Showing posts with label Kisah Hidayah. Show all posts
Showing posts with label Kisah Hidayah. Show all posts

Monday, March 28, 2011

Permata (Sebuah kisah Tentang Menghargai Wanita)

Seseorang yang pernah belajar di Amerika menceritakan kisah unik ini kepada saya. Ada salah seorang muslim yang hidup di Amerika, setiap hari pergi ke super market dan membeli semua kebutuhan. Sewaktu di meja kasir yang kebetulan adalah seorang wanita- dia meletakkan uangnya diatas meja dan tidak menyerahkannya ke tangan wanita tersebut. Hal itu terjadi berulang kali pada kasir yang sama. Hal ini membuatnya berpikir, apakah ada yang salah pada dirinya sehingga orang itu tidak mau menyentuh tangannya? Atau apa?
Dia terus merasa heran dan berpikir setiap kali mengalami kejadian itu, sampai akhirnya dia memutuskan untuk bertanya kepada pembeli tersebut.

Suatu hari dia mengikuti orang tersebut dan menghentikannya untuk bertanya, “Mengapa anda meletakkan uang diatas meja dan tidak menaruhnya di tangan saya?” Dengan bangga orang itu menjawab, “Karena kami muslim. Agama kami menyuruh memperlakukan wanita sepeti permata yang sangat berharga.Yaitu permata yang tidak boleh disentuh oleh siapapun selain pemiliknya. Seandainya permata-permata itu berpindah tangan, niscaya ia akan kehilangan nilainya.” Jawabannya membuat wanita itu kagum terhadap agama ini dan dia memutuskan untuk mengenal lebih jauh tentang Islam. Alhamdulillah, wanita itu akhirnya masuk islam berkat beberapa kalimat dan kejadian sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat agung.

Demikianlah saudaraku,

Sebuah tindakan yang sederhana tetapi mengandung pelajaran yang berharga. Sebuah sikap memuliakan wanita. Tekadang sebuah tindakan dan perbuatan sederhana yang mencerminkan prilaku islami mampu memberi hidayah kepada orang lain.

Kepada saudari-saudariku,
Semoga engkau menjadi permata yang berkilauan. Yang tidak mudah disentuh kecuali oleh yang berhak. Yang menyadari kemuliannya. Yang menundukkan pandangannya, memelihara auratnya. Yang teguh menjaga kehormatan dan kesuciannya.

Saya bermohon kepada Allah agar kita mendapatkan pertolongan dari Allah untuk melaksanakan apa yang dicintai dan diridai-Nya. Amin.

Ahmad Bin Ismail Khan


Sumber cerita: Mausu'atul qashal mu'atsirah, Ahmad Salim Baduwailan, 2007
source : ahmadchandra.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Thursday, March 3, 2011

BOCAH YANG MEMBERI HIDAYAH AYAHNYA

     Pada suatu hari, bocah kelas 3 SD sedang berada dikelasnya. Pada salah satu mata pelajaran, gurunya berbicara tentang shalat Shubuh, dengan gaya bicara yang membuat bocah-bocah kecil itu merasa terenyuh. Sanga Guru berbicara tentang keutamaan dan pentingnya Shalat Subuh. Si bocah itu mendengarkannya hingga membuatnya terkesan. Karena, ia dan keluarganya belum pernah melaksanakan shalat shubuh berjamaah
.
      Ketika bocah itu pulang kerumah, ia pun berpikir bagaimana caranya agar ia bias bangun untuk melaksanakan shalat shubuh besok. Ia tidak menemukan solusi selain harus tetap terjaga sepanjang malam, sehingga ia bias melaksanakan shalat shubuh. Dan ia benar-benar melaksanakan apa yang ia pikirkan tersebut.

      Tatkala mendengar suara azan, kuncup bunga ini langsung bergerak untuk melaksanakan shalat. Akan tetapi muncul masalah lain di depan sang bocah. Letak mesjidnya jauh dan ia tidak bias pergi sendirian. Bocah itu menangis dan hanya duduk didepan pintu. Tapi, tiba-tiba ia mendengar suara ketukan sandal di jalan. Ia membuka pintu dan bergegas keluar. Ternyata ada seorang lelaki tua sedang berjalan gontai menuju mesjid. Ia memandangi lelaki itu, dan ia mengenalnya. Lelaki itu adalah kakek temannya Ahmad, anak tetangga.

