukan ditujukan demi kebahagiaan semua makhluk, namun ini bukan berarti kita harus melakukan perbuatan yang merugikan diri sendiri. Sebagai misal, usaha dagang yang saya lakukan. Demi manfaat makhluk lain bukan berarti harus jual rugi, melainkan usaha jual beli saya lakukan dengan landasan kejujuran. Harga produk dijual sesuai dengan nilai kepuasan yang diperoleh pembeli. Hubungan dengan pemasok dan pembeli bukan didasarkan pada siapa untung siapa rugi, namun bersama-sama membangun kemitraan yang menguntungkan semua pihak. Ini adalah aspek bagaimana bermatapencaharian dengan cara yang benar,” demikian jelas Le Shi. “Dan selama proses pengumpulan kekayaan itu sedang berlangsung, jangan lupa akan anjuran Buddha untuk membaginya menjadi empat bagian, yakni dua bagian untuk pengembangan usaha, satu bagian untuk kebutuhan hidup, serta satu bagian untuk tabungan hari tua. Harus kita ingat, daya gunakan segala sesuatunya sesuai fungsi masing-masing. Kita lahir dengan potensi untuk membahagiakan semua makhluk, karena itu daya gunakan diri kita untuk berkarya memberi manfaat bagi makhluk lain. Demikian pula daya gunakan harta kita sesuai dengan fungsinya, yakni untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, sebab itu jangan lupakan pula menyisihkan sebagian dari pendapatan untuk kebajikan berdana,” demikian lanjut Le Shi. “Paman, tentang pembagian empat bagian yang juga meliputi berdana, bagaimana bisa dilakukan oleh orang yang pada dasarnya sudah cukup miskin?” Satu pertanyaan yang baik dari Wu Wo. “Harta materi itu ibaratnya air, demikian sebuah kata bijak berucap. Bila ia berupa segelas air, kau boleh meminumnya; bila berupa seember air, kau boleh menyimpannya di dalam rumah; tetapi bila berupa sebuah kolam atau sungai, maka belajarlah untuk membaginya dengan orang lain. Bila harta kita hanya sebanyak segelas air, memang cukup sulit untuk membaginya dengan orang lain, apalagi dengan orang banyak. Namun harus diingat, empat pembagian yang diajarkan Buddha itu tidak hanya berlaku bagi harta materi, tapi juga meliputi hal-hal non-materi. Sebagai misal, kejujuran yang kita sebutkan di depan, ia juga merupakan bagian dari pengembangan usaha atau karir, tabungan serta dana. Pun berdana tenaga, seperti yang telah kau lakukan, Wu Wo, murid andalan Bhiksu Wu Zhuo (Tiada Melekat), …” “Paman tahu …?” Wu Wo memutus ucapan Le Shi. “Siapa yang tidak mengenal dua nama besar dalam Buddhisme dan dunia rimba hijau ini.” Senyum kecil tersungging di sudut bibir Le Shi. “Mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan, memberi wejangan bagi mereka yang haus akan Dharma, berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan ataupun pendirian vihara, membantu tugas sehari-hari vihara ataupun para bhiksunya, berdonor organ tubuh dan lain sebagainya, ini semua juga tergolong dalam empat bagian itu.” “Ya, memang benar, ajaran Buddha adalah ajaran mulia yang hidup dalam setiap relung kehidupan kita,” Wu Wo sangat kagum dengan penjelasan yang demikian indahnya itu. “Buddha Dharma bukan seperti yang disalah mengerti oleh masyarakat awam, bukan hanya sekedar membakar dupa dan meminta-minta. Buddha mengajarkan kita mengenali hakekat hidup sejati. Hidup ini adalah fenomena semu yang dalam Sutra Intan dikatakan bagai mimpi, ilusi, busa, bayangan, embun dan kilat. Demikian pula kesenangan dan kegembiraan yang dinikmati oleh lima indera, semua adalah semu,” Le Shi berhenti sejenak untuk menghirup teh. “Tetapi dari semua yang semu ini ada satu yang nyata, yakni kebahagiaan yang diperoleh dari upaya mulia penerapan kebijaksanaan dan welas asih bagi semua makhluk.”

“Karena itu Paman banyak melakukan kegiatan kemanusiaan.” Wu Wo merasa perjalanannya kali ini tak sia-sia. “Kalau boleh tahu apa kesulitan terbesar Paman selama melakukan kebajikan ini semua?” “Kau pasti tak percaya, kesulitan itu menampakkan diri dalam mimpi. Suatu malam seorang dewa muncul di hadapanku. Berikut ini percakapanku dengan dewa itu.” Dewa: “Le Shi, harta yang kau dapatkan dengan susah payah seharusnya kau tinggalkan bagi anak cucu. Dana yang kau lakukan selama ini akan menghabiskan hartamu.” Le Shi: “Sangat disayangkan bila hartaku hanya dinikmati oleh keluargaku.” Dewa: “Tak tahukah kau bahwa mereka yang gemar berdana akan masuk neraka?”

Le Shi: “Itu tidak sesuai dengan logika, pun bertentangan dengan Buddha Dharma.” Dewa: “Kau tidak percaya padaKu? Ketahuilah barang siapa yang tidak mempercayaiKu akan kukirim ke neraka yang panas.” Melihat Le Shi tidak percaya, sang Dewa menghentakkan kaki menampakkan pemandangan neraka. “Para penghuni neraka ini adalah mereka yang semasa hidupnya suka berdana dan tidak percaya padaKu. Kalau masih tak percaya, coba tanya mereka.” Le Shi bertanya: “Mengapa kau masuk neraka?” Penghuni neraka menjawab: “Karena gemar berdana dan tidak percaya pada Dewa.” “Lalu bagaimana dengan orang-orang yang menerima dana darimu?” “Mereka semua masuk surga menikmati keabadian bersama Dewa.” “Haha, inilah tujuanku menjadi siswa Buddha. Asal orang-orang yang kutolong naik ke surga dan menikmati kebahagiaan, apalah artinya bila aku masuk neraka. Siswa Buddha sejati tidak mengenal penderitaan dalam upaya membahagiakan makhluk lain. Aku sangat gembira, sangat gembira!” Dewa terpaku tak tahu harus berkata apa mendengar teriakan Le Shi. Dewa terharu melihat ketulusan Le Shi. Fenomena neraka lenyap dan berganti menjadi suasana alam surgawi. “Le Shi, kau telah berhasil melalui ujian terberat. Ternyata kau tak goyah menghadapi ancaman neraka dan tak terpancing iming-iming kenikmatan surgawi. Benar seperti yang dikatakan Buddha, kebajikan akan mendatangkan kebahagiaan, sedang semangat ‘hanya demi kebahagiaan semua makhluk, tidak mencari kebahagiaan diri sendiri’ yang kau miliki menunjukkan jiwa tanpa ‘aku’. Aku dan para Pelindung Dharma yang lain akan selalu melindungi kebajikan yang kau lakukan.” Le Shi mengiringi lenyapnya Dewa dengan ucapan Amituofo.

“Sungguh luar biasa, hari ini saya benar-benar berjumpa dengan seorang Bodhisattva Hidup. Hendaknya saya diizinkan membantu dan mempelajari kegiatan kemanusiaan yang Paman lakukan.” Sebulan kemudian Wu Wo meninggalkan rumah Le Shi melanjutkan pengembaraan Dharmanya.

Ide cerita diambil dari artikel di salah satu internet Buddhis Tiongkok.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com