Showing posts with label Fabel. Show all posts
Showing posts with label Fabel. Show all posts

Friday, November 9, 2012

KISAH ASAL MULA SHIO 12 BINATANG


Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang dewa. Pada tanggal 31 Desember pagi sebelum tahun baru, Sang Dewa menulis surat kepada binatang-binatang diseluruh negeri. Angin lalu menyebarkan surat-surat itu ke
seluruh negeri.

Dalam sekejap, para binatang menerima surat itu, yang isinya seperti ini:

"Besok pagi di Tahun Baru, aku akan memilih binatang yang paling dahulu datang kesini, dari nomor satu sampai dengan nomor duabelas. Lalu, setiap tahun aku akan mengangkat satu-persatu dari mereka sebagai Jenderal berdasarkan urutan".

Tertanda, Dewa.

Para binatang sangat bersemangat dan tertarik dengan hal itu. Mereka sangat ingin menjadi Jenderal. Waktu itu tikus dan kucing bersahabat baik. Kucing yang suka tidur berkata pada tikus agar jangan sampai lupa membangunkannya untuk berangkat bersama.

Semua binatang bersemangat dan memikirkan tentang kemenangan, dan mereka semua tidur cepat. Hanya kerbau yang langsung berangkat malam itu juga, karena ia sadar bahwa ia hanya dapat berjalan lambat. Tikus melihatnya lalu meloncat dan menumpang di punggung kerbau, tapi Sapi tidak menyadari hal itu.

Pagi harinya, saat hari masih gelap, Anjing, Monyet, Harimau, Naga, Ular, Kelinci, Ayam, kambing dan Kuda semuanya berangkat berlari menuju ketempat Sang Dewa. Babi yang paling berjalan paling pelan berada di urutan belakang. Sedangkan kucing, masih tertidur karena lupa dibangunkan tikus yang sudah berangkat menumpang kerbau.

Saat matahari mulai terbit, yang pertama kali sampai di tampat tinggal Dewa adalah...kerbau. Tapi kemudian Tikus melompat kedepan dan mendarat tepat dihadapan Dewa. Maka Tikus pun menjadi yang pertama.

Selamat Tahun Baru Dewa...kata Tikus kepada Dewa.

Selanjutnya barulah kerbau, harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, kambing, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi datang berurutan. Dengan demikian mereka ditetapkan sebagai pemenang satu sampai dengan duabelas sesuai dengan urutan kedatangannya.

Duabelas ekor binatang ini kemudian disebut dengan 12 Shio Bintang.

Kucing yang tidak berhasil masuk kedalam Dua belas Shio Binatang sampai sekarang masih mengejar Tikus kesana kemari karena telah lupa membangunkannya.source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

KISAH TIKUS DAPAT MEMBUNUH SINGA


Didalam sebuah hutan, hiduplah seekor tikus ahli filsafat. Ia mengetahui satu hal yang tidak pernah diketahui hewan-hewan lain.. Ia yakin bahwa gelisah bisa membunuh seseorang. Sebab, gelisah bisa membunuh
kebahagiaan, memadamkan kilauan cahaya dan menghilangkan kenyamanan. Selain itu, kegelisahan juga bisa menghancurkan akal,hati dan fisik.

Pada suatu hari, ia ingin mengajari teman-teman dan anak-anaknya dengan pelajaran tersebut. Tetapi sang tikus tidak ingin pelajarannya sekadar didengar dan dihafal saja. Ia ingin pelajaran itu dipraktekkan dan tertanam dalam sanubari.

Ketika sedang berceramah dihadapan hewan-hewan tersebut, tiba-tiba muncullah seekor singa. Tikus sang filosof kemudian berkata, "Tuan singa, aku hendak mengatakan sesuatu. Aku berharap engakau mau memberikan jaminan keamanan kepadaku."

Sang singa menjawab, "Aku menjamin keamananmu, wahai tikus yang pemberani."

Tikus kemudian berkata, "Dihadapan semua hewan-hewan ini, aku hendak menyatakan bahwa aku mampu membunuhmu jika engkau memberiku waktu selama sebulan penuh. Seluruh penghuni hutan ini akan melihat hal itu."

Mendengar hal itu, sang singa langsung tertawa. Dengan nada mengejek, dia berkata, "Engkau mau membunuhku?"