     Bocah itu menyelinap secara sembunyi-sembunyi dan berjalan dengan tenang di belakang si kakek tua, agar tidak merasakan kehadirannya lalu melaporkannya kepada keluarganya dan kemudian mereka pasti akan menghukumnya. Keadaan itu berlangsung cukup lama. Namun, kehidupan tidak berjalan linear dan keadaan pastilah berubah. Kakek tua itu meninggal dunia. Sang bocah mengetahui hal itu dan langsung linglung. Ia menangis tersedu-sedu. Ayahnya merasa heran dan bertantanya kepada: “Anakku, kenapa kamu menangis seperti itu? Dia ( kakek itu) bukan teman sebayamu yang bias bermain denganmu dan bukan keluargamu sehingga kamu kehilangan dia di rumah.

     Bocah itu memandangi ayahnya dengan mata berkaca-kaca dan sorot mata yang sedih. “Seandainya yang mati itu engkau dan bukan dia” katanya. Sang ayah tersentak kaget dan menjadi susah bernafas. Mengapa anaknya berkata seperti itu kepadanya dengan cara yang seperti itu, dan mengapa ia menyukai kakek itu? “Aku kehilangan dia bukan karena itu dan bukan pula karena apa yang kau katakana,” kata bocah itu. “Jadi, karena apa” Tanya sang ayah keheranan. “Karena shalat. Yak arena shalat,” jawab anak itu.

     Ia terus berbicara sambil menelan kesedihannya, “Mengapa ayah tidak shalat shubuh? Mengapa ayah tidak seperti kakek itu. Dan seperti banyak orang lainya yang kulihat?” “Dimana kamu melihat mereka?” Tanya sang ayah. “di mesjid,”jawabnya. “Bagaimana?” Tanya sang ayah. Lalu ia pun menceritakan kisahnya kepada ayahnya. Sang ayah merasa tersentuh dengan cerita anaknya. Kulitnya merinding, dan air matanya hampir jatuh, lalu ia memeluk anaknya. Sejak hari ituia tidak pernah meninggalkan shalat apapun di mesjid.

Sumber: Mausu’atul qashashal mu’atsirah, Ahmad Salim Baduwailan.
                 


source : ahmadchandra.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Tuesday, February 15, 2011

