Showing posts with label Kisah-kisah spiritual. Show all posts
Showing posts with label Kisah-kisah spiritual. Show all posts

Tuesday, October 30, 2012

SEBENARNYA MANUSIA MENGATUR ATAU DIATUR?


manusia mengatur atau diatur? maksud dari kalimat ini adalah manusia mengatur jalan hidupnya sendiri? mengatur arah hidup,prilaku,hingga mendapat hasil atas apa yang dia lakukan? atau SEMUA itu diatur oleh Tuhan?

contoh>
memilih dan menentukan istri/suami.
memilih profesi.(pedagang,pegawai,preman,perampok dsb)
memilih punya anak 1,2,3 dst.
memilih agama serta alirannya.
memilih gaya rambut,model pakaian,dan acesorisnya.
memilih jadi perokok,peminum alkohol,konsumsi narkoba(ganja,sabu2,pil koplo dsb).
memilih hidup teratur, gaya hidup bebas atau free sex..
memilih jenis olah raga senam,joging,petinju.dsb.
memilih rajin atau malas,sabar atau pemarah.irit atau boros.
memilih alat transpotasi saat bepergian(darat laut atau udara).
dan masih banyak2 sekali MEMILIH yang lain. pertanyaannya apakah MEMILIH disini adalah HAK manusia secara mutlak??? atau diatur dan diarahkan oleh Tuhan???
kenapa perlu di pertanyakan?? karena semua pilihan/memilih diatas akan SANGAT berpengaruh terhadap perjalanan hidupnya,semua pilihan pasti mempunyai efec dan resiko untung rugi nya, secara logika hukum,semua resiko untung rugi nya HARUS ditanggung oleh yang menentukan pilihan(manusia atau Tuhan)
kalau pilihan itu ditentukan oleh manusia ,maka konsekuensinya segala akibat dan resikonya adalah tanggung jawab manusia. sebaliknya bila pilihan itu atas aturan ,arahan atau bagian dalam RENCANA Tuhan,maka yang bertanggung jawab adalah Tuhan,karena konon bila Tuhan mempunyai kehendak maka manusia tak akan kuasa menolaknya.

jadi posisi manusia sebenarnya adalah sebagai pengatur atau sebagai yang diatur??

JAWAB:
Maaf kan saya baru bisa mengutarakan pendapat , tentu saja pendapat saya bisa berbeda satu sama lain , menurut keyakinan masing .
Secara sains jawabannya
"Tuhan tidak ada mengatur manusia" .
Kehidupan di alam semesta ini berjalan berdasarkan bahan-bahan dasar dan hukum-hukum dasar.
Dari hal yang mendasar ini berevolusi menjadi serumit ini.
Para fisikawan teoritis mulai menyadari bahwa seandainya bahan dasar alam semesta ini bukan seperti ini, maka mungkin alur evolusinya pun akan berbeda pula.
Hukum-hukum fisikanya dan theologinyapun akan berbeda pula.
Yang jelas dan bisa dibuktikan adalah akhir dari suatu bentuk kehidupan adalah kematian.
Dimana ada kelahiran pasti ada kematian.

Namun demikian, sekalipun kehidupan ini tidak punya tujuan yang definitif, pasti dan jelas, tidak berarti kita harus jadi murung dan meniti kehidupan ini dengan tanpa arah.
Ambilah suatu tujuan untuk dicapai dalam hidup ini.
- Jikalau mau jadi seorang filsuf, ya jadilah.
- ingin jadi pelaku bisnis seperti Donald Trump, ya jadilah.
- ingin hidup senang senang saja seperti Donald Duck, ya jadilah.

Adalah penting untuk memiliki tujuan dalam hidup.
Dengan memiliki tujuan dalam hidup kita memiliki arahan untuk dicapai dan diusahakan.
Dan itu sehat.
Yang berbahaya adalah apabila tujuan dalam hidup ini diarahkan untuk mencapai suatu keadaan dimana anda bahagia, di atas ketidak bahagiaan orang lain.

Dan harus diingat, bahwa tujuan dalam hidup itu sendiri tidak berkonotasi langsung dengan kebahagiaan.
Ya tepatnya, tentu berdasarkan modal-modal kapasitas dan kapabilitas yang kita miliki.
Dan kita yang memilih perasaan dalam diri kita sendiri entah itu bahagia atau bahagia terlepas dari punya atau tidak punya?

Dalam keyakinan akan adanya tuhan yang maha kuasa yang telah menciptakan alam semesta dan mengatursebelum segala jaman, kemudian menuliskan cetak biru naskah kehidupan di alam ini, dimana segalanya telah teratur dalam hokum yang rapih.
Kita hanya memiliki kehendak bebas untuk mematuhi atau tidak rencana tuhan atas hidup kita itu.

Kalau anda menganggap semua itu benar dan bermakna dalam hidup anda ya silahkan.
Tapi benar atau tidaknya keyakinan tersebut – adalah hal yang lain.
Sebab keyakinan seperti itu sangat rentan dengan berbagai kritik.
Saya hanya akan menuliskan dua hal saja yang menegasikan keyakinan itu.

Pertama:
Keyakinan yang sebut tadi itu memproyeksikan suatu tuhan yang raja tega, bebal, tidak beretika, bodoh dan sewenang-wenang.
Lihatlah sejarah peradaban manusia yang penuh dengan tangisan, dan pertumpahan darah.
Diatas semua kejadian yang memilukan hati ini, justru kita lihat bahwa agama2 besar yang mengagung-agungkan suatu tuhan berpribadi, yang terlepas dari alam, justru bermain dalam kekerasan itu.
Lihatlah peperangan dan ketegangan2 antar Agama , Benarkah tuhan itu maha kasih?
maha mengetahui?  maha segalanya? 

Ketika bom diledakan dimana-mana,Dimanakah Tuhan berada?
Koq dia tidak menangis? Sungguh-sungguh raja tega tuhan yang diproyeksikan agama samawi ini.

Kedua :
Keyakinan bahwa ada suatu rencana sempurna dari tuhan yang kekal abadi, yang diciptakan segala jaman, menjadikan si pemercaya seorang yang neurosis.
Setiap hal terus dicross-check dengan hukum-hukum yang tidak kelihatan itu.
Ia takut apabila ia melenceng dari rencana tuhan yang sempurna itu.
Padahal tuhan sendiri tidak pernah berteriak-teriak dari langit,
Pernahkah tuhan teriak2 seperti itu?
Tidak pernah bukan?

Seperti yang saya tulis di atas, bahwa kisah-kisah agama dan konsep-konsep keyakinan adalah perwujudan symbol-symbol psikologis pencarian makna hidup dalam tataran arketype kesadaran manusia itu sendiri?
Konsep tuhan adalah penubuhan dari idea-idea tentang sumber, kesegalaan dan kesempurnaan.
Konsep tentang Bunda Maria adalah penubuhan dari idea-idea pengayoman dan kelembutan.
Konsep Jibril adalah penubuhan dari mediasi / duta antara sumber dengan cabangnya.
Konsep Kristus adalah penubuhan idea-idea satrio piningit / mesias dari budaya Israel dan lain sebagainya .
Semua idea tersebut adalah getaran refleksif dari alam nirsadar untuk ditangkap oleh alam sadar kita.
Dalam upaya untuk membahasakan ‘bahasa’ refleksif itu maka diwujudkanlah simbol-simbol yang kita temukan dalam agama-agama, such as, tuhan, jibril, bunda maria, kristus, Muhammad, Buddha dan lain lain.
Tanpa perlu memusingkan ada atau tidaknya tokoh2 di atas.

Mengapa alam sadar kita menerima isyarat-isyarat refleksif dari alam bawah sadar?
Bagi Carl Gustav Jung, seorang psiko-analis abad 19- 20, karena kita, manusia, terlahir dengan keadaan ‘terbelah’, keadaan sadar yang terbelah ini tanpa sadar terus menerus mencari pemenuhannya.
Hasrat pemenuhan ini sendiri diransang oleh idea-idea dalam yang tersimpan dalam alam bawah sadar kita.

Berbeda dengan Sigmund Freud yang mempercayai alam bawah sadar sebagai tempat dimana hasrat-hasrat hidup /libidinal direpresi, bagi CG Jung alam bawah sadar adalah kesadaran kolektif, dimana idea-idea pencarian makna hidup manusia itu tersimpan secara laten.
Bagaimana bawah sadar ini berkomunikasi dengan alam sadar adalah dengan cara libidinal dan refleksif.
Semua hasrat dalam diri kita adalah hasrat untuk bertahan hidup.
Hasrat-hasrat yang dipenuhi akan hilang dengan sendirinya.
Namun apa bila hasrat itu tidak terpenuhi, maka suatu saat alam nirsadar mengirim pesan-pesan berupa imagi kepada si alam sadar dalam bentuk mimpi.

Sedang lewat refleksif alam bawah sadar ini mengirim idea-idea yang diterima oleh alam sadar sebagai suatu yang harus digali, semacam idea kesempurnaan, keagungan, estetika, keabadian dll. Kesadaran kolektif ini menjadi sumber inspirasi dari pencarian manusia akan idea-idea spiritualitas, estetika, pencarian makna hidup dan sebagai nya .

Jadi singkatnya agama dan segala idea di dalamnya adalah penubuhan dari gejolak-gejolak bawah sadar yang harus dikelola dengan baik oleh sang sadar tadi, karena tidak semuanya gejolak itu baik, atau tidak semuanya gejolak itu buruk.
Idea tentang kesempurnaan, keteraturan, dan keabadian, diwujudkan dalam seni musik gambar, cerita, abstraksi-abstraksi idea dan lain lain.
Maka terbentuklah mitos-mitos tuhan, kisah-kisah asal muasal kehidupan, kisah-kisah setelah kehidupan, keabadian dan sebagainya .
Hal-hal tersebut dikelola oleh para pujangga dan rohaniwan jaman dulu menjadi mitos-mitos yang oleh agama dijadikan standar baku yang tidak boleh diotak-atik dan dikritik karena dipercaya sempurna dan tiada cacat.

Jadi , singkatnya, silahkan anda percayai teologia agama anda, kalau itu bermanfaat dan memperkembangkan kepribadian anda.
Namun apabila anda menjadikannya sebagai kebenaran factual maka anda tidak ubahnya dengan seorang yang memiliki masalah keterbelahan jiwa, yang disebut skizofrenis.
Seorang skizofrenis hidup dalam dua atau tiga atau lebih dunia yang dia anggap ajeg dan real.
Dan memang demikianlah orang yang selama ini menganggap agama sebagai kebenaran mutlak yang tidak bisa disanggah.
Mereka seperti skizofrenis yang kesehariannya hidup di jaman modern yang logis dan rasional, tapi otaknya masih dipenuhi dengan khayalan-khayalan agama yang dianggapnya sebagai benar, menyejarah dan pasti tidak pernah salah.
Kalaupun sains membuktikan kesalahan kisah-kisah agamanya, mereka tetap percaya bahwa tuhannya maha kuasa dan sainslah yang salah.