"Benar", jawab filosof tikus mantap dan percaya diri.

"Aku setuju. Tetapi jika engkau tidak bisa melakukannya, engkau akan kupancung didepan semua hewan. Waktunya sebulan mulai dari sekarang."

"Baik, aku setuju."

Sepuluh hari telah berlalu dan singa sama sekali tidak pernah memikirkan ancaman tikus tersebut. Akan tetapi, beberapa hari kemudian, terbersit dalam hatinya, "Apa yang sebenarnya hendak dilakukan oleh tikus itu? Kenapa ia kelihatan begitu meyakinkan? Bagaimana kalau ancaman itu benar-benar terjadi?"

Beberapa saat kemudian ia tertawa jungkir balik sambil berkata, "Bagaimana mungkin si tikus mampu membunuhku sedangkan aku punya anak-anak yang akan membelaku? Walaupun ia mengerahkan seluruh tikus yang ada sekalipun, tidak mungkin bisa membunuhku."

Beberapa hari kemudian, bisikan tersebut kembali hadir dalam benaknya. Untuk kali ini, ia merasakan bahwa bisikan tersebut terasa lebih kuat dari sebelumnya.

Waktu terus berjalan dan batas waktu yang ditentukan hampir berakhir. Sementara itu, sang tikus tidak datang untuk mencabut pernyataannya ataupun menyerah. Justru, filosof tikus malah terus mengumumkan ancamannya ke seluruh penghuni hutan.

Melihat kenyataan tersebut, sang singa terus berpikir, "Apakah filosof tikus mempunyai senjata yang ampuh atau telah mengumpulkan kekuatan yang luar biasa, atau membuat jebakan yang mematikan?"

Hari demi hari berganti dan pikiran-pikiran tersebut selalu muncul hingga membuat singa tidak doyan makan dan minum. Dia selalu memikirkan nasib dan akhir yang begitu mengerikan, seperti ancaman tikus tersebut.

Sebelum hari yang ditentukan tiba, tepatnya pada pagi hari yang keduapuluh lima , hewan-hewan menemukan singa tersebut telah mati didalam kandangnya.

Dia telah terbunuh oleh perasaan was-was dan ketakutan. Daging dan lemaknya telah terbakar oleh kesedihan yang ia rasakan, padahal sang tikus tidak pernah melakukan tipu muslihat atau merancang persengkongkolan apapun. Ia hanya mengetahui sebuah rahasia, bahwa menunggu musibah, memperkirakan bencana dan was-was terhadap sebuah tragedi adalah senjata ampuh yang bisa membunuh jagoan pemberani ataupun sang perkasa yang tidak punya rasa takut.

RENUNGAN:
Jangan pernah menyia-nyiakan waktu

Kebanyakan orang tidak pernah menghiraukan hari-hari yang dijalaninya, karena sibuk untuk masa depan. Cita-cita telah membuatnya lupa manisnya kehidupan yang sedang dia jalani. Yang ada hanyalah ketakutan akan masa depan. Mereka selalu resah dengan hari-hari yang akan datang.

Mereka selalu berpikir bagaimana seandainya kehilangan pekerjaan? Bagaimana dia akan memberi makan anak-anak? Apa yang akan dia katakan kepada teman-teman? Serta bagaimana nasibnya kemudian?

Kalau kegelisahan mengenai hal-hal tersebut mampu diatasi, dia akan memikirkan hal-hal lain. Bagaimana seandainya dia menderita sakit, buta atau kaki buntung? Bagaimana bentuk tubuhnya nanti? Bagaimana dia akan menanggung semua itu?

Yang ada didalam kepala hanyalah musibah dan musibah. Barangkali, mobil yang dinaiki akan mengalami kecelakaan, barangkali pesawat yang ditumpangi akan jatuh, barangkali kapal yang ia naiki akan tenggelam dan barangkali saja bangunan tempat dia tinggal akan runtuh.