Kisah Unik: Kekuatan Argumen Seorang Bocah



Saya diberitahu oleh seorang kawan yang jujur (seorang wakil kepala sekolah), bahwa dirinya pernah masuk ke sebuah masjid di Riyadh. Ketika sedang melaksanakan shalat Tahiyatul masjid, saya terganggu dengan bau rokok yang sangat menyengat hingga membuyarkan kekhusyu’an saya. Selesai salam, saya menoleh dan menemukan seorang pria mesir yang bibirnya menghitam karena rokok. Saya berkata dalam hati bahwa saya akan menunggu sampai shalat jama’ah selesai lalu saya akan berbicara dan menasehatinya. Namun, saya dikejutkan oleh seorang bocah kecil yang usianya tidak lebih 9 tahun. Bocah itu masuk ke mesjid dan duduk disamping pria tersebut. Kemudian terjadilah dialog diantara mereka sebagai berikut:
Bocah: “Assalamu’alaikum, Paman! Anda dari Mesir?”
Pria: “Ya, aku dari Mesir.”
Bocah: “Anda tahu Syaikh Abdul Hamid Kasyk?”
Pria: “Ya, aku tahu.”
Bocah: “Syaikh Muhammad Al-Ghazali?”
Pria: “Ya, aku tahu.”
Bocah: “Anda pernah mendengarkan kaset-kaset ceramah dan fatwa mereka?”
Pria: “Ya, pernah.”
Bocah: “Baik. Para ulama dan para Syaikh itu semuanya menyatakan bahwa
            rokok itu haram. Mengapa Anda merokok?”
            Pria (mulai gelagapan): “Tidak. Rokok tidak haram.”
            Bocah: “Ya, haram. Bukankah Allah berfirman, “dan Dia mengharamkan hal-hal
            yang kotor bagi mereka.” (QS.Al-A’raf:157)”
            Jika mau merokok, apakah anda membaca bismillah? Dan jika selesai, apakah anda membaca Alhamdulillah?”
            Pria (dengan congkak): “Tidak. Tapi, aku tidak menemukan ayat-ayat yang berbunyi, “Dan Dia mengharamkan rokok bagi kamu.”
            Bocah: “Paman! Rokok itu haram. Sama seperti apel yang juga haram.”
            Pria (sambil marah): “Apel haram? Atas dasar apa kamu menghalalkan dan mengharamkan sesuatu?”
            Bocah: “Tolong tunjukkan pada saya ayat-ayat yang berbunyi: “Dan Dia menghalalkan apel bagi mereka.”
            Pria itu benar-benar gelagapan, bungkam dan tidak bisa berkata-kata, lalu tangisnya meledak. Saat shalat dilaksakan, pria itu masih menangis. Dan setelah selesai shalat pria itu menoleh kerah bocah tersebut dan berkata, “Dengar, nak! Aku bersumpah demi Allah Yang Maha Agung, aku tidak akan merorok lagi selama hidupku.”
             Saudara-saudara! Ini adalah kisah nyata dan unik. Bagaimana mungkin bocah kecil ini bias berbicara dengan kekuatan dan argument yang mengagumkan seperti itu. Lebih-lebih pada zaman sekarang ini zaman Playstation dan hal-hal yang tidak bermutu.

Sumber: Mausu'atul qashal mu'atsirah, Ahmad Salim Baduwailan, 2007.

source : ahmadchandra.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Sunday, February 13, 2011

Muhammad Alexander Pertz: Kisah Bocah Amerika Menemukan Islam dalam Buku

     
 ALEXANDER PERTZ dilahirkan dari kedua orang tua Kristen pada tahun 1990. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis, maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca buku-buku secara mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.
     Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar azan.
    Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslim pun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Muhammad Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah SAW yang dia cintai sejak masih kecil.
Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut balik bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran?” Wartawan itu berkata: ”Tidak.” Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.Bocah itu kembali berkata, ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian?” dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram? Apakah pakaian ihram tersebut mahal? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami?”

       Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (serban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan azan sebelum dia shalat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian shalat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu shalat.”
       Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja?” dia diam sesaat kemudian menjawab.
Bocah itu diam sesaat, kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentang Islam, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku pada Islam.”

Wartawan bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan?”
Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.
”Apa cita-citamu?” tanya wartawan
Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku ingin haji ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.
”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut?” tanya wartawan lagi.
Ibu Muhammad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata: ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.
Kemudian Muhammad meneruskan, ”Aku sudah menabung dengan mengumpulkan sisa dari uang sakuku agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah. Aku mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”
....Aku sudah menabungkan sisa dari uang sakuku agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah. Perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar....
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”
”Apakah cita-citamu yang lain?” tanya wartawan kepada sang bocah.
“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka,” jawab Muhammad.
Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka dia pun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.
Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”
....Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, menghafal Al-Quran, dan belajar di negeri Islam....
”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain?” tanya wartawan lagi.
Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al-Quran.”
“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam?” tanya wartawan
“Tentu!” tukasnya.
”Apakah engkau memiliki kesulitan dalam hal makanan? Bagaimana engkau menghindari daging babi?”
Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku bilang kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”
”Apakah engkau shalat di sekolah?”
”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan. Aku shalat di sana setiap hari,” jawab Muhammad.
Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan, “Apakah engkau mengizinkanku untuk mengumandangkan azan?”
Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan azan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan azan. Subhanallah!! [riafariana/voa-islam.com]


sumber:  http://www.voa-islam.com/news/upclose/2011/01/19/12852/muhammad-alexander-pertz-
             kisah- bocah-amerika-menemukan-islam-dalam-buku/

source : ahmadchandra.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Wednesday, February 9, 2011

