Showing posts with label kisah sufi. Show all posts
Showing posts with label kisah sufi. Show all posts

Friday, February 3, 2012

Mbah Hamid Pasuruan “sosok ulama’ sufi kontemporer”

Kiai Hamid bin Abdullah bin Umar atau sering dikenal dengan panggilan “Mbah Hamid”, dikenal sebagai Ulama’ sufi dan bahkan oleh kebanyakan orang disebut sebagai kiai yang Wali, atau sosok yang sudah memiliki derajat tertentu disisi Sang Khalik, karena kekeramatannya serta beberapa kelebihannya yang telah banyak dirasakan oleh banyak orang yang bertemu dengan beliau dan hidup pada masa tersebut.


Menurut beberapa riwayat, Mbah Hamid walaupun hidup dalam masa kontemporer yang penuh gemerlapnya dunia, prilaku zuhud (sebagaimana salah satu ajaran sufi, red: mengasingkan diri dari gemerlapnya dunia) tetap beliau jalankan. Pada masa tersebut mbah hamid sering didatangi pejabat dengan kepentingan yang bermacam-macam, bahkan tak jarang sering ditawarkan hadiah seperti mobil mewah dan sebagainya, tetapi apa jawab beliau: “Sudahlah barang itu simpan dirumahmu, kalau aku butuh antarkan, kalau tidak butuh bawa kembali”, rupanya beliau tidak ingin disibukkan dengan urusan duniawi. Saya sendiri pernah ketemu langsung dengan mantan bendaharanya, yang sering mendampingi mbah hamid ketika masa hidupnya, dia menceritakan bahwa selama dia ditunjuk sebagai bendaharanya, Mbah Hamid belum pernah menanyakan walau sekalipun tentang berapa jumlah uang yang ada. Walaupun pada waktu itu jumlah uang begitu banyak sekali. Kemudian lanjutnya, yang paling aneh adalah bahwa beliau sering diundang penduduk kadang sampai 40 kali dalam sehari, dan beliau sebisa mungkin didatangi semua, termasuk makanan yang disajikan dalam rangka menghargai dihabiskan juga, tetapi beliau tidak merasa kekenyangan sebagaiman ukuran manusia normal, beliau dikenal sangat menghargai sekali tuan rumah yang mengundang.

Dan yang lebih menakjubkan, Mbah Hamid sangat dermawan sekali kalau dalam urusan agama, misalnya sa’at beliau masih hidup, telah mendirikan sedikitnya 135 mesjid. Sampai saat ini, setelah beliau meninggal, hari meninggalnya beliau diperingati setiap tahun yang dikenal dengan “Haul Mbah Hamid”, secara khusus ditempatkan diwilayah Pasuruan dan yang berdatangan pada umumnya umat Islam wilayah Pasuruan dan sebagian umat Islam yang lain yang berada di daerah Jawa Timur. Banyak hal yang bisa di ambil dari keteladan beliau, khususnya kegigihan beliau dalam memperjuangkan umat, disamping itu, beliau bisa mengasingkan diri dari gemerlapnya dunia atau berlaku zuhud.
source : sufi-story.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Friday, January 28, 2011

Tiga nasihat dari burung untuk sang pemburu

Pada suatu hari, ada seseorang menangkap burung. Burung itu berkata Kepadanya, Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan. Lepaskan saja aku. Nanti aku beri kau tiga nasihat. Si burung berjanji akan memberikan nasihat pertama ketika berada dalam genggaman orang itu. Yang kedua akan diberikannya kalau ia sudah berada di cabang pohon dan yang ketiga ketika ia sudah mencapai puncak bukit.


Orang itu setuju, lalu ia meminta nasihat pertama. Kata burung itu, Kalau kau kehilangan sesuatu, meskipun engkau menghargainya seperti hidupmu sendiri, jangan menyesal. Orang itu pun melepaskannya dan burung itu segera melompat ke dahan. Disampaikannya nasihat yang kedua, Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti.

Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari sana ia berkata, Wahai manusia malang! Dalam diriku terdapat dua permata besar, kalau saja tadi kau membunuhku, kau akan memperolehnya. Orang itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya, namun katanya, setidaknya, katakan padaku nasihat
yang ketiga itu! Si burung menjawab, Alangkah tololnya kau meminta nasihat ketiga sedangkan yang kedua pun belum kau renungkan sama sekali. Sudah kukatakan padaku agar jangan kecewa kalau kehilangan dan jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini kau malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak masuk akal dan menyesali kehilanganmu. Aku pun tidak cukup besar untuk menyimpan dua permata besar! Kau tolol! Oleh karenanya kau harus tetap berada dalam keterbatasan yang disediakan bagi manusia.

(Catatan: Dalam lingkungan darwis, kisah ini dianggap sangat penting untuk mengakalkan fikiran siswa sufi, menyiapkannya menghadapi pengalaman yang tidak boleh dicapai dengan cara-cara biasa. Di samping penggunaannya sehari-hari di kalangan sufi, kisah ini terdapat juga dalam karya klasik Rumi, Matsnawi. Kisah ini juga ditonjolkan dalam Kitab Ketuhanan karya Fariduddin Aththar, salah
seorang guru Rumi. Kedua tokoh sufi itu hidup pada abad ke tiga belas)

Sumber: http://musyoma.weebly.com/source : sufi-story.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Wednesday, December 15, 2010

Sejarah pertama kali Rasulullah mendirikan Sholat Berjema'ah

... Pada waktu hijrah dari Mekah ke Madinah dengan ditemani shahabat beliau, Abu Bakar, Rasulullah s.a.w. melewati daerah yang disebut dengan Quba di sana beliau mendirikan Masjid pertama sejak masa kenabiannya, yaitu Masjid Quba. Selanjutnya, setelah di Madinah beliau juga mendirikan Masjid, tempat umat Islam melaksanakan shalat berjama’ah dan melaksanakan aktivitas sosial lainnya.


Drs. Sidi Gazalba menyebutkan: “Pada hari pertama kedatangan Nabi dengan rombongannya di Madinah itu apakah yang mula-mula sekali dilakukannya? Beliau secara gotong-royong dengan kaum muslimin yang berada di sekitarnya mendirikan Masjid, tempat sujud. Tanah kebun di tempat Masjid itu dibangun adalah milik Bani Najar, yang menolak pembayaran sebagai beli dari kebun mereka. Nabi sendiri ikut bekerja mengangkat batu. Dalam gotong-royong dan sambat sinambat orang tidak memperhitungkan beli, upah dan pangkat. Semua bekerja sama untuk semua”. *)
Dalam perjalanan sejarahnya Masjid telah mengalami perkembangan yang pesat, baik dalam bentuk bangunannya maupun fungsi dan perannya. Hampir dapat dikatakan, dimana komunitas umat Islam berada di situ ada Masjid. Memang umat Islam tidak bisa terlepas dari Masjid. Masjid telah menjadi tempat beribadah, sarana berkumpul, menuntut ilmu, bertukar pengalaman, pusat da’wah dan aneka aktivitas lainnya.

    Banyak Masjid telah didirikan umat Islam, baik Masjid umum, Masjid Sekolah, Masjid Kantor, Masjid Kampus dan lain sebagainya. Masjid didirikan untuk memenuhi kebutuhan umat Islam -khususnya kebutuhan spiritualitas- untuk mendekatkan diri pada Pencipta-nya; menghambakan diri, tunduk dan patuh mengabdi pada-Nya. Masjid juga menjadi tambatan hati, pelabuhan pengembaraan hidup dan energi kehidupan umat Islam.

    Di antara fungsi Masjid yang utama adalah sebagai tempat beribadah, khususnya dalam melaksanakan shalat fardlu dengan berjama’ah. Kalau kita perhatikan, shalat berjama’ah adalah merupakan salah satu ajaran Islam yang pokok. Sunnah Nabi s.a.w. dalam pengertian muhaditsin -bukan fuqaha- yang bermakna perbuatan yang selalu dikerjakan beliau. Ajaran Rasulullah s.a.w. tentang shalat berjama’ah merupakan perintah yang benar-benar ditekankan kepada kaum muslim laki-laki.

