Showing posts with label PERISTIWA. Show all posts
Showing posts with label PERISTIWA. Show all posts

Monday, July 9, 2012

FENOMENA HARI TANPA BAYANGAN MATAHARI

Fenomena Hari Tanpa Bayangan Matahari

Lifeschool Ilustrasi bayangan Matahari

JAKARTA, KOMPAS.com — Hari tanpa bayangan Matahari akan terjadi di beberapa daerah di wilayah Jawa. Solo akan mengalaminya pada Kamis (1/3/2012), Semarang pada Jumat (2/3/3012), dan Jepara pada Sabtu (3/3/3012). Sementara, Yogyakarta telah mengalaminya pada Rabu (29/2/2012). Bagaimana sebenarnya hari tanpa bayangan Matahari?
Secara sederhana, fenomena tersebut dapat dijelaskan dengan eksperimen jam Matahari. Caranya dengan menegakkan tongkat di sebuah bidang datar atau tanah lapang yang disinari Matahari dan kemudian mengamati bayangannya.
Pada pengamatan di hari biasa, kala pagi hari, bayangan akan jatuh di sebelah barat, sementara pada sore hari akan jatuh di timur. Saat tengah hari, Matahari tepat berada di atas kepala sehingga bayangan sangat pendek.
"Kalau kita mengamati di hari tanpa bayangan Matahari, kira-kira saat dzuhur bayangan akan jatuh tepat di atas tongkat sehingga kita tidak melihat bayangannya, " kata Mutoha Arkanuddin dari Jogja Astro Club saat dihubungi, Rabu (29/2/2012).
Meski disebut hari tanpa bayangan Matahari, namun bayangan Matahari hanya "menghilang" saat tengah hari saja. Kala pagi dan sore hari, bayangan tetap bisa dilihat dengan melakukan eksperimen sederhana yang sama.
Lalu, apa sebab terjadinya hari tanpa bayangan Matahari?
Matahari mengalami gerak semu harian dan tahunan. Pada gerak semu harian, manusia di Bumi akan melihat Matahari seolah-olah terbit dari timur, berada tepat di atas kepala pada tengah hari dan akhirnya tenggelam di barat.
Pada gerak semu tahunan, manusia yang berada di lintang nol akan melihat Matahari bergeser ke utara antara 21 Maret - 23 September dan bergeser ke selatan antara 23 September-21 Maret. Tepat tanggal 21 Maret dan 23 September, Matahari ada di khatulistiwa.
Gerak semu Matahari tersebut membuat Matahari seperti singgah di tempat-tempat antara 23,5 derajat Lintang Utara hingga 23,5 derajat Lintang Selatan. Singgahnya Matahari di sebuah tempat ini yang menyebabkan fenomena hari tanpa bayangan Matahari.
Secara ilmiah, hari tanpa bayangan Matahari disebut sebagai Transit Utama, yakni saat Matahari berada di titik zenith sebuah tempat. Jadi, jika hari di Solo terjadi hari tanpa bayangan Matahari, maka Matahari tengah singgah tepat di titik atas warga Solo.
Transit Utama bukan peristiwa langka sebab terjadi secara periodik, Mutoha mengatakan, di Yogyakarta misalnya, hari tanpa bayangan Matahari terjadi pada bulan Februari.
Sayangnya, Matahari tak bisa bergeser ke barat atau ke timur. Jadi, kota-kota di Indonesia lain seperti Aceh, Jakarta, dan Jayapura tak bisa menikmati transit Utama. Kota di khatulistiwa yang dapat menyaksikannya adalah Pontianak, setiap tanggal 21 Maret.
Eksperimen Eratosthenes
Apa keistimewaan Transit Utama?
"Transit utama 2.200 tahun lalu dimanfaatkan oleh Eratosthenes untuk mengukur keliling Bumi," kata Mutoha.
Eratosthenes membandingkan fenomena yang terjadi di kota Shina (Aswan) dan Alexandria. Ia mengamati bahwa setiap tanggal 22 Juni, sebuah sumur di kota Shina mendapatkan penyinaran menyeluruh, yang artinya Matahari tegak lurus. Sementara itu, tugu di kota Alexandria memperlihatkan bayangan pada tanggal yang sama.
Dari pengamatannya, Eratosthenes percaya bahwa Bumi berbentuk bulat dan bahwa Shina dan Alexandria terletak di Meridien yang sama. Eratosthenes kemudian menemukan sebuah persamaan, bahwa keliling Bumi dibagi jarak dua kota yang terletak pada meridien yang sama, sama dengan 360 derajat dibagi sudut antara dua kota tersebut.
Untuk mengukur keliling Bumi, Eratosthenes menghitung jarak Shina - Alexandria adalah 5000 Stadia (800 km). Pengukuran diperoleh dengan mengalikan waktu tempuh perjalanan yang selama 50 hari dengan kereta berkecepatan 100 stadia. Stadia adalah arena olahraga yang dipakai masyarakat Yunani, berukuran keliling 185 meter.
Eratosthenes berteori bahwa cahaya Matahari yang mencapai Bumi berjalan pararel. Dari hal tersebut, ia mengungkapkan bahwa sudut antara Alexandria dan Shina adalah 1/5 sudut keliling Bumi atau 7,12 derajat. Dengan perhitungannya, Eratosthenes mendapatkan hasil bahwa keliling Bumi adalah 250.000 stadia atau 46.300 kilometer.
Perhitungan Eratosthenes cukup akurat, hanya 15 persen meleset dari perhitungan saat ini. Jarak Shina-Alexandria 729 km, bukan 800 km. Alexandria dan Shina juga tidak terletak pada meridien yang sama, tetapi berbeda 3 derajat. Walau demikian, hasil studi Eratosthenes sangat pantas diapresiasi.
"Biasanya, hari tanpa bayangan Matahari menjadi kesempatan bagi kita untuk mengulang eksperimen yang sama dengan Eratosthenes. Kala 2.200 tahun lalu dia bisa, masak kita tidak bisa," ujar Mutoha.

