Showing posts with label Jujur. Show all posts
Showing posts with label Jujur. Show all posts

Thursday, June 28, 2012

Bebas dari Hukuman Berkat Orang Tua Jujur

Rib'i bin Hirasy adalah seorang tabiin yang dikenal tidak pernah berdusta. Suatu hari dua putranya tiba dari Khurasan berkumpul dengannya. Mereka berdua adalah pemberontak pada masa pemerintahan Gubernur Al-Hajjaj. Sedangkan, Al-Hajjaj adalah seorang pemimpin bertangan besi yang menghendaki anak-anak Rib'i itu ditangkap.

Seorang mata-mata memberi kabar kepada Al-Hajjaj. Katanya, "Wahai pimpinanku, masyarakat seluruhnya menganggap Rib'i bin Hirasy tidak pernah berdusta selamanya. Sementara itu, saat ini kedua anaknya yang pemberontak dari Khurasan berkumpul dengannya."

"Baiklah," kata Al-Hajjaj, "bawalah ayah mereka ke sini!" perintahnya.
Rib'i mengetahui bahwa anaknya adalah buronan pemerintah karena pemberontakannya. Namun, ia tidak tahu alasan sang gubernur memanggilnya.

Dalam benak Al-Hajjaj sendiri menyangsikan akan kejujuran Rib'i, "Akankah seorang ayah berkata jujur saat mengetahui anaknya dalam bahaya? Seorang ayah tidak akan memberitahukan keberadaan anaknya demi keselamatan mereka," pikir Al-Hajjaj.
Sang gubernur pun bertanya kepada Rib'i, "Wahai orang tua, beritahukanlah keberadaan anakmu saat ini?"

Dengan santainya Rib'i menjawab, "Mereka berada di rumah!"

Mendengar penyataan jujur tersebut, Al-Hajjaj berkata, "Tidak ada pidana. Kami memaafkan keduanya karena kejujuranmu. Demi Allah, sekarang aku yakin kau tidak akan menyembunyikan anakmu. Sekarang kedua anakmu terserah kepadamu. Keduanya bebas dari tuduhan pidana."
source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Wednesday, June 27, 2012

Keteladanan Umair bin Sa'ad r.a.

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab r.a, penduduk Hims sangat kritis terhadap para pembesar mereka sehingga sering mengadu kepada Khalifah Umar. Setiap pembesar yang baru datang memerintah, ada saja celanya bagi mereka. Kemudian segala cela dan kesalahan pembesar tersebut dilaporkan kepada Khalifah agar diganti dengan pembesar lain yang lebih baik.

Penduduk Hims tidak ingin diperintah oleh pejabat yang 'bermasalah'. Kemudian Khalifah Umar mencari seseorang yang tidak bercacat dan namanya belum pernah rusak untuk menjadi gubernur di sana.

Khalifah Umar menyebarkan para utusannya mencari orang yang tepat dengan jabatan itu. Akhirnya, tidak diperolehnya orang yang lebih baik selain Umair bin Sa'ad r.a. Ketika itu Umair r.a sedang bertugas memimpin pasukan perang kaum muslimin di wilayah Syam.

Dalam tugas itu dia berhasil memimpin pasukannya untuk membebaskan beberapa kota, menundukkan beberapa kabilah, dan membangun masjid di setiap negeri yang dilaluinya. Pada saat itulah Umair r.a dipanggil pulang ke Medinah untuk memangku jabatan sebagai Gubernur Hims.
Sebenarnya di dalam hati yang paling dalam, Umair r.a enggan menerima tugas baru itu karena baginya tidak ada yang lebih utama selain perang fi sabilillah. Setibanya di Hims ia mengajak penduduk berkumpul di masjid untuk shalat berjemaah.

Selesai shalat dia menyampaikan pidato, "Hai manusia, sesungguhnya Islam adalah benteng pertahanan yang kukuh dan pintu yang kuat. Benteng Islam itu ialah keadilan dan pintunya ialah kebenaran. Apabila benteng itu ambruk dan pintunya roboh, pertahanan agama akan sirna. Islam akan senantiasa kuat selama kekuasaan tegak dengan kukuh. Tegaknya kekuasaan bukanlah dengan cemeti dan tidak pula dengan pedang, melainkan dengan menegakkan keadilan dan melaksanakan yang hak."

Umair bin Sa'ad bertugas sebagai Gubernur Hims hanya setahun. Selama itu dia tidak menulis sepucuk surat pun kepada Khalifah Umar di Medinah. Bahkan, ia pun tidak menyetorkan pajak satu dinar atau satu dirham pun ke Baitul Mal di Medinah.

Dikarenakan hal itu timbullah kecurigaan di hati Khalifah Umar r.a. tentang kepemimpinan Umair r.a. Ke manakah uang pajak yang seharusnya disetorkan ke Baitul Mal? Apakah Umair r.a. telah lalai dengan amanahnya?

Kemudian Khalifah Umar memerintahkan sekretaris negara untuk menulis surat kepada Gubernur Umair, "Katakan kepadanya jika surat ini sampai di tangan Anda, tinggalkanlah Hims dan segeralah menghadap Amirul Mukminin. Jangan lupa membawa sekalian pajak yang Anda pungut dari kaum muslimin."

