Showing posts with label kisah Heroik. Show all posts
Showing posts with label kisah Heroik. Show all posts

Wednesday, November 9, 2011

Photo Lengkap Peristiwa Penyobekan Bendera Belanda Di Hotel Yamato Surabaya

PERISTIWA PENYOBEKAN BENDERA DI HOTEL YAMATO, yang terjadi pada tanggal 19 September 1945 adalah awal mula kemarahan Arek Suroboyo yang akhirnya memuncak dalam peristiwa pertempuran Dasyat pada tanggal 10 November 1945. Insiden penyobekan bendera di hotel yamato tersebut telah merenggut nyawa 4 pejuang yang gagah berani yaitu : Sdr.SIDIK, Sdr. MULYADI, Sdr. HARIONO dan Sdr. MULYONO. Sedangkan dari pihak Warga Belanda Mr. Ploegman tewas terbunuh oleh amukan massa ditusuk senjata tajam.



Kondisi Awal Ketika Arek Suroboyo mengetahui ada bendera Merah Putih Biru berkibar di hotel yamato (Orange Hotel). Berkibarnya bendera Belanda itu membuat pemuda-pemuda Arek Suroboyo yang tinggal di sekitar hotel MARAH BESAR !!, Dengan cepat kabar tersebut menyebar ke kampung-kampung lainnya. Membuat para pejuang serta merta dengan membawa berbagai senjata seperti Clurit, Pedang, Bambu Runcing dan senjata2 tradisional lainnya menuju ke arah hotel




Peristiwa Detik - detik yang sangat menegangkan terjadi ketika beberapa pemuda nekad memanjat hotel tsb untuk merobek-nya.










Dan ini adalah kondisi kini hotel yamato (Sekarang Bernama Hotel Majapahit). Bagi anda yang sudah pernah ke surabaya, hotel ini berada di Jalan Tunjungan Surabaya dan berada di antara pusat mall dan pertokoan yang ada di surabaya. Luangkan waktu untuk berada sejenak di depan hotel itu sambil mengenang KEBERANIAN dan KEGIGIHAN para pahlawan kita dulu, walaupun sudah tampak jauh lebih megah, tapi aura magis dan semangat perjuangan arek-arek suroboyo dulu masih sangat kental terasa. Sambil mendoakan 4 pemuda "AREK" yang gugur di hotel tersebut. Siapa Dia ? Baca Kisahnya Disini.



source : kisah-fakta.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Peristiwa Penyobekan Bendera di Hotel Yamato Surabaya akan di film kan

Peristiwa penyobekan bendera di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit) menjadi latar belakang film Bendera Sobek garapan sutradara Dwi Ilalang.

”Film ini mengangkat aspek patriotisme, aspek merah-putih. Sekarang banyak orang tak lagi memperhatikan merah-putih. Setelah dihina negara tetangga, baru ramai,” ujar Dwi di Hotel Majapahit, Rabu (13/10).

Meskipun film-film kepahlawanan yang sudah pernah dibuat tidak terlalu booming di pasar, namun Dwi tetap optimistis film yang akan dikerjakan ini bakal meledak.

Apalagi, film ini memiliki latar belakang sejarah yang benar-benar ada dan menjadi kebanggaan arek Surabaya, yaitu peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato.

Pria yang beberapa kali memenangi piala FTV ini mengatakan alur cerita dalam film Bendera Sobek berjalan mundur.

Diceritakan seorang mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir dan mengangkat kisah kehidupan seorang kakek yang saat ini menjadi tahanan politik. Melalui riset yang dilakukan, ditemukan fakta ternyata kakek tersebut memiliki jasa besar dalam peristiwa bersejarah perobekan bendera Belanda di atas Hotel Yamato di Jalan Tunjungan.

