Showing posts with label Psikologi Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Psikologi Pendidikan. Show all posts

Saturday, September 29, 2012

Beberapa Film Yang Baik Untuk Memotivasi Kepercayaan Diri Anak

           Seringkali tontonan di televisi kurang baik dilihat oleh anak-anak kita. Sehingga kita sebagai orang tua harus lebih selektif dan bijaksana dalam mengarahkan dan berkompromi dengan keinginan buah hati kita. Mengapa harus berkompromi ? Hal ini karena anak sulit memahami apa yang baik dan tidak baik bagi dirinya. Semua akan lebih mudah apabila kita berkompromi dengannya. Mendengarkan terlebih dahulu apa yang mereka inginkan kemudian kita jelaskan sisi buruknya, setelah itu baru kita berikan pilihan yang lebih baik.
         Ketidakpercayaan diri seringkali dialami baik oleh anak-anak maupun orang dewasa dan bahkan lansia. Film sebagai media visual mampu memberikan masukan dan pengaruh yang kuat bagi penontonnya. Berdasarkan pengalaman dan analisa secara psikologis yang saya lakukan, berikut ini beberapa film yang bisa ditonton anak-anak untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka.

**Film Luar Negeri**
  • I am Sam


             Ini adalah salah satu film favorit saya dan meskipun berkali-kali menontonnya...saya tetap saja menangis mengikuti ceritanya. Film ini mengisahkan tentang seorang laki-laki yang mengalami keterbelakangan mental dan memiliki seorang bayi mungil yang ditinggal pergi oleh istrinya tidak lama setelah anak mereka dilahirkan. Namun meskipun ia memiliki kekurangan dan pemerintahnya melarang seorang ayah yang mengalami keterbelakangan mental merawat anaknya sendiri, Sam nama laki-laki itu...bersikeras ingin merawat, mengash dan mendidik anaknya sendiri. Bahkan ia sampai meminta bantuan seorang pengacara untuk memperjuangkan keinginannya. Banyak sisi humanis yang membangkitkan kepercayaan diri penonton film ini.
             Sam memiliki anak perempuan yang sangat cantik dan jenius. Anak ini sempat mengalami ketidakpercayaan diri karena memiliki ayah yang terbelakang mentalnya. Namun akhirnya kasih sayang diantara ayah dan anak ini membuat mereka bisa bangkit dan percaya diri menjalani kenyataan dalam hidupnya. Film ini sangat menyentuh dan bagus ditonton oleh keluarga.
     
  • Thunder Pants
           
        Film ini menceritakan seorang anak yang terlahir dengan dua perut sehingga dia mudah lapar dan sering buang angin. Kekurangannya ini membuat ia tidak percaya diri dan semakin gemuk. Namun, ia memiliki seorang sahabat yang sangat pandai dan setia kawan. Hubungan pertemanannya ini membuat si jenius terinspirasi untuk membantu sahabatnya yang kurang percaya diri menjadi seorang pahlawan baru. Bagaimana kisah lanjutannya ? Silahkan mencari film ini untuk dilihat oleh buah hati anda...:)


**Film Indonesia**
  • Laskar Pelangi
 


           Film ini tentnya tidak asing di telinga kita. Banyak yang terinspirasi oleh film ini dan menjadi referensi beberapa sekolah untuk studi film. Tokoh-tokoh utamanya adalah anak-anak dari daerah Belitung yang begitu tinggi keinginannya untuk bisa sekolah. Meskipun mereka kurang mampu secara finansial dan sekolahnya pun sederhana, tapi mereka tetap percaya diri meraih mimpi-mimpinya.
  • Garuda Di Dadaku

             



         Nasionalisme juga salah satu pendorong semangat ntuk meningkatkan rasa percaya diri dalam mencapai keinginan. Film ini merupakan salah satu contoh film yang baik dan mudah dipahami oleh anak-anak. Konflik yang dimunculkan baik dari keluarga tokoh utama yang bernama Bayu, maupun dengan sahabatnya yang menggunakan kursi roda membuat film ini kaya makna. Akan lebih baik jika film ini ditonton oleh orang tua bersama anak-anaknya. Sehingga bisa tercipta diskusi maupun pendampingan dengan penjelasan yang lebih mendalam dari orang tua kepada buah hatinya.