AKU MAU MERUSAKNYA, JUSTRU DIA MENYELAMATKANKU

       Aku berusaha mengenang masa lalu untuk,melihat masa kecilku yang polos. Namun, aku juga berusaha lari dari kenangannya, agar aku tidak melihat penderitaan yang aku alami pada masa remajaku. Karena, tatkala usiaku menginjak 15 tahun, aku mengalami pertarungan yang paling dahsyat; pertarungan antara jalan kebaikan dan jalan keburukan. Tapi, sialnya aku justru memilih jalan keburukan. Maka setan pun memberiku selempang yang paling mahal baginya dan jadilah aku sebagai pengikut setianya. Namun tidak lama kemudian, aku belum puas, aku memberontaknya dan dia (setan) berbalik menjadi pengikutku. Aku mengambil jalan keburukan dan mereguk airnya yang pahit, bahkan lebih pahit daripada empedu. Dan demi Allah, tiada hari bagiku tanpa terlibat dalam aksi penghancuran ikatan norma-norma dan nilai-nilai yang luhur. Sampai akhirnya namaku menjadi simbol kejahatan dan kesesatan.
     
      Suatu ketika, perhatianku tertuju pada seorang gadis yang tinggal satu kampung denganku. Dia seringkali memandangiku dengan tatapan mata yang entah apa artinya. Tetapi bukan tatapan mata cinta dan sayang, kendati aku tidak mengenal arti cinta dan sayang karena ketika itu aku tidak punya hati. Pikiranku selalu dihantui oleh tatapan-tatapan yang sering menghentikan langkahku. Sehingga aku pun berhasrat untuk menggaet gadis tersebut. Sesaat kemudian aku mengambil sebuah puisi yang kata orang termasuk puisi cinta. Puisi itu aku kirimkan kepadanya melalui pintu rumahya. Tetapi, aku sama sekali tidak mendapatkan jawaban atau respon apapun darinya.
      
      Setelah kejadian itu aku dikuasai oleh niat jahatku, dan aku bertekad untuk menyesatkan gadis tersebut, suka atau tidak suka. Aku pun mulai menulis puisi tanpa menyebutkan namaku. Akhirnya, dia mendengar kabar itu, namun dia tidak mengambil tindakan apapun.Suatu malam aku pulang pada pukul 04.00 pagi. Aku termasuk orang yang bersembunyi di siang hari dan suka berkeliaran di malam hari. Tiba-tiba di depan pintu rumahku kutemukan sebuah buku tentang dzikir-dzikir Nabi . Mukaku langsung merah. Aku mengumpulkan semua keinginan jahat yang ada di dalam diriku, karena aku tahu bahwa pengirimnya adalah gadis itu. Dia telah menyatakan perang denganku. Ketika itu aku berpikir untuk menulis puisi tentang kisah cinta antara aku dan dia, lalu aku menyebarkannya dikampung kami. Itu berarti aku akan merusak kehormatannya.Aku duduk sambil menangkap ide-ide yang dihembuskan oleh setan kepadaku untuk menulis puisi itu. Setelah selesai menuliskannya aku langsung mengirimnya ke rumah gadis itu dengan sebuah ancaman; puisi itu akan aku sebarkan kepada seluruh kenalanya. Kurir pengantar puisiku datang kepadaku dengan membawa beberapa butir kurma dan mengatakan bahwa hari ini gadis itu berpuasa dan sedang menunggu saat-saat berbuka. "Dia mengirimkan kurma itu kepada anda sebagai hadiah atas puisi yang anda kirimkan kepadanya," ujarnya. "Dan dia juga mengatakan bahwa dia akan berdoa kepada Allah pada saat berbuka puasa agar anda mendapatkan hidayah," sambungnya. Aku langsung mengambil kurma itu dan membuangnya ke tanah. Mataku merah menyala dengan penuh rasa kejahatan, dan aku mengancamnya bahwa cepat atau lambat aku akan membalas kelakuanya. Aku tidak akan pernah membiarkannya berjalan di jalan kebaikan selama aku hidup. Dan aku pun mulai memburunya ketika dia berangkat ke masjid atau pulang dari masjid. Aku melontarkan kata-kata hinaan dan ejekan kepadanya. Gadis-gadis yang bersamanya pada saat itu hanya tertawa terbahak-bahak. Meskipun demikian, ejekan-ejekan tersebut tidak membuat dirinya terusik. Hari-hari berlalu dan aku merasa bahwa semua upayaku untuk menyesatkan gadis itu telah gagal. Dia masih mengirimkan buku-buku kecil tentang agama kepadaku. Dan setiap hari Senin dan Kamis (dia berpuasa), dia tetap mengirimkan kurma kepadaku. Seolah-olah bahasa tubuhnya mengatakan bahwa dia telah berhasil mengalahkan aku. Itulah anggapanku terhadap tindakan-tindakannya.
       