Singkat cerita, melalui skripsinya, akhirnya mahasiswa tersebut berhasil membersihkan kembali nama si kakek dan membebaskannya dari status tapol. Meskipun sudah pernah ditahan pemerintah, si kakek tetap memiliki kecintaan luar biasa terhadap negara ini. bahkan dia bertekad menyaksikan upacara Hari Pahlawan di Tugu Pahlawan dan menyaksikan karnaval bersama cucunya yang mengalami keterbelakangan mental.

Tidak hanya mengangkat cerita perjuangan di Surabaya berikut settingnya, semua pemain dalam film ini juga akan dicari dari sekitar Jatim dengan pola seperti ajang pencarian bakat yang sedang marak saat ini.

Film yang dikerjakan PT Rajawali Megah Vision (RMV) dengan menggandeng TelkomFlexi area Jatim, Bali, Nusra ini ini melakukan proses casting di beberapa kota seperti Surabaya, Malang, Kediri, dan Jember.

Audisi bergulir mulai November 2010 dan Surabaya mendapat kesempatan kali pertama, disusul daerah lainnya. Casting akan dilaksanakan dalam bus yang ”disulap” sedemikian rupa,
menyerupai ruangan yang mengedepankan privasi.

Deputy Executive General Manager TelkomFlexi Iskriono Windiarjanto, berharap generasi muda tetap lekat dengan merah putihnya. “Dan menurut kami, film adalah media yang tepat untuk menyampaikan hal tersebut,” ujarnya.

Anggraeni Prajayanti
• VIVAnewssource : kisah-fakta.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Friday, September 30, 2011

Pemuda Pemberani & Super Heroik itu Bernama : Sidik, Hariyono dan Kusno Wibowo

Kita sering melihat tayangan di TV, arsip asli yg sering di putar di TV drama penyobekan bendera merah putih biru dan di sisakan warna merah putih. Terlihat jelas 3 orang pemuda yg naik puncak hotel yamato. Berikut adalah kisahnya.