http://sains.kompas.com/read/2012/03/01/10054751/Fenomena.Hari.Tanpa.Bayangan.Matahari

Tuesday, July 3, 2012

NAGA RAKSASA DI LANGIT BENGKULU

Naga Raksasa Di Langit Bengkulu

 Naga Raksasa Di Langit Bengkulu
Sebuah Pertanda Yang Misterius
Naga 1
Gambar 1 (Kepala Naga)


Gambar 2 (Badan dan Kepala Naga)
Gambar 2 (Badan dan Kepala Naga) dalam proses perwujudan
Gambar 3 (ekor naga)
Gambar 3 (ekor naga)
  

Bengkulu, 15 April 2007

Hari kedua saat kami singgah di rumah seorang kawan seperjuangan sewaktu mahasiswa dulu, di Kota Bengkulu yang saat itu terasa panas dan pengap. Tetapi kami merasakan ada something it’s wrong, panas yang betul-betul aneh dan sangat ganjil. Seperti hawa panasnya bumi jika akan terjadi gempa. Radiasi panas yang menyembur dari dalam bumi dibarengi getaran energi bumi yang terasa menekan di dalam dada. Waktu itu kami merasakan semua tanda-tanda. Gejala alam yang hampir sama sebulan menjelang gempa dahsat di Yogyakarta dan sekitarnya. Duh Gusti, jika Engkau izinkan pasti kami  dapat menangkap bahasaMu. Apa gerangan petunjukMu dan tanda-tanda yang dapat kami baca sebagai bahasaMu, melalui bahasa alam…Gusti ingkang Maha Agung. Waktu menunjukkan pukul 10.00 wib hari menjelang siang.