    Beberapa bulan kemudian aku pergi keluar negeri untuk mencari kebahagiaan dan kesenangan duniawi yang tidak kutemukan di negaraku. Aku tinggal di sana sekitar 4 bulan. Selama aku di luar negeri pikiranku selalu dihantui oleh gadis itu. Bagaimana mungkin dia dapat selamat dari semua rencana yang aku buat untuknya? Aku pikir, begitu sampai di negaraku aku akan langsung memulai perang lagi dengannya dengan pola yang jauh lebih keji dan licik. Aku bahkan memutuskan akan membuatnya meninggalkan relijiusitasnya dan beralih mengikuti jalan keburukan. Jadwal kepulanganku tiba. Hari itu adalah hari Kamis, hari saat dia menjalankan ibadah puasa. Ketika disuguhi kopi dan kurma di dalam pesawat terbang, aku meminum kopi itu dan membuang kurmanya. Karena, kurma adalah simbol orang yang puasa dan membuatku teringat pada gadis tersebut.

        Pesawat mendarat di bandara kotaku pada pukul 13.00 siang. Aku naik taksi menuju rumahku. Setibanya di rumah, aku langsung dikunjungi oleh teman-temanku. Mereka mendapat hadiah dariku dan semuanya adalah hadiah-hadiah yang keji. Namun hadiah yang paling mahal dan paling keji aku berikan sebagai hadiah istimewa kepada gadis tersebut. Aku ingin melihat reaksinya setelah menerinma hadiah itu. Aku segera keluar untuk memburu gadis itu di dekat masjid sebelum shalat Maghrib. Aku tahu gadis itu sangat rajin menunaikan shalat di masjid, karena di sana ada jam' iyah (kelompok) khusus wanita untuk menghafal Al-Qur'an. Tidak lama sesudah adzan dikumandangkan, waktu iqamat pun tiba. Tetapi aku tidak melihahatya. Aku terheran-heran dan berkata di dalam hati, "Jangan-jangan gadis itu sudah berubah ketika aku pergi ke luar negeri, dan kini dia menjauhi masjid dan benar-benar menanggalkan relijiusitasnya." Aku pun pulang ke rumah sambil berharap prediksiku itu benar. Dan ketika aku membolak-balik buku-buku di rumahku, tiba-tiba aku menemukan sebuah mushaf (Al-Qur'an) yang bertuliskan "Hadiah untuk anda. Semoga Allah menunjukkan anda ke jalan-Nya yang lurus. Tertanda ... (nama gadis itu)." Aku langsung menjauhkan mushaf itu dariku dan bertanya kepada pembantuku, "Siapa yang membawa mushaf itu ke sini?" Tapi dia tidak menjawab.

      Hari kedua aku keluar rumah. Aku menunggu gadis itu di pintu masjid sambil membawa mushaf yang akan kuserahkan kepadanya. Aku akan katakan juga padanya bahwa aku tidak membutuhkannya, bahkan aku akan menjauhkannya dari mushaf itu dalam waktu dekat. Aku mcnunggu gadis itu, tapi dia tidak datang. Sampai beberapa hari tetap saja hasilnya nihil. Aku tidak pernah melihatnya. Maka aku pergi ke dekat rumahnya dan bertanya kepada anak-anak yang bermain bersama adik-adik gadis itu. "Apakah si fulanah ada?" tanyaku. Mereka malah balik bertanya, "Mengapa anda bertanya seperti itu? Barangkali anda bukan warga kampung ini." Aku menjawab, "Ya, aku warga sini. Tetapi aku membawa surat dari seorang teman untuk gadis itu." Tadinya aku menginginkan agar mereka mengantarkan surat itu kepadanya, tapi mereka mengatakan kepadaku, "Orang yang anda tanyakan itu sudah dipanggil oleh Allah ketika sedang sujud di masjid, lebih dari dua bulan yang lalu."
 