             Selamat mencoba ya....segala sesuatu jika dilakukan dari hati akan baik hasilnya. Film adalah salah satu media visual yang bisa kita gunakan untuk melatih anak-anak kita melakukan segala sesuatu dengan hati....agar saat mereka terjatuh atau terpuruk, kelak mereka akan segera bangkit dengan oenuh percaya diri untuk meraih masa depan yang lebih baik.


Thursday, December 3, 2009

Mari Meningkatkan Kualitas Pendidikan Baik Di Rumah Maupun Di Sekolah

Pendidikan sebenarnya bukan hanya tugas sekolah, namun juga menjadi tugas orang tua supaya dapat menghasilkan anak-anak yang berkualitas tinggi di tengah kemajuan zaman yang syarat akan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akan lebih baik jika pihak sekolah dapat bekerjasama dengan orang tua dalam proses pendidikan. Sehingga orang tua dapat ikut berperan aktif bagi kemajuan pendidikan putra putrinya.

Jika bercermin tentang pendidikan yang bermutu menurut UNICEF, yang menyatakan bahwa ada beberapa hal indikator maka saya menyimpulkannya sebagai berikut :
  • "Pelajar yang sehat, mendapat makanan bergizi yang cukup dan siap berpartisipasi dalam proses belajar, yang didukung dalam proses pembelajaran oleh keluarga dan linkungannya". Dalam hal ini peran orang tua sangatlah penting agar bisa mewujudkan pelajar yang sehat dengan gizi yang cukup sehingga anak bisa mengikuti proses belajar mengajar di sekolah dengan baik. Pengetahuan dan kesadaran orang tua akan nutrisi yang sehat akan sangat bermanfaat bagi tumbuh kembang anak-anaknya, terutama dalam hal kemampuan untuk belajar.

  • "Environment yang sehat, aman, melindungi dan gender-sensitive, serta menyediakan sumber-sumber pembelajaran dan fasilitas yang cukup". Sekolah harus memiliki kesadaran yang tinggi untuk mewujudkan lingkungan belajar mengajar yang aman dan nyaman bagi siswa siswi nya dan orang tua sebagai pengontrol agar hal itu dapat terwujud dengan baik di sekolah maupun di rumah.

  • "Konten dalam kurikulum dan bahan pembelajaran yang relevan untuk belajar basic skills". Khususnya literacy (kemampuan membaca dan menulis), numeracy (kemampuan tentang angka dan berhitung) serta skills for life (kemampuan untuk bertahan hidup), seperti pengetahuan mengenai isu-isu seperti gender, kesehatan, nutrisi, pencegahan HIV/AIDS dan peace (kedamaian). Biasanya ada tiga kurikulum sebetulnya; kurikulum nasional, kurikulum daerah (mungkin konten lokal termasuk bahasa), dan kurikulum sekolah (mencerminkan keinginan dan kebutuhan lingkungan sekolah termasuk masyarakat dan industri). Namun, seiring dengan kemajuan informasi sekarang ini, orang tua juga dapat menambahkan sendiri kurikulum yang dinilai baik unuk melengkapi kurikulum yang telah ada, misalnya menyertakan kurikulum internasional yang dapat diperoleh dari salah satu institusi pendidikan di luar negeri, salah satu contoh dari cambrigde. Banyak homeschooler di indonesia yang menggunakan kurikulum dari universitas tersebut.