Bagaimana mungkin kisah-kisah tentang tuhan dan nabi-nabi dalam agama-agama bisa dibuktikan sebagai yang benar?
Keyakinan adanya tuhan yang berfirman ini itu pada seorang nabi lewat perantaraan jibril atau malaikat manapun, bagi saya adalah mitos.
Sebab kalau diminta supaya jibril hadir dan bersaksi bahwa dia benar-benar pernah muncul dan menitipkan firman pada si nabi itu, pasti dia tidak akan pernah muncul.
Kenapa?
Lha memang dia tokoh fiktif koq.
Mau mengharapkan kemunculan macam apa dari tokoh fiktif?

Rekan ku hidup ini sukar.

Namun yang lebih repot lagi ketika hidup yang sukar ini harus terus menerus disingkron-singkronkan dengan seperangkat hukum tidak nyata yang dibentuk oleh komunitas dan agama, tanpa persetujuan dari kita, dimana kita ditempatkan pada suatu posisi yang tidak bisa menganalisa dan memilah dan memilih seturut dengan kesadaran kita.
Saya mendorong rekan rekan untuk berani mempertanyakan semua itu dan berani untuk menilai baik buruknya menurut sendiri.

Hukum moral itu perlu , namun bukan yang dikenakan dari luar kepada kita, melainkan dari dalam kesadaran diri kita sendiri.
Tentu saja prinsip ini baiknya untuk mereka yang sudah dewasa, bukan manusia-manusia dengan peradaban yang masih kasar.

Baiknya bagaimana menjalani hidup ini?
Ya apa adanya saja.
Tidak perlu terus dalam keadaan tegang menganalisa diri sendiri,
menuduh-nuduh apakah kita sudah hidup seturut dengan rencana tuhan atau bukan,
lha wong si tuhan juga tidak bicara apa-apa koq.
Lihatlah bahwa dunia ini indah, dan kesempatan untuk kita hidup sebagaimana kita adanya saat ini tidak mungkin datang dua kali.

Buatlah hidup kita merasa bahagia kini dan di sini, dalam apa adanya hidup kita.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Thursday, October 25, 2012

Kisah ketika Kita bisa memilih hidup kita sekali lagi


Alkisah, Tuhan hampir setiap saat mendengar keluh kesah, ketidakpuasan, dan penderitaan dari manusia ataupun dari makhluk lain ciptaan-Nya. Kemudian, Tuhan ingin sekali tahu bagaimana jika semua makhluk tersebut diberi kesempatan memilih hidup sekali lagi; ingin menjadi apakah masing-masing dari mereka? Maka, Ia membagikan pertanyaan kepada semua makhluk ciptaan-Nya.

Tikus dengan cepat menjawab, “Jika diberi kesempatan memilih, aku ingin menjadi kucing. Enak ya jadi kucing, bisa bebas merdeka berada di dapur bahkan disediakan makanan, susu, dan dielus-elus oleh manusia.”

Kucing pun dengan sigap menjawab, “Kalau bisa memilih, aku ingin jadi tikus. Kepandaian tikus mengelilingi lorong-lorong rumah bisa membuat orang serumah kewalahan. Tikus bisa mencuri makanan yang tidak bisa aku santap. Hebat sekali menjadi seekor tikus.”

Saat pertanyaan yang sama disampaikan ke ayam, begini jawabnya, “Aku ingin menjadi seekor elang. Lihatlah elang di atas sana! Wah, ia tampak begitu perkasa mengepakkan sayapnya yang indah di angkasa luas, membuat semua makhluk iri dan ingin menjadi seperti dirinya. Tidak seperti diriku, setiap hari mengais makanan, terkurung dan tidak memiliki kebebasan sama sekali.”

Sebaliknya, si elang segera menjawab, “Aku mau menjadi seekor ayam. Ayam tidak perlu bersusah payah terbang kesana-kemari untuk mencari mangsa. Setiap hari sudah disediakan makanan oleh petani, diberi suntikan untuk mencegah penyakit, dan ayam begitu terlindung di dalam kandang yang nyaman, bebas dari hujan dan panas.”

Beda lagi jawaban yang diberikan oleh manusia. Si perempuan menjawab, “Saya ingin menjadi seorang laki-laki, kemudian menjadi pemimpin besar dan yang hebat! Menjadi perempuan sangatlah menderita. Harus bisa melayani, bertarung nyawa melahirkan anak, kemudian membesarkan mereka. Ini adalah pekerjaan yang sangat melelahkan.”

Tapi laki-laki menjawab, “Aku mau jadi perempuan. Betapa indah rupanya dan halus budi bahasanya. Kelihatannya, ia selalu disayang, dilindungi dan dimanjakan. Selain itu, tidak ada pahlawan yang lahir tanpa seorang perempuan. Surga saja ada di telapak kaki ibu atau wanita.”

Setelah mendengar semua jawaban para mahluk ciptaan-Nya, Tuhan pun memutuskan tidak memberi kesempatan untuk memilih lagi. Alias, setiap makhluk akan kembali menjadi makhluk yang sama.

Pepatah mengatakan, “Rumput tetangga selalu lebih hijau dibandingkan dengan rumput di kebun sendiri.” Manusia selalu memikirkan kelebihan, kebahagiaan, dan kesuksesan orang lain sehingga mengabaikan apa yang sudah dimilikinya. Membandingkan diri dengan orang lain, secara terus-menerus, bisa membuat hidup kita menderita. Padahal orang yang kita pikirkan mungkin berpikir sebaliknya!

Mampu menerima dan bersyukur apa adanya atas apapun yang kita miliki adalah kebijaksanaan. Bisa ikut berbahagia melihatkebahagiaan dan kesuksesan orang lain adalah kekayaaan mental.

Be your self! Jadilah diri Anda sendiri! Mari mencintai apa yang kita miliki; maka hidup kita pasti akan penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Setuju?source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Thursday, October 11, 2012

Kisah 7 Daun Teh


Pada jaman dahulu, seorang dokter dipenjarakan secara tidak adil oleh Kaisar. Setelah beberapa minggu, keluarganya diijinkan menengoknya. Mereka begitu sedih, melihat pakaiannya compang-camping, makanannya tiap hari hanya sepotong roti dan secangkir air.

Namun isteri dokter ini heran dan bertanya, "Bagaimana mungkin kamu kelihatan begitu sehat?" Kamu tampak seperti seseorang yang baru datang dari suatu pesta pernikahan."

Dokter itu tersenyum. Ia mengatakan, ia menemukan sejenis teh yang mujarab untuk melawan penderitaan dan kesedihan. Teh itu terdiri dari 7 macam daun-daunan sebagai berikut:

DAUN PERTAMA sebut saja "Kepuasan".

Puaslah dengan apa yang kau punyai. Aku memang kedinginan dalam pakaian rombengku, kala mengunyah serpihan-serpihan roti keringku. Tetapi seharusnya kondisiku jauh lebih buruk seandainya Kaisar melemparkan aku dalam keadaan telanjang ke sebuah penjara dibawah tanah tanpa makanan sama sekali.

DAUN KEDUA sebut saja "Akal Sehat".

Gembira atau sedih, aku tetap di penjara, mengapa harus mengeluh ?

DAUN KETIGA adalah "Kenangan akan dosa-dosa lama".

Hitunglah itu dan atas perkiraan bahwa setiap dosa patut mendapat ganjaran penjara 1 hari, hitunglah berapa lama harus kita jalani dalam penjara. Apa yang aku alami tidak seberapa.

DAUN KEEMPAT ialah "Ingatan akan kesedihan yang ditanggung dengan gembira bagi kita".

Bila satu-satunya orang yang pernah dapat memilih nasibnya di bumi, memilih penderitaan, nilai luar biasa apa yang pasti dilihat-Nya didalamnya. Karena itu, kita yakin, penderitaan yang kita tanggung dengan tenang dan penuh gembira menebus dosa-dosa kita.

DAUN KELIMA
ialah "Pengetahuan bahwa penderitaan yang diberikan kepada kita oleh Tuhan seperti dari seorang ayah, tidak untuk merugikan kita, tetapi untuk membersihkan dan menyucikan kita".
Penderitaan yang kita lalui mempunyai tujuan untuk memurnikan kita dan menyediakan kita masuk Surga.

DAUN KEENAM merupakan "Pengetahuan bahwa tak ada penderitaan yang dapat merugikan kehidupan kita."

Bila kesenangan daging merupakan segalanya, maka sakit dan penjara mengakhiri tujuan hidup seseorang. Tetapi bila sumber kehidupan adalah kebenaran, maka penjara tidak dapat menghentikan aku dari mencintai, untuk percaya dan selalu hidup tenang di mana pun aku berada.

DAUN KETUJUH merupakan "harapan".

Roda kehidupan tidak selamanya akan meletakkan dokter di penjara, mungkin dia akan kembali ke istana dan bahkan kemungkinan duduk di singgasana kerajaan.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Where I Finding God?


Ada seorang murid bertanya kepada gurunya tentang Tuhan.

Murid : Guru, ada ditempat lain orang yg bisa terbang.
Guru : Tak aneh, lalat juga bisa terbang.

Murid : Guru, ada orang yg berjalan di atas air.
Guru : Tak aneh, katak juga jalannya di atas air.

Murid : Guru .... ada orang yg bisa berada dibeberapa tempat sekaligus.
Guru : Yg paling pintar spt itu setan. Dia bisa berada dihati jutaan manusia dalam waktu bersamaan.

Murid : Kalau begitu guru, bagaimana cara yg paling cepat mendekatkan diri pada Tuhan? Apakah orang yg dekat kepada Tuhan memiliki berbagai keajaiban, kekuatan supranatural?

Guru : Itu bukan "Ukuran". Ukuran seseorang dekat dgn Tuhan bukan itu. Banyak jalan mendekati Tuhan, sebanyak udara di bumi ini..
Tetapi jalan yg paling dekat dgn Tuhan adalah membahagiakan orang lain disekitarmu.

Tiada kata akhir untuk belajar seperti juga tiada kata akhir untuk kehidupan, dan tugas paling sulit dalam hidup adalah.... "belajar untuk sabar".source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Friday, September 28, 2012

Kata2 Perenungan Master Cheng Yen







source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Wednesday, September 19, 2012

Jalanlah maju tiga langkah, lalu mundur tiga langkah.



Seorang pria sedang berjalan-jalan di tengah kota. Ia melihat seorang biksu Zen yang sedang berjalan, meminta sumbangan untuk kuilnya. Karena tertarik, pria ini menghampiri biksu tersebut.

'Hai biksu, kau sedang meminta sumbangan bukan? Baiklah, aku tidak akan memberikan sumbangan, tapi akan kubeli kebijaksanaan darimu. Bukankah biksu Zen terkenal dengan kebijaksanaannya?', kata pria tersebut. Si biksu terdiam sejenak, lalu berkata, 'boleh, tapi kebijaksanaanku sangatlah mahal. Sebuah nasihatku bernilai 100 tael perak'. Pria tersebut menjawab, 'tidak masalah, asalkan terbukti kata-katamu dapat membuatku lebih bijaksana'.

