Showing posts with label Untuk Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Untuk Indonesia. Show all posts

Tuesday, May 29, 2012

Bung Tomo Ketuk Tentara Muslim India

Meskipun usianya baru 40-an, Aamir Khan kini bukan hanya aktor. Seperti juga Shah Rukh Khan yang usianya lebih muda, Aamir juga seorang produser. Bahkan, sekitar lima tahun lalu, dia telah membuat film berjudul Lagaan. Film sejarah saat rakyat India melawan penjajah Inggris ini kemudian terpilih masuk nominasi hadiah Oscar untuk katagori film asing.

Setelah itu, Aamir Khan absen dari dunia film India selama empat tahun. Selama waktu yang lama itu dia mempersiapkan produksi filmnya berjudul The Rising (Kebangkitan), yang pada bulan Agustus lalu, bersamaan dengan masa edarnya di India, di putar di sejumlah bioskop Indonesia. Dalam film ini Aamir Khan berperan sebagai Mangal Pandey, warga India yang jadi prajurit Inggris, kemudian memberontak.

Dia berontak karena merasa ditipu British East India Company (semacam VOC-nya Inggris), yang ketika pada 1856 memperkenalkan penemuan senapan jenis baru. Untuk ditembakkan bagian ujungnya harus digigit terlebih dulu, seperti saat kita sebelum mengisap cerutu (lisong). Setelah itu bubuk mesiunya dimasukkan ke senapan dan siap ditembakkan. Salah satu campuran yang harus digigit adalah lemak (gajih) sapi dan babi.

Mengetahui sebagian tentara lokalnya beragama Hindu yang sangat memuliakan binatang tersebut, dan Islam yang mengharamkan babi, Inggris merahasiakan campuran itu. Namun akhirnya kasus tersebut terbongkar, setelah ditemukan gudang tempat membuat peluru. Dipimpin Mangal Pandey, baik Hindu maupun Muslim, sama-sama berontak melawan Inggris.

Cerita hampir sama terjadi saat pasukan Sekutu dipimpin balatentara Inggris, yang pada 29 September 1945 mendartat di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di antara pasukan Sekutu yang berasal dari India (waktu itu Pakistan dan Bangladesh belum muncul), banyak terdapat tentara beragama Islam. Mereka umumnya dari suku Pathan yang sangat taat memeluk Islam. Suku Pathan berasal dari perbatasan antara India dan Afganistan (Nort West Frontier Provinst), bermarga Khan, seperti yang banyak kita dapati nama bintang Bollywood.

Pasukan sekutu yang dipimpin Lord Louis Mounbatten itu bertugas untuk melucuti tentara Jepang, dan menduduki Indonesia. Konon, ketika tentara India dilibatkan dalam pasukan Sekutu, mereka yang beragama Islam minta ketegasan Inggris, karena sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam. Mereka akan menolak jika memerangi saudara-saudaranya seagama. Tapi Inggris dengan liciknya menyatakan, bahwa justru diberangkatkan ke Indonesia untuk membantu rakyatnya yang sedang berperang dengan orang kafir.

Diantara pasukan sekutu ada yang bertugas di Surabaya, umumnya dari Brigade 49/Divisi India ke-23 di bawah komando Brigade Jenderal AWS Mallaby. Ketika pihak Sekutu mengeluarkan ultimatum agar para pejuang menyerahakan diri dengan mengangkat tangan paling lambat 10 November pukul 06.00, maka ultimatum itu dicuekin para pejuang. Dan, terjadilah peristiwa 10 Nopember 1945 hingga pihak Sekutu kewalahan menghadapi serangan para pejuang Indonesia. Terjadi pertempuran mati-matian. Sekutu mengerahkan lebih dari satu divisi infantri, yaitu Divisi India ke-5 beserta sisa Brigade Mallaby.

Diantara Brigade India, terdiri dari Hindu dan Muslim (waktu itu Pakistan belum terbentuk), disamping pasukan Gurkha. Dan, mereka yang beragama Islam tergetar hatinya ketika Bung Tomo, menyerukan takbir 'Allahu Akbar' mengajak para pejuamg berjihad mempertahankanm kemerdekaan. Pasukan India yang Muslim umumnya tidak bersedia memerangi saudaranya seagama. Bahkan ada yang lantas bergabung dengan para pejuang. Mereka merasa tertipu oleh Inggris, yang menjanjikan kedatangan mereka ke Indonesia untuk membantu rakyat memerangi kaum kafir. Apalagi setelah kemudian mereka masuk ke kampung-kampung, sambil bertanya 'Muslim?', yang oleh penduduk dijawab 'Muslim'.

Sepereti dituturkan Abdul Rachim Latif (65 tahun), warga keturunan India kelahiran Surabaya, pasukan Muslim India yang hengkang dari induk pasukannya kemudian tidak kembali lagi ke negaranya. Mereka kawin dengan wanita-wanita Indonesia. Mereka tinggal sedikit di luar kota Surabaya, di kawasan Bendul Merisi. Kini jadi Jl Bendul Marisi di belakang rumah sakit Dr Ramlan, Surabaya, berdekatan dengan Jl Jenderal Ahmad Yani Surabaya. Di sini, kata Abdul Rachim, ketika itu terdapat sekitar 100 KK pasukan Muslim India, yang kini sudah beranak cucu. Jasa mereka oleh pemerintah Indonesia tetap dihargai. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, tiap hari ulang tahun kemerdekaan RI mereka mendapat santunan. Hal yang sama juga diberikan pada masa Presiden Soeharto.

