Showing posts with label resensi. Show all posts
Showing posts with label resensi. Show all posts

Thursday, September 22, 2011

Resensi Buku: The Ghost: Sang Penulis Bayangan, oleh Robert Harris

Spesifikasi Buku
Penerbit : PT. Gramedia
Pengarang : Robert Harris
Jumlah Halaman : 320 halaman
Ukuran : 15 x 23 cm
Tahun Terbit : Nopember 2008
Genre : Novel, Politik
Bahasa : Indonesia
ISBN : 978-979-22-4134-1; 40208057
Pratinjau : di Google Book (klik di sini)





Resensi
Novel ini menceritakan seorang penulis bayangan yang bekerja untuk seorang mantan perdana menteri Inggris, Adam Lang. Dia bekerja untuk menjadi penulis memoar, yang sebelumnya dilakukan oleh Mike McAra, namun dia tewas dan ditemukan di pantai tak jauh dari Villa tempat dia bekerja.
     
Adam Lang dituntut melakukan kejahatan perang saat dia masih menjabat sebagai perdana menteri, oleh Richard Rycart. Dia dituduh melakukan penyiksaan terhadap warga negaranya sendiri yang dianggap sebagai teroris.
      
Dalam melakukan pekerjaannya sebagai penulis bayangan, dia banyak menemukan fakta-fakta yang janggal mengenai Adam Lang. Namun tidak hanya tentang penyiksaan tersebut, banyak fakta-fakta yang tidak pernah terduga sebelumnya.
     
Novel ini banyak menyinggung kebijakan-kebijakan politik yang diambil oleh pemerintah Inggris. Menyinggung isu-isu yang selama ini beredar di masyarakat. Novel ini membuat kita terbawa masuk ke dalam suasana politik di Inggris dan Amerika.

Tuesday, August 9, 2011

Resensi Buku Outliers (2008) oleh Malcom Gladwell : The Story of Success


Spesifikasi Buku
Judul : Outliers: The Story of Succes
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Pengarang : Malcom Gladwell
Jumlah Halaman : 352 halaman
Ukuran : 135 x 200 mm
Tahun Terbit : Maret 2009
Genre : Pengembangan Diri
Bahasa : Indonesia
ISBN : 978-979-22xxx
Pratinjau : di Google Book (klik di sini)









Resensi Buku

      Mungkin menurut kebanyakan orang, kesuksesan seseorang itu bisa terjadi hanya dengan kerja keras dan kemauan yang kuat, disertai dengan keahlian saja. Namun taukah anda bahwa faktor penentu kesuksesan seseorang itu bukan hanya dari hal-hal tersebut. Masih banyak faktor-faktor lain yang bahkan tidak diperhatikan oleh kebanyakan orang.
      Faktor-faktor itu itu bisa berupa, kesempatan-kesempatan yang didapatkannya yang belum tentu didapatkan oleh orang lain. Kemudian kerja keras yang melebihi 10.000 jam. Hal-hal tersebut dibahas oleh Malcom Gladwell dalam bukunya Outliers.
      Malqom Gladwell telah menulis banyak buku yang sangat mencengangkan para pembaca buku dan mengubah paradigma pembaca mengenai kesuksesan. Diantaranya adalah buku, The Tipping Point, Blink, The Dog, dan Outliers, yang menjadi buku yang dapat membuka mata kita tentang hal-hal yang bahkan belum pernah kita lihat.
      Salah satu buku dari keempat buku tersebut yang akan saya bahas adalah Outliers. Mengutip dari blog pribadinya secara langsung, dia mengatakan bahwa “Outlier” is a scientific term to describe things or phenomena that lie outside normal experience. Arti mudahnya seperti ini,Outliers adalah sebuah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu atau sebuah fenomena yang terjadi diluar kebiasaan yang normal. Jika kita kaitkan dalam ilmu sosiologi manusia, maka manusia bisa dikatakan seorangOutliers ketika ia menjadi seorang individu yang berbeda/unik dibanding individu lainnya. Jadi orang gila maupun orang sukses dapat dikatakan seorang Outliers karena mereka berbeda dari orang kebanyakan. Tapi untuk kali ini, mari kita bahas tentang Outliers yang dikaitkan dengan orang sukses saja.
      Didalam bukunya, Malcolm mencoba mengangkat berbagai realita yang telah terjadi dalam kehidupan manusia, di suatu waktu dan tempat tertentu, untuk menjelaskan bagaimana pandangannya tentang konsep Outliers yang ia fahami. Ia mencoba mengaitkan variabel-variabel tidak terikat (uncontrolled variable) yang mempengaruhi kesuksesan seseorang, yang sayangnya tidak pernah diangkat oleh penulis buku pengembangan diri kebanyakan. Kalau biasanya penulis buku pengembangan diri selalu menonjolkan faktor kecerdasan, kerja keras, serta ambisi sebagai pengantar kisah-kisah orang sukses, maka Malcolm mencoba mengaitkan beberapa variabel tidak terikat kehidupan manusia seperti tanggal lahir, domisi tempat, bahkan ras yang mempengaruhi kesuksesan seseorang.