Maka si biksu memberi pria itu kata2 ini: 'setiap kali anda menghadapi permasalahan apapun juga, jangan terburu-buru mengambil tindakan. Jalanlah maju tiga langkah, lalu mundur tiga langkah. Lakukan ini sebanyak 3 kali (3 set), baru ambil tindakan terhadap permasalahanmu'. Pria tersebut sulit untuk percaya, 'hanya berjalan 3 langkah maju dan 3 langkah mundur selama 3 kali dapat membuatku lebih bijaksana? Aku tidak percaya'. Si biksu tersenyum, 'kalau begitu anda tidak perlu membayarku sekarang. Tunggu sampai kata-kataku terbukti baru anda membayarku. Kalau tidak terbukti, anda tidak berhutang apa2 padaku'. Pria tersebut senang, 'baiklah kalau begitu. Aku akan membuktikan kata2mu. Kalau ternyata terbukti, aku akan mencarimu untuk membayarmu', kata pria itu, lalu pamit dan pulang kerumahnya.

Sampai di rumah, pria itu mencari istrinya untuk menceritakan kejadian hari ini kepada istrinya. Pria itu masuk ke kamar tidurnya. Ternyata istrinya sedang tidur, dan alangkah kagetnya pria itu karena ternyata disamping istrinya ada tubuh lain yang berbaring tertutup selimut. Emosi pria ini memuncak karena istrinya selingkuh, dengan tidur dengan pria lain. Ia segera pergi ke dapur untuk mengambil golok dapur, dengan tujuan membunuh pria selingkuhan istrinya.

Ketika kembali ke kamar tidur, tiba2 ia teringat dengan kata2 si biksu zen tadi. Maka ia pun berjalan 3 langkah maju, 3 langkah mundur, sebanyak 3 kali. Tentu saja dengan perasaan yang sangat tidak sabar. Karena gerakannya yang tergesa2 menimbulkan bunyi berisik, istrinya terbangun. Istrinya pun kaget karena ada tubuh lain berbaring di ranjangnya, sedangkan suaminya sedang berdiri di samping ranjang. Spontan istrinya membuka selimutnya. Ternyata tubuh itu adalah adik kandung istrinya sendiri yang bermimpi buruk sehingga ketakutan dan menyelinap ke ranjang kakak perempuannya untuk tidur bersama.

Seketika pria tersebut jatuh terduduk dengan lemas. Goloknya pun terlepas dari tangannya. Dengan menangis, ia menceritakan segalanya termasuk rencananya membunuh tubuh yang dikira selingkuhan istrinya tersebut. Katanya, 'kalau aku tidak bertemu dengan biksu bijaksana tersebut di kota, entah bagaimana nasibku dan kamu'. Istrinya menenangkan suaminya dan berkata, 'tenanglah, yang belum terjadi tidak perlu dipermasalahkan. Besok kita harus mencari biksu itu kembali untuk memenuhi janjimu, membayar kebijaksanaan yang kau dapat ini'.

Esok harinya mereka berdua pergi mencari biksu tersebut di tengah kota. Begitu menemukannya, mereka berniat membayar biksu tersebut, tapi si biksu menolaknya sambil tertawa, 'kalau kalian menghindari perbuatan jahat, perbanyak perbuatan baik, dan senantiasa mawas diri, artinya kalian sudah membayarku....'
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Menyikapi Dengan Bijak Terjadinya Takdir


Takdir adalah misteri kehidupan seseorang yang tidak dapat ditawar lagi, hanya bisa dijalani dengan lapang dada. Kalaupun ada upaya untuk merubah takdir dengan apa yang disebut oleh masyarakat dengan kata “diruwat” untuk membuang apes / sial, ataupun dibukakan pintu rejekinya, namun apakah benar hal itu dapat terwujud?.

Hal yang tidak dapat dipikirkan oleh manusia adalah resiko dari usaha-usaha merubah takdir tersebut. Mungkin sebelumnya kita pahami dulu sebuah prinsip alam semesta “Untuk memperoleh harus kehilangan, setelah kehilangan akan memperoleh”.

Takdir pada manusia adalah perjalanan hidup yang telah ditentukan oleh Tuhan atas diri seseorang. Mulai dari kelahiran di keluarga yang bagaimana, bagaimana kondisi perekonomiannya, penyakit yang akan diderita, menikah dengan siapa, maupun mempunyai anak yang bagaimana, serta musibah atau penderitaan yang seperti apa.
 

Seorang anak tidak pernah bisa memilih orang tuanya, demikian juga orang tua tidak bisa memilih seorang anak, seperti yang dikehendaki. Semua telah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Begitupun dengan jodoh, seolah-olah adalah kita yang memilih kepada siapa kita akan menyandarkan hidup.

Padahal bukan, kalau tidak ada perjodohan yang ditetapkan, biarpun bagaimana saling mencintai sehidup semati pun terkadang harus kandas di tengah jalan. Dan terkadang hal yang tidak dapat dinalar adalah pilihan kita itu justru menikah dengan orang yang sama sekali tidak dicintai, yang juga secara fisik sangat jauh dari dambaannya, dan bahkan dalam perkimpoiannyapun penuh dengan perseteruan dendam kesumat.

Jika sesuatu tidak ada dalam takdir kehidupan anda, maka jika dengan paksa kita membuatnya ada, sebenarnya adalah kita telah merampas hak orang lain. Karena anda telah menjadi pihak yang diuntungkan maka lain kali anda harus membayar kerugian orang lain dengan suatu penderitaan dalam bentuk yang lain. Misalnya sakit, ketidak-bahagiaan, kehilangan materi dalam bentuk lain, rumah kebakaran, kecelakaan, anak sakit, kemalingan, pokoknya semua yang memaksa anda harus mengeluarkan uang dari simpanan anda, atau yang memaksa anda untuk menderita, karena anda telah menambah dosa anda.

Sedangkan pihak yang telah anda ambil haknya, karena dia telah menderita kerugian atas perbuatan anda, maka dia akan memperoleh pahala, yang hasil kebaikan yang telah anda kumpulkan (De atau substansi putih, pahala), diberikan kepadanya. Jika pahala yang diberikan oleh anda kepada dia ini tidak dapat dia peroleh di kehidupan sekarang, maka dia akan memperolehnya di kehidupan dia selanjutnya.

Takdir sesungguhnya adalah diciptakan dari banyak sedikitnya pahala atau dosa seseorang di kehidupan sebelumnya. Seseorang yang pahalanya banyak maka ditakdirkan menjadi pejabat, kaya raya, semuanya ada. Untuk seseorang yang pahalanya sedikit atau yang dosanya banyak maka ditakdirkan baginya kehidupan yang menderita baik secara materi maupun fisik, mungkin cacat, atau sakit berkepanjangan, dan bahkan untuk mencari makanpun sangat sulit.

Terciptanya takdir adalah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan dengan seadil-adilnya. Dengan pertimbangan dari banyak sedikitnya dosa atau pahala seseorang, juga benci dendam serta hutang budi yang ingin dilakukan oleh seseorang pada orang lain di kehidupan sebelumnya. Misalnya dikehidupan anda sebelumnya telah melakukan kejahatan yang menyebabkan dia begitu dendam dan ingin membalas perbuatan anda, maka oleh Tuhan diberikanlah kesempatan bagi dia untuk membalasnya agar anda membayar dosa anda sebagai tanggung jawab anda.

Itulah kenapa terkadang dalam kehidupan sehari-hari ada seseorang yang tanpa sebab begitu membenci kita mati-matian dan berusaha untuk selalui menyakiti bagaimanapun caranya, sedang kita bahkan merasa sama sekali benar-benar tidak pernah melakukan kesalahan padanya ataupun bahkan ketemu mungkin baru sekali. Semua ini adalah kemungkinan kita telah melakukan perbuatan yang juga sangat menyakiti dia, dikehidupan sebelumnya. Sekarang giliran kita yang harus membayar rasa sakit itu oleh perbuatan dia. Dalam ajaran aliran Buddha disebut karma bergilir. Kalau dulu orang tua berujar, jika seorang anak berani kepada orang tuanya,maka kelak dikehidupan anak tersebut juga akan diperlakukan hal yang sama oleh anaknya.

Masalah hutang budi pun oleh Tuhan, diberikan kesempatan bagi orang tersebut untuk membayar kebaikan yang dia telah peroleh kepada orang yang telah memberikan kebaikan tersebut. Mungkin selama ini kita belum mengerti kenapa ada orang yang begitu benci pada kita, tetapi kadang ada orang yang begitu baik dan selalu ingin menolong kita dengan sangat tulus, tanpa pamrih apapun, meskipun kita juga baru mengenal orang tersebut. Semua ini kemungkinan adalah karena kita telah memberikan kebaikan / budi kepada orang tersebut di kehidupan sebelumnya.

Dalam suatu keluarga kenapa seseorang mendapat seorang anak cacat bawaan lahir, atau kenapa seseorang menikah dengan si A dan bukan si B yang dia cintai dengan sepenuh hati, adalah karena hutang budi atau hutang karma kita sendiri di kehidupan kita sebelumnya.
 

Semua sebab dan alasan penentuan takdir atas diri seseorang, dilihat dari sejarah seseorang dari seluruh masa kehidupan yang telah dilalui, bukan tanpa sebab dan bukan suatu kebetulan Tuhan memberikan takdir bagus kepada si A atau takdir buruk kepada si B, itulah kenapa Tuhan disebut sebagai Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana.

Oleh sebab itu takdir yang telah diberikan kepada kita untuk dijalani, maka jalani saja dengan wajar, jika kita mempunyai keterikatan yang sangat kuat untuk mengupayakan semua keinginan dan nafsu keduniawian kita agar terwujud, salah-salah kita hanya akan menambah dosa yang baru, dan itu berarti hanya akan menmbah penderitaan yang baru pula di kehidupan kita.

Lantas kemana kelak kita akan pergi setelah kematian kita ? Bukankah dalam agama juga selalu diajarkan untuk mengumpuilkan pahala dengan banyak berbuat baik, dan menghindari perbuatan buruk? Semua ini adalah untuk bekal penentuan takdir di kehidupan kita yang akan datang.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Tuesday, September 11, 2012

Kisah Perjuangan Pohon Bambu


Pada suatu waktu aku merasa sangat jenuh dan bosan dengan kehidupan ini dan ingin berhenti dari semuanya, berhenti dari pekerjaan, hubungan, spiritual… dan berhenti untuk hidup.
Aku pergi ke tengah hutan dan ingin berbicara untuk yang terakhir kalinya dengan Sang Pencipta.

“Tuhan, mohon berikan saya satu alasan untuk tetap hidup dan berjuang?”
Ternyata jawaban Maha Pencipta yang Agung sangat mengejutkan….
“Lihat di sekelilingmu, apakah kamu melihat tanaman Semak dan pohon Bambu?

“Ya,” jawabku.