Abu Hurairah r.a. berkata: “Bersabdalah Rasulullah s.a.w.: “ Seberat-berat shalat atas para munafiqin, ialah shalat ‘Isya dan shalat fajar (Shubuh). Sekiranya mereka mengetahui apa yang dikandung oleh kedua shalat itu, tentulah mereka mendatanginya, walaupun dengan jalan merangkak. Demi Allah sesungguhnya saya telah berkemauan akan menyuruh orang mendirikan jama’ah beserta para hadirin, kemudian saya pergi dengan beberapa orang yang membawa berkas kayu api kepada orang-orang yang tidak menghadiri jama’ah shalat, lalu saya bakar rumah-rumah mereka, sedang mereka berada di dalamnya””. (HR: Bukhari & Muslim). **)

    Shalat berjama’ah merupakan bukti nyata tentang kemusliman seseorang. Dengan mudah kita dapat mengetahui seseorang itu muslim karena dia datang dan melaksanakan shalat di Masjid. Kita tidak perlu lagi bertanya-tanya apakah dia muslim atau non muslim.

    Pada masa Rasulullah s.a.w, shalat berjamaa’ah di Masjid menjadi identitas kaum muslimin yang dapat membedakan antara mereka dengan orang-orang kafir. Bahkan, orang-orang munafik dapat ditengarai dengan keengganannya dalam melaksanakan shalat berjama’ah di Masjid.

    Abdullah Ibn Mas’ud r.a. berkata: “Saya melihat semua kami (para shahabat) menghadiri jama’ah. Tiada yang ketinggalan menghadiri jama’ah, selain dari orang-orang munafiq yang telah nyata kemunafiqannya, dan sungguhlah sekarang di bawa ke Masjid dipegang lengannya oleh dua orang, seorang sebelah kanan, seorang sebelah kiri, sehingga didirikannya ke dalam shaf”. (HR: Al Jamaah selain Bukhari dan Turmudzi).**)

    Dengan ter-aktualisasinya shalat berjama’ah, maka Masjid menjadi makmur, ukhuwah imaniyah terbina, keterpemimpinan umat nampak jelas, dan syi’ar Islam nyata dalam kehidupan sehari-hari.

    Bagi seorang muslim, menegakkan shalat dengan berjama’ah di Masjid bisa menambah kekhusyu’an dan meningkatkan rasa kebersamaan dalam menghamba kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

    Shalat berjama’ah juga memiliki nilai lebih dari pada shalat sendirian (munfarid).

    Ibnu Umar r.a. berkata: “Bersabdalah Rasulullah s.a.w. : “Shalat jama’ah melebihi shalat sendiri dengan dua puluh tujuh derajad”. (HR: Bukhari dan Muslim). **)

    Shalat berjama’ah di Masjid merupakan ajaran Islam, khususnya bagi laki-laki yang tidak ada udzur, yang saat ini banyak dilupakan umat Islam. Kini kita lihat, di Masjid orang-orang yang melaksanakan shalat berjama’ah sangat sedikit sekali. Terlebih, pada waktu shalat shubuh yang datang mungkin bisa dihitung dengan anak jari.

    Masya Allah, umat Islam telah melupakan ajarannya sendiri. Bahkan, di antara mereka banyak yang datang ke Masjid hanya sepekan sekali pada hari Jum’at. Karena itu, kita perlu untuk meng-aktualkan kembali ajaran Shalat berjama’ah di Masjid ini yang merupakan perintah Rasulullah s.a.w. Kita hidupkan kembali sunnah beliau dengan memulai dari diri kita sendiri menurut kemampuan masing-masing.

    Sebenarnya, inti dari memakmurkan Masjid adalah menegakkan shalat berjama’ah yang merupakan salah satu syi’ar Islam terbesar, sementara yang lain adalah pengembangannya. Shalat berjama’ah merupakan indikator utama keberhasilan kita dalam memakmurkan Masjid.

    Jadi, keberhasilan dan kekurangberhasilan kita dalam memakmurkan Masjid dapat diukur dengan seberapa jauh antusias umat Islam di sekitar Masjid dalam menegakkan shalat berjama’ah.

    Masjid adalah tempat sujud. Kita sujud dan ruku’ bersama-sama dalam shalat berjama’ah. Coba kita bayangkan, seandainya setiap umat Islam, khususnya laki-laki, pada waktu mendengar adzan mereka mendatangi Masjid, baik yang di kampung, sekolah, kantor, jalan raya, pusat-pusat pertokoan, kampus dan lain-lainnya untuk menunaikan shalat fardlu dengan berjama’ah. Tentu syiar Islam akan nampak nyata. Bayangkan, hal itu terjadi lima waktu dalam sehari.