Dia pun takut kalau sampai hal-hal yang tidak diinginkan tersebut terjadi. Orang seperti ini akan menjadi mangsa empuk serigala buas bernama kegelisahan dan makanan lezat hantu bernama kesedihansource : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

KISAH SUMO TIKUS (NEZUMI NO SUMO)


Dahulu kala ada hiduplah sepasang kakek dan nenek yang miskin. Pada suatu hari, ketika kakek sedang dalam perjalanan pulang dari mencari kayu bakar di atas bukit, terdengarlah suara dari balik semak-semak,
"Ayo..ayo maju". Karena penasaran, kakek mendekati semak-semak itu dan mencoba mengintip apa sebenarnya yang sedang terjadi. Ternyata dibalik semak-semak tersebut terdapat dua ekor tikus yang sedang bertanding sumo. Seekor tikus besar yang berasal dari rumah saudagar kaya di desanya dan seekor tikus kecil yang berasal dari rumahnya.

"Ayo maju" kata tikus besar yang kemudian meraih kedua lengan tikus kecil, mengangkatnya lalu membantingnya ke tanah. "Gedebug!" Beberapa kali badan tikus yang berbadan kecil itu terbanting ke tanah. Berapa pun ia melawan karena badan lawannya lebih besar maka ia pun tidak pernah menang dalam pertandingan itu. Akhirnya kedua tikus itu pun berpisah, dan besok berjanji akan kembali bertanding lagi.

"Kasihan, tikus itu. Karena dirumah tidak banyak makanan, maka badannya pun tidak gemuk-gemuk" Kata sang kakek dalam hati.

Sepulangnya ke rumah, kakek menceritakannya kejadian yang baru dilihatnya di atas bukit tadi kepada nenek. "Nenek, mungkin lebih baik kita buatkan kue mochi untuk tikus di rumah kita agar ia menjadi kuat" kata kakek. Segera diambilnya simpanan beras yang tadinya untuk membuat kue mochi2 di tahun baru. Simpanan beras yang tinggal sedikit itu semua dipakai untuk membuat kue mochi. Tidak beberapa lama kemudian, kue mochi pun jadi dan semuanya diberikan kepada tikus di rumahnya. Sang tikus pun dengan penuh sukacita memakan kue buatan nenek itu.

Keesokan harinya, pada waktu yang sama dengan kemarin kakek mencoba mengintip pertandingan sumo dari balik semak-semak. "Ayo maju" teriak Si Tikus gendut. Perlahan-lahan si tikus gendut mendekati si tikus kecil dan mencoba mengangkatnya. Tetapi berapa pun kuat ia mengangkat si tikus kecil, ia tetap tak bisa. Sekarang giliran tikus kecil yang memegang lengan tikus gendut, dan Oops.. tikus gendut pun berhasil dibanting dari arah samping olehnya. "Hah, kenapa hanya dalam waktu semalam kamu menjadi begitu kuat ?" tanya tikus gendut keheranan.

"Kakek dan Nenek membuatkan aku kue mochi jadinya aku bertambah kuat" jawab tikus kecil. "Wah, enak sekali kamu. Kalau begitu boleh dong aku datang ke rumah kamu untuk makan kue mochi bersama" kata tikus gendut dengan nada merayu.

"Sayang sekali. Tepung beras nenek sudah habis. Jadinya sampai tahun baru pun sepertinya tidak akan bisa makan kue mochi lagi" kata tikus kecil.

"Aduh, kasihan sekali kamu. Tapi, sebentar, aku tahu tempat penyimpanan tepung beras pembuat kue mochi. Malam ini datanglah ke rumahku" kata tikus gendut. Akhirnya mereka berpisah. Dan malam itu, tikus kecil pergi ke rumah tikus gendut. Mereka akhirnya pergi ke gudang tempat penyimpanan tepung beras milik saudagar kaya di desa itu. Diambilnya satu karung kecil tepung beras dan digotong bersama menuju rumah kakek dan nenek. Esok paginya kakek dan nenek sangat terkejut melihat sekantong tepung beras di dapur mereka. Mereka sangat bersuka cita. Sejak saat itu nenek pun membuatkan kue mochi yang lezat untuk tikus-tikus kesayangannya itu.