Yang Maha Pencipta mulai bertutur:

“Saat aku menanam benih Semak dan Bambu, aku memelihara mereka dengan sangat baik dan hati-hati. Aku memberi mereka sinar matahari, menyirami dengan air seadil-adilnya. Tanaman Semak tumbuh dengan sangat cepat. Daun-daunnya yang hijau tumbuh rimbun sampai menutupi tanah disekelilingnya. Sedangkan benih Bambu belum memperlihatkan apapun.

Tetapi aku tidak menyerah dan tetap memelihara mereka dengan baik dan adil. Pada Tahun ke-2, tanaman Semak tumbuh makin subur, rimbun dan makin bertambah banyak. Tetapi, benih Bambu tetap belum memperlihatkan tanda-tanda pertumbuhan.

Pada tahun ke-3, benih Bambu masih sama seperti sebelumnya. Tetapi, tetap Aku tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke-4 masih sama saja. Aku bertahan untuk tidak menyerah.

Kemudian, pada tahun ke-5, tunas kecil mulai muncul dari benih bambu. Jika dibandingkan dengan tanaman semak, tunas ini sangat kecil dan sepertinya tidak sebanding dengan tanaman semak.

Tetapi 6 bulan kemudian pohon Bambu tumbuh hingga mencapai ketinggian 100 kaki.

Ternyata Bambu menghabiskan waktu 5 tahun untuk menumbuhkan dan menguatkan akarnya. Akar-akar tersebut membuat Bambu menjadi sangat kuat sehingga kokoh menghadapi keadaan alam yang berubah-ubah. Bahkan pohon Bambu sangat berguna untuk kehidupan.

Aku tidak akan memberikan cobaan yang lebih berat dari kemampuannya kepada ciptaanku.”

Aku terdiam. Menyimak baik-baik.

“Anakku, apakah kamu sadar, selama ini kamu telah berjuang dan memperkuat akar? Aku tidak menyerah saat menanam benih dan memelihara pohon Bambu, begitu juga denganmu. Jangan membandingkan dirimu dengan yang lain. Bambu mempunyai fungsi yang berbeda dengan Semak, tetapi tetap mereka membuat hutan menjadi indah. Waktumu akan tiba dan kamu akan tumbuh dengan tinggi.”

“Tetapi, seberapa tinggi saya harus tumbuh?” tanyaku.

Maha Pencipta menjawab: “Seberapa tinggi pohon Bambu tumbuh?”

“Apakah setinggi kemampuan dan usahanya?” tanyaku lagi

“Benar Anakku. Berusahalah sebaik dan semaksimal mungkin.”

Kemudian aku pergi meninggalkan hutan dengan membawa kisah ini. Aku harap kisah ini dapat membantumu melihat bahwa Tuhan tidak pernah menyerah untukmu.

Jangan pernah menyesali setiap hari dalam hidupmu. Hari-hari yang baik memberi kebahagiaan; hari-hari yang buruk memberi pengalaman tak ternilai; keduanya sangat berharga.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Friday, August 10, 2012

DIALOG IMAJINER ANTARA TUHAN DENGAN MANUSIA (Sebuah Perenungan)

Man :Tuhan…. Apa yang PALING MENGHERANKAN bagi-Mu tentang kami “MANUSIA”?

GOD : Kalian itu makhluk yang “ANEH”….
#Pertama, suka MENCEMASKAN MASA DEPAN, sampai LUPA dengan HARI INI…Sehingga kalian LUPA BERSYUKUR dan BERUSAHA.
#Kedua, kalian HIDUP di dunia seolah-olah KEKAL TIDAK akan MATI. Kalian LEBIH BANYAK mengumpulkan BEKAL hidup di DUNIA, daripada BEKAL setelah MATI. Padahal hidup di DUNIA hanyalah SEMENTARA, dan hidup SETELAH MATI adalah KEKEKALAN. #Ketiga, kalian cepat BOSAN sebagai ANAK-ANAK dan TERBURU-BURU ingin DEWASA, namun setelah DEWASA kalian KEKANAK-KANAKAN : suka bertengkar, ngambek, dan ribut karena soal soal sepele.
#Keempat, kalian RELA KEHILANGAN KESEHATAN demi MENGEJAR UANG, tetapi kemudian membayar dengan UANG untuk mengembalikan KESEHATAN.
#Kelima, kalian lebih TABAH manakala Aku UJI dengan KEMELARATAN dan PENYAKIT dibandingkan saat Aku uji dengan banyak rizki dan kesehatan. Kala kalian MELARAT dan SAKIT, kalian LEBIH DEKAT kepada-Ku dengan ibadah dan doa. Padahal Aku SENANG bila kalian MENDEKAT kepada-Ku, tapi kalian tidak suka dengan KEMELARATAN dan PENYAKIT tersebut. Hal-hal itulah yang membuat hidup kalian SUSAH.

Man : Lantas apa nasihat Tuhan agar kami bisa hidup BAHAGIA ?

GOD : Sebenarnya semua nasihat sudah pernah diberikan. Inilah satu lagi keanehan kalian : SUKA MELUPAKAN nasihat-Ku. Baiklah Ku ulangi lagi ya beberapa nasehat yg penting:
1. Kalian harus sadar bahwa MENGEJAR RIZKI adalah sebuah KESALAHAN. Yang seharusnya kalian lakukan ialah MENATA DIRI agar kalian LAYAK dikucuri rizki. Ingat, rizki berasal dari-Ku. Jadi JANGAN MENGEJAR RIZKI, tetapi biarlah RIZKI yang MENGEJAR kalian.
2. Ingat : “SIAPA” yang kalian miliki itu LEBIH BERHARGA dari pada “APA” yang kalian punyai. Memilik “SIAPA” akan mendatangkan “APA”, Kehilangan “SIAPA” akan kehilangan “APA” juga…Tetapi bila kamu kehilangan “APA” masih ada “SIAPA” yang akan membantumu. Jadi, PERBANYAKLAH teman, JAUHI permusuhan… 3. Jangan bodoh dengan CEMBURU dan membandingkan yang dimiliki orang lain, BERSYUKURLAH dengan apa yang telah kalian terima. Karena semuanya akan ditanya DARIMANA kamu dapatkan dan UNTUK APA dibelanjakan.
4. Ingat orang KAYA bukanlah dia yang berhasil mengumpulkan harta yang paling banyak, tetapi adalah dia yang PALING “SEDIKIT” MEMERLUKAN hartanya, sehingga masih sanggup MEMBERI kepada sesamanya.source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Saturday, August 4, 2012

Mencari Tuhan Di Penggorengan Pisang Raja

Ada salah satu prilaku kita yang sering terjadi adalah “Ngurusi yang bukan urusannya”, dampaknya adalah hidup tidak tentram. Hidup tidak tentram, akan berdampak pada kesehatan diri maupun kesehatan tatanan masyarakat.

Ada empat kelompok kehidupan manusia;
(1) Hidup tentram dengan berkelimpahan harta;
(2) Hidup tidak tentram dengan berkelimpahan harta;
(3) Hidup tentram dengan tidak berkelimpahan harta; dan
(4) Hidup tidak tentram dengan tidak berkelimpahan harta.

Kesempatan ini, akan diambil kasus masalah “hidup tentram dengan tidak berkelimpahan
harta”, tidak berkelimpahan harta dalam tulisan ini, bukan berarti hidupnya kekurangan, namun hidup yang tidak berkelebihan harta berlimpah ruah, namun ketentramannya sangat berlimpah ruah.
Tulisan ini sudah diterbitkan di Harian Waspada pada tanggal 26 Mei 2008, dihalaman
bisnis dan teknologi, dengan judul “Mencari Tuhan di Penggorengan Pisang Raja”, maaf kami belum bisa menyebutkan penulisnya, sebab sampai sekarang belum menemukan penulisnya.

Sore hari terasa lezat jika disisipi beberapa potong pisang goreng dan teh manis hangat. Setelah lelah berdiri beberapa jam menyampaikan materi pelatihan, laju mobil mengantarkan saya ke sebuah warung gorengan yang tidak jauh dari komplek perhotelan mentereng di negeri ini. Kaca mata bisnis saya selalu saja senang memperhatikan geliat orang-orang yang berani menolong diri sendiri dan keluarganya melalui usaha halal dalam bentuk apapun. Melihat warung ini, saya mencoba mengkalkulasikan kira-kira berapa besar nilai bisnisnya.

Bagaimana pengelolaannya, bagaimana pemasarannya, teknik jual si pelayan dan berbagai hal-hal teoritis lainnya. Seorang paruh baya menyodorkan sepiring pisang goreng ke hadapan saya sambil tersenyum ramah dan berbasa-basi mempersilahkan saya untuk mencicipinya sekaligus menanyakan minuman apa yang saya minati. Pemilik wajah yang begitu teduh dan damai itu bernama Sudiro yang akhirnya saya tahu bahwa panggilan akrabnya adalah Wak Diro.

Menikmati pisang goreng terasa lebih hangat dengan obrolan ringan bersama Wak Diro.
Dalam guyonan yang mengalir saya tahu ternyata Wak Diro adalah perantau asal Kudus yang sudah 16 tahun menjual gorengan pisang. Dalam satu hari ia bisa menghabiskan satu tandan besar dan hasil penjualannya bisa menyekolahkan ke empat anaknya hingga menjadi sarjana. Wak Diro rupanya jebolan fakultas teknik universitas negeri tertua di Jogjakarta, walau ia hanya bisa sampai semester 5.

“Kenapa tidak bisnis yang lain Wak? Atau menjadi pegawai negeri?” tanya saya menyelidik. Belum sempat menjawab pertanyaan saya, ia menundukkan badan tanda permisi kepada saya karena datang satu mobil Kijang Inova baru yang mendekat. Ternyata mobil itu dikemudikan oleh istrinya yang mengantarkan sesuatu.
Pikiran saya berputar tak tentu. Tanpa sadar saya sedang menakar kantong orang tua ini. “Seorang penjual pisang goreng mampu menguliahkan keempat anaknya hingga sarjana dan kini didepan mata saya, si Istri datang dengan mobil baru yang tidak murah harganya”.

Bukan cari uang.

Sekali lagi saya jarah lagi semua sudut warung kecil itu. Penataan dagangan lumayan menarik, tetapi tidak istimewa. Kualitas produknya berupa gorengan juga terasa sama seperti pisang goreng ditempat lain. Atmosfir warung juga sama seperti warung-warung lain, walau yang ini terlihat lebih bersih dan terjaga. Sarana promosi sangat sederhana, hanya tulisan Pisang Goreng Panas yang ditulis tangan dengan kuas biasa. Daftar harga tercetak di selembar kertas terlaminasi yang ditempel di dinding sebelah kiri. Ada dua orang pegawai yang membantu menggoreng, membuat minuman dan melayani pelanggan sekaligus. Tetapi jumlah pembelinya silih berganti, tidak sederas air pancuran, tetapi datang satu-satu seperti tiada henti.