Setelah Gubernur Hims, Umair bin Sa'ad r.a, membaca surat panggilan dari Amirul Mukminin, ia pun mempersiapkan diri untuk menemuinya. Kemudian diambilnya kantong perbekalan dan tempat air sebagai persediaan air wudu dalam perjalanan. Lalu, dia berangkat meninggalkan Hims.

Dia pergi mengayun langkah menuju Medinah dengan berjalan kaki. Ketika hampir tiba di Medinah, keadaannya pucat karena kurang makan dalam perjalanan. Tubuhnya kurus kering dan lemah, rambut dan jenggotnya sudah panjang, dan dia tampaksangat letih karena perjalanan yang sangat jauh.

Khalifah Umar r.a terkejut melihat keadaan Umair r.a yang begitu kepayahan. la pun menanyakan kabarnya dan dijawab oleh Umair r.a, "Tidak kurang suatu apa pun. Saya sehat, alhamdulillah, saya membawa dunia seluruhnya, saya tarik di kedua tanduknya."

Amirul Mukminin melanjutkan pertanyaannya, "Dunia manakah yang kaubawa?"

Umair r.a menjawab, "Saya membawa kantong perbekalan dan tempat air untuk bekal di perjalanan, beberapa lembar pakaian, air untuk wudu, membasahi kepala, dan minum. Itulah seluruh dunia yang saya bawa. Yang lain tidak saya perlukan."

Amirul Mukminin tertegun dengan jawaban gubernurnya. Ternyata ia masih zuhud seperti dulu, tidak ada yang berubah. Amirul Mukminin kembali bertanya, "Apakah Anda datang berjalan kaki?"

"Betul, ya Amirul Mukminin," tandas Umair r.a.

"Apakah Anda tidak diberi hewan kendaraan oleh pemerintah?" tanya Amirul Mukminin kembali.

"Tidak, mereka tidak memberi saya dan saya tidak pula memintanya dari mereka," jawab Umair r.a.

Amirul Mukminin langsung membawa pembicaraan ke pokok permasalahan, yaitu menagih uang pajak yang selama ini belum disetorkan ke Baitul Mal. la bertanya, "Mana setoran pajak yang kaubawa untuk Baitul Mal?"

"Saya tidak membawa apa-apa untuk Baitul Mal."

"Mengapa?"

"Setibanya di Hims, saya kumpulkan penduduk yang baik-baik, lalu saya perintahkan mereka memungut dan mengumpulkan pajak. Setiap kali mereka berhasil mengumpulkannya, saya bermusyawarah dengan mereka, untuk apa harta itu harus digunakan dan bagaimana cara membagi-bagikannya kepada yang berhak."

Amirul Mukminin bahagia mendengar penjelasan gubernurnya. Ternyata jabatan tidak membutakan hati Umair r.a. la masih Umair r.a yang dulu, seorang sahabat yang zuhud dan amanah. Kemudian Amirul Mukminin memerintah agar masa jabatan Umair r.a sebagai Gubernur Hims diperpanjang.

Namun, Umair menolaknya, "Maaf, wahai Amirul Mukminin, saya tidak menghendaki jabatan itu lagi. Mulai saat ini saya tidak ingin bekerja lagi untukmu atau untuk orang lain sesudahmu," kata Umair r.a memberikan alasan.

Umair r.a pun minta izin untuk pergi ke sebuah dusun di pinggiran kota Medinah dan akan menetap di sana bersama keluarganya. Di sana ia hidup sangat sederhana dan bahagia hingga ajal menjemputnya.

Ketika Amirul Mukminin, Umar r.a, mendengar kematian Umair r.a, ia berduka sangat dalam. la berkata, "Saya membutuhkan orang-orang seperti Umair bin Sa'ad untuk membantu saya mengelola masyarakat kaum muslimin."
source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Tuesday, June 19, 2012

Tidak takut di katakan Bodoh

Imam Malik adalah sosok alim ulama yang rendah hati. Meskipun ia selalu belajar dan menimba ilmu dari 900 orang guru, ia tidak pernah merasa dirinya paling pintar. Imam Malik berkata, "Sering kali aku tidak tidur semalam suntuk untuk memikirkan jawaban atas permasalahan yang diajukan kepadaku."


Suatu hari salah seorang muridnya datang dari suatu daerah yang jauh. Masyarakat tempat ia tinggal memiliki masalah penting yang belum terselesaikan. Sang murid bermaksud untuk menanyakan hal tersebut kepada gurunya, Imam Malik.


Akan tetapi, Imam Malik tidak bisa memberikan jawaban kepadanya karena memang beliau tidak tahu jawaban atas permasalahan tersebut. Dengan sejujurnya, beliau berkata, "Aku tidak tahu."

Tentu saja sang murid menjadi kecewa. Lalu, ia berkata, "Apakah aku harus mengatakan kepada orang-orang bahwa Imam Malik tidak tahu?"


"Ya!" Jawab Imam Malik, "Katakanlah kepada kaummu bahwa aku tidak tahu!"


Pernyataan Imam Malik ini mungkin bagi sebagian orang pintar merasa bisa menjatuhkan harga dirinya karena akan dianggap bodoh. Bahkan, untuk menghindari agar tidak disebut orang bodoh, ia akan berusaha untuk mengada-adakan jawaban tanpa memedulikannya, apakah bisa dipertanggungjawabkan atau tidak.