Cerita di atas berjudul asli Nezumi no Sumo (Sumo Tikus) yang berasal dari Yamagata. Kisah persahabatan antara tikus dari rumah orang kaya dan tikus dari rumah orang miskin tersebut memberikan inspirasi bagi kita untuk tidak memandang harta ataupun kekayaan dalam menjalin persahabatan.source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Monday, November 5, 2012

KISAH BERANG-BERANG (BEAVER)


Pernah tidak anda menyaksikan bagaimana seekor beaver bekerja? Jika belum, maka anda akan terkagum-kagum atas apa yang bisa mereka ajarkan pada kita tentang kesuksesan dalam suatu misi. Entah mereka sadari atau tidak, tapi beavers adalah pakar dalam hal mencapai tujuan. Mereka bisa melihat dan mengetahui bahwa untuk membawa sebuah pohon yang jauh lebih besar dari badan mereka sendiri adalah sangat tidak mungkin untuk dibawa dalam satu waktu, namun beaver tidak akan menyerah. Mereka bertekad untuk tetap membawa pohon untuk persediaan makanan meskipun mereka harus pulang balik membawa beberapa gigitan berulang-ulang.

Mereka memiliki tujuan yang jelas dalam pikiran mereka pada saat mengunyah batang pohon yang akan mereka bawa ke rumah mereka sedikit demi sedikit.

Dan saya yakin beberapa dari anda pun pernah mendengar tentang ditemukannya bendungan terbesar yang merupakan buatan beavers pada satu daerah di Alberta Utara. Bahkan saking besarnya bendungan ini, sehingga dapat terlihat dari antariksa. Bendungan yang menurut perkiraan dibangun sejak pertengahan tahun 1970 dan masih terus berlangsung hingga saat ini, menggambarkan bagaimana koloni beavers dengan kebulatan tekad mereka membuat satu atau lebih bendungan untuk menyediakan air yang tenang dan dalam untuk melindungi keluarga mereka terhadap serangan predator dan juga sebagai sarana mengapungkan makanan dan bahan bangunan untuk rumah mereka.

Dengan melihat bagaimana koloni beavers bekerja dapatnya kita menarik sebuah hikmah yang dalam. Bila anda ingin mencapai sesuatu tidak peduli apapun itu, menetapkan tujuan akan membuat anda tetap fokus pada hasil akhir. Mengetahui apa yang anda inginkan, dan menentukan dimana anda saat ini dalam kaitannya dengan hal yang anda inginkan. Dan saat anda mengetahui dimana anda sekarang, maka tetapkanlah tujuan dan tindakan yang anda butuhkan untuk mendapatkannya.

Dan sangat penting, jangan pernah berkecil hati jika anda tidak dapat mencapai tujuan tersebut. Telaah kembali dan pikirkan rencana atau tindakan-tindakan selanjutnya dan mulailah lagi mencapai tujuan akhir itu. Tetaplah fokus dan jangan biarkan gangguan-gangguan menguasai pikiran anda atau menggelincirkan anda dalam mengambil tindakan selanjutnya. Hal-hal sekecil apapun akan sangatlah mudah untuk melempar anda dari tujuan yang ingin anda capai, maka berhati-hatilah. Setiap tantangan yang tak terduga yang bermunculan dalam hidup anda hanya ada untuk menguji tekad anda dalam suatu perjalanan menuju kesuksesan.

Motivational Quote:
"Perbedaan antara hal yang mustahil dan hal yang mungkin, terletak pada tekad seseorang." Tommy Lasordasource : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Monday, October 29, 2012

KISAH RUMAH 1000 CERMIN (DONGENG DARI JEPANG)


Dahulu kala, di sebuah desa yang begitu jauh, ada sebuah tempat yang bernama rumah 1000 cermin. Seekor anjing kecil yang hidupnya begitu bahagia mengetahui tempat ini dan memutuskan untuk pergi
ke sana. Ketika ia tiba, dengan langkah gembiranya ia menaiki tangga menuju pintu rumah itu.

Dia melihat pintu dengan telinga yang terangkat tinggi dan ekornya mengibas cepat. Lalu dia terkejut saat menemukan 1000 ekor anjing lain yang begitu gembira dan mengibaskan ekor mereka secepat dia mengibaskan ekornya. Dia tersenyum lebar, dan senyumannya dibalas dengan 1000 senyuman lebar yang hangat dan ramah. Setelah dia meninggalkan rumah itu, dia berpikir, "Rumah ini adalah tempat yang sangat indah. Aku akan kembali dan sering ke sini."