  • "Proses-proses di mana guru-guru yang terlatih menggunakan sistem pembelajaran child centered". Child centered adalah sistem pembelajaran di mana fokus pembelajaran adalah dengan pelajar bukan guru. Guru sebagai fasilitator atau manajer proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pernyataan berikut : "STUDENTS LEARN BEST BY ACTIVELY CONSTRUCTING THEIR OWN UNDERSTANDING" (CTL Academy Fellow, 1999) yang maksudnya adalah cara belajar terbaik adalah siswa mengkonstruksikan sendiri secara aktif pemahamannya. Dengan kemajuan teknologi, adanya internet dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi yang bisa membantu anak didik belajar secara lebih mandiri tanpa harus mengandalkan satu informasi saja, yaitu dari guru nya. Guru hanya bertugas mengarahkan, memberi kata kunci yang kemudian bisa dikembangkan sendiri secara lebih kreatif serta informatif oleh pelajar.

  • "Outcomes yang meliputi pengetahuan, keterampilan, sikap-sikap serta yang berhubungan dengan tujuan-tujuan nasional untuk pendidikan dan partisipasi sosial yang positif".Pendidikan yang bermutu hendaknya menghasilkan anak-anak yang berkualitas, mampu menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, memiliki kemandirian serta keterampilan untuk survive serta memiliki kekuatan batiniah yang kuat didasari oleh agama, adat ketimuran sebagai orang indonesia dan mampu bersaing untuk menjadi kebanggaan bangsa ini di zaman global. Hal ini sangat berkaitan dengan metode pengajaran CTL (Contextual Teaching and Learning). Baik guru maupun orang tua yang membantu anak-anaknya belajar, harus mampu mengaitkan antara materi yang diperoleh dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong anak-anak membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Sehingga hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna dan bermanfaat bagi mereka.

Komunikasi aktif antara pihak sekolah dan orang tua sangat penting dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Semangat yang tinggi, kesabaran, kreatifitas, fasilitas serta kemauan yang tak kenal putus asa akan mampu menghasilkan generasi bangsa yang membanggakan.

Thursday, February 12, 2009

Manajemen Uang Buat Si Kecil

Seringkali anak-anak meminta mainan baru atau barang-barang lainnya seperti baju, asesoris, snack dll kepada orang tuanya. Mereka tidak menyadari bahwa setiap kali beli mainan baru dibutuhkan pengorbanan berupa uang. Apabila kita terus memenuhi permintaanya sesungguhnya hanya akan membuat dia jadi konsumtif dan tidak belajar mengerti bagaimana kondisi di sekitarnya.

Akan lebih bijaksana jika kita mendidik mereka untuk berhemat sejak dini, meskipun kita sebagai orang tua mampu memenuhi permintaannya. Ada beberapa cara mengajak anak untuk belajar mengatur kebutuhannya yang berkaitan dengan uang, yaitu :
1. Ajaklah anak belajar menabung sedini mungkin, bisa diawali sejak umur 2,5-3 tahun.
2. Berilah pengertian jika anak terlalu sering minta dibelikan sesuatu. Ajaklah menabung terlebih dulu sesuai dengan jumlah uang yang dibutuhkan untuk membeli barang tersebut. Alihkan perhatiannya ke hal-hal yang menarik jika sedang berada di tempat umum.
3. Sesekali ajak dia menentukan pilihan jika apa yang dia inginkan lebih dari satu hal, agar ia belajar membuat prioritas sehingga tidak membeli semua yang diinginkan sekaligus.
4. Berilah dongeng yang menarik tentang filosofi berhemat dengan tokoh-tokoh yang ia sukai, agar ia termotivasi untuk berhemat.
5. Ajaklah ia bersodaqoh sejak dini. Berilah pengertian akan pentingnya berbagi dengan sesama agar terasah empatinya.
6. Ketika ia menanyakan kapan Sang Ayah pulang kerja, kita bisa menyisipkan dongeng sederhana tentang kegiatan Ayah nya selama bekerja mencari uang untuk nya dan untuk berbagai kebutuhan. Dengan begitu ia akan terarahkan untuk memahami bahwa mencari uang tidaklah mudah dan mengetahui bahwa uang sangat bermanfaat untuk berbagai kebutuhan bukan hanya untuk beli barang-barang yang ia inginkan.
7. Jadilah tauladan berhemat untuk si kecil. Anak akan mencontoh perilaku orang-orang terdekatnya, terutama orang tua.

