Showing posts with label letusan. Show all posts
Showing posts with label letusan. Show all posts

Saturday, November 6, 2010

Kawah Baru di Merapi

Gunung Merapi kini memiliki kawah besar di puncaknya, dan diperkirakan berdiameter 400 meter, setelah terjadi letusan pada 4 November 2010.

Badan Geologi memperkirakan telah terbentuk kawah dengan diameter 400 meter di puncak Merapi pascaletusan besar pada 4 November 2010. "Pascaletusan 26 Oktober 2010, telah terbentuk kawah 200 meter di puncak gunung, tetapi karena letusan pada awal November itu diperkirakan 10 kali lebih besar dibandingkan dengan 26 Oktober lalu, maka kawah yang terbentuk juga diperkirakan lebih besar hingga dua kali lipat," kata Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R Sukhyar, di kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Sabtu.

Namun demikian, lanjut dia, pihaknya belum dapat memastikan secara pasti luas kawah dan morfologi puncak Gunung Merapi karena puncak gunung tersebut masih terus tertutup kabut sehingga menghambat pemantauan secara visual.

Ia mengatakan, masyarakat agar terus waspada karena aktivitas Gunung Merapi masih tetap tinggi berdasarkan data pengamatan secara instrumental dengan menggunakan seismograf di BPPTK.

"Fluktuasi Gunung Merapi masih cukup tinggi sehingga status Merapi masih tetap awas dan daerah terdampak juga masih tetap sama yaitu radius 20 kilometer (km)," katanya.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, endapan awan panas bisa mencapai jarak 12 km di Kali Boyong dengan ketebalan hingga 10 meter.

Oleh karena itu, lanjut dia, ancaman Gunung Merapi tidak hanya awan panas tetapi juga banjir lahar apalagi saat terkena hujan yang cukup lebat di lereng gunung.

"Masyarakat tetap diimbau untuk menjauhi bantaran sungai karena dinding bantaran sungai itu bisa tergerus atau jika tidak memiliki kepentingan, jangan terlalu lama beraktivitas di jembatan," katanya.

Sejumlah alur sungai yang perlu dihindari adalah Kali Woro, Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Krasak, Kali Senowo, Kali Trising dan Kali Apu.

Saat ini, lanjut dia, BPPTK masih mengusahakan untuk menambah alat pemantauan di tiga titik menggantikan tiga seismometer yang rusak karena terkena letusan Gunung Merapi.

Namun demikian, ia mengatakan, pengamatan dan kemampuan analisis perkembangan aktivitas gunung tidak terganggu meskipun alat rusak karena masih tersisa satu seismometer di Plawangan.

Sukhyar memperkirakan, jumlah material vulkanik hasil erupsi Gunung Merapi sejak 26 Oktober hingga sekarang telah mencapai sekitar 100 juta meter kubik.

Masyarakat juga diminta untuk tidak mempercayai sejumlah isu yang berkembang di masyarakat, seperri adanya isu yang menyebutkan bahwa Gunung Merapi akan mengeluarkan gas beracun.

"Saat terjadi erupsi, gas akan dihasilkan oleh gunung seperti karbon dioksida atau belerang, tetapi gas tersebut hanya akan terkonsentrasi di sekitar puncak. Kalau sudah terendapkan lama, gas-gas itu akan hilang dengan sendirinya," ujarnya.

Berdasarkan laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga pukul 06.00 WIB suara gemuruh masih terdengar dari jarak 20 km dari puncak gunung.

Sementara itu, awan panas masih terjadi, sehingga warga diminta tetap meningkatkan kewaspadaannya. "Gunung Merapi masih terus menerus menyemburkan awan panas sehingga masih dalam status `awas`," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono, di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, Gunung Merapi hingga kini masih menyemburkan awan panas, sedangkan aktivitas kegempaan sejak Jumat (5/11) pukul 00.00 WIB hingga Sabtu (6/11) pukul 00.00 WIB nihil, baik gempa vulkanik, gempa "multiphase" (MP), dan low frekuensi. Absennya jenis-jenis gempa tersebut digantikan munculnya gempa tremor dan gempa guguran yang berlangsung secara berkesinambungan.

Dari pengamatan visual, petugas di semua pos pengamatan Gunung Merapi melaporkan sejak Jumat (5/11) pukul 19:00 WIB hingga Sabtu (6/11) pukul 00.00 Merapi tertutup kabut. Mereka hanya mampu mendengar suara gemuruh dari puncak Merapi. Suara tersebut terdengar jelas dari jarak lebih dari 20 km.