    Sebagai pembanding, tentu kita dapat melihat bagaimana syiar Islam ditegakkan pada malam awal bulan Ramadlan. Masjid penuh dengan jama’ah, persatuan Islam nyata, kekuatan Islam nampak, da’wah islamiyah terbina, dan syi’ar Islam bisa dirasakan bersama.

    Semoga kiranya Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa membimbing kita dalam memakmurkan Masjid, di antaranya melalui shalat berjama’ah. Amien.

    Wallahua’lam bishshawab.

    Note:
    *) Drs. Sidi Gazalba: “Masjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam”, hal. 121.
    **) Prof. TM Hasbi Ash Shiddieqy: “Koleksi Hadits Hadits Hukum”, jilid 4, hal. 1-4.

Sumber : http://www.immasjid.com/
Judul     : MEMAKMURKAN MASJID DENGAN SHALAT BERJAMA’AH

source : sufi-story.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Sunday, October 3, 2010

Penjelasan Al-Junaid mengenai perkataan fana’ Abu Yazid

Syeikh abu Nashr as-Sarraj – rahimahullah- berkata: juga dikisahkan dari Abu Yazid Al-Bisthami yang pernah mengatakan, “Aku mendekati medan al-laisaiyyah (ketiadaan), dan aku terus terbang selama sepuluh tahun, sehingga aku menjadi bagian dari ketidaan dalam ketiadaan dan dengan ketiadaan. Kemudian aku mendekati pada penghilangan, yang tak lain adalah medan tauhid. Aku terus terbang dengan ketidaan dalam penghilangan (tadhyi’), Sehingga aku akhirnya benar-benar lenyap dalam penghilangan. Kemudian aku hilang dalam penghilangan yang benar-benar hilang. Kemudian aku mendekati tauhid dari kegaiban makhluk yang Mahatahu dari makhluk.”
Al-Junaid –rahimahullah- berkata: semua ucapan ini dan yang sejenis masuk dalam ilmu kesaksian atas yang ghaib yang jauh bisa menemukan as-syahid. Didalamnya mengandung makna-makna fana’ dengan ghaibnya fana’ dari yang fana’.

Makna ucapan Abu Yazid, “Aku mendekati medan al-Laisaiyyah (ketiadaan), dan aku terus terbang selama sepuluh tahun, sehingga aku menjadi bagian dari ketiadaan dalam ketiadaan dan dengan ketiadaan.” Ini adalah awal kali singgahnya seorang hamba dalam hakikat fana’ dan hilang dari segala apa yang bisa dilihat dan yang tak bisa dilihat. Dan awal terjadinya fana’ adalah lenyapnya semua jejak.

Sedangkan ucapan Abu Yazid, “Ketiadaan dalam ketiadaan dan dengan ketiadaan.” Adalah hilangnya semua itu dari dirinya dan hilangnya hal itu dari hilangnya. Sedangkan makna ketiadaan dengan ketiadaan, adalah bahwa tak ada sesuatu yang bisa dirasakan dan ditemukan. Semuanya terhapus pada bentuk nama-namanya telah hilang, hilang dari apa yang bisa dihadirkan, segala sesuatu telah tertelan dalam musyahadah, maka tak ada sesuatu yang bisa ditemukan. Dan tak pula dirasakan adanya sesuatu yang hilang. Tidak ada nama yang dikenali, semuanya memang benar-benar lenyap darinya. Inilah yang disebut oleh fana’ oleh kaum Sufi. Kemudian yang fana’ itu sendiri hilang dalam ke fana’an. Hingga lenyap dalam ke fana’an. Dan ini yang disebut sebagai penghilangan yang ada dalam ketidaan dengan-Nya dalam ketiadaan.

Inilah hakikat hilangnya segala sesuatu, dan hilangnya jiwa setelah itu. Dan hilangnya kehilangan dalam kehilangan. Dan ratanya segala sesuatu dalam keterhapusan. Begitu juga hilangnya sesuatu dalam kehilangan. Ini semua tidak memiliki jangka waktu tertentu dan tidak pula waktu tertentu.