Di desa yang sama, ada seekor anjing lainnya yang tidak sebahagia anjing pertama, dia memutuskan untuk pergi ke rumah itu. Pelan-pelan dia menaiki tangga dengan kepala tertunduk. Saat melihat ke pintu, ia menemukan 1000 anjing yang menatapnya dengan tatapan tidak ramah. Lalu dia menggeram dan dia merasa ngeri melihat 1000 anjing kecil menggeram padanya. Ketika dia pergi, dia berpikir, "Rumah ini sangat menakutkan dan aku tidak akan pernah pergi ke sini lagi."

RENUNGAN:
Semua wajah di dunia ini adalah cermin. Pantulan wajah seperti apa yang Anda lihat dari orang-orang yang Anda temui? Mulai sekarang, belajarlah bersikap ramah kepada siapa saja. Kembangkan senyum manis Anda pada orang yang Anda temui sehari-hari. Maka orang lain akan senang dan tersenyum kembali Anda. Keep smile!source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

KISAH KATAK DAN HUJAN


Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap.
"Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?" ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya.

Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut.

"Anakku," ucap sang induk kemudian. "Itu bukan pertanda kebinasaan kita.
Justru, itu tanda baik." jelas induk katak sambil terus membelai. Dan anak katak itu pun mulai tenang.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan.
Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil. "Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu? " tanya si anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya.

"Anakku. Itu cuma angin," ucap sang induk tak terpengaruh keadaan. "Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!" tambahnya begitu menenangkan. Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan.
"Blarrr!!!" suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya. Tapi juga gemetar. "Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!"
ucapnya sambil terus memejamkan mata.

"Sabar, anakku!" ucapnya sambil terus membelai. "Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang," ungkap sang induk katak begitu tenang.

Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba
mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan. Tiba-tiba, ia berteriak kencang, "Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!"

RENUNGAN :

Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Tidak disegarkan dengan wewangian harum.

Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan.
Persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.

Benar apa yang diucapkan induk katak: jangan takut melangkah, jangan sembunyi dari kenyataan, sabar dan hadapi. Karena hujan yang ditunggu, pasti akan datang. Bersama kesukaran ada kemudahan. Sekali lagi, bersama kesukaran ada kemudahan.source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Tuesday, October 23, 2012

Kisah Ikan kecil dan Air


Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Sang Ayah berkata kepada anaknya, “Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati.”

Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengar percakapan itu dari bawah permukaan air, ikan kecil itu mendadak gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, “Hai tahukah kamu dimana tempat air berada? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.”

Ternyata semua ikan yang telah ditanya tidak mengetahui dimana air itu, si ikan kecil itu semakin kebingungan, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal yang sama, “Dimakah air?”

Ikan sepuh itu menjawab dengan bijak, “Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita semua akan mati.”

RENUNGAN:
Apa arti cerita tersebut bagi kita. Manusia kadang-kadang mengalami situasi yang sama seperti ikan kecil, mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan, padahal ia sedang menjalaninya, bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai ia sendiri tidak menyadarinya.source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Thursday, October 18, 2012

Kisah 2 serigala


Ada dua ekor serigala di hutan belantara, serigala B menantang serigala A untuk menangkap seekor kelinci yang sedang makan wortel, tidak jauh dari tempat mereka berdiri,

"Ayo Serigala A, kamu bisa ngga tangkap kelinci itu?" tanya serigala B.
"Ah, itu gampang, lihat saja nih!" Jawab serigala A, dan dengan sigap serigala A itupun melompat ke arah kelinci tersebut, dan berlari mengejarnya.

Sedangkan kelinci yang melihat serigala itu, langsung lari terbirit-birit ketakutan, tanpa pikir panjang wortel yang masih dikunyahnya di lemparkan ke arah serigala tersebut, "DUAAAKK!!" begitu suaranya.

Karena serigala adalah binatang yang kuat, maka wortel kecil yang mengenai kepalanya tidak terasa sama sekali, serigala tersebut tetap mengejar kelinci itu, 1 menit.. 2 menit.. 3 menit... sampai 5 menit..

Serigala itu belum dapat menangkap kelinci itu, karena kelinci itu larinya lebih kencang. serigala itupun kelelahan, dan menghentikan pengejarannya.

Dengan perasaan yang sangat malu, dia menunduk berjalan dan kembali ke temannya serigala B.