Tak lama kemudian istri Wak Diro pergi, kata Wak Diro, istrinya harus mengantar beberapa kertas tisue ke lima cabangnya yang lain. Dan informasi itu membuat saya memilih untuk bertahan lebih lama demi mengetahui apa rahasia sukses bisnis ini.

Setelah melewati beberapa basa-basi, lalu ia bertanya kepada saya, “Mas, sampean apa
percaya sama Gusti Allah?”. Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karena saya tidak bisa memperkirakan kemana arah pemikirannya.

Lalu tanpa menunggu jawaban saya, Wak Diro menjelaskan bahwa dalam 8 tahun terakhir Ia tidak lagi mencari uang semata, tapi Ia mencari Tuhan. “Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah”.

Seperti pengakuan kebanyakan manusia, Ia meyakini bahwa hanya Tuhan yang sanggup mengarahkan dirinya kepada kondisi apapun.”Mas, saya bukan jualan pisang goreng
lho”, aku Wak Diro, “Saya ini sedang membantu orang-orang agar bisa beribadah dengan baik”. “Wow…” pikir saya, apakah penjual pisang goreng ini masih waras?

“Saya ini senang membantu banyak orang dengan mengganjal perutnya agar ibadah shalat Ashar dan Maghrib-nya berjalan dengan baik, karena jam makan malam biasanya setelah Shalat Isya” terang Wak Dirno. Saya mulai memahami apa maksud kalimat Wak Diro sebelumnya, “Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah”.

Kini saya paham, mengapa ia begitu ramah menyambut tamu-tamunya, kualitas gorengan tetap terjaga baik ukuran maupun takarannya dan ruangan kedai ini tetap terjaga kebersihannya. Jelas bukan karena sekadar mencari uang, tetapi Wak Diro sedang beribadah. Mencari keridhaan Tuhan. Seperti dijanjikan Allah ketika kita bersyukur, maka nikmat itu terus bertambah dan mengalir lancar.

Saya benar-benar terbayang betapa saya dan banyak sahabat saya yang kerja mati-matian siang -malam hanya sekadar mencari uang. Bayangan itu begitu asam terasa setelah mendengar pengakuan Wak Diro itu. Betapa Wak Diro sudah menemukan kunci dasar sukses bisnis. Ia tidak sekadar menjual jajanan, ia muncul dengan alasan yang lebih
mulia. Pisang goreng hanya media mendapatkan ridha Sang Khalik. Semua bentuk kerja dan bisnis dikerjakannya dengan menghadirkan batin, tulus dan iklas.

Khawatir

“Bagian saya adalah mempermudah ibadah orang lain, bagian Gusti Allah menjaga saya Mas”
“Saya hanya pasrah dan memohon agar selalu dituntun Gusti Allah” aku Wak Diro. “Apapun langkah saya, saya percaya Gusti Allah akan menyelamatkan saya. Jika saya dibawa ke kubangan kerbau sekalipun, saya tetap percaya kalau itu adalah kehendak Gusti Allah dengan maksud tertentu agar saya mendapatkan hikmah atas perjalanan itu”.

Menyelesaikan pisang terakhir, saya bertanya, “Wak, apakah sampean tidak khawatir dengan kenaikan BBM?”, dengan ringan Wak Diro menjawab, “Lha wong, saya sudah serahkan hidup saya ke Gusti Allah, kok mesti kuatir?”. Sambil mengulurkan uang kembalian ke saya, ia berujar, “Saya kan cuma kawulo, apakah pantas kalau saya ikut campur tangan ‘ngatur kerjaan Kanjeng Gusti?”

Hidup adalah pilihan, kita bisa memilih hidup tentram atau hidup sengsara. Ketentraman dan kesengsaraan fokus utamanya bukan terletak di banyak atau sedikitnya
harta, namun lebih terletak pada “Kita mau menyerahkan hidup ke yang mengurus kehidupan atau tidak”. Itu saja pilihannya..

Kita itu sering aneh, selalu ngurusi yang bukan urusannya. Berani menghadapi hidup tentram, tanpa selalu merasa terhimpit aneka permasalahan! !!
Bagaimana Pendapat anda ???
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Kayu Ajaib

Alkisah

Pada Zaman Bani Israel, ada seorang lelaki shalih yang hendak berdagang. Akan tetapi, dia tidak mempunyai modal. Akhirnya, lelaki itu meminjam uang kepada seorang saudagar yang dikenal pemurah. Dia meminta pinjaman sebesar seribu dinar.

Karena jumlahnya sangat banyak, saudagar yang dipinjami uang itu berkata,”Kau akan aku pinjami uang, tetapi carilah orang yang akan menjadi penjaminmu. Jika kau tidak bisa membayar, orang itu yang akan membayarnya!”

Lelaki shalih itu menjawab,“Cukuplah Allah sebagai penjaminku. Allah Makakaya dan Mahakuasa!”

Saudagar itu lalu menukas,”Kalau begitu, carilah saksi. Agar jika terjadi apa-apa dia bisa menjadi saksi yang adil.”

Lelaki shalih itu menjawab.“Cukuplah Allah sebagai saksiku. Dia Maha Melihat dan Maha Mengetahui.”

“Kau Benar.”

Lalu, saudagar itu meminjamkan uang seribu dinar setelah membuat kesepakatan bahwa tiga bulan kemudian uang itu harus sudah di kembalikan, karena uang itu akan digunakan.

*****

Lalu, lelaki shalih itu membelanjakan uang seribu dinar itu untuk membeli barang-barang dagangan. Dia hendak berdagang ke negeri seberang dengan menggunakan kapal. setelah berlayar berhari-hari, kapal itu sampai di negeri seberang dengan selamat. Dia disana, dia memulai berdagang di sebuah pasar, dekat dermaga. Dalam waktu satu bulan, dagangannya telah habis. Dia mendapatkan keuntungan besar, yaitu tiga kali lipat dari modalnya.

Setelah berkemas, dia mencari kapal ke dermaga. Namun, dia tidak menemukan kapal yang berlayar ke negerinya. Kemudian, dia teringat pada janjinya yang akan mengembalikan uang itu pada awal bulan. Waktunya tinggal empat hari. Sedangkan untuk sampai ke negerinya, dia memerlukan waktu empat hari. Dia bingung, seharusnya, hari itu dia sudah mulai berlayar.

Lalu, dia terus berjalan sepanjang pantai untuk mencari nelayan yang bisa mengantarkan pulang ke negerinya. Akan tetapi, dia tidak menemukannya. Dia menangis dan bingung. Dia tidak ingin mengkhianati janjinya.

Akhirnya, dalam kesedihannya, dia melihat septong kayu terapung di pinggir pantai. Dia mengambil kayu itu dan membawanya ke penginapannya.

Dia lalu pergi ke pasar untuk membeli alat pelubang kayu. Kayu itu dia lubanginya. setelah itu di menulis surat,
Saudarakau, aku tulis surat ini empat hari sebelum hari jatuh tempo pembayaran uang yang aku pinjam seperti yang telah kita sepakati dulu.
Aku tidak tahu apakah surat ini sampai kepadamu atau tidak. aku sepenuhnya menyerahkan urusan ini kepada Allah yang menjadi penjaminku.
Saat ini, sebenarnya aku ingin berlayar pulang untuk mengantarkan uang ini. Namun, itu tidak bisa dilakukan karena tidak ada kapal yang berlayar. Kapal yang akan berlayar ke negeri kita adanya satu bulan lagi. Ini seribu dinar aku titipkan kepada Allah untuk disampaikan kepadamu melalui kayu ini.

Wassalam,
Sahabatmu.

Lalu, dia memasukkan surat itu bersama uang seribu dinar. Surat dan uang itu, dia bungkusnya dengan kantong yang tidak tembus air. Setelah itu, dia menggergaji kayu untuk menyumpal lubang itu. Kemudian, dia memakunya kuat-kuat.

Setelah semuanya selesai, di pergi ke pantai untuk menghanyutkan kayu itu, seraya berdoa,”Ya Allah, Engkau tahu kalau aku meminjam uang seribu dinar kepada Fulan. Di bertanya padaku orang yang bisa menjadi jaminanku, dan aku menjawabnya. ‘Cukup Allahlah yang menjadi penjaminku. ‘Lalu, dia meminta saksi aku katakan,‘Cukup Allahlah yang menjadi saksiku.’ Dia pun ridha kau sebagai penjamin dan saksiku. Dia telah meminjamiku seribu dinar untuk dikembalikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bisa pulang guna membayarkan hutang ini, tetapi tidak bisa karena tak ada kapal. Sekarang, aku titipkan uang seribu dinar ini kepada-Mu untuk Kau sampaikan kepadanya, tepat pada waktunya. Engkaulah Tuhan yang Mahakuasa. Amin”

Lalu, dia menghanyutkan kayu itu ke laut. Dia hanya berdiri diam di tepi pantai, sampai kayu itu hilang ditelan ombak di tengah laut.

Pada hari yang telah dinantikan, saudgar yang memberi pinjaman itu, menanti di dermaga. Dia menanti datangnya kapal yang membawa orang yang telah dia pinjami uang seribu dinar. Dia ingin mengambil uangnya karena ada keperluan.

Biasanya, kapal itu datang pagi hari. Namun, pagi itu tidak ada kapal yang datang.Dia menunggu sampai sore. Namun, tidak ada juga kapal yang datang. Dia pun pasrah jika seandainya uang itu tidak kembali, dia niatkan sebagi sedekah.

Sebelum pulang, dia melihat ada kayu terapung diterjang ombak di pantai. Daripada pulang tidak membawa hasil, dia memungut gelondongan kayu itu. “Lumayan, bisa untuk kayu bakar di rumah,” pikirnya. Dia pun membawa kayu itu kerumah.

Sampai di rumah, dia meletakkan kayu itu di dapur. Melihat kayu gelondongan itu, istrinya berkata,”Sebaiknya di pecah-pecah sekalian. Biar cepat kering dan besok bisa di gunakan memasak.”

Lalu saudagar itu mengambil sebuah kapak dan memecah kayu itu. Begitu kayu itu pecah, dia tercengang melihat kantong yang ada di dalamnya. Dia memungut kantong itu dan mengeluarkan isinya. Ternyata, kantong itu berisi uang sebanyak seribu dinar dan selembar surat.

Dia membaca surat itu dengan seksama. Dia terharu dan takjub. Seketika, dia menangis dan bersujud kepada Allah. Dia merasa, betapa maha kuasanya Allah. Allah tidak pernah mengecewakan hamba-hamba-Nya yang bertawakal dan percaya sepenuh hati kepada-Nya. Surat itu datang dari saudaranya. Dia pun berdoa semoga saudaranya yang masih tertinggal di negeri seberang sehat wal afi’at dan mendapat rezeki yang lancar.

Satu bulan kemudian, lelaki shalih itu pun datang dan langsung menuju rumah saudagar itu guna mengembalikan uang yang telah ia pinjam. Pertama-tama dia meminta maaf kalau kedatangannya telat dan berarti telat pula bayar hutang kepadanya. Lalu dia menyodorkan uang seribu dinar kepada saudagar itu.