Bukan hanya di Surabaya, di Jakarta juga banyak tentara India Muslim yang tidak kembali ke negaranya, dan kemudian menjadi anggota TNI. Ketika menjadi pasukan sekutu, mereka akrab dengan penduduk dan juga datang ke rumah-rumah penduduk. Mereka juga shalat berjamaah dengan penduduk setempat. Mereka membagikan makanan dan barang-barang pada penduduk. Karena itu, saat revolusi fisik pasukan India yang Muslim tidak menjadi incaran tembak para pejuang.

(Alwi Shahab )

sumber : Republika, Minggu, 04 Desember 2005

Copy paste dari: http://bajul.blogspot.com/

Wednesday, January 11, 2012

REFLEKSI KELAS DUNIA

Oleh: Rhenald Kasali di harian Seputar Indonesia
Menurut PBB, tahun ini adalah tahun koperasi. Bangsa-bangsa besar,tak ketinggalan Thailand dan Malaysia, berlomba-lomba menunjukkan kepada dunia, mereka pun memiliki koperasi kelas dunia.Bagaimana Indonesia?

Bukankah kita lagi asyik dengan UMKM nonkoperasi? Untuk menjadi pegangan para pelaku koperasi, International Cooperative Alliance (ICA) mengeluarkan peta yang berisi daftar 300 koperasi kelas dunia. Di dalam daftar itu terdapat koperasi-koperasi besar seperti Credit Agricole Group (Prancis), Zen Noh (Jepang), Rabo Bank (Belanda), California Dairies (Amerika Serikat/ AS), IFFO (India), Fair Price (Singapura), dan Bank Rakyat (Malaysia). Semula saya berharap akan ada beberapa koperasi Indonesia yang masuk dalam daftar itu,tetapi saya harus kecewa menerima kenyataan tidak ada.

Padahal, kurang apa ya negeri ini? Penduduk prasejahtera masih banyak, kementerian yang menangani khusus koperasi juga ada,APBN-nya pun disediakan. Tidak ada badan hukum usaha lain yang diajarkan di sekolah sejak SD selain koperasi.Koperasi juga dijadikan praktik di sekolah-sekolah. Indonesia juga tidak kurang mengenal tokoh-tokoh koperasi, termasuk pendiri negeri ini Bung Hatta. Sementara di Inggris, Belanda, dan AS yang sangat kapitalis, koperasi justru berjaya.Ada apa gerangan?

Ideal dan Komersial

Di Harvard, bila Anda sempat, mampirlah ke toko buku dan suvenir kampus. Anda akan menemukan sebuah toko besar yang dikelola secara profesional. Mahasiswa dan pengunjung menyebutnya COOP yang artinya koperasi.Adalah hal yang biasa bila orang menyebut coop-number yang berarti nomor keanggotaan dalam koperasi. Mereka adalah pemegang saham sekaligus pelanggan, mengeluarkan uang dan mendapat dividen.

Di Inggris,gerakan koperasi juga tak kalah hebatnya.Adalah biasa orang menyebut vivid number yang berarti nomor keanggotaan koperasi. Salah satu kelompok usaha berbasis koperasi yang besar adalah The Co-Operative Group yang bergerak dalam spektrum usaha yang sangat luas dengan 3 juta anggota dan 4.500 gerai. Mereka bergerak dalam bidang ritel, makanan, asuransi, perbankan, travel, farmasi, jasa pemakaman, jasa hukum, investasi, toko online, listrik, dan hotel. Di Indonesia kita mengenal Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) yang masih memiliki gedung bertingkat di jalan bergengsi di Jakarta, tetapi kiprahnya sudah lama tak terdengar.

Demikian pula Puskowan Jati yang sangat populer di Jawa Timur, Koperasi Unit Desa Setia Kawan di Nangkojajar, koperasi-koperasi susu, Inkopad, Inkopal dan Inkopol serta Inkopau. Tapi semakin hari koperasi di sini mulai jarang disebut.Apalagi, dukungan pemerintah pada sektor pertanian menyusut, lahanlahan pertanian menyempit, dan usaha yang sarat subsidi (seperti pupuk) berpindah ke tangan para makelar dan orang-orang partai politik. Mudah-mudahan saya salah dan saya berharap koperasikoperasi kita gegap gempita seperti di era Orde Baru.

Namun,di sisi lain,saya mendengar ada secercah harapan, yaitu berkembangnya koperasikoperasi simpan pinjam (KSP) yang banyak menggarap sektor microfinance. KSP-KSP ini bisnisnya berkembang karena dikelola secara profesional dengan manajemen mirip perbankan. Hanya saja tak semua sektor microfinancedikuasai koperasi. KSP harus bekerja lebih keras lagi karena mereka harus berhadapan dengan bank-bank besar, bank-bank asing, lembaga- lembaga keuangan mikro, BPR,dan tentu saja KSP asing dari Bangladesh, India, dan Eropa.