     Saat itu juga aku tidak tahu apa yang menimpaku. Aku merasa dunia berputar-putar dan aku hampir jatuh tersungkur. Hatiku tiba-tiba menjadi lunak dan air mataku pun mengalir. Mata yang sekian lama tidak mengenal air mata, tiba-tiba mengucurkan air mata dengan derasnya. Akan tetapi, untuk apa semua kesedihan ini? Apakah karena kematiannya yang khusnul khatimah, ataukah karena hal lain? Aku tidak bisa konsentrasi dan tidak mengerti apa penyebab dan arti dari kesedihan yang sangat berat itu.
 
     Aku pulang ke rumahku dengan berjalan kaki. Sementara tubuhku limbung, tak tahu arah ke mana akan pergi. Aku lalu duduk sambil mengetuk pintu, sementara kunci pintu ada di dalam sakuku. Aku menjadi lupa dengan segala sesuatu. Aku bahkan lupa siapa diriku. Aku terus-menerus terkenang dengan tatapan gadis itu, ke mana pun aku pergi. Dan setelah itu aku benar-benar yakin bahwa tatapan mata gadis itu bukanlah tatapan mata yang keji atau lainnya, melainkan tatapan mata iba dan kasihan kepadaku.
 
     Dia benar-benar ingin menjauhkan aku dari jalan keburukan. Setelah kematiannya aku memutuskan untuk meninggalkan keluargaku. Aku benar-benar menjauhkan diri dari keluargaku dan semua orang selama lebih dari satu tahun. Aku tinggal di tempat yang jauh dari kampungku, dan keadaanku pun berubah total. Bayangan tentang gadis itu selalu ada di mataku dan tidak pernah meninggalkanku, bahkan di dalam kesendirianku. Aku seakan melihatnya ketika ia pergi ke masjid dan ketika pulang ke rumahnya.
Banyak temanku yang berusaha mencari tahu tentang alasanku menjauhi masyarakat, tentang motivasi dan pilihanku untuk hidup menyendiri. Tetapi aku tidak pernah memberitahu mereka. Sementara mushaf hadiah dari gadis itu selalu bersamaku.Aku menciuminya dan selalu menangis. Pada saat itu aku segera mengambil air wudhu dan berdiri untuk melaksanakan shalat. Tetapi aku jatuh tersungkur. Setiap kali aku berusaha berdiri aku selalu jatuh. Seumur hidupku aku tidak pernah melaksanakan shalat. Aku bcrusaha keras untuk berdiri, hingga Allah menolongku dan aku mampu mengucapkan nama-Nya. Aku memohon dan menangis kepada-Nya agar berkenan mengampuniku dan melimpahkan rahmat-Nya yang luas kepada gadis itu. Gadis itulah yang selalu berusaha memperbaiki aku, sementara aku sendiri berusaha merusaknya. Aku berandai-andai jika dia belum mati, maka tentulah dia sangat bangga melihatku berjalan di jalan yang lurus. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang mampu menolak keputusan Allah.
 
      Akhirnya, aku selalu memanjatkan doa untuknya dan memohon kepada Allah agar senantiasa melimpahkan rahmat kepadanya. Aku juga berharap, mudahan-mudahanaku dapat berjumpa dengannya di tempat yang penuh rahmat-Nya. Dan aku berdoa semoga Allah berkenan membangkitkan aku dan dia bersama hamba-hamba-Nya yang shalih.

( Dinukil dari Mausu’atul qashashal, Ahmad Salim Baduwailan, hal 17)
source : ahmadchandra.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com