Drama Penyobekan Bendera di Hotel Yamato

Ketika Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan, 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia merayakan dengan suka cita. Di Surabaya, menandai kemerdekaan itu arek-arek Suroboyo satu persatu menancapkan tiang, mengibarkan bendera merah putih di berbagai sudut kota.
Pengibaran itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena penjajahan Jepang belum sama sekali hilang. Namun, setelah munculnya maklumat pemerintah (31 Agustus 1945) yang menetapkan mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Merah Putih dikibarkan terus di seluruh Indonesia, gerakan pengibaran bendera makin meluas ke segenap pelosok kota. Di berbagai tempat strategis dan tempat-tempat lainnya, susul menyusul bendera dikibarkan. Antara lain di teras atas Gedung Kantor Karesidenan (kantor Syucokan, gedung Gubernuran sekarang, Jl Pahlawan) yang terletak di muka gedung Kempei Tai (sekarang Tugu Pahlawan), di atas gedung Internatio, disusul barisan pemuda dari segala penjuru Surabaya yang membawa bendera merah putih datang ke Tambaksari (lapangan Gelora 10 Nopember) untuk menghadiri rapat raksasa yang diselenggarakan oleh Barisan Pemuda Surabaya.
Saat itu lapangan Tambaksari penuh lambaian bendera merah putih, disertai pekik 'Merdeka' mendengung di angkasa. Walaupun pihak Kompeitai melarang diadakannya rapat tersebut, namun mereka tidak berdaya menghadapi massa rakyat yang semangatnya tengah menggelora itu. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru/Hotel Yamato atau Oranje Hotel, Jl Tunjungan 65 Surabaya.
Mula-mula Jepang dan Indo Belanda yang sudah keluar dari interniran menyusun suatu organisasi, Komite Kontak Sosial, yang mendapat bantuan penuh dari Jepang. Terbentuknya komite ini disponsori oleh Palang Merah Internasional (Intercross). Namun, berlindung dibalik Intercross mereka melakukan kegiatan politik. Mereka mencoba mengambil alih gudang-gudang dan beberapa tempat telah mereka duduki, seperti Hotel Yamato. Pada 18 September 1945, datanglah di Surabaya (Gunungsari) opsir-opsir Sekutu dan Belanda dari Allied Command (utusan Sekutu) bersama-sama dengan rombongan Intercross dari Jakarta.
Rombongan Sekutu oleh Jepang ditempatkan di Hotel Yamato, Jl Tunjungan 65, sedangkan rombongan Intercross di Gedung Setan, Jl Tunjungan 80 Surabaya, tanpa seijin Pemerintah Karesidenan Surabaya. Dan sejak itu Hotel Yamato dijadikan markas RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisioners of War and Internees).
Karena kedudukannya merasa kuat, sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr W.V.Ch Ploegman pada sore hari (18 September 1945, pukul 21.00), mengibarkan bendera Belanda(Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya (19 September 1945) ketika arek Surabaya melihatnya, seketika meledak amarahnya. Mereka menganggap Belanda mau menancapkan kekuasannya kembali di negeri Indonesia, dan dianggap melecehkan gerakan pengibaran bendera yang sedang berlangsung di Surabaya.
Begitu kabar tersebut tersebar di seluruh kota Surabaya, sebentar saja Jl Tunjungan dibanjiri oleh massa rakyat, mulai dari pelajar berumur belasan tahun hingga pemuda dewasa, semua siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Massa terus mengalir hingga memadati halaman hotel serta halaman gedung yang berdampingan penuh massa dengan luapan amarah. Agak ke belakang halaman hotel, beberapa tentara Jepang tampak berjaga-jaga. Situasi saat itu menjadi sangat eksplosif.
Tak lama kemudian Residen Sudirman datang. Kedatangan pejuang dan diplomat ulung yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, menyibak kerumunan massa lalu masuk ke hotel. Ia ingin berunding dengan Mr Ploegman dan kawan-kawan. Dalam perundingan itu Sudirman meminta agar bendera Belanda Triwarna segera diturunkan.
Ploegman menolak, bahkan dengan kasar mengancam, "Tentara Sekutu telah menang perang, dan karena Belanda adalah anggota Sekutu, maka sekarang Pemerintah Belanda berhak menegakkan kembali pemerintahan Hindia Belanda. Republik Indonesia? Itu tidak kami akui." Sambil mengangkat revolver, Ploegman memaksa Sudirman untuk segera pergi dan membiarkan bendera Belanda tetap berkibar.
Melihat gelagat tidak menguntungkan itu, pemuda Sidik dan Hariyono yang mendampingi Sudirman mengambil langkah taktis. Sidik menendang revolver dari tangan Ploegman. Revolver itu terpental dan meletus tanpa mengenai siapapun. Hariyono segera membawa Sudirman ke luar, sementara Sidik terus bergulat dengan Ploegman dan mencekiknya hingga tewas. Beberapa tentara Belanda menyerobot masuk karena mendengar letusan pistol, dan sambil menghunus pedang panjang disabetkan ke arah Sidik. Sidik pun tersungkur.