Setelah sampai di tempat serigala B, maka serigala B itupun bertanya, "Bagaimana? Apakah kamu bisa menangkapnya ?" tanya serigala B, lalu serigala A hanya menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih tertunduk.

Serigala B lalu melanjutkan perkataannya : "Kamu tahu, kenapa kamu tidak bisa menangkap kelinci itu? Kamu kalah, karena kamu tidak serius. Kamu berlari mengejar kelinci hanya untuk pamer saja, sedangkan kelinci itu berlari untuk nyawanya."

RENUNGAN
Untuk orang yang sudah bekerja, mungkin Anda merasa, Anda sangat lelah, Anda capai dengan pekerjaan, bosan, tidak ada kemajuan sama sekali dalam pekerjaan Anda. Itu dikarenakan karena Anda tidak serius dengan pekerjaan Anda.
Cobalah pikirkan kembali, apakah tujuan sebenarnya Anda bekerja?
Sebab, terkadang ada orang yang bekerja, karena tuntutan orang tua agar mencari uang sendiri, atau kadang juga ada orang yang bekerja, karena mereka merasa 'harus' bekerja untuk membantu orang tua mereka menghidupi keluarganya, atau ada juga orang yang bekerja karena untuk dapat pamer pada teman-temannya, pada sanak saudara, bahwa dia sudah bekerja.

Jadi, apakah tujuan Anda bekerja? Demi rasa bangga pada serigala B. Atau demi rasa lapar?source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Tuesday, October 9, 2012

Kisah Si Pencuri kecil


Di sebuah hutan rimba yang lebat terdapat sebuah kota hewan yang dihuni oleh berbagai macam hewan-hewan. Kota kecil itu begitu tenteram, namun ada satu peraturan penting yang bila dilanggar maka hukumannya sangat berat. Yaitu mereka tidak boleh mencuri terhadap sesama penghuni kota.

Hingga suatu hari ada seekor kancil muda yang tertangkap oleh anjing penjaga saat dia hendak melancarkan aksi pencuriannya. Dia pun dibawa ke tengah hutan untuk menerima hukuman dari Raja Hutan, namun ketika hendak diadili, dia meminta untuk dipertemukan terlebih dahulu dengan ibunya. Permintaan ini disetujui. Ibu kancil pun segera dipanggil, dan ketika sang ibu telah datang, anaknya berkata: "Aku ingin membisikkan sesuatu padamu, Bu," ibu kancil berjalan mendekatinya. Ketika telinga ibunya telah begitu dekat dengan mulutnya, tiba-tiba kancil muda ini menggigit telinga ibunya.

Beberapa hewan lain yang ikut menyaksikan kejadian ini menjadi terkejut, dan bertanya pada si kancil muda kenapa dia bisa tega berbuat kejam itu kepada ibunya sendiri.

"Ini hukuman untuknya," jawab si kancil ringan. "Saat aku masih kecil dulu, dan mulai mencuri beberapa barang kecil, aku membawanya pulang dan menunjukkannya pada ibuku. Tetapi dia sama sekali tidak mengomeli atau menghukumku, dia hanya tertawa dan berkata bahwa takkan ada yang menyadari perbuatanku. Dan karena dialah aku berdiri disini saat ini."

RENUNGAN
Bisa anda bayangkan bagaimana seandainya anda yang sebagai orangtua melihat anak anda berakhir seperti itu?
Seandainya anak kita berbuat sebuah kesalahan, mungkin kira-kira kita akan berkata "Kenapa dia bisa berbuat seperti itu?", "Darimana dia belajar melakukan hal buruk seperti itu?".

Namun bagaimana bila jawaban dari pertanyaan terakhir yang saya tanyakan itu adalah anda sendiri sebagai orangtuanya. Punya bayangan apa yang akan anda katakan pada diri sendiri?

Banyak yang bilang anak itu seperti sebuah kanvas putih, yang untuk kita akan begitu mudah meninggalkan jejak lukisan apa saja. Anak itu memiliki hati pikiran yang masih bersih dan bagaikan sebuah sepon, yang untuknya akan begitu mudah menyerap apa saja hal-hal pertama yang diketahuinya.