     Jadi menurut dia, kesuksesan ternyata bisa dipengaruhi oleh tanggal lahir, domisi hidup, dan bahkan ras manusia. Kisah sejati tentang sukses benar-benar berbeda dari apa yang biasa kita baca, dan bahkan jika kita ingin memahami bagaimana perjuangan orang-orang, kita harusnya meluangkan waktu luang lebih banyak untuk mengamati apa yang ada disekeliling mereka ketimbang yang terlihat dipermukaan. Maka adalah salah, jika kita bergerak menuju kesuksesan diri kita tanpa mencoba memahami hal-hal yang ada disekitar kita. Bisa jadi, hal-hal disekitar diri kita inilah yang nanti akan mengantarkan kita ke pintu kesuksesan lebih cepat.
      Singkatnya, Gladwell yakin bahwa keberhasilan The Beatles adalah karena fakta bahwa pada tahun-tahun awal mereka di Hamburg, Jerman, mereka harus bermain set sangat panjang di klub, dalam berbagai macam gaya, yang keduanya membantu mereka untuk mendapatkan waktu 10.000 jam berlatih mereka dan memaksa mereka untuk menjadi kreatif dan unggul dalam bereksperimen. Kemudian Gladwell mencatat korelasi yang aneh antara seorang pilot yang baik dengan budaya asal mereka. Dia mengeksplorasi mengapa kota kecil di Pennsylvania Timur tidak perna terjadi kasus penyakit serangan jantung. Dia menilai bahwa kemampuan masyarakat Cina dalam berhitung yang sangat luar biasa berasal dari warisan budaya hari panjang bekerja di sawah; Gladwell membandingkan orang Cina melalui pepatah 'tidak ada seorangpun yang bisa bangun  sebelum, fajar 360 hari setahun gagal untuk membuat keluarganya kaya' dengan orang Amerika yang meninggalkan lahan pertanian mereka di musim dingin, yang menyebabkan satu tahun sekolah dengan liburan musim panas - sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang berpendidikan baik dapat dikalahkan oleh anak-anak yang berpendidikan kurang yang memberikan mereka materi yang berat setelah liburan musim panas yang panjang. Dia menyatakan kesuksesan Bill Gates dikarenakan kesempatan dia untuk menggunakan komputer pertama kali disaat orang-orang masih sangat susah untuk bisa menggunakannya.
      Masih banyak lagi hal-hal yang tidak pernah kita ketahui dari kesuksesan seseorang dapat dijelaskan dengan fakta-fakta dan sejarah kebudayaan maupun individu di dalam buku Outliers ini yang membuat kita tidak bisa berhenti membaca buku ini. Jadi, jika anda orang yang mengejar kesuksesan, atau orang yang memiliki rasa penasaran mengapa banyak orang-orang bisa sukses dan orang lain tidak, saya sarankan untuk membaca buku ini. Karena buku ini mampu membuat kita membuka paradigma baru dari kesuksesan masa depan.

Gladwell: “Our romantic notion of the genius must be wrong. A scientific genius is not a person who does what no one else can do; he or she is someone who does what it takes many others to do. The genius is not a unique source of insight; he is merely an efficient source of insight.”
Gladwell: "Gagasan kita tentang Jenius pastilah salah. Seorang Jenius Ilmiah bukanlah orang yang bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain; namun, dia adalah seseorang yang bisa melakukan apa yang dibutuhkan oleh orang lain untuk dilakukan. Seorang Jenius bukanlah sumber wawasan yang unik; tapi dia hanyalah sumber wawasan yang efisien."