Hanya berselang kurang dari satu jam kami berdoa dalam hati. Perasaanku seolah berkata, keluarlah menuju belakang rumah, pandangilah langit. Perhatikan apa yang akan terjadi. Ku ikuti kata nurani. Benar saja, kami menyaksikan obyek yang letaknya tidak jauh dari tempat kami memandang langit, tampak awan putih tipis yang bergerak cepat. Hanya dalam waktu 5 menit saja terbentuklah konfigurasi awan yang membentuk mirip ular naga raksasa. Putih mulus, tetapi tampak bergerak seperti gelombang punggung ular yang sedang berjalan.

Hanya dalam waktu 5 menit pula, kemudian awan putih itu berubah wujud semakin nyata bahkan keluar sinar berkilau dibagian kepala, mungkin itu isyarat mata. Badan ular berkelok dan berlekuk (seperti luk keris) jumlahnya hingga tujuh lekukan. Memanjang kebelakang kira-kira sepanjang 1 kilometer, dan di ujung ekornya menyala lagi seperti lidah api. Sayang sekali, sepanjang badannya tidak begitu jelas karena sudut pandangnya terpotong-potong pepohonan durian di pinggir hutan. Fenomena itu tampak terkesan begitu rendah kira-kira tingginya kurang dari 200 meter DPL, seolah-olah dapat kami gapai dengan lambaian tangan saja. Saking rendahnya, hingga membuat fokus pandangan kami tidak bisa lepas, terhalang oleh banyak pohon besar.

Serta-merta kawan saya Mas Bimo Nugroho, berlari masuk ke dalam mengambil kamera. Hanya dalam beberapa menit saja, ekor yang tadinya menjulang vertikal ke angkasa, berubah menjadi horisontal (seperti dalam gambar 3). Sewaktu diambil gambar, penampilan fenomena itu sudah tidak seindah sebelumnya. Anehnya tidak semua orang dapat melihat, padahal gambaran itu sungguh besar bagai raksasa naga dan wujudnya jelas sekali. Kami bersukur karena kamera kami masih bisa  menangkap fenomena tersebut sekalipun tidak optimal.


Sasmita Gaib
Menjelang fenomena itu surut perlahan, kami baru ingat kiranya perlu untuk mencari tahu apa gerangan arti semua bahasa alam ini. Kami masuk kamar, konsentrasi mohon petunjuk Tuhan (nayuh) kira-kira kejadian itu pertanda apa. Seketika itu kami rasakan energi sangat besar menerpa kami, besar sekali seperti energi bumi pada saat 1 jam sebelum gempa bumi Yogya terjadi. Kami hampir lari keluar kamar karena masih trauma dengan gempa Jogja 27 Mei tahun 2006 lalu. Karena energinya mencirikan kekuatan bumi seperti gejala 1 jam menjelang gempa Jogja dulu. Belum sempat beranjak dari duduk bersila, keburu telinga kami mendengar suara, dalam bahasa Jawa kuno campur Indonesia. Singkatnya, gambaran itu merupakan proyeksi dari kekuatan metafisika sebuah pusaka sejenis keris yang bernama…..(telinga kami kurang jelas menangkap). Sebagai pertanda atau peringatan agar supaya orang-orang lebih hati-hati, eling dan waspada. Jika berdoa yang dimohon kepada Gusti Yang Mahawisesa hanya satu ”nyuwun slamet” (mohon keselamatan), “kata suara itu. Karena di mana-mana masih akan terjadi gempa lebih besar, terutama di wilayah ini dan sekitarnya, hingga akhir 2009. Wabah aneh dan segala bentuk musibah masih akan terus terjadi, sebagai wujud bebendu (hukuman) Tuhan, karena manusia sudah membuat kerusakan alam, tidak menghargai lagi para leluhur dan perintis bangsa ini, dan tidak pandai bersukur. Lalu disambung masih dengan “suara tanpa rupa” dalam bahasa Jawa,“…Wolak-waliking jaman, sing ngelmune mung sak dumuk lan cubluk,  gawene umuk bebener keminter, lan seneng miala, aniaya lan ngluputake liyan. Manungsa lagake wus keminter, najan mangkono ora ngerti apa kang ana sajroning samudra ?  Artinya; “Zaman serba terbalik, orang yang ilmunya hanya sebatas kulit dan sangat bodoh, (cirinya) gemar pamer kebenaran dan merasa paling pandai, suka menyakiti, menganiaya, dan menyalahkan orang lain. Manusia sudah berlagak pandai, sementara apa yang ada di dalam laut saja tidak diketahuinya”..??