Saudagar itu berkata,”Bukankah kau telah membayarnya?”

“Kapan?”

“Bukankah kau telah menitipkannya lewat sepotong kayu glondongan itu?”

Lalu saudagar itu menceritakan perihal kayu itu yang dia temukan; yang di dalamnya ada uang seribu dinar dan surat.

Mendengar ceritanya, lelaki shalih itu seketika bertasbih, “Subhanallah, Mahasuci Allah!”
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Monday, July 30, 2012

Apa Tuhan Itu Ada ?


Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ke tanah air. Sesampainya dirumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, Guru atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut.

Pemuda: Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab
pertanyaan-pertanyaan saya?
Guru: Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya
akan menjawab pertanyaan anda

Pemuda: Anda yakin? sedang Profesor dan banyak
orang pintar saja tidak mampu menjawab
pertanyaan saya.

Guru: Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya

Pemuda: Saya punya 3 buah pertanyaan

Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya
Apakah yang dinamakan takdir
Kalau setan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syetan Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?
Tiba-tiba Guru tersebut menampar pipi si Pemuda
dengan keras.

Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah
kepada saya?

Guru: Saya tidak marah…Tamparan itu adalah
jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang anda
ajukan kepada saya

Pemuda: Saya sungguh-sungguh tidak mengerti

Guru: Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda: Tentu saja saya merasakan sakit

Guru: Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?

Pemuda: Ya

Guru: Tunjukan pada saya wujud sakit itu !

Pemuda: Saya tidak bisa

Guru: Itulah jawaban pertanyaan pertama: kita
semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu
melihat wujudnya.

Guru: Apakah tadi malam anda bermimpi akan
ditampar oleh saya?

Pemuda: Tidak

Guru: Apakah pernah terpikir oleh anda akan
menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?

Pemuda: Tidak

Guru: Itulah yang dinamakan Takdir

Guru: Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan
untuk menampar anda?

Pemuda: kulit

Guru: Terbuat dari apa pipi anda?

Pemuda: kulit

Guru: Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda: sakit

Guru: Walaupun Setan terbuat dari api dan Neraka
terbuat dari api, Jika Tuhan berkehendak
maka Neraka akan Menjadi tempat menyakitkan
untuk setan.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Wednesday, July 18, 2012

Do'a Yang Indah

Aku meminta kepada Tuhan untuk menyingkirkan
penderitaanku.
Tuhan menjawab, Tidak.
Itu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi agar kau
mengalahkannya.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menyempurnakan
kecacatanku.
Tuhan menjawab, Tidak.
Jiwa adalah sempurna, badan hanyalah sementara.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menghadiahkanku
kesabaran.
Tuhan menjawab, Tidak.
Kesabaran adalah hasil dari kesulitan; itu tidak
dihadiahkan,itu dipelajari.
Aku meminta kepada Tuhan untuk memberiku
kebahagiaan.
Tuhan menjawab, Tidak.
Aku memberimu berkat, kebahagiaan adalah
tergantung padamu.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menjauhkan
penderitaan.
Tuhan menjawab, Tidak.
Penderitaan menjauhkanmu dari perhatian dunia
dan membawamu mendekat padaKu.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menumbuhkan
rohku.
Tuhan menjawab, Tidak.
Kau harus menumbuhkannya sendiri, tetapi Aku akan
memangkas untuk membuatmu berbuah.

Aku meminta kepada Tuhan segala hal sehingga aku
dapat menikmati hidup.
Tuhan menjawab, Tidak.
Aku akan memberimu hidup, sehingga kau dapat
menikmati segala hal.

Aku meminta kepada Tuhan membantuku mengasihi
orang lain, seperti Ia mengasihiku.
Tuhan menjawab Ahhh, akhirnya kau mengerti.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Thursday, July 5, 2012

Porsi Ujian Tuhan

Ketika kita ditimpa musibah, bencana, atau keadaan yang sulit, banyak dari kita yang meratapi nasib dan menyalahkan Tuhan.

Kenapa harus saya yang mengalami ini?
Kenapa bukan orang lain saja?
Apa salah saya hingga Tuhan membiarkan saya mengalami musibah ini?
Bagaimana bisa melanjutkan hidup dalam keadaan seperti ini?
Mengapa hidup orang lain tampak begitu mulus dan mudah? Tuhan tidak adil!
Depresi, kecewa, dan putus asa menghantui diri kita. Namun, jika mau berpikir kembali, bijaksanakah kita kalau selalu menyalahkan keadaan? Apakah masalah akan selesai jika hanya menyalahkan keadaan?
Tidak ada suatu apapun yang kebetulan di dunia ini. Segalanya telah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Sekecil apapun kejadian itu, tentu merupakan kehendak-Nya. Tuhan selalu punya alasan mengapa Dia memberikan keadaan demikian kepada kita. Cermati, sesungguhnya Tuhan ingin Anda mempelajari hikmah dari kejadian tersebut.

Tuhan tidak akan memberi cobaan yang tidak bisa dilewati oleh hamba-Nya. Karena itu, percayalah. Mengapa Tuhan memilih Anda untuk menjalani keadaan sulit yang Anda rasakan, adalah karena Tuhan tahu bahwa Anda mampu melewatinya. Jika orang lain yang mengalami apa yang Anda alami, belum tentu mereka bisa sekuat Anda saat ini.

Setiap kesukaran yang kita alami adalah semata-mata kesempatan untuk mengasah kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Seorang sarjana bekerja sebagai pegawai kantoran dengan gaji tiga juta per bulan. Di lain pihak, seorang berijazah SMP mampu menghidupi keluarga lewat usaha tambak ikan dengan penghasilan berkali lipat. Ya, kesulitan memperoleh pekerjaan sering kali membuat kita berpikir lebih keras, bagaimana cara memperoleh uang. Jika setiap masalah kita hadapi dengan pikiran positif, tentu hasil yang positif juga akan kita dapatkan.

Hidup adalah untuk menyelesaikan masalah. Meski tampak bahagia di luar, setiap orang pasti memiliki masalah sendiri. Ada seorang gadis berparas cantik dari keluarga berkecukupan. Apapun yang ia inginkan hampir selalu didapatkannya. Ia memiliki kekasih yang tampan dan perhatian, di samping masih banyak pria lain yang juga memujanya. Bahagiakah hidupnya? Tidak! Kedua orang tuanya telah lama bercerai, jika bertemu pun sikapnya seperti kucing dan anjing. Masing-masing telah menikah lagi. Tak ingin memilih salah satu pihak, akhirnya si gadis dan adiknya yang masih SMA, memilih untuk tinggal berdua saja.

Coba Anda tengok orang-orang yang tampak bahagia. Pasti akan Anda temukan satu sisi yang membuat orang itu merasa hidupnya tidak sempurna. Begitu pun dengan diri Anda sendiri. Jika saat ini Anda merasa punya masalah, selesaikanlah dengan tawakal tanpa pernah mengeluh. Itulah ujian yang Tuhan berikan sesuai dengan porsi kemampuan Anda.
Semoga bermanfaat.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Saturday, June 16, 2012

PENGUSAHA KOMA

sebuah cerita penggugah hati, silahkan simak,..
Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke.
Sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Di saat orang-orang
terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.

Malaikat memulai pembicaraan, "Kalau dalam waktu 24 jam ada
50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup. Dan
sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum
terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!

"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang .. . " kata si pengusaha ini dengan yakinnya.

Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam
sebelum batas waktu yang sudah disepakati.

Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan
antusiasnya si pengusaha bertanya, "Apakah besok pagi aku sudah
pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit".

Dengan lembut si Malaikat berkata, aku sudah berkeliling mencari
suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi. Rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu".

Tampa menunggu reaksi dari si pengusaha, si malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya.
Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2
orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka".

Kata Malaikat, "Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu
memberikanmu kesempatan kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu"

Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, "
Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu. Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah. Hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri."

Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya
semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat".

Melihat peristiwa itu, tampa terasa, air mata mengalir di pipi
pengusaha ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini bahwa dia bukanlah suami yang baik. Dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya..
Malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi,
melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini,penyesalan yang luar biasa. Tapi waktunya sudah terlambat ! Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang !

Dengan setengah bergumam dia bertanya,"Apakah diantara karyawanku,
kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?"

Jawab si Malaikat, " Ada beberapa yang berdoa buatmu.Tapi mereka tidak Tulus. Bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini. Itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik. Bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah". Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia. Tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.

Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu ! ! Kau tidak jadi meninggal,karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00".

Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya
siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.

Bukankah itu Panti Asuhan ? kata si pengusaha pelan. "Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri. "

"Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalauseorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU. Setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu. "

Doa sangat besar kuasanya. Tak jarang kita malas. Tidak punya waktu. Tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain.

Ketika kita mengingat seorang sahabat lama/keluarga, kita pikir itu
hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia. Mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.

Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan
baru dan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang
terjadi.

Hindarilah perbuatan menyakiti orang lain... Sebaliknya perbanyaklah berdoa buat orang lain.

Karena pahlawan sejati, bukan dilihat dari kekuatan phisiknya,tapi
dari kekuatan hatinya. Katakan ini dengan pelan, "Ya ALLAH, hamba
mencintai-MU dan membutuhkan-MU, datang dan terangilah hati kami sekarang...!!!".
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Thursday, June 14, 2012

Peluk Aku

Waduh masih seminggu lagi gajiannya. Bulan ini pengeluaran tak terdugaku bukan main banyaknya. Ada saja biaya tambahan yang harus dikeluarkan. Ibu yang sakit, saudara yang butuh bantuan, dan masih banyak lagi. Uang hanya tinggal Rp. 50.000,- lagi, padahal 7 hari lagi baru terima gaji. Kepalaku pusing tujuh keliling. Bagaimana mengelola kebutuhanku selama seminggu ini, terutama untuk makan dan transport. Aku memeriksa persediaan makanan di dapur. Dan yang kutemui hanya beras yang kurasa cukup untuk seminggu. Hatiku sedikit lega. Lauk pauk, tak usah terlalu repot. Aku bisa makan dengan garam, kecap atau bawang goreng atau sambal. Sayuran ada disekitar halaman rumahku, ada kemangi, ada daun kencur, ada kangkung darat, ada cabai, ada tomat. Lumayan pikirku.
Aku bergegas menuju mobil tuaku, untuk segera berangkat ke kantor. Kulihat bensin, ternyata masih penuh, dan membuat aku jadi semakin lega. Paling tidak aku bisa bertahan beberapa hari, itu kalau hanya perjalanan dari rumah ke kantor. Dalam mobil aku berdoa, memohon agar Tuhan memimpin hariku dan menjaga aku agar tidak berbuat dosa, dan yang paling penting, peka terhadap kehendak-Nya.