Di luar hotel, para pemuda yang mengetahui kejadian itu langsung merangsek masuk ke hotel dan terjadilah perkelahian di ruang muka Hotel. Sebagian yang lain, berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Sudirman turut terlibat dalam pemanjatan tiang bendera. Akhirnya ia bersama Kusno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek yang biru, dan mengereknya ke puncak tiang kembali. Massa rakyat menyambut keberhasilan pengibaran bendera merah putih itu dengan pekik "Merdeka" berulang kali, sebagai tanda kemenangan, kehormatan dan kedaulatan negara RI.
***
Peristiwa heroik yang terjadi di Hotel Yamato itu antara lain menandai satu peristiwa besar dari tiga peristiwa lainnya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI di Surabaya. Hebatnya, pertempuran sebesar itu tidak sampai merusak kondisi bangunan, sehingga keaslian hotel ini masih tetap terjaga sepanjang waktu.
Hotel ini semula bernama Oranje-Hotel atau Hotel Oranye. Didirikan pertama kali, 1910, oleh Mr Lucas Martin Sarkies (LMS), seorang bangsa Armenia dengan gaya Colonial dan Art Nouveau Style. Arsiteknya seorang Inggris bernama James Afprey. Lucas Martin Sarkies berasal dari keluarga Sarkies yang terkenal sebagai pemilik kerajaan hotel di Asia. Hotel yang dimilikinya antara lain Raffles Hotel di Singapura, yang hingga kini menjadi salah satu hotel bergengsi di negeri jiran itu, The Strant Hotel di Burma, The Eastern and Oriental Hotel di Penang (Malaysia) dan Hotel Niagara di Lawang (Malang, Jawa Timur).
Hingga kini, bentuk asli dari bangunan pertama Oranje-Hotel tersebut masih tampak pada bangunan ballroom utama yang bernama Balai Andhika. Lantai terasonya masih memakai yang asli, begitu juga ornamen interiornya. Di sisi belakang ballroom masih terdapat halaman dan taman indah peninggalan lama, yang dikelilingi deretan kamar-kamar berlantai dua. Setiap sisi deretan kamar dihubungkan oleh galeri (koridor), yang sisi luarnya dihiasi dengan motif lengkung (arch). Sehingga kalau jendela-jendela kamar dibuka, ruangan atau kamar tersebut akan terlindung dari sinar matahari langsung ataupun dari tempias air hujan.
Karena diperlukan ruang tunggu, informasi dan pelayanan, maka dibangunlah sebuah lobby (1936) dengan gaya Art Deco Style di halaman tengah, di depan ballroom. Untuk keperluan perluasan halaman antara ballroom dengan lobby, maka kedua buah menara yang berada di kiri kanan pintu masuk ballroom terpaksa dipugar.
Ketika pemerintah militer Jepang berkuasa di Surabaya (1942), nama Oranje-Hotel dirubah menjadi Yamato Hoteru atau Hotel Yamato. Fungsinya juga berubah menjadi markas militer Jepang. Setelah bertahan tiga setengah tahun, Oranje-Hotel kembali fungsinya menjadi hotel. Dan untuk beberapa waktu lamanya, setelah insiden perobekan bendera, hotel ini dikenal sebagai Liberty Hotel atau Hotel Merdeka. Selanjutnya, hotel ini kembali dikelola keluarga Sarkies, dan dirubah namanya menjadi Hotel LMS (Lucas Martin Sarkies).
Setelah itu kepemilikan hotel berganti-ganti dan nama hotel juga berubah. Dari Hotel LMS dirubah menjadi Hotel Majapahit (1969) oleh pemilik baru Mantrust Holding Co. Hotel Majapahit kemudian dibeli oleh Sekar Group (1993), perusahaan besar milik konglomerat asal Indonesia yang bergerak di bidang produksi makanan, real estate, dan perusahaan jasa lainnya. Sekitar tiga bulan kemudian dilakukan joint venture antara Sekar Group dan Mandarin Oriental, untuk mengelola dan mengembangkan hotel secara bersama di bawah payung PT Sekman Wisata. Nama hotelpun bertambah menjadi Hotel Majapahit Mandarin Oriental Surabaya.
Dua setengah tahun kemudian (1996), Hotel Majapahit mengalami restorasi besar-besaran, hingga menelan dana 35 juta dollar AS. Hasilnya, Hotel Majapahit memiliki 150 kamar tidur kelas suite, 3 fasilitas restoran bertaraf internasional, toko kue, room service 24 jam, 9 ruang pertemuan dan pesta, tempat parkir dengan fasilitas 200 mobil, kolam renang dengan fasilitas fitnes centre, sauna, whispool, steam, lapangan tenis, business centre, lobby, kios serta halaman taman yang indah pada sisi belakang hotel, yang masih dipertahankan sebagaimana bentuk aslinya.
Standar Hotel inipun terangkat menjadi Hotel Bintang Lima internasional. Pada saat sama, mendapat penghargaan sebagai pengelola yang berhasil menjaga keaslian bangunan dari Walikotamadya Surabaya.
Mungkin tak banyak yang tahu, di hotel ini pernah menginap Charlie Chaplin, Crown Prince Leopold III, Princes Astrid dan Pangeran Albert, ketiganya dari Belgia, bintang lapangan Christian Karembeau dan Adriana Sklenarikova, Annemarie Jorritsma dari Nederlan, Bill Skate dan Rarua Skate asal Papua New Guinea. Nilai kesejarahan yang tinggi dan model arsitektur yang langka, menjadikan bangunan ini masuk cagar budaya yang harus dilestarikan.source : kisah-fakta.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Wednesday, September 28, 2011