Setelah kejadian itu lalu kami keluar kamar, seolah tidak terjadi apa-apa. Kami takut juga untuk menceritakan kepada teman-teman di Bengkulu, karena saya bisa dianggap penyebar fitnah, provokator, atau penghasut yang membuat resah masyarakat. Kami hanya berdoa, ya Tuhan, kami mohon jika memang bencana-demi bencana sudah merupakan keharusan garis takdirMu, kami mohon agar supaya masyarakat di sini (Bengkulu) tetap dijaga, diberi keselamatan dan kesejahteraan lahir batin. Dan ada apa gerangan bahaya dari dalam bumi, atau dari dalam laut ? Sebuah teka-teki yg membutuhkan tindak lanjut untuk menjawabnya.

http://sabdalangit.wordpress.com/pengalaman-gaib/naga-raksasa-di-langit-bengkulu/

Friday, June 8, 2012

NIGERIA BAYI LAHIR BERSAMA AL-QUR'AN




LAGOS, Nigeria – Seorang bayi telah dilahirkan bersama al-Quran dari rahim ibunya. Kejadian itu telah memeranjatkan ibunya dan mendapat perhatian dari kalangan ulama. Akhirnya ibunya memeluk agama Islam.
Sebelum ini banyak kita mendengar kisah bayi yang dilahirkan mempunyai tanda-tanda keagungan Allah SWT antaranya tulisan kalimah tauhid di bahagian betis bayi. Kini satu kejadian menakjubkan telah berlaku di mana seorang bayi telah dilahirkan bersama sebuah al-quran kecil. Bayi ini diberi nama Abdul Wahab Iyanda Aderemi Irawo oleh sorang ulama yang dikenali sebagai Ustaz Abdul Rahman. Bayi ini telah selamat dilahirkan pada 7 mei 2012.
Para ulama di sana telah menasihati ibu bayi tersebut bahawa bayinya bukanlah seorang nabi walaupun ia lahir dari rahimnya sambil memegang Quran. Akan tetapi ia merupakan suatu kehendak Allah SWT yang mana bayi itu dilahirkan dalam keadaan yang sungguh menakjubkan.
Selain ulama Ustaz Abdul Rahman yang hadir, terdapat juga ulama lain antaranya Sheikh Abdulraman Sulaiman Adangba,Ketua dari Komuniti Nasrulifathi,Ustad Alhaji Abdullahi Akinbode,dan Dr Ramoni Tijani dari Komuniti Islam Alifathiquareeb.
Kuasa Allah SWT dan hidayah dariNya, ibu bayi ini telah memeluk agama Islam pada 13 Mei 2012. Kini ibunya baru sahaja berusia 32 tahun dan telah menukar namanya dari Kikelomo Ilori kepada Sherifat.

Sumber Melayukini

http://www.panasmedia.com/blog/bayi-lahir-bersama-al-quran/ 

Saturday, May 19, 2012

Misteri Gunung Salak dalam Kaitan Tragedi Shukoi

Misteri Gunung Salak dalam Kaitan Tragedi Shukoi
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNo2Eo3IjxDJ-JNdO7wegV5RqEwJngJprb0CvTvFxcaKGGwi97LYsLzOt3K8W7mqI4QNNpkyDAH4kg6rvzb2hRC3kpUFsJduBojtqNdjAhLcAu5mPQUXV2SkdtnLTjZy3ZOq-DjVn4WPwV/s320/www.karenaberita.com_aboutshukoi_01.jpg
Karena Berita - Unsur mistis-klenik sangat kental di Gunung Salak. Banyak dongeng atau legenda yang masih diingat warga sekitar gunung yang terletak di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat itu. Salah satunya menyangkut makam keramat Raden KH Syekh Mohomammad Hasan yang terletak di Puncak Salak I, sering disebut Puncak Manik. 