Semoga di jaman yang semakin maju ini kita bisa membantu buah hati kita menjadi insan yang bijak dalam menjalani kehidupan nya kelak dengan bersikap cerdas dalam menggunakan uang.

Tuesday, February 10, 2009

Manfaat Bermain Pasir

Sudah 2 hari ini anak ku setiap hari minta main pasir di belakang rumah. Yah...aku sih seneng aja lihat dia main, karena itu bisa membuatnya riang. Selain itu bermain pasir sangat baik untuk anak-anak, beberapa manfaat yang bisa diperoleh antara lain adalah :

1. Melatih motorik.

2. Imajinasi anak akan semakin berkembang.

3. Bisa mengalihkan energi anak yang cenderung aktif.

4. Melatih kesabaran.

5. Meningkatkan kepekaan dan pengetahuan terhadap salah satu potensi alam. Kita sebagai orang tua bisa jadi pendamping yang mendongeng tentang segala hal yang berkaitan dengan pasir, sehingga anak akan semakin tertarik dan rasa ingin tahunya juga akan semakin tinggi.

Have fun honey...10-02-09_1008

Sunday, December 21, 2008

Children's Book Week di Sekolah

Hari ini di sekolah anak saya diadakan Children's Book Week. Kebetulan saya sebagai wali murid diminta untuk berpartisipasi sebagai storyteller untuk anak TK A dan TK B. Setelah saya adakan pemilihan sesuai dengan minat anak, ada dua buku yang mendapatkan suara terbanyak yaitu Lightning McQueen dan Kisah Puteri dan Pangeran. Kemudian saya mulai bercerita dengan menggunakan buku pertama dengan judul Lightning McQueen. Anak-anak pun antusias mendengarkan cerita, meskipun terkadang ada beberapa anak yang saling berebutan untuk mendapatkan tempat paling depan dan ingin ikut bercerita. Saya pun senang meneruskan cerita yang saya bacakan, sambil menenangkan beberapa anak yang sempat saling berebut.

Namun sayang, pihak sekolah membatasi waktu saya dalam bercerita, hingga akhirnya anak-anak terlihat agak kecewa karenanya. Semula saya membayangkan akan bercerita dan berinteraktif dengan anak-anak dalam mengeksplorasi cerita yang saya bacakan. Tapi karena guru sekolahnya memberikan warning bahwa waktunya sudah habis, akhirnya rencana itu pun batal. Dan yang lebih membuat saya menyesal, diawal acara saya sudah bilang bahwa akan membacakan dua buku cerita yang dipilih untuk anak-anak. Rasanya belum ikhlas meninggalkan anak-anak setelah bercerita tadi. Seandainya pihak sekolah mau memahami bahwa bercerita terkadang tidak bisa dibatasi waktu, terutama jika anak-anak sudah tertarik untuk melanjutkannya lagi.

Bercerita bagi anak-anak adalah hal yang sangat menyenangkan, karena mereka merasa terhibur dan diperhatikan. Ketika sebuah cerita dibacakan, sebenarnya bukan hanya kemampuan mendengar dan memperhatikan saja yang terasah. Namun juga kemampuan daya ingat, imajinasi, fantasi, bahasa, pengenalan berbagai bentuk emosi, ketangkasan dalam menangkap cerita serta keterampilan menceritakan atau menuliskan kembali isi cerita, jika usianya memang sudah memungkinkan. Selain itu, kita juga bisa memberikan pesan-pesan moral yang dapat memberikan pengaruh positif terhadap pembentukan kepribadian dan perilakunya kelak.