Refleksi Kelas Dunia

ICA menyebutkan di seluruh dunia, usaha koperasi menyangkut kepentingan lebih dari 1 miliar penduduk dunia yang terlibat baik sebagai anggota, konsumen maupun pengurus dan pegawai. Dari global 300 koperasi dunia saja, penghasilan yang diciptakan telah mencapai USD1,6 triliun,yang berarti setara dengan produk domestik bruto (PDB) salah satu negara nomor 9 terbesar di dunia. Ke-300 koperasi kelas dunia itu ada di 25 negara dengan penghasilan terbesar,yaitu ada di Prancis (28%), AS (16%), Jerman (14%), Jepang (8%), Belanda (7%), Inggris (4%), Swiss(3,5%), Italia (2,5%) Finlandia (2,6%),Korea (2%) dan Kanada (1,75%).

Kalau di negara-negara kapitalisme itu saja koperasi bisa menjadi besar, mengapa di Indonesia tidak? Apakah mungkin karena koperasi telah salah dibina birokrat-birokrat yang tak paham bisnis sehingga terlalu kental aturan dan masalah ideal saja? Atau jangan-jangan cara pengelolaannya yang masih–– maaf–– primitif, berpikir kecil,merasa miskin dan kurang berani merekrut kaum profesional? Atau bisa juga bidangbidang usaha yang ditekuni sangat terbatas pada bidangbidang usaha bernilai tambah rendah sehingga masih bermimpi mengandalkan tangan pemerintah? Semua mungkin saja.

Tapi marilah kita berefleksi dengan melihat apa yang dilakukan oleh koperasi-koperasi kelas dunia. Pada dasarnya, kata kelas dunia itu sendiri adalah kata yang rancu dan sangat mudah dipakai sekadar untuk “kerenkerenan” saja. Padahal, kata kelas dunia mencerminkan sesuatu yang “besar”. Kata “besar” itu sendiri bisa berwujud luas,mulai dari aset,pasar,pendapatan, jumlah pegawai hingga jangkauan usaha dan seterusnya. Namun belakangan saya melihat kecenderungan kata “besar” dalam status kelas dunia mulai ditinggalkan karena banyak usaha-usaha yang besar menimbulkan masalah.

“Besar” dari ukuran-ukuran tadi ternyata identik dengan kerakusan, skandal, arogansi, tidak bersahabat (dengan pelanggan dan society), dan bahkan “besar” identik dengan kesejahteraan semu (illusionary wealth). Setiap kali terjadi krisis, lembaga-lembaga usaha yang “besar” selalu menjadi beban bagi suatu bangsa karena tidak fleksibel, terlalu hierarkis, terlalu I-Centric,banyak utang,terlibat masalah-masalah etika dan salah urus.Padahal “besar” juga berarti magnet, yang menarik orang-orang terbaik, lulusan universitas-universitas terkemuka dan seterusnya.

Oleh karena itulah pengertian kelas dunia mulai bergeser. Ia bukanlah urusan besar dan peringkat prestasi keuangan melulu.Para ahli melihat, kata “respect”,“admire” (dihormati, dikagumi) menjadi lebih bermakna dan lebih diterima.Jadi, ukurannya bukan lagi sekadar value (nilai, angka), melainkan juga values (bernilai, bermakna, kearifan). Value adalah sasaran dari kapitalisme, sedangkan gabungan value dan values adalah miliknya koperasi. Koperasi kelas desa biasanya terpukau dengan “values” belaka sehingga jalan di tempat, sedangkan koperasi kelas dunia menyeimbangkan keduanya.

Bahkan dengan bekal values–nya itu, mereka berjuang keras menjadi role model dalam industri masing-masing seperti menjalani prinsip-prinsip crackership dalam konsep Cracking Zone. Saya masih punya rekaman kuat saat tinggal beberapa minggu di sebuah desa di kaki Gunung Bromo lebih dari 20 tahun lalu. Di sana saya berdialog dengan para peternak susu dan pengurus Koperasi Susu Setia Kawan.Sebuah desa yang hidup, ceria, dan penduduknya sejahtera karena koperasi.

Pengurus-pengurus koperasi aktif mencari formula- formula baru dalam berbagai hal.Mereka mencari cara agar sapi-sapi mereka sehat dan produktif, mengembangkan teknologi, pakan ternak, dan alat transportasi susu yang terbebas dari kerusakan kualitas dan seterusnya. Tapi di sisi lain,mereka juga aktif membangun masyarakat, merekatkan nilai-nilai, mengubah perilaku-perilaku buruk warisan Ken Arok dan Kebo Ijo (dalam sejarah Singosari), membuat para peternak nakal lebih jujur dan tak mencampur susu dengan air atau santan, menciptakan kegembiraan di antara penduduk saat menyetor susu, serta membentuk cara-cara pengelolaan uang yang sehat.

Rakyatnya sehat dan sejahtera, koperasi juga sehat dan sejahtera.Tapi untuk menjadi role model, tuntutannya tentu lebih besar lagi.Koperasi tak boleh berpuas diri menjadi pemain- pemain kelas desa,sebab seperti KSP-KSP, mereka juga berhadapan dengan sistem ekonomi liberal yang memaksa mereka unggul dalam bersaing. Koperasi harus kompetitif dan dikelola dengan mengikuti zamannya.