Syekh Mohomammad Hasan diyakini sebagai salah satu ulama besar yang menyebarkan Islam di Jawa Barat, seputar Bogor, Garut hingga Cirebon. Makam Syekh Hasan dianggap keramat, setara dengan makam Mbah Priok di Tanjung Priok Jakarta Utara, dan Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Alathas atau makam Karomah Empang Bogor, tak jauh dari Kebun Raya Bogor.
Dua orang pemuka agama Islam di Cijeruk, Kabupaten Bogor, KH Marsa Abdullah, dan Habib Mukhsin Barakbah menyampaikan hal itu kepada Tribun Jakarta, Sabtu (12/5/2012).
Mereka ditemui di kediaman Marsa di kampung Pasir Pogor, Cipelang, berjarak kurang lebih 500 meter di selarang lapangan helikopter darurat milik SMP Negeri 1 Cijeruk, yang menjadi posko utama evakuasi korban pesawat Sukhoi Superjet100 yang jatuh, Rabu lalu.
KH Marsa mengemukakan, sesuai pandangan kebatinan dia, peristiwa jatuhnya pesawat buatan Rusia berpenumpang 47 orang itu ada kaitannya dengan legenda Sunda, suku asli Bogor dan Jawa Barat pada umumnya.
Ia coba mengingat-ingat kecelakaan jatuhnya Sukhoi di kaki Gunung Salak, dan fakta kecelakaan-kecelakaan sebelumnya, Marsa lalu mengaitkan musibah ini dengan makhluk gaib penunggu Gunung Salak. 
"Jangan anggap remeh, walaupun ini dongeng, anda percaya atau tidak terserah. Seperti kalau mau masuk rumah orang, kan ada isyaratnya. Harus ada sopan-santun, ada salam, bagi orang Islam misalnya, mengucapkan assalamualikum," ujar KH Marsa.
Sopan-santun perlu dipegang, orang yang memasuki kawasan Gunung Salak, termasuk bagi pendaki. "Jadi kalau mau daki gunung Salak, jagalah kesopanan, permisi kepada orang dituakan di mana dia akan memulai pendakian," ujarnya Marsa.
Gunung Salak bukan seperti Gunung Merapi di Yogyakarta. Di Yogya, masih ada raja, jadi ada juru kunci yang ditugaskan untuk mengawasi orang-orang yang hendak memasuki kawasan gunung. Sedangkan di Gunung Salak, karena kerajaannya Siliwangi tenggelam, kuncen tidak ada.
"Maka datangilah pengetua setempat. Sejak dulu ada isyarat ini. Ini bukan menyembah Gunung Salak, kita tidak boleh musryik, tidak ada Tuhan yang lain yang disembah. Kalau kemusryikan, menyembah selain Allah," ujarnya