Idealnya sebuah cerita disampaikan :

a. Tidak harus dari sebuah buku, melainkan juga bisa melalui karangan imajinasi yang bebas.

b. Anak tidak sedang dalam keadaan terlalu lelah dan mengantuk, sehingga ia bisa menikmati dan memahami cerita dengan baik.

c. Menggunakan media bantu, misalnya; mainan favorit, hasil kreativitas pencerita dengan menggunakan kertas yang dihias menjadi bentuk tertentu sesuai ceritanya, dll.

d. Cerita disampaikan dengan cara yang menarik, seperti; merubah suara untuk masing-masing tokoh sesuai karakternya, menambahkan gerakan-gerakan yang menarik, suara-suara latar dll.

e. Anak diajak berinteraksi dengan cerita yang dibacakan, seperti memberikan pertanyaan; bagaimana kira-kira kelanjutan ceritanya, siapa saja nama-nama tokohnya, apa saja nilai-nilai positif dalam cerita dll. Sehingga akan terjadi komunikasi dua arah dan anak pun tidak merasa jenuh.

f. Jika usia sang anak memungkinkan, mintalah mereka untuk menuliskan kembali cerita yang sudah disampaikan, supaya kemampuannya dalam bahasa dan menulis berkembang. Namun, jika usia anak belum memungkinkan, cukup dengan memintanya untuk menceritakan kembali sesuai dengan kemampuan daya tangkap mereka. Ingat, jangan menyalahkan anak jika pada saat itu ada kesalahan dalam mengulang cerita. Karena hal itu akan mempengaruhi rasa percaya dirinya. Biarkan anak-anak bebas berimajinasi supaya mereka senang dan merasa dihargai. Berilah tanggapan yang menyenangkan untuk mereka, misalnya memberikan pujian, hadiah kecil untuk keberaniaannya maju bercerita di hadapan teman-temannya atau dengan reward lain.

Jika kita bercerita dari hati dan dengan niat yang tulus, maka cerita menarik yang telah disampaikan akan sangat berkesan bagi anak-anak. Sehingga pesan moral yang ingin ditanamkan juga mudah diterima dan akan mereka lakukan dengan senang hati. Selamat mencoba!

Thursday, December 18, 2008

Bullying di Sekolah


Bullying akhir-akhir ini mulai banyak terjadi di sekolah, banyak berita di media cetak maupun elektronik yang menceritakannya, seperti kasus Awaludin guru SMK Negeri 3 Gorontalo yang melakukan aksi kekerasan terhadap belasan muridnya, kasus penyiksaan senior-yunior siswa-siswi sekolah menengah, kasus penyiksaan di STIP dan IPDN serta masih banyak lagi yang lainnya.
Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) (http://popsy.wordpress.com) mendefinisikan school bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Mereka kemudian mengelompokkan perilaku bullying ke dalam 5 kategori:
  • Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain)
  • Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip)
  • Perilaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya diertai oleh bullying fisik atau verbal).
  • Perilaku non-verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng).
  • Pelecehan seksual (kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).
Sebagai orang tua, kita wajib waspada akan adanya perilaku bullying pada anak, baik anak sebagai korban atau sebagai pelaku. Beberapa hal yang dapat dicermati dalam kasus Bullying menurut Dian P. Aldilla, Psi adalah :

A. Anak Menjadi Korban

Tanda-tanda :
1.Munculnya keluhan atau perubahan perilaku atau emosi anak akibat stres yang ia hadapi karena mengalami perilaku bullying (anak sebagai korban).
2. Laporan dari guru atau teman atau pengasuh anak mengenai tindakan bullying yang terjadi pada anak.

Penanganan :
1. Usahakan mendapat kejelasan mengenai apa yang terjadi. Tekankan bahwa kejadian tersebut bukan kesalahannya.
2. Bantu anak mengatasi ketidaknyamanan yang ia rasakan, jelaskan apa yang terjadi dan mengapa hal itu terjadi. Pastikan anda menerangkan dalam bahasa sederhana dan mudah dimengerti anak.
JANGAN PERNAH MENYALAHKAN ANAK atas tindakan bullying yang ia alami.
3. Mintalah bantuan pihak ketiga (guru atau ahli profesional) untuk membantu mengembalikan anak ke kondisi normal, jika dirasakan perlu. Untuk itu bukalah mata dan hati Anda sebagai orang tua. Jangan tabu untuk mendengarkan masukan pihak lain.
4. Amati perilaku dan emosi anak anda, bahkan ketika kejadian bully yang ia alami sudah lama berlalu (ingat bahwa biasanya korban menyimpan dendam dan potensial menjadi pelaku di kemudian waktu). Bekerja samalah dengan pihak sekolah (guru). Mintalah mereka membantu dan mengamati bila ada perubahan emosi atau fisik anak anda. Waspadai perbedaan ekspresi agresi yang berbeda yang ditunjukkan anak anda di rumah dan di sekolah (ada atau tidak ada orang tua / guru / pengasuh).
5. Binalah kedekatan dengan teman-teman anak anda. Cermati cerita mereka tentang anak anda. Waspadai perubahan atau perilaku yang tidak biasa.
6. Minta bantuan pihak ke tiga (guru atau ahli profesional) untuk menangani pelaku.