Al-junaid berkata: ucapan Abu yazid yang menyebutkan tentang waktu sepuluh tahun, dimana itu adalah waktunya, tapi itu tidak memiliki makna apa-apa. Sebab waktu dalam kondisi spiritual seperti ini sudah tak ada lagi. Dan bila waktu itu berlalu dan tak lagi memiliki makna apapun dari orang yang tidak lagi dikendalikan oleh waktu, maka ukuran sepuluh tahun, seratus tahun atau lebih adalah sama.

Al-junaid –rahimahullah- berkata: Sebagaimana yang kami terima, bahwa Abu Yazid pernah mengatakan, “Aku mendekati tauhid dalam ghaibnya makhluk dari Sang Mahatahu gan ghaibnya Sang Mahatahu dari makhluk.” Maka Al-Junaid menafsirkan ucapan Abu Yazid tersebut, bahwa kala aku mendekat dalam tauhid maka jelaslah padaku keghaiban makhluk dari Allah dan jelaslah bagiku kemahatunggalan Allah, dengan segala keagungan-Nya dari makhluk-Nya.

Kemudian Al-Junaid mengatakan, “semua kalimat dan ungkapan yang dikatan Abu Yazid ini sudah diketahui makna dan maksudnya.”

Sumber: Kitab Al-Luma' Karya Abu Nashr as-Sarraj, Hal. 765-766source : sufi-story.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Thursday, September 2, 2010

Kisah Nabi Isa as. Dan tiga potong roti

Di kisahkan, pada suatu ketika Nabi Isa as. Bersama seorang yang mengawaninya dalam perantauan telah ditimpa kelaparan dan keduanya mengunjungi sebuah desa dari desa-desa yang ada. Dan tibalah sang kawan dengan membawa tiga potong roti. Namun ia ketika menemui Al Masih, beliau sedang sholat dan ia merasa lama kalau harus menunggu. Iapun makan sepotong roti dan telah diketahui oleh Al Masih bahwa roti yang
dibawa ada tiga. Setelah selesai sholat, Al Masih menanyakan tentang roti yang ia bawa? Iapun menjawab tidak ada selain dua potong roti ini. Maka diamlah Al Masih. Kemudian beliau melihat sebuah sungai, sambil memegang tangan orang itu mereka berjalan bersama diatas air, melihat pemandangan yang luar biasa tersebut, orang itupun mengucapkan:

Subhanallah maha suci Engkau ya Allah yang tiada memberi mukjizat kecuali pada orang-orang pilihan. Maka berkatalah Al Masih: Demi Allah yang telah memperlihatkan kepadamu, dimanakah sepotong roti itu? Orang itu menjawab: Tidak ada, hanya dua potong roti ini saja. Maka selanjutnya berjalanlah keduanya, sehingga sudah sampai ke sebuah negeri yang sudah hancur. Terlihat di dalam sebuah lubang yang terbuka tiga keping emas. Lalu orang itu bertanya: apakah ini emas? Al Masih menjawab: benar, ini adalah logam dari emas dan aku akan memberikan semuanya untuk anda.

Lalu pergilah Al Masih dan tinggallah orang itu ditempatnya dengan kegembiraan karena telah mendapatkan emas itu. Pada suatu saat, lalu ia di kunjungi oleh tiga orang dan tiba-tiba membunuhnya serta merampas emas dari tangannya. Kemudian Si pembunuh, ketiganya bersepakat, bahwa salah satu dari mereka agar ada yang pergi mencari makanan ke sebuah desa. Kedua orang yang tinggal dan menjaga emas itu, kemudian berencana dan sepakat untuk membunuh temannya yang mencari makanan dan membagi harta karun itu menjadi dua bagian. Akan tetapi sebaliknya, orang yang pergi membawa makanan juga berfikir untuk membunuh keduanya dengan cara menaruh racun pada makanan yang ia bawa, agar emas itu dapat dikuasainya sendiri. Lalu iapun meletakkan racun pada makanan itu. Ketika ia sampai dengan mambawa makanan ke tempat kedua temannya yang sedang menunggui emas, maka oleh kedua orang temannya yang sudah menunggu, langsung di bunuhlah si teman pembawa makanan tersebut. Setelah temannya mati, keduanya merasa aman dan kemudian keduanya makan dari makanan yang telah dibubuhi racun oleh temannya yang bunuh tersebut, akhirnya setelah makan, matilah keduanya.