Daftar Pustaka :

Tuesday, August 2, 2011

Alangkah Lucunya (Negeri Ini)

Cerita Singkat
            Kisah dimulai dengan kehidupan Muluk dan sang ayah, Makbul. Sudah dua tahun Muluk lulus dari bangku kuliah, tapi selama itu, Muluk masih saja menganggur. Padahal ia ingin sekali punya pekerjaan yang bisa ia banggakan pada sang ayah.
Suatu hari, Muluk tanpa sengaja memergoki anak jalanan yang sedang mencopet. Muluk pun berkenalan dengan pencopet cilik itu, Komet, namanya. Berawal dari perkenalan dengan Komet, Muluk akhirnya tahu bahwa masih banyak anak-anak sebaya Komet yang berprofesi sebagai pencopet. Tak cuma berkenalan dengan pencopet-pencopet cilik, Muluk juga berkenalan dengan Jarot, bos para anak-anak jalanan pencopet ini. Selama ini Jarot mengorganisir anak-anak jalanan pencopet ini dengan rapi, bahkan ia membaginya dalam 3 kelompok, pencopet angkot, pencopet mall dan pencopet pasar.
Melihat kehidupan lain anak-anak jalanan, muncul ide di kepala Muluk. Ia menawarkan diri pada Jarot untuk mengelola keuangan para pencopet cilik ini dan mendidik mereka. Untuk itu, Muluk meminta imbalan 10% dari hasil mencopet.

Kedekatan Muluk dengan para pencopet cilik ini, lama-lama membuat hati Muluk tergerak untuk mengubah nasib anak-anak jalanan ini. Ia pun mengajak dua temannya, Syamsul dan Pipit untuk bersama-sama mendidik para anak-anak jalanan dan mengubah pola pikirnya agar tak lagi jadi pencopet.
       Dan pada saat Muluk, Syamsul, dan Pipit mendidik para pencopet itu, ayah Muluk dan ayah Pipit ingin mendatangi tempat bekerja mereka. Dan pada saat ayah-ayah mereka dating dan mendapati ternyata pekerjaan anak mereka adalah mendidik para pencopet, ayah-ayah mereka itupun tidak setuju dengan pekerjaan mereka karena ayah-ayah mereka menggap mereka itu telah memakan uang haram. Padahal pada saat itu mereka memutuskan untuk berubah dari profesi mencopet mnjadi pengasong.
Setelah akhirnya Muluk, Syamsul, dan Pipit memutuskan untuk berhenti mendidik mereka, sebagian dari mereka memutuskan untuk tidak jadi mengasong dan tetap mencopet, dan sebagian lagi memutuskan untuk mengasong.
Di akhir cerita Komet dan kawan-kawan yang sedang mengasong dikejar-kejar oleh Polisi Pamong Praja (POL-PP) karena melanggar Peraturan Daerah untuk dilarang mengasong di jalanan. Namun, pada saat itu ada Muluk yang dating untuk menghalangi POL-PP untuk menangkap anak-anak itu, dan akhirnya Muluk yang dibawa oleh POL-PP.

Analisis Film
            Film ini menunjukkan salah satu potret Indonesia yang cukup ironis. Di satu sisi orang menggap pencopet adalah perbuatan kejahatan yang susah untuk dimaafkan. Namun di sisi lain, mereka mencopet hanya sekedar untuk mencari makan. Dan disaat mereka sedang berusaha untuk mengubah nasib mereka menjadi pengasong, mereka pun dilarang untuk berjualan di pinggir jalan. Padahal mereka hanya ingin mencari nafkah yang halal.
            Sungguh ironis negeri ini, dan kalau dipikirkan lagi alangkah lucunya negeri ini. Disaat banyak orang kelaparan hingga menghalalkan segala cara untuk mencari makan, para pejabat dengan suka cita berfoyah-foyah dan bahkan banyak diantara mereka Korupsi uang rakyatnya sendiri, yang diibaratkan dalam film ini, pencopet yang berpendidikan.
            Selain masalah keuangan dan mencopet, ada masalah lain yang disinggung di film ini. Yaitu masalah Pendidikan. Di film ini diperdebatkan penting atau tidakkah pendidikan itu bagi kehidupan. Karena ada yang beranggapan bahwa masih banyak yang tetap mendapat pekerjaan meski tidak sekolah atau tidak lulus sekolah.
           Menurut saya, penting atau tidaknya pendidikan itu tergantung dari individunya sendiri bias atau tidaknya memanfaatkan ilmu yang telah didapat saat menempuh pendidikan di bangku sekolah dan kuliah. Jika kita bias memanfaatkannya, kita bias mendapat manfaat dari pendidikan itu, tapi jika kita tidak bias memanfaatkannya, maka pendidikan itu tidak penting.