Hal itu tidak berlaku bagi Imam Malik. Jika memang tidak memiliki jawaban atas pertanyaan itu, beliau lebih memilih mengatakan sejujurnya bahwa tidak mengetahui jawaban daripada harus mengatakan bahwa ia tahu semua tanpa ilmu.


Ia mewarisi sifat jujur Nabi saw ketika menetapkan suatu jawaban atas permasalahan. Jika Rasulullah saw menanti wahyu untuk mengetahui jawabannya, Imam Malik akan belajar dan belajar lagi hingga menemukan ilmu yang benar untuk menjawab permasalahan di atas.
source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Dipercaya Menjadi Pemimpin Kafilah Dagang

Khadijah adalah seorang saudagar wanita yang kaya-raya di kota Mekah. Dia hendak mengirim kafilah dagangnya ke negeri Syam sehingga dia membutuhkan seseorang yang dapat dipercaya untuk membimbing dan mengawasi rombongan dagang tersebut.

Tersiarlah kabar bahwa di Mekah ada seorang pemuda yang terkenal akan kejujurannya. Keluhuran budi pekerti dan kepribadiannya terpelihara dengan baik, padahal kebanyakan pemuda saat itu senang berfoya-foya.

Namun, pemuda yang satu ini sama sekali tidak terpengaruh oleh kebiasaan jahiliah masyarakat kotanya karena perlindungan Allah SWT. Siapakah dia? Dialah Muhammad bin Abdillah keturunan Bani Hasyim yang terpandang.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kabar tentang kejujuran Muhammad sampai ke telinga Khadijah. Ia tahu Muhammad selalu menemani pamannya berdagang ke Syam.

Akan tetapi, sanggupkah Muhammad memimpin rombongan kafilah dagang yang begitu besar ini? Padahal, Muhammad belum pernah sekali-kali pun memimpin rombongan dagang ke luar kota, apalagi ke luar negeri.

Tentu saja hal ini bukanlah hal yang mudah untuk mengemban tugas itu bagi seseorang yang belum memiliki pengalaman memimpin, mengatur, membimbing, dan mengawasi kafilah dagang ke negeri lain.

Meskipun demikian, sebagai seorang pedagang andal, Khadijah tidak memedulikan pengalaman Muhammad dalam berdagang. Sebagai seseorang yang mengetahui seluk-beluk perdagangan, Khadijah meyakini bahwa kejujuranlah modal penting dalam berdagang. Sifat itu ada pada diri Muhammad. Kemudian ia segera menyuruh pelayannya untuk memanggil Muhammad.

Setelah Muhammad datang, Khadijah berusaha untuk menggali lebih jauh pemahaman dagang pemuda jujur tersebut. Khadijah melontarkan beberapa pertanyaan kepada Muhammad dalam perbincangan yang serius.

Muhammad begitu tenang dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan sang saudagar. Ia tampak sangat cerdas, wawasan ilmunya luas, dan memiliki wibawa.
Dalam berbicara, Muhammad mendengarkan lawan bicaranya dengan saksama meskipun pandangannya tertunduk. Seingat Khadijah, hanya sekali Muhammad mengangkat wajahnya, yaitu ketika Khadijah menawarkan posisi menjadi orang kepercayaannya untuk memimpin kafilah dagang ke negeri Syam. Muhammad mengangkat wajahnya sedikit, mengucapkan terima kasih sambil tersenyum, lalu kembali menunduk.

Dari sikap Muhammad yang bersahaja inilah, akhirnya Khadijah memantapkan pilihannya kepada Muhammad. Dengan senang hati pula Muhammad menerimanya.

Setelah dirasa cukup, akhirnya Muhammad diperkenankan untuk pulang. Muhammad segera pulang dan tawaran kerja ini langsung diberitakan kepada pamannya, Abu Thalib. Betapa gembiranya sang paman. la yakin keponakannya mampu menjalani tugas besar tersebut. Abu Thalib berkata, "Ini adalah rezeki yang Allah berikan kepadamu".

Tibalah saatnya rombongan kafilah dagang berangkat menuju Syam. Bersama Maysarah - salah seorang utusan Khadijah untuk membantu Muhammad - mereka bertolak ke negeri Syam. Sudah menjadi tradisi penduduk Mekah untuk beramai-ramai mengantar rombongan dagang hingga ke perbatasan kota, termasuk sang paman, Abu Thalib.

Setibanya di Syam, bersama pedagang lain, Muhammad menawarkan dagangannya dengan gesit kepada para calon pembeli. Ia tidak menutupi cacat pada barang dagangannya. Jika barang tersebut bagus, akan ia katakan bagus, sebaliknya jika barang tersebut jelek atau cacat, ia pun tidak menutupinya dari pembeli.

Dalam menetapkan harga ia menggunakan standar harga yang berlaku di masyarakat. Tidak pernah ia menambah-nambahkan harga. Tawar-menawar ia lakukan suka sama suka dengan pembeli. Kejujurannya tidak pernah mengecewakan.

Hal ini menarik banyak pembeli untuk membeli dagangannya karena pedagang lain terbiasa meninggikan harga barang dagangannya demi mencapai keuntungan sebesar-besarnya.

Urusan perdagangan di Syam berjalan sangat lancar. Muhammad memperoleh keuntungan dagang yang besar. Seluruh barang dagangan habis terjual. Sebelum pulang, kafilah dagang ini membeli barang-barang lain untuk dijual kembali di Mekah.