Tanpa terasa aku sudah sampai di kantor, dan kesibukan rutin seperti hari-hari lalu mulai kujalani. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, ketika rekan-rekan sedivisi mengajak aku makan siang. Kutolak dengan halus, mengingat uang yang tinggal sedikit itu. Kupikir aku sudah membawa nasi dan lalapan, cukup kan untuk makan siang hari ini. Tapi ternyata mereka tidak setuju dengan penolakan ku, alasannya demi kebersamaan. Akhirnya aku terpaksa mengikuti mereka, sambil berdoa semoga uangku cukup untuk hari-hari kedepan.

Kami semua sampai di Bakmi GM, blok M, dan sudah mendapatkan meja. Entah mengapa, hatiku gundah sekali. Tapi rasanya bukan karena uang yang tinggal sedikit. Ada kerinduan amat sangat, ada rasa lapar, ada rasa kesepian, aku ingin dipeluk, aku ingin disapa, tapi oleh siapa ? . Dan aku tahu itu bukan perasaanku sebenarnya. Aku berdoa sejenak dalam hati, memohon agar aku peka akan kehendak-Nya. Seperti ada yang menarik, aku beranjak dari tempat duduk ku dan pergi keluar restauran. Kemudian aku menyeberang jalan, dan persis di depan pagar gereja Effata, jantungku berdebar keras, mataku mencari-cari, tanpa tahu persis siapa yang aku cari. Sekejap mataku langsung menatap seorang lelaki muda yang tampaknya tanpa busana, dan menutupi badannya dengan kardus. Matanya nanar, bersimbah air mata. Tangannya tidak tengadah sebagaimana pengemis yang meminta-minta pada orang yang lalu lalang. Bibirnya gemetar, seperti menahan dingin dan lapar. Hatiku teriris, mataku berlinang air mata, dan entah mengapa aku berjalan dengan cepat menuju tempatnya berdiri. Kupeluk ia dengan kencang, sambil berbisik, kukatakan bahwa aku mengasihinya. Tindakanku ini sama sekali bukan karena aku baik, tapi lebih didorong oleh perasaan dalam hatiku yang sulit kujelaskan. Aku tersenyum padanya dan menyuruhnya untuk tetap tinggal disitu sementara aku pergi.

Setengah berlari aku pergi ke dalam pasar, untuk membeli kaos, celana pendek, sarung, sandal jepit, serta nasi bungkus. Kubelanjakan seluruh uangku, dan lucunya masih kembali sebesar Rp. 10.000 rupiah. Namun aku tidak sempat berpikir lama, segera kuambil barang-barang itu dan berlari kembali ke tempat dimana lelaki muda itu berada. Aku membantunya mengenakan pakaiannya, dan menuntun tangannya yang gemetar untuk membuka nasi bungkus dan air minumnya. Tidak ada rasa jijik, tidak ada rasa malu, tidak ada rasa apapun dalam diriku, kecuali rasa kasih yang luar biasa. Setelah beberapa suap, ia mulai tidak lagi gemetar, tapi matanya tetap berair. Katanya, ia berdoa pada Tuhan, supaya Tuhan mau peduli padanya, mau memeluknya, sekalipun ia sudah menjadi orang yang terbuang dan terlupakan. Aku terdiam, sungguh tak dapat berkata apapun. Perasaan yang ada padaku adalah perasaan DIA, yang peduli terhadap anaknya yang terbuang. Kugenggam tangannya dan kuberikan sisa uang Rp. 10.000,- tadi, sambil berkata bahwa aku tidak punya apa-apa yang berharga untuknya. Lalu ia menatapku dengan senyum bahwa ia sudah menerima lebih dari yang diharapkannya. Ia cuma minta dipeluk, cuma minta disapa, sebagaimana manusia lainnya. Lalu aku memohon diri padanya, dan meminta ia untuk selalu berpengharapan pada Tuhan. Kalau IA sudah mengirimku untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya, IA pasti akan memelihara dia. Ia mengangguk, dan melambaikan tangan, dan aku menangkap sukacita yang dirasakannya.

Aku kembali ke restauran, dan kulihat sudah ada mie kesukaanku diatas meja. Kulahap habis tanpa basa basi, tanpa juga mengingat uang yang sudah tidak kumiliki. Pikirku, IA pasti memeliharaku. Benar saja, setelah selesai temanku mentraktir kami, karena ternyata ia mendapat promosi jabatan hari ini.

Hari ini aku begitu bahagia, sekalipun tak sepeser pun uang ada padaku. IA menunjukkan padaku bahwa IA memeliharaku. Baik bensin di mobil tuaku, maupun persediaan makanan ku habis persis saat aku gajian. Ajaib ya …IA sungguh Allah yang ajaib dan IA benar-benar mengasihiku. Aku teringat firman-Nya dalam Matius 25 : 36-40, “Ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya : Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum ? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian ?. Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau ?. Dan Raja itu akan menjawab mereka : Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Sekarang aku tahu apa arti firman itu bagiku. IA telah mengajarkan padaku untuk melakukannya, tanpa perlu merasa kuatir, serta percaya penuh atas penyelengaraan-Nya. Aku bersyukur dan dalam hati berjanji, untuk selalu peka terhadap kehendak-Nya. Terima kasih Tuhan, bisikku lirih.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Wednesday, June 13, 2012

Dari Pengkotbah Cilik Jadi Pengidap HIV/AIDS

Pada tahun 1983, kota Tarutung, Sumatera Utara dibuat heboh oleh seorang anak balita bernama Kaleb Otniel Hutahaean yang dapat menyembuhkan orang sakit hanya dengan berdoa. Dalam waktu singkat namanya menyebar ke berbagai pelosok Indonesia, dan undangan berkotbah untuk Kaleb pun mulai membanjir.

“Orang otomatis mulai mengenal nama saya, dalam satu bulan bisa kurang lebih dua puluh harian di luar rumah,” jelas Kaleb.

Diusianya yang baru tiga tahun, Kaleb sudah harus melayani panggilan berkotbah ke berbagai penjuru kota di Indonesia. Karena hal ini, orangtua Kaleb menitipkannya ke salah satu kerabat di Jakarta.

Sekalipun Kaleb menjadi anak ajaib yang dipakai Tuhan untuk menyembuhkan banyak orang, Kaleb tetap berprilaku seperti anak pada umumnya.

“Kalau dia habis kotbah, dia turun, dia langsung main-main seperti biasa,” jelas Ibu Hutapea, ibu angkat Kaleb yang mengurusnya saat itu.

Selama sepuluh tahun lamanya, Kaleb memberitakan firman Tuhan dengan tekun dan dipakai Tuhan untuk menyembuhkan banyak orang. Namun tidak ada orang yang tahu bahwa ada sebuah pergolakan terjadi di lubuk hatinya.

“Banyak hal yang saya tidak mengerti, mengapa saya harus menjalani kehidupan yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Ketika saya berdoa dan bertanya pada Tuhan, sepertinya Tuhan juga terdiam dan tidak menjawab. Akhirnya saya mencari jawaban-jawaban itu dengan cara saya sendiri.”

Hingga satu titik, Kaleb sudah tidak tahan lagi dan meminta ijin pada orangtuanya untuk berhenti dari pelayanan. Orangtua Kaleb dengan penuh pengertian mengijinkannya, dan Kaleb pun akhirnya bisa menjalani kehidupan normal yang ia impikan.

Ditengah masa remajanya itu, sama seperti anak-anak lain, Kaleb pun melakukan pencarian akan jati dirinya. Namun karena salah pergaulan, ia terperosok pada perangkap narkoba.

“Saya waktu itu memiliki banyak waktu luang dan ngumpul dengan teman-teman. Otomatis ngga mungkin kita ngga ngerokok, ngisep ganja bareng-bareng itu sudah pasti. Suka ngga suka, itu sudah merupakan lambang pergaulan. Kalau ngga begitu, ya ngga punya teman. Ada perasaan bangga yang sebenarnya semu, pada akhirnya saya bisa berontak, keluar dari image anak baik-baik,” demikian Kaleb mengungkapkan masa kelamnya.

Petualangan Kaleb tidak berhenti disitu, ia mulai mencoba putaw dan jarum suntik. Baginya saat itu narkoba lebih penting dari pada makan. Tapi semua itu tidak memberinya kebahagiaan, hati kecilnya berbisik dan membuatnya menyadari apa yang ia lakukan adalah salah, namun Kaleb seperti tak berkutik karena telah menjadi budak narkoba.

“Seringkali saya merasa jijik dengan diri sendiri. Di dalam diri ini menuduh, seharusnya saya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik dari ini. Ada keinginan untuk kembali lagi ke dalam rangkulan Tuhan, hanya pada waktu itu saya tidak tahu bagaimana caranya.”

Orangtua Kaleb melihat keadaan anaknya sudah tidak terkendali lagi, untuk itu mereka mengambil langkah untuk membawa Kaleb ke panti rehabilitasi.

“Saat di panti rehabilitasi itulah saya ketemu dengan salah seorang mentor baru dimana kami banyak berbincang-bincang dan berdiskusi. Ada suatu kesan dia itu seperti sahabat, dan banyak menasihati saya dari kebenaran firman Tuhan.”

Persahabatannya dengan sang mentor membawa Kaleb kepada sebuah wawasan baru ketika suatu saat ia mencobai sang mentor.

“Saat itu saya di ruang isolasi, saya minta rokok sama dia.”

Sang mentor saat itu berkata, “Ini yang pertama kali dan yang terakhir kali, saya tidak akan pernah lagi beli.” Namun justru peristiwa itu mengubah Kaleb.

“Justru peristiwa ketika dia kasih rokok sama saya membuat saya merasa, ‘Ini dia sebenarnya yang saya cari. Ketulusan yang seperti ini. Orang yang ngga menggurui dan sungguh mengerti kondisi saya.’ Dari situ saya memutuskan untuk berhenti merokok, saya berhenti narkoba dari free sex, karena saya sudah menemukan hati Bapa ketika saya bergaul dengan mentor saya, Redolius,” kenang Kaleb.

Sembuh dari kecanduannya akan narkoba, Kaleb pun memutuskan untuk mencari kehidupan yang baru di sebuah komunitas. Dikomunitas itulah, Kaleb memutuskan untuk menjadikan hidupnya lebih baik. Empat tahun ia jalani dalam keadaan bebas dari keterikatan pada narkoba dan seks bebas serta memberikan hidupnya untuk melayani masyarakat pra sejahtera bersama teman-temannya di komunitas itu, namun sesuatu yang tidak pernah ia duga terjadi.

“Didapati paru-paru kanan saya bolong besar, paru-paru kiri saya bolong kecil-kecil.” Dokter yang menangani Kaleb menyatakan bahwa ia mengidap TBC kelenjar, TBC paru, ada jamur ditubuhnya yang merajalela dan mengalami serangan semacam asma. Namun semua penyakit itu belumlah cukup, vonis dokter yang terakhir ini membuat seakan dunia yang ia miliki hancur.

“Saya positif HIV/AIDS..”

Kaleb bertanya-tanya, mengapa semua itu diijinkan terjadi saat ia sudah bertobat dan sudah kembali melayani Tuhan. Namun dalam kondisinya yang sudah dekat dengan maut saat itu, ia tidak menyalahkan Tuhan.