Pada saat Al Masih kembali beliau melihat kesemuanya berbaring dalam keadaan mati, lalu beliau mengucapkan: Demikianlah dunia ini membunuh pecinta-pecintanya. (Wallahua’lamu bisshowab) source : sufi-story.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Wednesday, September 1, 2010

Kisah Nabi Ibrahim As. dan seorang majusi

Nabi Ibrahim As. telah mengundang seorang majusi dalam jamuan makan sambil berkata kepadanya: “aku akan menjamu anda dengan suatu syarat, agar anda menjadi seorang muslim". Majusi tersebut dengan tegas mengatakan tidak mau. Kemudian pergilah ia meninggalkan Nabi Ibrahim.



Pada saat itu Allah menurunkan wahyu kepadanya, dengan teguran: “Hai Ibrahim mengapa engkau tidak mau menjamu majusi tersebut demi satu malam saja, sedang Aku memberinya makan semenjak tujuh puluh tahun, walau ia berada dalam kekafirannya. Tiadalah akan menjadi suatu beban yang berat atasmu bila engkau menjamunya hanya satu malam saja".

Segeralah Nabi Ibrahim mengejar majusi tadi untuk mengajaknya kembali (menjamunya). Kemudian Nabi Ibrahim memberinya hidangan (makan) dengan segala sifat kemulyaan sebagai amal seorang ahli futuwah. Ia (majusi) menegur Nabi Ibrahim sebab tidak mau menjamu sebelumnya. Nabi Ibrahim menjawab, bahwa Allah SWT. Telah mengurnya berkenaan dengan persoalan itu. Mendengar jawaban Nabi Ibrahim, sang majusi kemudian menyatakan diri masuk islam (Wallahua’lamu bisshowab).

Di nukil dari Jamharatul Aulia, Karya: As Sayyid Mahmud Abul Faidh Al-Manufi Al-Husaini.source : sufi-story.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Para Wali Allah menurut penjelasan Nabi Isa AS

Wahab bin Munabbih meriwayatkan, bahwa para Hawariyyun telah bertanya pada nabi Isa tentang siapa para Wali Allah yang tiada merasa takut dan berduka cita? Nabi Isa menjawab: ”Mereka adalah para hamba yang selalu memandang kepada bathin dunia ini, padahal pada umumnya manusia melihat dari sisi lahirnya. Mereka mempersiapkan ajal (habisnya usia) dunia ini, ketika manusia melihat
kehidupan yang kini saja. Mereka menjauhkan diri dari sesuatu yang akan menodai kehambaan mereka. Pengingkaran mereka terhadap dunia merupakan suatu kemerdekaan dan kegembiraan terhadap apa yang mereka capai daripadanya (dunia ini) merupakan duka cita".


Sebagaimana disebutkan dalam Hadits Qudsi sebagai berikut:

”Wahai para aulia-Ku, pemberian-Ku adalah sebaik-baiknya pahala. Derma-Ku padamu adalah sebaik-baik pendermaan, anugerah-Ku kepadamu adalah sebanyak-banyaknya anugerah. Pergaulan-Ku kepadamu adalah setepat-tepatnya pergaulan. Tuntutan-Ku padamu adalah sekeras-kerasnya tuntutan. Akulah pemilih setiap hati-sanubari. Akulah yang maha mengetahui segala yang ghaib. Akulah pemandang segala gerak-gerik. Akulah pengawas segala lirikan mata. Akulah yang melihat atas lintasan-lintasan hati. Akulah yang mengetahui gerakan pikiran. Dengan demikian hendaknya kalian menjadi para pemanggil demi untuk-Ku. Janganlah kamu merasa takut kepada raja dan penguasa selain-Ku. Barangsiapa yang berani memusuhi kamu, niscaya Akulah yang menjadi lawannya. Barangsiapa yang menyakiti hati kamu, niscaya Aku-lah yang akan membinasakannya. Barangsiapa yang berbuat baik kepadamu, niscaya Akulah yang akan memberinya pahala dan barangsiapa yang meninggalkan kamu, niscaya Akulah yang membencinya”.

Demikianlah penjelasan Nabi Isa tentang para Wali Allah, diperkuat dengan Hadist Qudsi diatas (Wallahua’lamu bisshowab) source : sufi-story.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com