Kepulangan mereka disambut antusias penduduk Mekah. Barang yang mereka bawa dari Syam pun berhasil dijual hingga habis di Mekah. Keuntungan makin berlipat ganda. Tentu saja hal ini membuat gembira Khadijah yang memilih Muhammad karena reputasi kejujurannya.source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Firasat Orang Shiddiq

Seorang pemuda Yahudi yang sangat tampan masuk ke dalam masjid dengan sikapnya yang sangat hormat. Pemuda itu berpakaian indah, memakai wangi-wangian yang harum, budi dan tutur katanya pun sopan. Semua orang yang berada di masjid mengira ia adalah orang Islam, padahal sebenarnya ia Yahudi yang belum memeluk Islam.

Syekh Ibrahim Al-Khawwash yang sedang berada di dalam masjid berkata kepada sahabat-sahabatnya, "Pemuda itu adalah seorang Yahudi."

Para sahabat kurang setuju dengan perkataan Syekh Ibrahim. Mereka menganggap pemuda itu adalah jemaah masjid yang hendak shalat. Pemuda itu mengetahui bahwa mereka sedang membicarakannya.
Mendengar pertanyaan itu, para sahabat Syekh Ibrahim enggan menjawabnya. Mereka diam seribu bahasa. Namun, pemuda itu mendesak mereka, "Tak perlu takut, aku hanya ingin tahu apa yang diucapkan Syekh Ibrahim tadi?"

Akhirnya, salah satu dari jemaah angkat bicara, "Syekh mengatakan bahwa kau seorang Yahudi. Apakah benar?"


Pernyataan Syekh Ibrahim itu mengejutkan pemuda Yahudi. Ia bergegas menyusul Syekh Ibrahim yang sedang berjalan pulang ke rumahnya. Pemuda itu langsung mencium tangan Syekh Ibrahim dan menyatakan dirinya masuk Islam.

Syekh yang keheranan bertanya, "Apa yang mendorongmu untuk segera memeluk Islam?"

Pemuda itu menceritakan isi kitab yang diyakininya, "Dalam kitabku dikatakan, firasat seseorang yang memiliki sifat shiddiq tidak pernah meleset. Saya menguji kaum muslim dengan menyamar sebagai jemaah masjid. Orang shiddiq pasti berada di antara kelompok muslim. Ternyata dugaanku memang benar. Syekh Ibrahim bisa mengenaliku dengan tepat. Berarti Anda adalah orang yang shiddiq dan karena itulah aku masuk Islam!"

Seusai shalat, pemuda itu menunggu Syekh Ibrahim hingga pulang keluar dari masjid. Ketika dilihatnya Syekh Ibrahim telah keluar dari pintu masjid, pemuda Yahudi itu pun mendekati para sahabat Syekh Ibrahim dan bertanya, "Apa kata Syekh Ibrahim tentang diriku?"
source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Barang Cacat yang Terjual

Syaqiq Al-Bakhli bercerita bahwa suatu ketika seorang pedagang jujur bernama Bisyr berdagang ke negeri Mesir dengan membawa 80 potong kain sutra. Barang dagangannya itu adalah titipan Abu Hanifah.

Sebelum keberangkatannya, Abu Hanifah memberi tahu bahwa ada satu potong kain yang cacat. Ia pun menunjukkan kain cacat itu dan berpesan agar hal ini diberitahukan kepada calon pembeli.

Bisyr pun beraksi menjualkan barang dagangannya. Begitu asyiknya melayani pembeli yang sangat banyak untuk membeli dagangannya, ia lupa memberitahukan cacat sepotong kain pada pembeli yang menawarnya. Akhirnya, seluruh barang terjual habis termasuk sepotong kain yang cacat tersebut.

Akhirnya, dia pulang dan memberikan semua hasil dagangan tersebut. Abu Hanifah pun menerimanya dengan sangat senang karena keuntungan yang didapatkan sangat besar di hari itu. Tidak lupa pula ia menanyakan perihal kain yang cacat kepada sahabatnya.

Bisyr baru teringat akan amanah dari Abu Hanifah tersebut, "Astagfirullah, maafkan saya karena telah lupa untuk mengatakannya kepada para pembeli," aku Bisyr.

Abu Hanifah menyesali kejadian itu. Ia khawatir keuntungan yang diterimanya tidak seratus persen halal. Untuk membersihkan keuntungannya itu, Abu Hanifah membagi-bagikan uang seribu dinar hasil penjualan tersebut kepada fakir miskin. Dia berharap agar rezekinya yang halal tidak tercampur dengan rezeki yang bukan haknya.
source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Maha Melihat

Konon, semasa muda, Hasan Al-Basri adalah pemuda yang tampan dan kaya. Sayangnya ia suka menghambur-hamburkan waktunya untuk berfoya-foya. Suatu hari ia melihat kain sutra hijau yang sangat indah. Ia pun tertarik untuk membelinya sebagai hadiah bagi seorang gadis idamannya.Kemudian dihampirinya pelayan toko kain tersebut dan bertanya, "Saya ingin membeli kain sutra hijau itu. Berapa harganya?"

Tak disangka, pelayan tersebut menjawab, "Saya tidak berani menjualnya!"

Tentu saja jawaban pelayan itu membuat Hasan Al-Basri keheranan, lalu ia berkata, "Jika kau tak ingin menjualnya, lantas untuk apa kaupajang kain itu?"