“Saya menyadari betul siapa saya. Saya sadar perbuatan saya dan saya percaya bahwa Tuhan tidak pernah merencanakan sesuatu yang buruk untuk kehidupan saya.”

Selama berminggu-minggu kondisi Kaleb terus menurun, bahkan untuk bernafaspun ia sulit sekalipun sudah dibantu dengan tabung oksigen. Teman-teman sepelayanan Kaleb terus berdoa dan memberikan semangat kepada Kaleb, mereka memohon kepada Tuhan agar Kaleb diberi kesempatan kedua.

Dukungan yang diberikan oleh rekan-rekannya membuat semangat hidup bagi Kaleb, “Tuhan, kalau Tuhan kasih kesempatan untuk keluar dari ruangan ini, saya akan membuat suatu pertarungan yaitu the last battle yang benar-benar dasyat dan luar biasa. Lalu saya menerima suatu rhema dari Amsal, yaitu ‘Seperti orang yang membuat perhituangan dengan dirinya demikianlah dia.’ Dari ayat itu saya renungkan, saya belajar, baru saya dapati : oh.. ternyata untuk bangkit dari sini saya harus membuat perhitungan yang benar dulu dengan diri saya. Maka dari situ saya mulai mengubah paradigma saya, tidak lagi melihat HIV ini sebagai suatu penghukuman, bukan lagi suatu kutuk, tapi saya melihat HIV ini sebagai suatu kesempatan untuk memuliakan nama Tuhan. Saya melihat ini sebagai suatu amanah, saya melihat ini sebagai suatu tugas. Justru saya melihat seluruh kondisi kehidupan saya ini sebagai suatu kesaksian hidup untuk bercerita kepada orang bahwa pengharapan itu ada.”

Perubahan paradigma pada diri Kaleb membawa perubahan bagi tubuhnya, kondisinya mulai membaik. Setelah menjalani perawatan selama tiga bulan di rumah sakit, hasil cek kesehatan Kaleb menunjukkan sebuah perubahan yang luar biasa. Lobang pada paru-paru kiri dan kanannya telah tertutup semua, bahkan dokter yang melihat hasil roentgen-nya tidak percaya dengan hasil yang ada dan memerintahkan untuk memeriksa ulang.

“Terakhir dia cuma nanya sama saya, ‘Kamu beli nyawa berapa ratus juta?’ Saya cuma tersenyum saja.”

Virus HIV yang merupakan bayang-bayang kematian bagi Kaleb tiba-tiba tidak terdeteksi lagi, bahkan dokter menyatakan bahwa kesehatannya sama seperti orang yang tanpa HIV.

“Hal pertama yang timbul dalam pikiran saya saat itu adalah: ternyata pengharapan itu sungguh ada. Sesudah saya mengetahui fakta-fakta medis yang sangat memuaskan seperti itu, membuat saya semakin bergairah menjalani hidup saya.”

Mengalami mukjizat kesembuhan yang luar biasa itu, membuat Kaleb memutuskan sebuah komitmen yang baru.

“Dulu waktu saya kecil saya melayani berdasarkan kasih karunia, bukan kehendak saya. Komitmen saya kepada Tuhan setelah Tuhan percayakan kehidupan yang kedua ini pada saya, ialah saya melayani dengan hati.”

Perjalanan hidupnya ketika menjalani hidup yang baru ini tidaklah semudah membalik telapak tangan. Masih ada godaan dari teman-temannya yang masih menggunakan narkoba, namun dengan kasih karunia Tuhan dia mampu menolak semua itu. Hatinya tidak lagi tertarik dengan semuanya itu.

“Satu alasan mengapa saya tidak kembali ke kehidupan saya yang lama adalah karena kehidupan yang saya jalani sekarang lebih baik daripada kehidupan saya yang dulu,” ungkap Kaleb sambil tersenyum. (Kisah ini ditayangkan 16 Februari 2011 dalam acara Solusi Life di O’Channel.

Sumber Kesaksian:

Kaleb Otniel Hutahaean

source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Malaikat Berseragam

Ini adalah kisah keluarga yang diceritakan ayahku tentang ibunya, yakni nenekku.

Pada tahun 1949, ayahku baru pulang dari perang. Di setiap jalan raya Amerika, terlihat tentara berseragam meminta tumpangan pulang ke keluarganya, seperti kebiasaan di Amerika saat itu.

Sedihnya, kegembiraan reuni bersama keluarganya kemudian dinaungi kegelapan. Nenekku sakit parah dan harus masuk rumah sakit. Ginjalnya sakit, dan para dokter memberitahu ayahku bahwa nenek harus segera ditransfusi darah atau ia tak akan bertahan melewati malam itu. Masalahnya, golongan darah nenek itu AB, golongan yang langka, bahkan juga sekarang, tapi waktu itu lebih sulit lagi diperoleh karena tak ada bank darah maupun pesawat untuk mengirimkannya. Semua anggota keluarga dites, tapi tak satu pun memiliki golongan darah yang cocok. Jadi para dokter tak memberi harapan pada keluarga, nenekku akan meninggal.
Sambil menangis, ayahku meninggalkan rumah sakit untuk menghimpun seluruh anggota keluarga, supaya semuanya bisa mendapat kesempatan untuk berpamitan dengan nenek. Saat ayahku mengendarai mobil di jalan raya, ia melewati seorang tentara berseragam yang minta tumpangan pulang. Dengan duka yang dalam, saat itu ayahku tak beniat beramal. Tapi, seakan ada sesuatu di luar dirinya yang menyuruhnya berhenti, dan ia menunggu orang asing itu naik mobil.

Ayahku terlalu sedih untuk menanyakan nama tentara itu sekalipun, tapi tentara itu langsung melihat air mata ayahku dan menanyakannya. Sambil menangis ayahku bercerita pada orang asing ini bahwa ibunya terbaring sekarat di rumah sakit karena dokter tak dapat menemukan golongan darahnya, AB dan jika sampai malam tiba golongan darah itu belum ada, ibunya tentu akanmati.

Suasana di mobil menjadi hening. Lalu, tentara tak dikenal ini menjulurkan tangannya pada ayahku, telapak menengadah. Pada telapak tangannya terdapat kalung tentara dari lehernya. Golongan darah pada kalung itu adalah AB. Tentara itu menyuruh ayahku membalikkan mobil dan membawanya ke rumah sakit.

Nenekku hidup hingga tahun 1996, empat puluh tujuh tahun kemudian, dan sampai saat ini tak seorangpun keluarga kami yang mengetahui nama tentara itu. Tapi ayahku sering bertanya-tanya, apakah orang itu tentara atau malaikat berseragam?

Jeannie Ecke Sowell
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Sembuh

Di sebuah desa yang sama, tinggal Abdul, Ali, dan Karim. Abdul adalah seorang tukang batu, dia juga punya kebiasaan buruk yaitu bermabuk-mabukan dan tidur dengan wanita-wanita tuna susila.

Ali adalah seorang petani. Dia adalah seorang pekerja keras dan cukup taat dengan agama. Dia bekerja mengelola sawah dan ladangnya dari pagi hingga sore. Pada saat panen, tak lupa ia menyisihkan sepersepuluh hasil ladangnya untuk orang-orang tidak mampu.

Karim adalah seorang Imam. Ia sangat dikenal di desa itu karena ceramah-ceramahnya yang motivatif. Banyak orang kembali bertobat pada Tuhan saat mendengar ceramahnya. Ia adalah seseorang yang total melayani Tuhan.
Pada suatu hari, nasib yang cukup aneh menimpa mereka. Mereka bertiga terjangkit penyakit lepra. Karena sudah peraturan adat, mereka bertiga harus segera diasingkan dari desa tersebut. Penduduk kawatir mereka akan menyebarkan penyakit mengerikan itu. Sebuah gubug kecil pun dibuatkan oleh warga di pinggiran desa, dan mereka bertiga tinggal disana.

Suatu malam, mereka bertiga mendapatkan mimpi sama. Di dalam mimpi itu mereka mendengar Tuhan berkata, “Berdoalah, maka kalian akan sembuh.” Mereka pun segera melaksanakan apa yang dikatakan oleh mimpi tersebut. Setiap pagi dan malam mereka selalu berdoa meminta kesembuhan.

Setelah tiga hari, Abdul si pemabuk itu akhirnya sembuh. Dia segera pulang ke desa dan merasa sangat yakin bahwa Tuhan lebih menyayanginya dari pada dua orang yang lain itu.

Setelah tiga bulan, Ali si petani juga sembuh. Dia juga segera pulang ke desa dan terheran-heran mengapa Tuhan lebih sayang kepadanya dari pada si Karim yang notabene seorang Imam. “Reputasi suci imam itu pasti palsu !” gumamnya pada dirinya sendiri. Petani tersebut juga masih bertanya-tanya kenapa si pemabuk malah sembuh lebih dulu.

Tahun demi tahun pun berlalu. Karim si Imam tidak lelah berdoa kepada Tuhan untuk meminta kesembuhan, namun kesembuhan itu tak kunjung tiba. Tak ada lagi orang-orang yang datang menjenguknya. Bahkan wajah dan tubuhnya sekarang sudah berubah menjadi mengerikan.

Pada suatu malam, si Imam tersebut akhirnya bermimpi lagi. Ia bermimpi mendengar suara Tuhan berkata,”Karim, aku tahu hatimu terusik dengan peristiwa ini, engkau tentu ingin tahu kenapa si pemabuk dan si petani itu kubiarkan sembuh terlebih dulu.”

Tuhan melanjutkan,

“Aku menjawab doa Abdul si pemabuk dengan cepat karena imannya. Percaya kepada-Ku selama tiga hari adalah seluruh Imannya. Jika Aku menundanya, mungkin dia akan putus asa lalu bunuh diri. Untuk si petani, aku menunda kesembuhannya selama tiga bulan, karena dia memiliki kepercayaan yang lebih besar kepada-Ku. Tetapi setelah tiga bulan, maka keyakinannya akan hilang dan dia bisa bertindak nekat juga.. Apakah engkau bisa mengerti ?”

Tuhan kembali melanjutkan,

“Karena engkau adalah imam-Ku yang setia, aku tidak bisa mengabaikan doamu. Engkau adalah teman-Ku dan engkau sangat memahami hati-Ku. Buktinya, semakin lama Aku menunda kesembuhanmu, keyakinanmu padaku malah semakin dalam. Bahkan sekarang engkau sudah tidak peduli lagi apakah engkau akan sembuh atau mati, engkau hanya ingin berdoa pada-Ku. Engkau tetap beriman pada-Ku tanpa peduli apapun yang terjadi padamu. Aku telah menjadi segala-galanya bagimu.”

Besok paginya, Imam itu terbangun dan ia telah sembuh dari penyakit lepranya. Dan untuk pertama kalinya dia menyesali kesembuhannya.

(Disadur dari “Greater Than Our Hearts”, Nill Guilemetee, Manila, 1988)
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com