Koperasi harus menjadi matahari dengan magnet yang kuat untuk menarik the best talent, the best produk,dan the best system . Selamat merayakan Tahun Internasional Koperasi dan jadilah warga dunia berkelas yang dihormati.

Wednesday, November 2, 2011

Lari Kencang Menteri Dahlan



Meski kehilangan Fadel Muhammad,Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II hasil reshuffle mendapatkan Dahlan Iskan. Dahlan, seperti Fadel, adalah seorang “doer”. Larinya kencang, matanya jeli,dan yang lebih penting lagi, ia tahu mana yang jadi prioritas yang harus segera diputuskan.

Ibarat nasabah yang diangkat menjadi bankir atau bankir yang diangkat menjadi juru runding debitur yang tengah bermasalah,Dahlan Iskan tahu apa yang dirasakan masing-masing BUMN.Doing from the other side of the table! Kini Dahlan harus berunding dengan “bank” yang membinanya, praktis jurus- jurus yang dipegang “bank”ada di tangannya. Dari direksi BUMN yang biasa diberi arahan oleh kementerian yang basisnya adalah birokrasi, kini ia berada di sisi birokrasi. Yang harus ia benahi adalah kantor kementeriannya agar “in line” dan “senafas”dengan BUMN yang dituntut berkinerja.

Nafas Berbeda

Sejak Kementerian BUMN didirikan,dan aset-aset BUMN dipisahkan dari Direktorat Pembinaan BUMN – Departemen Keuangan,sebenarnya sudah ada banyak kemajuan. Menteri Tanri Abeng,profesional, yang datang bersama-sama CEO terkemuka Indonesia (Robby Djohan dan Abdul Gani) melakukan gebrakan riil. Laksamana Sukardi,yang juga mantan CEO meneruskan membawa lebih banyak lagi para praktisi ke dalam BUMN.

Di era Sofyan Djalil,selain ditanamkan prinsip-prinsip good governance, ia juga agresif membawa masuk CEO profesional ke dalam BUMN. Namun, seperti memindahkan ikan samudera ke dalam “fresh water”yang biasa dihuni ikan-ikan air tawar, tidak semua ikan-ikan hiu itu survive. Sebagian mabuk sempoyongan. Hiu yang biasa mengarungi samudera luas melawan predator- predator raksasa kini harus hidup bersama-sama ikanikan konsumsi yang larinya tak sekencang mereka.

Berlari kencang, terlalu banyak dinding yang harus diterjang.Melihat agresivitasnya, pemilik kolam yang tak biasa melaut sering dibuat kecut. Alih-alih membuat ikan-ikan konsumsi berlari lebih cepat, ikan-ikan samuderalah yang direm, dijadikan ikan kolam. Beberapa CEO yang lari kencang itu akhirnya tak bisa bertahan lama.

Beruntung,masih ada orang-orang hebat yang mampu mengembangkan “jurus- jurus” yang lebih adaptif. Hotbonar Sinaga (Jamsostek), Ignasius Jonan (KAI), Agus Martowardojo & Zulkifli Zaini (Bank Mandiri), Richard Jose Lino (Pelindo II),Pasoroan Herman Harianja (Pelindo IV),Gatot M Suwondo ( BNI), Sofyan Basir (BRI),dan tentu saja Dahlan Iskan yang sukses memimpin PLN adalah sebagian contoh CEO yang lari kencang di BUMN.

Di samping mereka tentu juga beberapa direksi yang lahir dari dalam BUMN yang sama kencang larinya. Dari mereka itulah kita belajar ada dua masalah yang harus segera diselesaikan. Pertama, bagaimana menyelaraskan “nafas” antara kantor kementerian dan BUMN itu sendiri. Kedua,bagaimana membina agar BUMN yang belum dikelola dengan baik bisa lari lebih kencang lagi. Untuk masalah yang pertama, bolanya memang ada di pemerintah.

Kalau BUMN mau dibuat maju, kantor kementerian dululah yang harus direformasi menjadi holding BUMN yang dikelola secara lebih profesional dari BUMN yang dibinanya. Kantor kementerian ini nafasnya tidak boleh sama dengan kementerian-kementerian lainnya yang terperangkap oleh,maaf, “kultur kucing”.

“Kucing” adalah metafora yang saya gunakan dalam buku Cracking Zoneuntuk menggambarkan kantor-kantor yang bergerak lambat atau setengah lambat seperti petugas di kantor- kantor kelurahan atau kecamatan. Toiletnya kumuh dan tempat parkirnya semrawut menandakan tak ada pemimpin yang peduli pada pelayanan. Seragam-seragam petugasnya lusuh, ikat pinggang satpam kedodoran pertanda kurang diberi makan. Resepsionis bekerja malas-malasan pertanda tak ada supervisi.