Lalu apa kaitannya dengan pesawat Rusia naas yang mengangkut 39 orang Indonesia itu? Menurut Marsa, sebelum pesawat itu bermanufer di atas Gunung Salak, sebaiknya terlebih dahulu 'meminta izin'. Bukan saja kepada makhluk gaib itu, melainkan lewat doa atau syukuran kepada Allah, agar lancar-selamat misi uji-coba terbang, termasuk di atas Gunung Salak.
Hal kedua katanya, penunggu Gunung Salak tidak menginginkan adanya kesombongan. Dia menduga, pihak Sukhoi hendak mempertontonkan kecanggihan dan kehebatan pesawat itu dengan kebolehan dan manufer di angkasa.
"Jadi mungkin ada kesombongan, seperti mau pamer pesawat. Kebetulan dia melintas, dan jatuh. Jadi Gunung Salak tidak bisa dijadikan kesombongan," katanya.
Dalam hal ini, Sukhoi, walaupun pilotnya senior, dan Sukhoi perusahaan pesawat terbang yang ditakuti Amerika Serikat, karena menggunakan mesin jet.  
"Itu kesombongan yang saya maksud. Sekali lagi, di Gunung salak, ada penunggunya, jadi harus ada syarat. Jangankan pesawat, dulu, burung pun jatuh kalau terbang ke Gunung Salak, tepat di atas makam keramat Syekh Hasan," ujar Marsa.
Makam Syekh Hasan terletak di Puncak Manik berjarak kurang lebih 8 kilometer dari Cidahu, Sukabumi. Rute ini bisa ditempuh tiga jam jalan kaki. Jalan terjal, tidak dapat dilalui menggunaan kendaraan bermotor. 
Syekh Hasan, keturunan Sultan Hasanuddin Banten. Syekh memiliki banyak keturunan ulama, misalnya, di Cijambu, Kecamatan Cigombong ada mendiang KH Jajang Zubaidi. 
"Dia ini terkenal dan muridnya banyak sekali se-Jawa Barat, sampai ke Cirebon," kata Habib Mukhsin Barakbah yang tinggal di kaki Gunung Salak, Kampung Palasari, Cijeruk.
Dia bahkan mengusulkan, hikmah dari peristiwa jatuhnya Sukhoi, perlu semacam ada pengukuhan makam Syekh Hasan menjadi tempat ziarah.
Gunung Salak memang seakan menjadi kuburan buat pesawat terbang. Dalam sepuluh tahun terakhir, 2002-2012 tercatat tujuh kali musibah 'besi terbang', pesawat terbang jatuh dan bangkainya menjadi puing-puing tak bernilai. 
Selain Sukhoi yang jatuh saat promosi di udara kepada para calon pembeli asal Indonesia, Rabu pekan lalu, tiga tahun silam, tiga orang tewas saat calon pilot menerbangkan pesawat latih Donner milik Pusat Pelatihan Penerbangan Curug jatuh di Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, 30 April 2009.
Juni 2008, pesawat Casa 212 milik TNI AU jatuh pada Gunung Salak di ketinggian 4.200 kaki dari permukaan laut yang menewaskan 18 orang. Sebelumnya, 20 Juni 2004, lima orang tewas dalam musibah pesawat Cessna 185 Skywagon, jatuh di Danau Lido, Cijeruk, Bogor. 
Data sebelumnya, tiga orang tewas ketika pesawat Paralayang Red Baron GT 500 milik Lido Aero Sport, jatuh di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor pada 15 April 2004. 7 penumpang tewas dalam musibah helikopter Sikorsky S-58T Twinpac TNI AU jatuh di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, 29 Oktober 2003. Dan 10 Oktober 2002, seorang tewas dalam akibat pesawat Trike bermesin PKS 098 jatuh di Lido, Bogor. 
Bukan hanya kecelakaan udara. April 1987, tujuh siswa STM Pembangunan, Jakarta Timur ditemukan tewas setelah terperosok ke jurang di Curug Orok yang memiliki kedalaman 400 meter di punggung gunung.
Gunung setinggi 2221 meter di atas permukaan laut tersebut pernah meletus pada tahun 1668-1699, 1780, 1902-1903, dan 1935. Letusan terakhir tahun 1938, berupa erupsi freatik yang terjadi di Kawah Cikuluwung Putri.
Gunung Salak memiliki beberapa puncak. Puncak tertinggi disebut Salak I setinggi 2211 meter, disusul puncak Salak II setinggi 2180 meter, dan puncak Sumbul setinggi 1926 meter.