Seorang Ibu Mempertaruhkan Nyawanya Untuk Melindungi Anaknya dari Reruntuhan Gempa


Kisah Menyetuh Hati, Pengorbanan Seorang Ibu Melindungi Anaknya Dari Runtuhan Gempa-Artikel ini admin peroleh dari kiriman email seorang sahabat (Herizal Alwi). Ini adalah kisah nyata tentang pengorbanan seorang ibu ketika gempa bumi melanda Jepang. Ketika gempa bumi telah reda, sewaktu regu penyelamat tiba di sebuah rumah yang telah musnah milik seorang wanita muda, diantara reruntuhan mereka melihat tubuh seorang wanita dalam posisi seperti berlutut (seperti orang yg sedang bersembahyang/berdoa), dengan badannya menunduk ke depan dan kedua-dua tangannya seperti melindungi sesuatu. Runtuhan rumah tersebut telah mengenai pada bahagian belakang dan kepalanya.
Regu penyelamat dengan susah payah untuk mencapai wanita tersebut melalui celahan runtuhan tersebut dengan harapan wanita tersebut masih hidup. Namun begitu, keadaan badan wanita tersebut yg sejuk dan kaku menunjukkan yang dia sudah tiada lagi. Regu penyelamat lantas terus meninggalkan rumah wanita tersebut.

Tiba-tiba, ketua Regu penyelamat merasakan seperti ada sesuatu yang tidak semestinya, lalu diputuskan kembali ke rumah tersebut. Dia telah berlutut sekali lagi dan coba mencapai sedaya upayanya diantara runtuhan untuk mencapai sedikit ruang kosong di bawah mayat wanita tersebut. Tiba-tiba, dia menjerit, “ada bayi, ada bayi disini!!” Lantas seluruh pasukan penyelamat bekerjasama menyingkirkan sisa runtuhan disekeliling mayat wanita tersebut. Apa yang mereka lihat ada seorang bayi lelaki yang berusia 3 bulan yang berbalut deangan selimut di dalam pelukan wanita tersebut. Ternyata wanita tersebut telah terkorban ketika melindungi bayinya. Ketika gempa bumi terjadi, dia telah menggunakan tubuhnya sebagai perisai pelindung bagi bayinya. Bayi tersebut masih nyenyak tidur ketika ketua regu penyelamat mengangkatnya keluar dari celah runtuhan.

Dokter dengan segera memeriksa keadaan bayi lelaki tersebut dan ketika docter membuka balutan selimut bayi itu, dia menemukan sebuah telepon seluler dan terpampang di layar telepon tersebut sepotong pesan bertuliskan
“SEKIRANYA KAMU SELAMAT, INGATLAH BAHWA IBU MENYAYANGIMU..”
Pesan ini telah dibaca oleh semua orang yang berada di situ, dan mereka semua menangis dan tersentuh.

“SEKIRANYA KAMU SELAMAT, INGATLAH BAHWA IBU MENYAYANGIMU..”
Begitu besarnya kasih sayang seorang Ibu...!!source : kisah-fakta.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com