Showing posts with label Renungan Gede Prama. Show all posts
Showing posts with label Renungan Gede Prama. Show all posts

Thursday, May 24, 2012

Liburan Sesungguhnya

Menyusul ketidakpastian cuaca serta maraknya kekerasan di mana-mana, banyak yang bertanya apa benar ilmu pengetahuan telah membuat manusia semakin beradab? Apa benar spiritualitas sudah membuat manusia semakin lembut?

Bertanya tentu saja baik. Namun bila boleh jujur, kekerasan dan ketidakpastian hadir di setiap putaran waktu. Termasuk di zaman ketika para nabi lahir. Sehingga menuduh berlebihan bahwa kekerasan dan ketidakpastian hanya hadir di zaman ini saja, sungguh sebuah masukan untuk mendalami sejarah lebih dalam lagi. Bedanya dengan orang kebanyakan, para bijaksana mengolah kekerasan dan ketidakpastian sebagai bahan-bahan pertumbuhan. Seperti peramu tetumbuhan yang mengolah akar beracun menjadi obat.

Menyangkut sesuatu yang hadir di setiap zaman, serta manusia tidak bisa menghindarinya, tidak ada pilihan lain kecuali  mendidik  diri  untuk cerdas mengolah putaran zaman. Ini juga dilakukan oleh pemimpin-pemimpin agung. Mahatma Gandhi tidak lari dari ancaman senjata tentara Inggris. Nelson Mandela tidak bergeming ketika dipenjara selama dua puluh tujuh tahun. Bunda Teresa berjalan terus ketika dituduh keras kepala. Dan ada yang sama dari pemimpin-pemimpin agung ini, yakni kecermatannya untuk mengolah racun zaman menjadi tauladan zaman.

Disamping itu, sepanas dan sekeras apa pun kehidupan, mereka semua selalu kembali pada payung kelembutan. Tidak saja karena itu diajarkan semua agama dan semua nabi, melainkan karena kelembutanlah sifat alami semua mahluk di alam ini. Perhatikan binatang paling ganas sekalipun seperti harimau dan serigala. Tanpa takut akan neraka dan serakah akan surga, mereka juga menyayangi anak-anaknya. Dan menemukan kebahagiaan dalam kegiatan menyayangi.

Itu sebabnya, mahluk disebut tercerahkan bila ia sudah termurnikan dan tersempurnakan. Maksudnya, sudah kembali ke sifat alaminya yang penuh kasih sayang. Dalam bahasa lain, sudah balik pulang ke payung kelembutan. Kemudian tidak saja sejuk memayungi diri, juga lembut memayungi orang lain. Ini yang menyebabkan kenapa sebagian orang kaya Indonesia berobatnya ke Singapura, sebagian orang berduit menyekolahkan putera-puterinya ke Australia, sebagian orang berpunya merasa lebih aman menyimpan uangnya di Swiss. Tidak ada hal lain yang dicari kecuali mau berteduh sejuk dan aman di bawah payung kelembutan.

Manajemen rumah sakit sebagai contoh, sudah lewat zamannya di mana dokter hanya memandang pasien dengan tatapan mata pas-pasan. Sekolah sebagai contoh lain, akan pasti ditinggalkan bila guru dan dosennya hanya meminta murid   jadi   tukang   foto   kopi.   Bank  lebih-lebih lagi. Tanpa payung kelembutan, di luar negeri ada berlimpah bank yang menyediakan payung pelayanan penuh kelembutan.

Bercermin dari rangkaian bukti seperti ini, kendati sudah terlambat, tidak ada salahnya untuk segera mendidik diri dan organisasi untuk senantiasa pulang berteduh ke sifat alami semua mahluk yang bernama payung kelembutan. Seorang guru yang sudah lama pulang, aman, nyaman dalam lindungan payung kelembutan pernah menulis: “Whenever there is a moment of being content, whenever there is a moment of feeling this is all right, that is a moment of happiness“. Apa pun boleh terjadi dalam kehidupan, namun bila manusia senantiasa melatih diri merasa berkecukupan, dan mengatakan semuanya baik-baik saja, itulah saat-saat yang membahagiakan.