Jam 5 sore sebagian besar pegawai sudah gelisah ingin pulang, tak ada leadership. Politisi dibiarkan menekan dan banyak dapat bisnis, pertanda ambisi perorangan dan rasa takut. Budaya korporat “kucing” tentu tidak hanya ada di kantor- kantor kementerian secara umum, tetapi juga masih banyak ditemui di BUMN yang kata para profesional terkesan “malas”.

Kucing itu betah di rumah, biasa diberi makan, dan kalau tidak diberi makan, ia akan mengorek-ngorek dapurnya sendiri. Dia setia, tapi lamban sekali. Sejak para profesional bergabung di Kantor Kementerian BUMN,harus diakui larinya sedikit lebih kencang, tetapi belum cukup.Kantor ini memang belum didesain agar insaninsannya bisa lari kencang karena nafasnya adalah birokrasi dan kepegawaiannya PNS dengan struktur insentif yang tidak bisa membuatnya bergerak lebih dinamis.

Crackership

Menyadari “bangunan” rumahnya yang belum didesain untuk lari kencang, Menteri Dahlan Iskan memilih cara kedua, yaitu membenahi BUMN agar tidak “berbudaya kucing” lagi. Namun, saya kira ia butuh amunisi yang lebih besar,yaitu struktur kantor kementerian yang lebih korporatif.Menpan dan Setneg harus bisa membantu agar Kantor Kementerian BUMN tidak memiliki desain bangunan yang sama dengan Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kementerian Dalam Negeri.

Kementerian-kementerian yang lain adalah cost-center, sedangkan Kementerian BUMN adalah income–generator. Di Singapura saja,BUMN bahkan menyumbang 60% dari GDPnya. Jadi,kalau ingin BUMN sehat dan larinya kencang, kementeriannya harus dibuat lebih otonom dengan kultur korporatif,yaitu kultur cheetah yang siap bertarung, insentifnya harus bagus, gajinya harus “above market price”dengan insentif yang menarik.

Ada kebebasan untuk bergerak lebih leluasa, dan pegawai-pegawainya tak memerlukan evaluasi serta rekrutmen seperti metode yang dipakai di dunia PNS. Menteri Dahlan Iskan menyentak. Ia berlari sangat kencang. Di surat kabar kita melihat ia sedang menyetir mobil sendiri dan di sebelahnya duduk Wamen BUMN Mahmuddin Yasin. Saya dengar mereka berdua langsung bekerja sesaat setelah dilantik.

Di mobil pun berkoordinasi, sedangkan menteri-menteri yang lain masih berjarak dengan wamennya yang masih bingung harus berbuat apa. Para CEO BUMN yang saya temui mengaku menterinya lari kencang. Ini pertanda alignment mulai bekerja. Namun, tuntutannya jelas.BUMN harus fokus, jangan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk rapat dengan kantor kementerian, dan utamakan profesionalitas.

Hanya dalam hitungan hari, Kantor Kementerian BUMN sudah memutuskan tindakantindakan strategis. Berapa besar dana PSO untuk membantu BUMN yang perlu suntikan modal sudah keluar, dan kemarin ia memutuskan untuk menyerahkan aset-aset tidak produktif yang jumlahnya sangat besar di BUMN agar dikelola PT PPA. Aset-aset tidak produktif di BUMN memang banyak sekali sehingga return on assets-nya sangat rendah.

Common sense kita mengatakan, punya aset dan tanah yang luas kalau tak punya cash flow yang cukup, aset-aset itu justru menjadi beban. Bagi saya,Dahlan Iskan adalah sosok lain yang dirindukan bangsa ini. A doer is much more needed rather than just a lazy thinker.Seperti yang saya katakan pekan lalu, Indonesia bukanlah kereta api otomatis yang cukup dikemudikan masinis yang hanya bekerja dengan telunjuk jarinya.

Indonesia adalah sebuah kapal besar yang perlu digerakkan pemimpin efektif. Jadi bergeraklah para CEO BUMN, ubah budaya kucing menjadi cheetah, dan jadilah crackeryang gesit.Bergeraklah Kantor Kementerian PAN,beri lebih banyak ruang agar Kementerian BUMN bisa lebih hebat dari Khazanah (Malaysia) atau Temasek (Singapura). Selamat bekerja Menteri Dahlan Iskan, semoga Tuhan terus memberi kesehatan dan kebijaksanaan untuk reformasi birokrasi.

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/441094/1/

Wednesday, October 26, 2011

Fadel Muhammad

Tulisan Pak Rhenald Kasali di Harian Seputar Indonesia, 27 oktober 2011.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Secara pribadi saya tidak mengenalnya, bahkan bertemu saja baru satu kali. Itu pun di sebuah forum resmi, dalam diskusi tentang ekonomi kelautan yang diselenggarakan Radio Smart FM di Medan beberapa bulan lalu.


Namun, sejak Indonesia kehilangan Jusuf Kalla sebagai ”pendobrak” dan ”penggerak” ekonomi yang tidak pernah diam dalam ide, saya menemukan sosok ”bergerak” pada Fadel Muhammad. Selain tangannya dingin, kakinya ringan bergerak. Seperti yang sering saya katakan kepada para ekonom muda, ekonomi Indonesia ini bukannya kereta api otomatis yang cuma butuh jari untuk dijalankan.