"Saya bukan pemilik toko ini. Saya hanya seorang pelayan yang dipercaya majikan untuk menjaga dagangannya," jelas pelayan tersebut.

Sambil bersungut, Hasan Al-Basri bertanya kembali, "Kapan majikanmu datang?"

Pelayan itu menjawab, "Saya tidak tahu. Mungkin petang nanti. Ada anggota keluarga yang sakit."

"Sudahlah, jual saja sepotong. Toh, majikanmu tidak akan tahu karena masih bersisa banyak," bujuknya lagi.

Pelayan itu menghela nafas panjang. Ia menimpali, "Memang majikan saya tidak akan tahu. Tapi, bagaimana dengan Penguasa majikan saya? Apakah tuan menjamin Dia tidak akan tahu?"

Sambil tersenyum sinis, Hasan Al-Basri menantang, "Memangnya siapa penguasa majikanmu?"

"Allah 'Azza wa Jalla" tandas pelayan itu.source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Kisah Saudagar Perhiasan

Seorang tabiin bernama Yunus bin Ubaid adalah pedagang yang jujur. Ketika hendak menunaikan shalat berjamaah di masjid, ia menitipkan tokonya kepada saudaranya. Kemudian datanglah seorang Badui hendak membeli perhiasan di toko tersebut.

Ia mencari sebuah permata seharga 400 dirham. Saudara Yunus menunjukkan batu permata yang harganya hanya 200 dirham. Orang Badui tersebut langsung membelinya dengan harga 400 dirham tanpa menawar lagi.
Di tengah jalan, dia berpapasan dengan Yunus bin Ubaid. Yunus mengetahui bahwa orang Badui tersebut baru mampir ke tokonya. Ia kemudian bertanya barang apa yang sudah ia beli dari tokonya. Orang Badui itu mengatakan bahwa ia telah membeli permata seharga 400 dirham sambil menunjukkan permata seharga 200 dirham tadi.

Mengetahui hal itu, Yunus berkata, "Maaf, harga sebenarnya cuma 200 dirham. Mari ke toko saya supaya saya dapat mengembalikan uang selebihnya kepada Anda."

Orang Badui itu menolak, "Biarlah, tidak perlu. Aku merasa senang dan beruntung dengan harga 400 dirham itu sebab di kampungku harga barang ini paling murah 500 dirham."

Akan tetapi, saudagar Yunus tidak mau membolehkan orang Badui itu pergi. Ia pun mendesak orang Badui itu agar mau ke tokonya dan ia akan mengembalikan kelebihan uang tersebut. Akhirnya, orang Badui tersebut menerimanya.

Setelah orang Badui itu pergi, berkatalah Yunus kepada saudaranya, "Apakah kamu tidak merasa malu dan takut kepada Allah atas perbuatanmu menjual barang tadi dengan harga dua kali lipat?"

"Tetapi dia sendiri yang mau membelinya dengan harga 400 dirham," saudara Yunus mencoba membela diri bahwa dialah yang benar.

Yunus berkata, "Ya, tapi di atas kita terpikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti memperlakukan terhadap diri kita sendiri."
source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Monday, June 18, 2012

Kisah Pencuri Saleh

Seorang pemuda lugu menuntut ilmu kepada seorang guru fara'idh (ilmu hitung harta waris). Kehidupan ekonomi sang guru sangat pas-pasan. Dalam suatu kesempatan, sang guru berkata kepada murid-muridnya, "Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya orang alim yang menengadahkan tangannya kepada orang-orang yang berharta tidak ada kebaikan pada dirinya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah seperti pekerjaan ayah kalian masing-masing. Bawalah selalu kejujuran dan ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut!"

Pemuda itu tidak tahu tentang pekerjaan ayahnya yang telah meninggal. Ia pun segera pulang ke rumah untuk menanyakan hal tersebut kepada sang ibu.

Setibanya di rumah, pemuda itu menemui ibunya, lalu berkata, "Bu, tolong beri tahu kepadaku apa pekerjaan sepeninggal ayah dahulu?"

Sang ibu heran dengan pertanyaan anaknya yang tiba-tiba itu. Ia pun balik bertanya, "Apa urusanmu hingga ingin mengetahui pekerjaan ayahmu?" Ungkapan sang ibu itu menunjukkan bahwa ia enggan menjawab pertanyaan anaknya.

Pemuda itu terus-menerus memaksa ibunya agar mengungkapkan pekerjaan ayahnya. Lama-kelamaan sang ibu tidak tahan menanggapi desakan anaknya. Dengan nada tinggi, sang ibu berkata, "Ketahuilah bahwa ayahmu dulu adalah seorang pencuri!"

Bukan kecewa yang dirasakan pemuda itu ketika mengetahui ayahnya adalah pencuri, melainkan hasrat yang menggebu-gebu untuk mengikuti jejak ayahnya sesuai dengan anjuran yang disampaikan oleh gurunya.

Pemuda itu menjelaskan kepada ibunya, "Aku diperintahkan oleh guruku untuk bekerja seperti pekerjaan ayahku tanpa meninggalkan kejujuran dan ketakwaan kepada Allah dalam bekerja."

"Hai, Anakku! Apakah dalam mencuri ada ketakwaan?" sela ibunya.