Tidak semua orang kaya bahagia, kerap orang kaya  lebih sulit menemukan payung kelembutan, karena kekayaan membuat seseorang sulit merasa berkecukupan. Yang lebih celaka bila orang miskin  serakah. Kehidupan kemudian berputar dari satu kejahatan ke kejahatan lain. Makanya ada yang berbisik, kebutuhan sesungguhnya sedikit. Namun keinginan tidak ada ujungnya. Seorang sahabat yang telah lama menyatu dengan payung kelembutan berpesan: whenever we feel deeply at ease with ourselves, that is the true holiday. Tatkala seseorang berpelukan rapi dengan kelebihan sekaligus kekurangannya, itulah liburan sesungguhnya.

Bahan renungan:

1. Kelembutan adalah sifat alami semua mahluk. Bahkan singa dan harimau menyusui keturunannya dengan kelembutan dan menemukan kebahagiaan di sana.

2. Ia yang keras mendidik diri  sendiri agar lembut ke orang lain, bahkan keras mendidik diri agar lembut ke orang yang menyakiti sekali pun, sesungguhnya sudah pulang.

3. Di rumah seperti inilah, manusia bisa menemukan liburan yang sesungguhnya.
source : dunia-motivasi.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Thursday, March 15, 2012

Menyejukan Kemarahan

Terinspirasi dari Anthony de Mello, suatu waktu ada gadis desa yang hamil tanpa suami. Tentu saja orang tuanya mengamuk, kemudian memaksa agar puterinya menunjuk lelaki yang menghamilinya. Di tengah kekalutan, remaja belasan tahun ini kemudian menunjuk orang tua bijaksana  di pinggir hutan. Dan marahlah warga desa, kemudian ramai-ramai menyerahkan gadis hamil ini. Di tengah amukan dan cacian warga, orang tua bijaksana ini menerima gadis hamil tadi dengan  berucap tenang: “baiklah!”.

Bertahun-tahun gadis hamil ini dirawat baik. Tanpa keluhan, tanpa keributan, tanpa kemarahan. Merasa dirinya diperlakukan sangat baik, ibu muda ini dihinggapi rasa bersalah mendalam kepada orang tua bijaksana tadi. Kemudian mengaku ke orang desa bahwa bukan orang tua bijaksana  itu  yang  menghamilinya, melainkan sejumlah lelaki tidak bertanggungjawab. Maka kembalilah warga desa ke pinggir hutan sambil minta maaf. Lagi-lagi orang tua bijaksana ini berucap pelan: “baiklah”.

Di mata kepintaran, orang tua bijaksana ini  masuk kotak kebodohan, tapi di mata mahluk tercerahkan orang tua ini sudah mengalami kesempurnaan kesabaran sebagai ciri mahluk tercerahkan.

Bila boleh jujur, keseharian manusia  di mana-mana penuh kemarahan. Di Amerikat Serikat daftar kemarahan pada Barrack Obama semakin panjang. Di negeri ini, kemacetan jalan, politisi yang miskin empati, sampai korupsi yang menyentuh hati menjadi api pembakar kemarahan. Lebih-lebih ketika bencana, kemarahan pengungsi, kemarahan media, kemarahan pengamat semuanya tumpah pada tuduhan pemerintah yang lamban. Ujungnya mudah ditebak, api yang mau dipadamkan dengan api berakhir dengan keseharian yang semakin terbakar.

Merawat Kemarahan

Sejujurnya tidak ada manusia yang berniat marah. Kendati demikian, tetap saja kita digoda kemarahan. Bila digali lebih dalam, sesungguhnya manusia mewarisi bibit-bibit kemarahan dari orang tua, sekolah, lingkungan. Bibit-bibit ini kemudian disirami dengan menonton televisi yang berisi perkelahian, radio yang memberitakan kebencian, media cetak yang laris justru dengan berita kriminalitas, pemimpin yang miskin keteladanan. Sehingga tanpa perbaikan serius, manusia akan terus dibakar kemarahan.

Berbeda dengan logika sebagian ilmu kedokteran Barat yang membuang organ tubuh bermasalah,  meditasi mengajarkan untuk merawat kemarahan. Tatkala sakit kepala tidak mungkin seseorang membuang kepalanya. Melainkan  merawat kepalanya, kemudian baru kesembuhan mungkin terjadi. Hal serupa  terjadi dengan kemarahan, membuang kemarahan serupa membuang malam dan hanya mau siang.