Ekonomi kita adalah sebuah kapal besar yang tak akan bergerak kalau hanya dipikirkan. Ekonomi kita butuh a real entrepreneur yang piawai menggerakkan, melakukan breaktrough dan siap berperang melawan para mafioso. Jadi, pemimpin seperti inilah yang kita butuhkan, bukan harus dikurangi, tetapi perlu diperbanyak. Sayang kalau kita mengabaikannya.

Berperang Melawan Belenggu

Fadel mengagetkan kita saat dia maju berperang melawan ”beruang-beruang ekonomi” yang memaksa Indonesia melakukan impor komoditas tradisional yang banyak dikonsumsi rakyat. ”Beruangberuang” itu tidak hanya memasukkan barang, melainkan juga menyodorkan data-data yang sudah dipoles yang seakan- akan kita sudah kekurangan segala komoditas dari beras, daging sapi,sampai garam, dan bawang merah. Pokoknya semua kurang dan mengancam inflasi.

Lalu apalagi kalau bukan harus impor? Kita melihat Fadel maju ke depan membongkar kontainerkontainer berisi ikan kembung yang diselundupkan ke pasar Indonesia. Bukan cuma ikan kembung. Ternyata ikan lele dari Malaysia yang sangat mudah dikembangbiakkan di sini juga membanjiri pasar domestik melalui perbatasan Kalimantan, Pelabuhan Belawan, dan pelabuhan-pelabuhan penting lainnya.

Dari ikan kembung dia bergerak menyelamatkan industri garam rakyat yang bertahuntahun digempur para importir bangsa sendiri. Impor-impor seperti itu jelas sangat berbahaya bagi masa depan bangsa ini.Harga impornya boleh sangat murah, dipasarkan dengan dumping atau tidak, tetapi perlahan-lahan mematikan ekonomi rakyat yang tersebar di seluruh pesisir Nusantara.

Setelah pertanian terpuruk, kini petambak garam pun dibunuh bangsa sendiri. Fadel-lah yang menuntut agar harga dasar garam rakyat dinaikkan. ”Kalau petambak hanya menerima Rp325 per kilogram, bagaimana mereka bisa hidup?”gugatnya.Dia pun mengusulkan agar dinaikkan menjadi Rp900.Petambak garam tentu senang dan mereka bisa kembali bekerja.

Tetapi kabar itu tak berlangsung lama karena kita mendengar Kementerian Perdagangan hanya mau menaikkan sampai ke Rp700. Itu pun beredar kabar ada saja pejabat—yang berdalih atas nama pasar bebas—tak mau tanda tangan. Petambak bisa jadi senang kepada Fadel, tetapi importir dan pemberi lisensi impor belum tentu.

Kalau petambak garam dimanjakan Presiden, mereka bisa kembali menyekolahkan anak-anaknya dan makannya bisa lebih terasa enak.Mereka akan giat berproduksi dan impor garam akan hilang. Apakah benar inflasi akan terjadi hanya karena harga garam naik? Beberapa orang meragukannya, pasalnya harga dari petani yang rendah tidak menjamin harga kepada konsumen ikut rendah.

Bahkan impor murah sekalipun hanya menjadi alasan bagi importir untuk menguasai pasar.Harga akhir yang dibayar konsumen pun tetap saja tinggi. Lantas kalau harga dasar petambak dinaikkan, bagaimana nasib importir? Tentu mereka tidak tinggal diam. Menteri Perdagangan—atas nama perjanjian dagang yang dipayungi WTO—dan kita semua yang pernah belajar teori ekonomi, boleh saja percaya pada kompetisi dan pasar bebas.

Tetapi secara moralitas,tak ada bangsa yang secara tulus dan ikhlas membuka pasarnya secara bebas,murni 100%. Hanya bangsa yang bodohlah yang membiarkan pintunya dibuka lebar-lebar dan membiarkan ”beruang-beruang ekonomi” menari-nari memorak- porandakan pasar domestiknya.

Sementara pasar timbal-baliknya dibarikade dengan standar dan peraturanperaturan yang tidak bisa ditembus. Anda tentu masih ingat betapa sulitnya produkproduk kelautan kita menembus pasar Amerika dan Eropa. Ketika Indonesia membuka pasar perbankan begitu leluasa bagi bank-bank asing,misalnya, Bank Mandiri kesulitan membuka satu saja cabangnya di Kuala Lumpur.

Apalagi membuka cabang dan jaringan ATM. Di Eropa kita juga melihat betapa sengitnya bangsa-bangsa yang percaya pada pasar bebas membuka pasar industri keju lokalnya dari gempuran keju buatan Kraft yang diproduksi secara massal. Di Amerika Serikat masih dalam ingatan kita pula, barikade diberikan kepada China saat CNOOC (China National Offshore Oil Corporation) berencana membeli perusahaan minyak Amerika (UNOCAL).

Sejumlah anggota kongres menekan Presiden Bush (2005) agar pemerintah membatalkan proposal China tersebut. Keju,minyak,udang,kopi,kertas, minyak sawit, atau tekstil sekalipun selalu dihadang masuk kalau industri suatu bangsa terancam. Jadi apa yang terjadi dengan lisensi impor di negeri ini? Sebuah keluguan atau kesengajaan? Bisakah kita memisahkan perdagangan dari pertahanan dan keamanan kalau wujudnya sudah mengancam kehidupan? Siapa peduli?