Anaknya menjawab dengan keluguannya, "Ya, begitulah kata guruku."

Ia pun belajar bagaimana menjalankan profesi sebagai pencuri. Ketika ilmu teknik mencuri yang didalaminya sudah cukup. Ia pun memutuskan untuk beraksi melaksanakan perintah sang guru.

Seusai shalat Isya' dan semua orang tertidur lelap, ia pun keluar rumah untuk menjalankan aksi perdananya. Ia selalu ingat pesan gurunya untuk membawa kejujuran dan ketakwaan saat bekerja.

Rumah yang diincar pertama kali adalah yang terdekat dengan rumahnya, yaitu rumah tetangganya sendiri. Namun, ia ingat bahwa mengganggu tetangga bukanlah pekerjaan takwa. Kemudian ia urungkan niatnya untuk mencuri di rumah tetangganya.

Begitu pula, ketika hendak mencuri di rumah anak yatim, ia berpikir, "Allah memperingatkan untuk tidak memakan harta anak yatim." Ia pun pergi mencari rumah berikutnya.

Sambil berjalan, ia merenung, ternyata tidak mudah untuk menjadi pencuri yang bertakwa. Bagaimana pun juga mengambil harta orang lain tidak diperbolehkan agama. Akan tetapi, perintah sang guru harus dilaksanakan. Tidak boleh berputus asa!

Langkahnya terhenti di sebuah rumah besar nan megah. Konon pemilik rumah itu terkenal memiliki harta berlimpah melebihi kebutuhannya. Dengan keterbatasan ilmunya, ia beranggapan bahwa tidak mengapa jika mengambil zakat dari kekayaan orang tersebut. Toh, bagian zakat itu bukan hak si empunya kekayaan, tetapi hak orang miskin.

Tekad yang bulat mendorongnya untuk masuk ke dalam rumah besar yang tidak berpenjaga tersebut. Satu per satu kamar ia selidiki untuk menemukan tempat penyimpanan harta.

Akhirnya, ia sampai di sebuah kamar besar dan didapatinya sebuah kotak besar berisi emas, perak, dan uang tunai. Ia kumpulkan buku-buku catatan yang berisi laporan keuangan si pedagang kaya tersebut. Dengan lentera kecil yang dibawanya, ia mulai menghitung zakat yang harus dikeluarkan oleh orang kaya itu.

Keahlian dalam hal keuangan, pembukuan, dan pembagian harta ia kerahkan di sana. Dikarenakan begitu banyaknya perhitungan yang harus diselesaikan, ia pun lupa waktu. Fajar sudah menyingsing pertanda tiba waktu shalat Subuh.

Sang tuan rumah pun telah bangun dari lelapnya untuk melaksanakan shalat Subuh. Alangkah terkejutnya ketika kamar tempat penyimpanan hartanya telah terbuka. Apalagi ia mendapati seseorang tengah asyik dengan buku-buku catatannya di bawah cahaya lentera kecil.

Dengan lantang, si tuan rumah menghardik pemuda tersebut, "Hai! Siapa kau!"

Sang pemuda terkesiap mendengar teguran tersebut. Saat disadarinya hari sudah hampir terang, ia bergegas untuk melaksanakan shalat. Ia berkata kepada si pemilik rumah, "Maaf, akan saya jelaskan nanti. Tapi, izinkan saya untuk shalat Subuh terlebih dahulu."

Akhirnya, mereka berdua pun shalat Subuh berjemaah dengan si tuan rumah sebagai imamnya. Usai shalat, pemuda itu mengaku kepada tuan rumah, "Saya pencuri."

Si tuan rumah makin bertambah keheranannya, "Lantas apa yang kau lakukan dengan buku-buku catatanku?" tanya tuan rumah.

"Aku sedang menghitung zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun. Ini hasilnya," jawab pemuda itu sambil menyodorkan hasil perhitungannya.

Ia pun menasihati si tuan rumah tentang keutamaan zakat. Tiada kemarahan terlihat di wajah si tuan rumah. Ia malah terkagum-kagum akan kejujuran serta kepandaian dan ketepatan si pencuri dalam berhitung. Selain itu, ia jadi mengetahui tentang pentingnya mengeluarkan zakat.

Akhirnya, si tuan rumah mengangkatnya menjadi sekretaris dan juru hitung pribadinya. Ia pun menikahkan sang pemuda dengan putrinya. Ibu si pemuda tinggal bersama mereka. Berkat kejujuran dan ketakwaan yang dibawa sang pemuda dalam perbuatannya, kebahagiaan mendatangi dirinya dan orang lain.
source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Hadiah Kejujuran

Tersebutlah seorang saleh bernama Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baihaqi. Ia terkenal akan kejujuran dan sifat amanahnya.

Saat itu ia merasa sangat lapar. Padahal, ia tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli makanan. Ia pun tidak menemukan sesuatu yang halal untuk dimakan.

Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang menarik pandangannya. Sebuah kantong yang terbuat dari sutra tergeletak begitu saja di tengah jalan. Ia pun memungutnya dan membawanya pulang ke rumah.

Ketika kantong itu ia buka, isinya adalah kalung permata yang sangat indah. Melihat isi kantong itu ia sangat terkejut karena baru pertama kali melihat perhiasan begitu indahnya. Namun, imannya menyuruh untuk mencari pemiliknya agar bisa dikembalikan kalung tersebut kepadanya.