Merawat bibit kemarahan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Memandang kemarahan secara mendalam adalah sebuah pendekatan. Sejujurnya kemarahan terjadi bukan karena godaan orang, melainkan lebih banyak terjadi karena kita sudah memiliki bibitnya di dalam. Godaan yang datang dari luar serupa angin yang meniup jerami yang sudah terbakar. Dengan demikian, memarahi mereka yang menimbulkan  kemarahan serupa dengan mengejar orang yang melempar rumah kita yang berisi bensin dengan api. Begitu balik, rumahnya sudah terbakar habis.

Karena itulah, lebih disarankan untuk merawat bibit kemarahan yang ada di dalam. Tolehlah ke dalam ketika kemarahan datang, belajar tersenyum karena senyuman menandakan Anda jadi tuan bukan korban kehidupan. Setelah tersenyum, tarik nafas pelan-pelan, rasakan segarnya hidung ketika udara masuk. Bila boleh jujur, ada rahasia kesegaran, ketenangan, kebeningan di balik ketekunan memperhatikan nafas. Disamping itu, nafas membantu manusia terhubung dengan saat ini. Karena sebagaimana kita tahu, masa lalu sudah lewat, masa depan belum datang, satu-satunya uang tunai kehidupan yang bisa dinikmati dan disyukuri adalah saat ini. Makanya, dalam bahasa Inggris masa kini disebut the present (hadiah). Indah, sejuk, lembut, penuh persahabatan dan kasih sayang, itulah hadiah buat mereka yang rajin terhubung dengan kekinian melalui memperhatikan nafas.

Di samping memperhatikan nafas, bibit kemarahan juga bisa dirawat dengan meditasi jalan. Terutama dengan melihat hakekat semua fenomena (termasuk kemarahan) yang muncul lenyap sebagaimana langkah kaki. Membadankan dalam-dalam bahwa semuanya muncul lenyap bisa menjadi awal terbukanya pintu kebebasan.

Sebagai tambahan, mengerti dengan penuh belas kasih bahwa orang yang menyakiti sesungguhnya sedang menderita, adalah pendekatan lain. Ia yang bisa melihat penderitaan orang yang menyakiti, mengalami transformasi di dalam. Dari mau menghukum menjadi mau menolong.

Keindahan Bumi

Banyak orang memimpikan tanah suci. Semacam tanah yang penuh kebahagiaan sekaligus tanpa penderitaan. Namun bagi ia yang memandang secara mendalam, membuka pintu belas kasih, tanah suci bukan saja tempat yang bisa ditemukan setelah kematian. Di bumi ini manusia bisa menemukan tanah suci. Meminjam Thich Nhat Hanh, bukan berjalan di atas air menjadi keajaiban, berjalan di atas bumi menjadi keajaiban. Terutama dengan merasakan setiap langkah berisi belaian belas kasih Ibu pertiwi.

Ini mungkin terjadi, bila pertama-tama tentu belajar menyejukkan kemarahan karena kemarahan  membuat bumi penuh api. Setelah kemarahan tersejukkan terlihat terang, kita semua sama yakni mau bahagia dan tidak mau menderita. Lebih mudah membuat bumi ini sejuk dengan melihat kesamaan-kesamaan dibandingkan bertempur tentang perbedaan.

Makanya, ketika seorang ayah ditanya putranya apakah tanah suci berisi penderitaan, dengan lembut ayahnya menjawab: “Tanah suci berisi penderitaan. Bedanya, di tempat ini penderitaan sudah diolah menjadi pupuk organik yang sudah diletakkan di bawah pohon bunga”. Inilah puncak kegiatan menyejukkan kemarahan, semua hal yang dibenci diolah menjadi pupuk organik pengertian. Kesedihan adalah sampah, namun bila bisa mengolahnya akan menjadi bunga pencerahan kemudian. Kebahagiaan adalah bunga, tapi jika tidak mampu merawatnya bisa menjadi sampah kesedihan kemudian.
source : dunia-motivasi.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Membuka Pintu Kehidupan

Memasuki kantor cabang bank akhir-akhir ini, nyaris semua petugas keamanan membukakan pintu lengkap dengan senyumannya. Petugas keamanan bank seperti memberi inspirasi bagaimana membuka pintu kehidupan. Dulu, suasana seperti itu hanya ada di hotel berbintang lima.

Bila boleh bersyukur, inilah tanda-tanda kemajuan peradaban. Dunia korporasi tidak saja sedang mengeruk kekayaan materi masyarakat, namun juga menjadi kekuatan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik.

Ini menggembirakan, karena berbeda dengan puluhan tahun lalu di mana dana penelitian dan pengembangan (sebagai barometer ke mana masa depan akan dibawa) terkonsentrasi di pemerintahan, belakangan bergeser ke dunia korporasi.