Pro-Poor

Maka sangat mengejutkan saat pekan lalu kita membaca Fadel Muhammad tidak lagi menjalankan tugas negara sebagai menteri kelautan dan perikanan. Sebagai warga negara kita mungkin terlalu rewel untuk mempersoalkan pencopotannya sebab semua itu adalah hak Presiden. Tetapi bagi seorang yang menjalankan misi Presiden yang pro poor–pro growth dan pro job, saya kira pantas kalau nada sesal layak kita ungkapkan.

Dia justru diganti karena membela kepentingan rakyat, pro-poor. Ibaratnya dia tengah berada di garis depan melawan ”beruang-beruang ekonomi” yang hanya memikirkan keuntungan sesaat dengan ”membeli” lisensi impor yang mematikan hak hidup rakyat jelata. Saya sebut mereka ”beruang ekonomi”karena seperti yang dikatakan Fadel, sesendok garam itu asin,tapi sekapal garam adalah manis.

Hanya beruanglah yang mampu mengendus rasa manis itu. Tahukah ”beruang-beruang ekonomi”itu bahwa petambakpetambak garam dan nelayan adalah penjaga perbatasan yang melindungi negeri dari segala serangan. Apa jadinya negeri ini bila hidup mereka dilupakan?

Bukankah lebih baik menjaga pertahanan perbatasan dengan memberikan kapal-kapal yang bagus dan pekerjaan yang menarik kepada para nelayan daripada membeli kapal perang yang tak pernah cukup untuk menjaga bibir-bibir pantai yang begitu luas?

Maka yang mengejutkan publik sebenarnya adalah mengapa bukan ucapan terima kasih dan bintang yang disematkan pada Fadel; melainkan serangkaian ucapan defensif dari kelompok-kelompok tertentu?

Karena itu, melalui tulisan ini, saya justru ingin memberi motivasi yang tulus agar Fadel Muhammad tidak berhenti sampai di sini,melainkan terus berkarya bagi kaum papa, petani-petani garam, dan para nelayan yang ”kalah” bukan dari persaingan bebas, melainkan dari ”beruang-beruang ekonomi”yang menjual negeri melalui lisensi impor.

Seorang pemimpin sejati tidak memimpin hanya karena dipanggil tugas.Pemimpin sejati bertugas karena panggilan. Saya senang membaca berita bahwa Fadel telah kembali bekerja dengan Yayasan Garamnya. Selamat bergabung di sektor ketiga. Inilah sektor kemandirian yang bekerja murni untuk memberantas kemiskinan.

Inilah sektor non-APBN yang memanggil orang-orang yang mau berjuang tanpa pamrih. Asosiasi Kewirausahaan Sosial yang saya pimpin tentu senang menyambut Fadel.Saya percaya Fadel pasti bisa berbuat lebih besar karena dia punya kekuatan perubahan yang justru tak dimiliki politisi lain. Simpati besar dari rakyat untuk Fadel layak kita sematkan.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/439235/38/

Wednesday, March 9, 2011

Memulai Gerakan “BELI INDONESIA”

Artikel ini atau lebih tepatnya catatan orasi ini saya copy dari situs iibf-indonesia. Isinya menarik, analisa yang tajam dari Pak Heppy Trenggono - ketua IIBF tentang penguasa pasar di Indonesia dan pentingnya membeli produk-produk negeri kita sendiri. Selamat menikmati :)

----------------------------------------------------------------------------------------------


Dulu tanah air kita dijajah oleh negara asing, dan hari ini kehidupan kita dikuasasi oleh produk orang asing. Hampir semua barang kebutuhan hidup kita dibuat oleh orang asing. 92% produk teknologi yang kita pakai buatan asing, 80% pasar farmasi dikuasai asing, 80% pasar tekstil dikuasai produk asing. Dengan penduduk 237 juta jiwa Indonesia merupakan pasar besar yang sangat menggiurkan. Tetapi juga sangat menakutkan bila negara ini bangkit menjadi negara produsen. Presiden IIBF, H.Heppy Trenggono menyampaikan dalam orasinya di depan 513 pengusaha dari 42 kota di Indonesia. Orasi itu adalah bagian dari peluncuran gerakan “BELI INDONESIA” yang digagas oleh sejumlah pengusaha yang ada di IIBF.

