Showing posts with label Kisah tentang Semangat. Show all posts
Showing posts with label Kisah tentang Semangat. Show all posts

Monday, December 5, 2011

Bob Willen : Kisah Penyandang Cacat Yang Pantang Menyerah



Lomba marathon internasional 1986 di New York diikuti ribuan pelari dari seluruh dunia. Lomba ini berjarak 42 km. mengelilingi kota New York. Jutaan orang di seluruh dunia menyaksikan acara ini melalui televisi secara langsung.

Ada satu orang peserta yang menjadi pusat perhatian di lomba tersebut, yaitu Bob Willen. Bob seorang veteran perang Vietnam. Ia kehilangan kedua kakinya karena terkena ranjau saat perang. Untuk berlari, Bob menggunakan kedua tangannya untuk melemparkan badannya kedepan.

Lomba pun dimulai. Ribuan orang mulai berlari secepat mungkin ke garis finish. Wajah mereka menunjukkan semangat yang kuat. Para penonton terus bertepuk tangan mendukung para pelari. 5 km telah berlalu.

Beberapa peserta mulai kelelahan, mulai berjalan kaki. 10 km berlalu. Saat ini mulai nampak siapa yang mempersiapkan diri dengan baik, dan siapa yang hanya sekedar ikut untuk iseng-2. Beberapa yang kelelahan memutuskan untuk berhenti dan naik ke bis panitia.

Sementara hampir seluruh peserta telah berada di kilometer ke-5 hingga ke-10, Bob Willen masih berada di urutan paling belakang, baru saja menyelesaikan kilometernya yang pertama. Bob berhenti sejenak, membuka kedua sarung tangannya yang sudah koyak, menggantinya dengan yang baru, dan kemudian kembali berlari dengan melempar-lemparkan tubuhnya kedepan dengan kedua tangannya.

Ayah Bob yang berada bersama ribuan penonton lainnya tak henti-hentinya berseru “Ayo Bob! Ayo Bob ! Berlarilah terus”. Karena keterbatasan fisiknya, Bob hanya mampu berlari sejauh 10 km dalam satu hari. Di malam hari, Bob tidur di dalam sleeping bag yang telah disiapkan oleh panitia yang mengikutinya.

Empat hari telah berlalu, dan kini adalah hari kelima bagi Bob Willen. Tinggal dua kilometer lagi yang harus ditempuh. Hingga suatu saat, hanya tinggal 100 meter lagi dari garis finish, Bob jatuh terguling. Kekuatannya mulai habis. Bob perlahan-2 bangkit dan membuka kedua sarung tangannya. Nampak di sana tangan Bob sudah berdarah-darah. Dokter yang mendampinginya sejenak memeriksanya, dan mengatakan bahwa kondisi Bob sudah parah, bukan karena luka di tangannya saja, namun lebih ke arah kondisi jantung dan pernafasannya.

Sejenak Bob memejamkan mata. Dan di tengah2 gemuruh suara penonton yang mendukungnya, samar-samar Bob dapat mendengar suara ayahnya yang berteriak “Ayo Bob, bangkit ! Selesaikan apa yang telah kamu mulai. Buka matamu, dan tegakkan badanmu.

Lihatlah ke depan, garis finish telah di depan mata. Cepat bangun ! Jangan menyerah! Cepat bangkit !!!”
Perlahan Bob mulai membuka matanya kembali. Garis finish sudah dekat. Semangat membara lagi di dalam dirinya, dan tanpa sarung tangan, Bob melompat- lompat ke depan. Dan satu lompatan terakhir dari Bob membuat tubuhnya melampaui garis finish. Saat itu meledaklah gemuruh dari para penonton yang berada di tempat itu. Bob bukan saja telah menyelesaikan perlombaan itu, Bob bahkan tercatat di Guiness Book of Record sebagai satu-satunya orang cacat yang berhasil menyelesaikan lari marathon.