Pencegahan :
1. Bekali anak dengan kemampuan untuk membela dirinya sendiri, terutama ketika tidak ada orang dewasa / guru / orang tua yang berada di dekatnya. Ini berguna untuk pertahanan diri anak dalam segala situasi mengancam atau berbahaya, tidak saja dalam kasus bullying. Pertahanan diri ini dapat berbentuk fisik dan psikis.
a. Pertahanan diri Fisik : bela diri, berenang, kemampuan motorik yang baik (bersepeda, berlari), kesehatan yang prima.
b. Pertahanan diri Psikis : rasa percaya diri, berani, berakal sehat, kemampuan analisa sederhana, kemampuan melihat situasi (sederhana), kemampuan menyelesaikan masalah.
2.Bekali anak dengan kemampuan menghadapi beragam situasi tidak menyenangkan yang mungkin ia alami dalam kehidupannya. Untuk itu, selain kemampuan mempertahankan diri secara psikis seperti yang dijelaskan di no. 1a. Maka yang diperlukan adalah kemampuan anak untuk bertoleransi terhadap beragam kejadian. Sesekali membiarkan (namun tetap mendampingi) anak merasakan kekecewaan, akan melatih toleransi dirinya.
3.Walau anak sudah diajarkan untuk mempertahankan diri dan dibekali kemampuan agar tidak menjadi korban tindak kekerasan, tetap beritahukan anak kemana ia dapat melaporkan atau meminta pertolongan atas tindakan kekerasan yang ia alami (bukan saja bullying). Terutama tindakan yang tidak dapat ia tangani atau tindakan yang terus berlangsung walau sudah diupayakan untuk tidak terulang.
4. Upayakan anak mempunyai kemampuan sosialisasi yang baik dengan sebaya atau dengan orang yang lebih tua. Dengan banyak berteman, diharapkan anak tidak terpilih menjadi korban bullying karena :
a. Kemungkinan ia sendiri berteman dengan pelaku, tanpa sadar bahwa temannya pelaku bullying pada teman lainnya.
b. Kemungkinan pelaku enggan memilih anak sebagai korban karena si anak memiliki banyak teman yang mungkin sekali akan membela si anak.
c. Sosialisasi yang baik dengan orang yang lebih tua, guru atau pengasuh atau lainnya, akan memudahkan anak ketika ia mengadukan tindakan kekerasan yang ia alami.

B. Anak sebagai Pelaku

Tanda-tanda :
1. Anak bersikap agresif, terutama pada mereka yang lebih muda usianya, atau lebih kecil atau mereka yang tidak berdaya (binatang, tanaman, mainan).
2. Anak tidak menampilkan emosi negatifnya pada orang yang lebih tua / lebih besar badannya / lebih berkuasa, namun terlihat anak sebenarnya memiliki perasaan tidak senang.
3. Sesekali anak bersikap agresif yang berbeda ketika bersama anda.
4. Melakukan tindakan agresif yang berbeda ketika tidak bersama anda (diketahui dari laporan guru, pengasuh, atau teman-teman).
5. Ada laporan dari guru / pengasuh / teman-temannya bahwa anak melakukan tindakan agresif pada mereka yang lebih lemah atau tidak berdaya (no. 1).
6. Anak yang pernah mengalami bully mungkin menjadi pelaku bully.