Al-Qadhi keluar dari rumahnya. Ia mendengar seseorang berteriak mencari kantongnya yang hilang. Ternyata orang itu adalah lelaki tua yang menawarkan sejumlah uang bagi yang menemukan kantongnya.

Ia berkata, "Barangsiapa menemukan kantong sutra berisi permata milikku dan mau mengembalikannya kepadaku, aku akan menebusnya dengan lima ratus dinar!"

Betapa senangnya Al-Qadhi jika lelaki tua itu benar-benar pemilik kantong berisi permata yang ia temukan. Segera ia panggil lelaki tua tersebut, "Hai Pak Tua, kemarilah, ceritakanlah kepadaku ciri-ciri kantongmu!"

Lelaki tua itu menggambarkan dengan sedetail-detailnya bentuk kantong permata tersebut. Benarlah bahwa kantong permata yang ia temukan adalah milik lelaki tua itu. Tanpa membuang waktu, ia pun langsung memulangkan kantong itu pada si empunya.

Bahagia tak terkira terpancar dari wajah lelaki tua itu. Ia pun memberikan sekantong uang yang ia janjikan kepada Al-Qadhi. Namun, Al-Qadhi menolak dengan berkata, "Barang itu memang milikmu dan kau berhak memilikinya tanpa perlu memberiku sesuatu."

"Ambillah karena sudah janjiku untuk memberimu hadiah!" bujuk lelaki tua itu.

Sekali lagi Al-Qadhi menolak meskipun didesak berkali-kali oleh lelaki tua tersebut. Akhirnya, lelaki tua itu mengucapkan terima kasih sambil berlalu meninggalkan Al-Qadhi.

Hari-hari berikutnya setelah kejadian itu, Al-Qadhi berlayar meninggalkan Mekah. Malang baginya karena perahu yang ditumpanginya hancur dihantam ombak besar. Tidak ada penumpang yang selamat kecuali dirinya. Ia berpegangan pada pecahan kayu perahu.

Ia terdampar di sebuah pulau berpenduduk. Ketika dilihatnya sebuah masjid, ia segera menuju ke sana dan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Beberapa orang dari penduduk setempat mendengarnya. Mereka lalu memintanya untuk diajari membaca Al-Qur'an.

Ketika mengetahui bahwa Al-Qadhi bisa menulis, mereka pun minta untuk diajari cara menulis. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa, mereka berdatangan ke masjid untuk belajar. Ia pun mendapat uang yang lumayan banyak dari mereka.

Melihat kesalehan Al-Qadhi, salah seorang dari mereka menawarinya untuk menikah dengan seorang gadis yatim. Ia berkata kepada Al-Qadhi, "Kami memiliki seorang putri yatim. Ia memiliki harta yang cukup. Maukah kau menikahinya?"

Awalnya Al-Qadhi menolak tawaran tersebut. Namun, setelah didesak terus-menerus ia pun menerima tawaran tersebut.

Ketika gadis yatim yang dimaksud dibawa ke hadapannya, Al-Qadhi mengenali kalung permata yang melingkar di leher gadis itu. Kalung itu adalah kalung permata yang pernah ditemukannya.

Salah seorang dari mereka yang mengetahui bahwa Al-Qadhi tertarik pada kalung tersebut bertanya, "Kau hanya memerhatikan kalung itu. Mengapa kau tidak mau memerhatikan gadis yang memakainya?"

Al-Qadhi menceritakan pengalamannya yang lalu saat menemukan permata yang hilang kepada mereka. Setelah mereka mendengarkan seluruh cerita darinya, mereka langsung meneriakkan tahlil dan takbir.

Al-Qadhi tidak mengerti mengapa mereka melakukan itu. Kemudian salah seorang dari mereka menjelaskan, "Tahukah engkau bahwa orang tua yang pernah kau jumpai di Mekah dahulu adalah ayah gadis ini. Dia pernah mengatakan bahwa tidak pernah ia menjumpai seorang muslim yang lebih baik dan jujur daripada orang yang telah mengembalikan kalung tersebut. Kemudian dia berdoa agar dapat dipertemukan kembali dengannya dan dapat menikahkan dengan putrinya. Sekarang doanya telah terkabul!" ujar mereka.

Akhirnya, pernikahan antara keduanya pun berlangsung dengan khidmat. Mereka pun mengarungi bahtera hidup dengan bahagia bersama anak-anak mereka.
source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Kejujuran Seorang Khalifah

Kota Andalusia, Spanyol, dikuasai oleh seorang khalifah yang jujur dan adil bernama Al-Manshur bin Abi Amir Al-Hajib. Dia memiliki rencana besar untuk membangun sebuah jembatan sebagai penghubung dua kota yang dipisahkan sebuah sungai.

Proyek itu dianggarkan empat puluh ribu dinar emas. Meskipun menelan biaya besar, khalifah melihat sisi manfaatnya yang lebih besar bagi kelancaran transportasi dan kegiatan perekonomian masyarakatnya.

Diharapkan proyek itu dapat terealisasi. Oleh karena itu, penguasa harus membeli sepetak tanah milik orang tua yang miskin karena pada tanah itulah akan dibangun fondasi untuk jembatan tersebut. Khalifah menyuruh petugas proyek untuk membeli tanah tersebut dengan harga 100 dinar.