Di hadapan puluhan wartawan yang menemuinya, Bob berkata “SAYA BUKAN ORANG HEBAT. ANDA TAHU SAYA TDAK PUNYA KAKI LAGI. SAYA HANYA MENYELESAIKAN APA YANG TELAH SAYA MULAI. SAYA HANYA MENCAPAI APA YANG TELAH SAYA INGINKAN. KEBAHAGIAAN SAYA DAPATKAN ADALAH DARI PROSES UNTUK MENDAPATKANNYA. SELAMA LOMBA, FISIK SAYA MENURUN DRASTIS. TANGAN SAYA SUDAH HANCUR BERDARAH-DARAH. TAPI RASA SAKIT DI HATI SAYA TERJADI BUKAN KARENA LUKA ITU, TAPI KETIKA SAYA MEMALINGKAN WAJAH SAYA DARI GARIS FINISH. JADI SAYA KEMBALI FOKUS UNTUK MENATAP GOAL SAYA. SAYA RASA TIDAK ADA ORANG YANG AKAN GAGAL DALAM LARI MARATHON INI. TIDAK MASALAH ANDA AKAN MENCAPAINYA DALAM BERAPA LAMA, ASAL ANDA TERUS BERLARI. ANDA DISEBUT GAGAL BILA ANDA BERHENTI. JADI, JANGANLAH BERHENTI SEBELUM TUJUAN ANDA TELAH TERCAPAI”

*****

Sumber: http://ceritainspirasi-arif.blogspot.com
source : ahmadchandra.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Monday, April 11, 2011

Wow, Kakek 100 Tahun Kembali ke Bangku Kuliah (Semangat Menuntut Ilmu tanpa Kenal Usia)



Seorang laki-laki manula India berusia 100 tahun kembali ke bangku kuliah dan ingin membuktikan bahwa manusia tidak pernah terlalu tua untuk belajar.

Bholaram Das merayakan ulang tahun ke-100 minggu lalu, dan untuk memperingati usianya itu dia mendaftarkan diri di program doktor di negara bagian Assam di kawasan timur laut India.
"Kalau anak saya bisa mendapat gelar doktor pada usia 55 tahun, kenapa saya tidak bisa di usia 100 tahun?" kata Das, yang diperkirakan menjadi mahasiswa tertua India.
Das pernah mendekam di penjara karena menentang kekuasaan penjajah Inggris tahun 1930 dan kemudian bekerja sebagai guru, pengacara dan hakim di Assam sebelum akhirnya pensiun di tahun 1971.
Bholaram Das berusia 19 tahun ketika dia dijebloskan ke penjara karena menentang pemerintah kolonial Inggris. Dia divonis kerja paksa selama dua bulan dan setelah dibebaskan dia melanjutkan kuliah jurusan bisnis dan ilmu hukum. Setelah itu Das bergabung dengan partai Kongres India.
Dia mengatakan kepada BBC dia gembira bisa kembali belajar. "Saya sudah ingin melakukannya sejak saya menyelesaikan studi S2 saya jurusan bisnis dari Universitas Kalkuta di akhir tahun 1930-an, tetapi pada saat itu saya tidak bisa melanjutkan."
"Saya menjadi aktif terlibat dalam politik, masuk penjara, kemudian saya harus bekerja."
Program doktor yang dia ambil akan mengharuskan Das melakukan banyak studi lapangan, wawancara dan menulis tesis.
Tetapi kakek berusia 100 tahun itu tidak gentar terhadap tantangan tersebut, dan ambisinya tidak pernah hilang selama ini. Dia mengaku tidak sabar menambahkan gelar "DR" di depan namanya.
Keluarganya mengatakan awalnya ketika Das mendaftar ke Universitas Guwahati untuk masuk dalam program doktor selama dua tahun, universitas tersebut menerimanya dengan dingin.
"Universitas tidak mau menyetujui rangkuman rencana tesis yang dia ajukan. Tetapi dia mempertahankan topik itu dalam debat dengan para dosen. Mereka kemudian mengubah keputusan mereka dan menerimanya," kata putra Das, BK Das.
"Sekarang setelah dia mulai mengumpulkan materi penelitian, saya, adik-adik saya dan anggota keluarga yang lain bertanggung jawab membantunya," ujar BK Das.
Untuk program S3 Bholaram Das berencana mempelajari subyek yang dekat dengannya, penyebaran neo-Vaishnavisme, aliran liberal agama Hindu yang dianggap berhasil menghancurkan perpecahan sosial di Assam.
"Kami akan bergiliran mengantar ayah ke berbagai biara Vaishnavite dan ke tempat-tempat studi lapangan lainnya. Ini merupakan bagian penting dari penelitian ayah," kata BK Das.
Cucu Bholaram Das, Abhinab, seorang ahli komputer muda, mengaku terkejut atas berita kakeknya kembali ke bangku kuliah.
"Waktu saya pertama kali mendengar rencana itu, saya tidak menganggap serius, karena menurut saya tidak mungkin."
"Saya bahkan tidak berusaha mencari tahu tentang rencana itu. Namun waktu ayah saya menelepon dan menceritakan bahwa kakek sudah mendaftar masuk program S3, saya waktu itu tidak percaya," kata Abhinab.


Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/10/21/176714/39/6/Wow-Kakek-100-Tahun-Kembali-ke-Bangku-Kuliah
source : ahmadchandra.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Friday, April 8, 2011

Buta Mata, Tapi tak Buta Al-Qur’an (Ghulam, Kami Pantas Iri Padamu)

Sebut saja ia dengan nama “Ghulam”. Salah seorang temanku yang diuji oleh Allah dengan satu kekurangan, ia buta. Tapi dibalik kekurangan itu terdapat begitu banyak kelebihan yang ada pada dirinya. Itulah hikmah dan kehendak Allah yang tidak seorangpun bias lepas dari kehendak-Nya.
Dengan segala keterbatasan yang ada pada dirinya, ia tetap tegar dan gagah dalam menjalani hidup ini. Ia tidak minder apalagi rendah diri dengan keadaannya. Suatu hari kebetulan kelas kami mengadakan acara mendaki gunung. Diluar dugaan kami, Ghulam menyatakan diri untuk tetap ikut. Bersama teman-temannya dahulu, ternyata ia telah menaklukkan dua gunung. Subhanallah....dengan keadaannya yang seperti itu ia melewati medan yang tidak hanya terjal, tetapi juga sempit karena berupa jalan setapak dengan jurang yang dalam di kanan-kirinya. Meski kadang harus tersandung, tergelincir, terperosok dan terjungkal namun itulah konsekwensi yang memang dengan sadar ia ambil, bahkan itu hal biasa bagi dia. Andai ia tidak ikut pun teman-teman pasti bisa memakluminya. Tetapi dengan azzamnya yang begitu kuat, ia telah mampu menaklukan gunung yang tinggi menjulang.

Satu obsesinya yang lain adalah ia ingin menjadi hafidzul qur’an, hafal Al-Qur’an 30 juz. Keinginan itu telah tertanam dalam sanubarinya sejak lama bak akar tunggang yang menancapa kuat ke tanah. Sebuah obsesi yang sangat mulia yang tidak semua orang memilikinya. Walaupun indra penglihatannya tidak berfungsi, jari-jemarinya ditambah mata batinnya seringkali lebih tajam dan peka daripada kita yang sempurna secara fisik. Hari-harinya diisi dengan meraba ayat-ayat al Qur’an Al Karim dalam bentuk Braille. Ayat demi ayat ia hafalkan, terkadang ia meminta bantuan teman untuk membacakan satu ayat kemudian ia hafalkan. Putus asa..? Kiranya kata itu tidak ada dalam kamus hidupnya. Bahkan keluh kesah pun tidak pernah terucap dari lisannya. Syukur dan sabar adlah kendaraan pribadinya yang salalu ia bawa kemana pun ia pergi. Dia sadar kalau hidup ini hanya sementara, maka seluruh apa yang dimilikinya akan dipersembahkan untuk Ilahi Rabbi, apapun konsekuensinya.