Aktivitas Merapi masih berintensitas tinggi. Oleh karena itu, status masih tetap dipertahankan pada level IV atau "Awas Merapi dan Awas lahar". Wilayah aman bagi pengungsi masih berada di luar radius 20 km dari puncak gunung.
source:tvone
www.forum-buku.blogspot.com

Letusan Gunung Merapi




Gunung api merupakan satu lubang yang muncul dari permukaan bumi dari persediaan dalam jumlah besar batuan yang mencair, yang disebut magma, didalam kerak bumi. Magma yang merupakan ramuan dasar untuk letusan gunung berapi adalah batuan yang mencair dan akumulasi gas-gas di bawah gunung berapi yang aktif yang berada di daratan atau di laut. Magma yang terbentuk dari silikat-silikat yang mengandung gas-gas yang bisa larut dan kadang-kadang menjadi mineral-mineral yang mengkristal dalam bentuk seperti cairan yang tidak dapat larut yang mengapung. Didorong oleh daya apung dan tekanan gas, magma, yang lebih ringan dibandingkan dengan batuan sekitarnya memaksa magma tersebut keluar ke atas. Ketikan magma itu mencapai permukaan, tekanannya menjadi berkurang yang memungkinkan larutan gas itu mengeluarkan busa putih, menodrong magma melewati gunung berapi ketika gas-gas tersebut dilepaskan. Gunung berapi melepaskan cairan batuan yang disebut lava dan atau abu dan batu-batu yang disebut tephra. Indonesia adalah suatu kepulauan dan dikenal sebagai Negara yang kaya akan gunung api, yang berderet pada jalur tektonik sepanjang lebih kurang 7000 km, mulai dari busur Sunda (Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara), Busur Banda (Banda, Ternate, Nila, Damar), Busur Sulawesi (Sulawesi Utara, Sangir Talaud), samapai dengan busur Halmahera (Halmahera dan sekitarnya).
Bentuk gunungapi tergantung pada bahan erupsi, letak titik erupsi, sifat erupsi, tipe erupsi, lingkungan gunungapi berada. Bahan piroklastik akan membentuk kerucut yang sangat mudah tererosi. Jika pusat erupsi berpindah-pindah maka bentuk gunungapi tidak teratur.
    * Bentuk Kaldera
    * Bentuk Kerucut Cinder
    * Bentuk Perisai
    * Bentuk Gunung Api Strato
    * Bentuk Kubah lava

Erupsi vulkanik masing-masing menghasilkan lava dan piroklastik. Erupsi berdasarkan sumber kejadiannya dapat dikelompokkan menjadi
  • Erupsi magmatik
  • Erupsi preatik
  • Erupsi preto magmatik
Letusan letusan gunung api dapat diuraikan sebagai berikut dalam susunan intensitas yang semakin mengecil

a. Tipe Pelean
Tipe ini adalah tipe letusan yg paling merusak, magama meletus keluar lewat tempat yang lemah dari pungung gunung.
b. Tipe Plinean
Tipe ini adalah dimana magma dilepaskan, dorongan keatas yang kuat dari gas yang dihasilkan dapat membentang jauh sampai di atmosfir. Tipe letusan ini pernah terjadi di Gunung Pinatubo pada tahun 1991.
c. Tipe Vesuvius
Tipe ini besifat eksplosif dan terjadi kadangkala saja. Letusan dari bentuk magma mengeluarkan awan abu yang bisa menutupi area yang luas
d. Tipe Vulkanian
Tipe ini adalah lava yang membentuk kerak di atas lubang-lubang vulkanis diantara letusan yang membentuk volcano. Letusan yang terjadi berikutnya jauh lebih dahsyat dan mengeluarkan awan-awan materi yang padat.
e. Tipe Stromboli
Tipe ini adalah gas-gas lepas lepas lava yang bergerak secara perlahan diantara letusan dapat terjadi terus menerus. Bom vulkanis dari gumpalan lava bisa dikeluarkan menuju langit.
f. Tipe Hawai
Tipe ini adalah dimana lava mudah bergerak dan mengalir secara bebas dan gas-gas dilepaskan relatif dengan cara yang tenang.
g. Tipe Islandia
Tipe ini mirip dengan tipe hawai, dimana lava mengalir dari celah-celah yang dalam dan membentuk lembaran-lembaran yang membentang pada semua jurusan lava. 
http://www.pirba.ristek.go.id



www.forum-buku.blogspot.com