Indonesia hari ini tercatat sebagai negara yang paling konsumtif nomor 2 di dunia (AC Nieilsen). Itulah salah factor pendukung Indonesia menjadi surga bagi produk asing yang ditandai membanjirnya produk luar dengan menggeser produk lokal dan membunuh pabrik-pabrik yang membuatnya. “Tahun 2005 ada 429 pabrik tekstil kolaps, tiga tahun kemudian 200 diantaranya gulung tikar. Di tahun 2010, Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan China sebesar Rp.53 Triliyun”, kata Heppy

Lihat berapa pendapatan perusahaan-perusahaan asing di Indonesia. “Sebuah perusahaan yang menguasasi pasar air dalam kemasan meraup penjualan sebesar Rp. 10 triliyun/ tahun. Sebuah produsen minuman ringan yang menguasai 40 pasar minuman ringan dalam negeri dengan penjualan 10 trilyun/ tahun. Produsen yang consumer good berupa pasta gigi, shampoo, sabun dan-lain-lain menguasai 40 % pasar meraup penjualan Rp. 20 Triliyun/ tahun,” kata Heppy berapi-api. Heppy menambahkan, ada satu Produsen susu formula yang mengendalikan 80 persen petani susu di Indonesia, mengusai 50 %pasar susu dengan berbagai merek meraih penjualan sebesar Rp. 200 Triliyun/ tahun. (Bandingkan dengan anggaran satu tahun untuk Angkatan bersenjata kita yang hanya Rp. 30 Triliyun/tahun 2008). Sementara produk-produk baru bermerk lokal sangat sulit untuk masuk supermarket dengan cara membuat listing fee dan pemotongan harga yang sangat tinggi.

Akibatnya, hari ini tercatat omset toko-toko kecil turun dari Rp. 800 ribu / hari menjadi Rp.400 ribu/ hari. Setiap tahun 1,6 juta pedagang tradisional bangkrut. Dan semakin hari semakin kecil kesempatan masyarakat untuk menjadi pedagang/ pengusaha karena semua sektor hulu dan hilir sudah dikuasai oleh pemain asing. Ini artinya Indonesia akan menghadapi bencana ekonomi yang lebih dahsyat dari bencana alam yang selama terus mendera negara ini. Sebelum ada AFCTA (Asean China Free Trade Area) industri tekstil dalam negeri sudah banyak yang kolaps hanya dengan barang-barang seludupan dari luar. Dan hari ini pemerintah telah membebaskan lebih dari 54.000 pos yang masuk ke Indonesia tanpa bea. Ibarat perang, Indonesia menghadapi musuh yang bersenjata lengkap tetapi kita bertelanjang dada.

Mengapa produk asing sangat bebas menguasai kehidupan kita sementara produk dan pemain lokal tidak tumbuh bahkan terus mati? Karena kita tidak memiliki sesuatu yang jelas untuk kita bela. Seharusnya kita membela Kejayaan Bangsa sendiri daripada membela kejayaan bangsa lain. Tidak jelasnya pembelaan ini juga yang membuat kita memutuskan untuk menghentikan produksi pesawat IPTN. “Apa yang kita bangun kita hancurkan dengan tangan sendiri. Kita sebut bahwa negara kita ini tidak cocok untuk industry high-tech seperti pesawat karena kita negara agraris. Hari ini, agraris juga tidak dibangun sementara high-tech kita matikan,” jelas Heppy. Seharusnya saat ini kita sudah menjadi negara pembuat pesawat hebat, namun kenyataannya kita sangat bangga disebut sebagai pembeli pesawat.

Maka sekarang, lanjut Heppy, kita harus membangun dan membela negeri sendiri. Caranya dimulai dengan membeli produk buatan sendiri. Inilah pertahanan terakhir menghadapi gempuran produk asing untuk menghindari terjadinya bencana ekonomi Indonesia ke depan. Membeli produk sendiri berarti kita membela bangsa dan saudara sendiri. Jika produknya dibeli maka akan bertumbuh industri-industri. “Jika industri tumbuh maka tidak perlu lagi anak-anak negeri ini pergi ke luar negeri menjadi TKI karena mereka mudah mendapatkan penghidupan di negeri sendiri,” kata Heppy.

Di bagian akhir orasinya Heppy mengajak semua pihak untuk ikut mengkampanyekan gerakan ini. Sebagian dari peserta yang hadir dalam acara ini adalah para pengurus dan pembina dari komunitas bisnis seperti TDA yang hadir dengan beberapa pengurus dan ketua Dewan Pembinanya, H. Alay. Hadir juga Presiden MIFTA, Deddy Rahman, Walikota Pekalongan M.Basyir Ahmad yang datang bersama istrinya, dan lain-lain. Untuk gerakan Beli Indonesia ini, kata Heppy, IIBF telah menetapkan tiga sikap perjuangan, Pertama, Membeli Indonesia. Membeli produk bukan karena lebih baik, bukan karena lebih murah tapi karena buatan Indonesia. Kedua, Membela Indonesia. Sikap jelas dalam pembelaan. Membela martabat bangsa, membela kejayaan bangsa. Ketiga, Menghidupkan Persaudaraan. Aku ada untuk kamu, kamu ada untuk aku, kita ada untuk tolong menolong

Usai orasi itu, acara dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen Beli Indonesia oleh semua peserta yang hadir pada sebuah spanduk yang berlogo dan bertuliskan “BELI INDONESIA”. Doa penutup dipimpin oleh Ustadz Helmy Jatnika. Usai peluncuran ini sejumlah perwakilan pengusaha dari seluruh Indonesia mengadakan rapat pembentukan panitia Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia (Kongres KEI) yang digelar di Solo, Jawa Tengah pada pertengahan Juni 2011.

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber:
http://www.iibf-indonesia.com/index.php?option=com_content&view=article&id=267:hot-news-9&catid=47:hot-news&Itemid=79