Akhirnya dengan mujahadah yang tak kenal lelah serta tawakal kepada Allah, kurang lebih 2,5 tahun lamanya, cita-cita mulia tersebut menjadi sebuah kenyataan. Ia menjadi hafidz al Qur’an, hafal 30 juz. Sungguh harapannya bukanlah angan semata. Benar-benar sebuah azzam yang sangat kuat hingga melahirkan iradah yang menghailkan buah amal untuk kemudian mampu mewujudkan sebuah impian besar. Ghulam..pantaslah kiranya jika kami iri pada kuatnya azzammu, gigihnya usahamu dan mujahadahnu yang tak kenal lelah.

Umar Abdurrahman (nama hijrah), Solo

Sumber: Majalah Ar-Risalah Edisi 69 Th.VI 1428 H



source : ahmadchandra.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Thursday, March 31, 2011

KISAH SOICHIRO HONDA : “Lihat Kegagalan Saya”

Pengalaman adalah guru yang paling brutal dan kejam.
Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga layak dijuluki “raja jalanan”

Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri “kerajaan” Honda – Soichiro Honda – diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. “Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever. Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia trus bermimpi dan bermimpi…

Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang.

Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri.
Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.

Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.

Kuliah karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah – pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.

“Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya,” ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.

Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.
Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.
Akhirnya, tahun 1947,setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “sepeda motor” – cikal bakal lahirnya mobil Honda – itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok.

Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk Indonesia. Soichiro Honda mengatakan, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya”, tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru dan berusahalah untuk merubah mimpi itu menjadi kenyataan.
Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin. Jadi buat apa kita putus asa bersusah hati merenungi nasib dan kegagalan. Tetaplah tegar dan teruslah berusaha, lihatlah Honda sang ”Raja” jalanan.
5 Resep keberhasilan Honda:
1. Selalulah berambisi dan berjiwa muda.
2. Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu memperbaiki produksi.
3. Senangilah pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja Anda senyaman mungkin.
4. Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis.
5. Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama.

Sumber: http://www.kisahinspiratif.com/soichiro-honda-%E2%80%9Clihat-kegagalan-saya%E2%80%9D.html
source : ahmadchandra.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Friday, February 18, 2011

Seorang nenek berkeliling Rusia dengan Sepeda

Tak ada kata tua untuk dapat berprestasi dan meraih hal yang sensasional, mungkin kata itu sangat pantas ditujukan pada Seorang wanita Rusia bernama Yulia Mikhailyuk yang sudah berusia 70 tahun, bagaimana tidak, hanya dengan mengayuh sepeda, nenek itu berhasil menjelajahi Rusia.


Pensiunan dari kota Tver Rusia itu menghabiskan 3 bulan untuk berkeliling Rusia dengan sepedanya, dengan berbekal tekad yang kuat serta makanan dan uang secukupnya, ia memulai petualangan yang tak akan dapat dilupakan. Ia mengawali petualangan bersepedanya dari kota Tver di daerah Rusia tengah dan berakhir di Petropavlovsk-Kamchatsky on the Kamchatka peninsula, yaitu sebuah wilayah yang berada di ujung Timur negara Rusia, Total nenek ini sudah menempuh perjalanan lebih dari 8.000 kilometer dengan sepedanya.




Nama Yulia Mikhailyuk kini tercatat di Russian Guinnes book of records sebagai salah satu penjelajah sepeda tertua di rusia, Bahkan perjalanan bersepeda sepanjang 8.000 kilometer ini bukanlah yang pertama baginya, sebelumnya ia pernah bersepeda sampai 20.000 kilometer beberapa tahun yang lalu. Weleh weleh.....

Dan walaupun sudah mencatat banyak prestasi, ia masih tetap belum puas, ia berencana untuk melakukan penjelajahan yang lebih extreme lagi

“Everybody says I’d better stay with my grandsons and knit socks for them… but my daughters-in-law think the opposite. They say: ‘Yulia Ivanovna, we’re so lucky to have such a good mother like you’,” begitulah jawabnya saat ditanya oleh Russian First Channel perihal petualanganya.

Memang prestasi tak hanya dapat diraih di waktu muda, di waktu tua pun kita tetap bisa berprestasi asalkan mau berusaha dan mempunyai tekad yang kuat.

 Sumber: http://sekedar-tahu.blogspot.com/2010/07/seorang-nenek-berkeliling-rusia-dengan.htmlsource : ahmadchandra.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com