Penanganan :
1. Segera ajak anak bicara mengenai apa yang ia lakukan. Jelaskan bahwa tindakannya merugikan diri dan orang lain. Upayakan bantuan dari tenaga ahlinya agar masalah tertangani dengan baik dan selesai dengan tuntas.
2. Cari penyebab anak melakukan hal tersebut. Penyebab menjadi penentu penanganan. Anak yang menjadi pelaku karena rasa rendah diri tentu akan ditangani secara berbeda dengan pelaku yang disebabkan oleh dendam karena pernah menjadi korban.Demikian juga bila pelaku disebabkan oleh agresifitasnya yang berbeda.
3. Posisikan diri untuk menolong anak dan bukan menghakimi anak.

Pencegahan :
1. Anak dapat menjadi pelaku bullying antara lain bila si anak mengalami rasa rendah diri. Karena itu, upayakan untuk mendidik anak dalam suasana penuh kasih sayang yang mendidik anak untuk memiliki kebanggaan pada dirinya sendiri. Kasih sayang yang nyata juga membuat anak merasa aman dan cenderung lebih mau bekerja sama dengan orang tua / guru. Namun hati-hati jangan sampai memanjakan anak yang berdampak kerugian di pihak anak.
2. Waspada jika anak menunjukkan agresifitas yang berlebihan, terutama pada mereka yang lebih lemah (adiknya, pengasuh, teman bermain yang lebih kecil atau pendek badannya) atau bahkan binatang, tanaman dan mainannya.
3. Jika anak anda pernah menjadi korban bully, untuk mencegah ia menjadi pelaku bullying di kemudian hari, mintalah bantuan ahlinya agar masalah terselesaikan dengan baik dan tidak ada dendam di kemudian hari. Amati perilaku dan kondisi emosi anak dari waktu ke waktu, bahkan ketika kejadian bully yang ia alami sudah lama berlalu.
4. Usahakan selalu bersikap terbuka dan rajin berdiskusi dengan anak tentang berbagai hal. Selalu siap memberi komentar positif dan hindari menghakimi anak.Namun jangan sampai “mencelakakan” anak dengan memanjakan anak berlebihan.

Bullying memang menjadi masalah bersama, dibutuhkan perhatian dan kerjasama oleh semua pihak, baik orang tua, sekolah dan masyarakat sebagai kontrol sosial.

Sunday, December 14, 2008

Playgroup, Trend atau Kebutuhan ?


Playgroup sekarang ini banyak sekali kita lihat di sekeliling kita. Namun, sebagai orang tua yang bijak apakah kita berminat untuk mendaftarkan buah hati kita karena trend menjamurnya playgroup dengan biaya yang mahal ataukah karena kita merasa bahwa playgroup memang sangat penting bagi perkembangan balita.
Usia dini (2 - 4 tahun) merupakan masa emas perkembangan otak balita, sehingga pada masa ini anak membutuhkan banyak stimulasi yang bisa mendukung tumbuh kembangnya. Daerah perkotaan dengan mayoritas penduduknya adalah pendatang dengan ibu yang bekerja membuat peran keberadaan playgroup sangat dibutuhkan agar anak memperoleh tempat sosialisasi serta stimulasi-stimulasi yang tepat sesuai dengan usianya meskipun tanpa didampingi langsung oleh orang tua.
Jika kita mengamati playgroup yang ada, sekarang ini banyak terdapat playgroup dengan biaya yang mahal dan prestisius. Memang idealnya sebuah playgroup harus mampu memberikan yang terbaik bagi anak kita. Akan tetapi kita harus cermat memperhatikan apakah playgroup yang akan kita pilih sesuai dengan yang dibutuhkan. Bukan hanya karena playgroup nya mahal dan prestius sehingga kita termasuk orang tua yang mengikuti trend, tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita bisa memilih playgroup yang tepat sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak pada masa tumbuh kembangnya.
Perkembangan penting pada masa ini yang perlu kita utamakan adalah kemampuan motorik kasar, keterampilan bahasa dan sosialisasi. Sehingga jika kita ingin mendapatkan playgroup yang sesuai, maka ketiga hal ini setidaknya bisa kita peroleh.