Bila penentu masa depan juga memikirkan peradaban, tidak saja  kekayaan  materi,  sungguh sebuah kecenderungan yang membahagiakan. Setidak-tidaknya kita akan mewariskan kehidupan yang lebih beradab ke generasi berikutnya.

Akan lebih membahagiakan lagi bila dunia perbankan juga memikirkan, tidak saja mengambil keuntungan, melainkan juga memfasilitasi karyawannya menjadi motor perubahan menuju masyarakat yang jujur, berintegritas dan penuh pelayanan. Di mana-mana di dunia ini sekarang, amat berat bila meletakkan harapan perubahan hanya pada pemerintah. Tidak saja birokrasi menjadi pihak yang paling sulit untuk dirubah, namun semakin sedikit tenaga potensial yang tertarik berkarir di birokrasi. Dalam bahasa Franz Kafka, semua revolusi berhenti di birokrasi yang mandek tidak berubah.

Dalam perspektif ini, dunia perbankan dan korporasi memberi harapan akan perubahan kualitas peradaban. Cuman, tidak semua kecenderungan menggembirakan. Sebelum meletus bom teroris di Bali, suasana hotel di Bali terasa sangat beradab. Sanur, Kuta, Nusa Dua, Ubud suasana hotelnya mirip sekali dengan peradaban di Australia, Jepang dan Eropa. Rapi, teratur, tenang, saling menghormati, penuh senyuman. Namun sekarang, ketika tamu sarapan pagi terlihat jelas, di atas makanan yang disediakan ada peringatan: “Not to be taken away“. Makanan dan minuman hanya dimakan di sini, tidak untuk dibungkus dibawa pergi. Lebih dari itu, suasananya sudah mendekati pasar tradisional yang riuh dan gemuruh.

Tentu saja ini tidak melulu menjadi salah manajemen hotel. Namun, sebagaimana setiap kesalahan, ia bersifat interaktif. Setelah cerita bom Bali, porsi tamu ke Bali memang banyak yang datang dari domestik dan tamu Asia. Namun dari segi pengelola hotel juga serupa, mentang-mentang tamunya tidak berambut coklat, kualitas penanganannya tidak seberadab dulu.

Ini terbalik dengan apa yang sedang terjadi di dunia perbankan. Sehingga bila dulu perbankan belajar pelayanan ke perhotelan, mungkin sekarang saatnya perhotelan belajar pelayanan dari perbankan. Sebagaimana dituturkan rapi sejarah, dulu uang  hanya lari ke pihak-pihak yang memegang kekuasaan atau kroni dekatnya. Sekarang, uang mulai banyak berputar di sekitar manusia yang mengutamakan pelayanan, kejujuran, rasa hormat pada orang lain. Jebolnya institusi keuangan di Barat mempercepat proses ini. Di Indonesia, ada perusahaan sawit yang kontrak penjualannya dibatalkan sejumlah perusahaan asing karena ditekan organisasi lingkungan Green Peace.

Ini menghadirkan daya tekan keras untuk merubah peradaban dimulai dari dunia korporasi. Dalam bahasa novelis  Thomas Hardy: “Hidup adalah kesempatan untuk belajar, melayani dan mencintai”. Awalnya, mencintai dan melayani seperti mengorbankan sesuatu buat orang lain. Ada ketidakrelaan di sana karena berkorban. Namun, ketika mencintai dan melayani dilakukan terus menerus penuh ketulusan, perasaan berkorbannya menghilang, yang muncul hanyalah senyuman yang membahagiakan.

Tidak saja bibir kita yang tersenyum, seluruh isi semesta terlihat tersenyum. Rumput hijau, bunga mekar, langit biru, samudera luas, bahkan isteri cerewet pun terlihat mewakili senyuman semesta. Bukankah istri cerewet hanyalah bel kesadaran untuk senantiasa sabar dan rendah hati?

Inilah kehidupan yang pintunya sudah terbuka. Di titik ini, tidak lagi diperlukan keluhan apa lagi perkelahian. Semuanya hanya putaran waktu yang melukis keindahan. Sesederhana air di sungai, ia tidak saja sedang pulang ke rumah samudera, namun di perjalanan juga melukis keindahan.

"http://gedeprama.blogdetik.com/2012/02/06/membuka-pintu-kehidupan/"
source : dunia-motivasi.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com