Petugas proyek pun melaksanakan perintah tersebut. Ia menemui si pemilik tanah dan bertanya kepadanya,

"Berapa akan kaujual tanahmu ini?"
Orang tua miskin itu menjawab, "Lima dinar!"

Melihat tawaran orang tua miskin yang sangat rendah tersebut, petugas proyek berpikir untuk membeli tanah tersebut di bawah harga yang ditetapkan oleh sang khalifah. Artinya, ia telah menghemat pengeluaran negara.
Akhirnya, petugas tersebut menawar tanah yang dimaksud dengan harga 10 dinar, yang berarti dua kali lipat dari harga yang diminta pemilik tanah.

Tentu saja orang tua itu bahagia bukan kepalang. Baginya uang sepuluh dinar sangat besar. Ia bisa membeli tanah baru dan menabung sisanya.

Sementara itu, petugas proyek merasa telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, bahkan menganggap dirinya telah berjasa menghemat pengeluaran negara. Ia pun menceritakan tawar-menawar yang terjadi dan berharap sang khalifah akan memuji idenya.

Mendengar hal tersebut raut wajah sang khalifah menunjukkan kekecewaan yang mendalam kepada petugasnya. Ia pun memerintahkan untuk memanggil lelaki tua miskin itu ke hadapannya.

Perintah pun dilaksanakan. Tidak lama kemudian, lelaki tua itu datang menghadap dengan seribu tanda tanya di kepalanya, "Apakah khalifah akan memarahiku karena telah menjual tanah dengan harga mahal?" pikirnya.
Di luar dugaan, ternyata Khalifah Manshur menyambutnya dengan wajah ceria seraya berkata, "Wahai Bapak Tua, benarkah engkau rela menjual tanahmu dengan harga sepuluh dinar?"

"Benar, Tuan. Aku telah ikhlas menjualnya," jawab lelaki tua itu.

Khalifah Manshur kembali berkata, "Bapak Tua, tanah itu akan digunakan untuk kepentingan dan kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, aku sampaikan terima kasih kepadamu atas kesediaan menjual tanah dengan harga murah. Namun, sebelumnya kami telah menetapkan untuk membeli tanahmu seharga seratus dinar. Jadi, terimalah sisa pembayaran yang harus kauterima!"

Lelaki tua itu terperanjat atas keputusan sang khalifah. Sama sekali ia tidak menyangka hak-haknya akan dihargai sedemikian rupa oleh penguasa. Ia pun berdoa semoga keberkahan senantiasa dicurahkan kepada pemimpin yang adil dan mengutamakan hak-hak rakyatnya
source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Menawar agar Lebih Mahal

Ahmad bin Hanbal meriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah sedang duduk di masjid bersama para sahabatnya. Beliau bersabda, "Sebentar lagi seorang lelaki dengan wajah bercahaya akan datang. Dia adalah salah seorang dari orang-orang terbaik dari Yaman, dan ada tanda malaikat di dahinya."

Tak lama kemudian, orang tersebut datang kepada Rasulullah saw dan menyatakan keislamannya. Ia adalah Jarir bin Abdullah Al-Bajali. (HR Muslim)

Tanda-tanda kemuliaan sahabat nabi, Jarir bin Abdullah Al-Bajali, telah diberitakan oleh Allah SWT ketika ia hendak menyatakan keislamannya. Ia adalah sosok sahabat yang menjunjung tinggi kejujuran dan selalu menepati janji.

Pernah suatu hari ia menyuruh budaknya untuk mencarikannya kuda terbaik. Akhirnya, budak itu menemukan kuda yang diinginkan majikannya. Ia pun bertanya kepada si penjual, "Berapa harga kuda ini?"

"Empat ratus dirham," jawab pedagang itu.
"Baiklah, akan aku beri tahukan kepada majikanku agar ia membelinya," kata budak tersebut. Ia pun menuntun kuda tawarannya untuk diperlihatkan kepada sang majikan.

Melihat kuda yang gagah tersebut, sang majikan menaksirnya dengan harga 800 dirham berdasarkan harga pasar. Ia pun menanyakan harga yang ditawarkan si penjual pada budaknya.

"Ia ingin menjual kudanya seharga 400 dirham," jawab si budak.
Mendengar harga tersebut, Al-Bajali langsung pergi menemui penjual kuda itu. Ia berkata kepada si penjual, "Kau katakan kepada budakku harga kuda ini adalah 400 dirham. Maukah engkau menjualnya seharga 500 dirham?"

Pedagang kuda itu merasa heran, "Apakah saya tidak salah dengar?' pikirnya.

Melihat si penjual terdiam, Al-Bajali menawar lagi, "Bagaimana jika 600 dirham?"

Tentu saja keheranannya makin bertambah. Sungguh ia tidak tahu harus berkata apa saat itu.
Melihat penjual itu masih diam, Al-Bajali menaikkan lagi tawarannya, "Kalau begitu, juallah dengan harga 700 atau 800 dirham!"

Al-Bajali melanjutkan, "Wahai penjual, aku sudah berjanji kepada Rasulullah saw untuk bersikap jujur kepada setiap muslim. Kudamu itu harganya sekitar 800 dirham. Jika aku membeli dengan harga kurang dari itu, aku khawatir akan mengkhianati janjiku kepada Rasulullah saw."

source : kumpulan-kisah2.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com