Seorang teladan yang baik sangatlah penting. Dimana dia menunjukkan kita arah dan tujuan yang benar. Menginspirasi kita untuk mencapai impian, dan ketika situasi tidak berjalan sebagaimana mestinya, dia ada untuk berbagi pikiran bagaimana cara mengatasi jalan buntu ini.
Dan selama kita berada dalam posisi sebagai seseorang yang memiliki pengaruh terhadap orang lain, entah itu kita sebagai orang tua terhadap anak, atau atasan terhadap bawahan, kita haruslah berhati-hati. Ingatlah kita akan selalu saja di awasi.

Namun betapa ironis terkadang pemimpin itu sendiri meremehkan pengaruh yang mereka miliki terhadap pengikut dan bawahan mereka. Terkadang orangtua tidak menyadari bagaimana perilaku mereka sendiri berpengaruh terhadap perkembangan anak masing-masing.

Tak ada salahnya belajar dari orang lain. Apalagi bila ada seseorang yang belajar dari kita, awamnya manusia yah pasti akan merasa bangga. Namun perlu diketahui menjadi sosok panutan itu tidak mudah. Adalah sangat penting dalam menjaga segala tingkah laku (baik itu perbuatan yang kita lakukan maupun hal-hal yang kita percayai) dihadapan orang lain.

Quote:
Anak-anak itu seperti halnya semen yang basah. Apapun yang terjatuh di atasnya akan meninggalkan jejak. - Dr. Haim Ginottsource : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Monday, October 8, 2012

Kisah 3 Pohon


Suatu saat terdapat tiga buah pohon di sebuah bukit di hutan. Mereka membicarakan tentang harapan dan impian mereka saat pohon pertama berkata, "Suatu hari nanti aku berharap menjadi peti harta karun. Aku bisa diisi dengan em
as, perak dan permata-permata yang berharga. Aku akan dihiasi dengan ukiran-ukiran yang rumit dan semua orang akan melihat keindahannya."
Kemudian pohon kedua berkata, "Suatu hari nanti aku akan menjadi sebuah kapal yang kuat. Aku akan membawa para raja dan ratu menyebrangi lautan dan berlayar ke penjuru dunia. Dan berkat kekuatan badanku, semua orang akan merasa aman."

Akhirnya pohon ketiga berkata, "Aku ingin tumbuh menjadi pohon tertinggi dan tegak di hutan. Orang-orang akan melihatku di atas bukit dan melihat ke cabang-cabangku, dan berpikir tentang langit dan Tuhan dan bagaimana begitu dekatnya diriku untuk menggapainya. Aku akan menjadi pohon terbesar sepanjang masa dan orang akan selalu mengingat diriku..."

Setelah beberapa tahun berdoa agar impian mereka akan terkabul, sekelompok penebang kayu mendatangi pohon-pohon tersebut. Ketika seseorang datang ke pohon pertama ia berkata, "Pohon ini terlihat sangat kuat, sepertinya aku bisa menjualnya ke tukang kayu" ... dan ia mulai memotong. Pohon itu bahagia, karena ia tahu bahwa tukang kayu akan membuatnya menjadi peti harta karun.

Pada pohon kedua penebang berkata, "Ini terlihat seperti pohon yang kuat, aku akan menjualnya ke galangan kapal." Pohon kedua senang karena ia tahu ia sedang dalam perjalanan untuk menjadi sebuah kapal besar.

Ketika penebang yang lain datang ke pohon ketiga, pohon itu ketakutan karena ia tahu bahwa jika mereka memotongnya mimpi-mimpinya tidak akan terkabul. Salah satu penebang berkata, "Aku tidak perlu sesuatu yang istimewa dari pohon ini jadi aku akan menyimpannya saja", dan dia pun menebang pohon ketiga tersebut.

Ketika pohon pertama tiba di tukang kayu, ia dijadikan sebuah kotak pakan untuk hewan. Dia kemudian ditempatkan di lumbung dan diisi dengan jerami. Ini sama sekali berbeda dengan apa yang ia doakan. Pohon kedua dipotong dan dibuat menjadi sebuah perahu nelayan kecil. Mimpinya menjadi sebuah kapal yang perkasa dan membawa raja-raja telah berakhir. Pohon ketiga dipotong menjadi potongan besar dan ditinggalkan sendirian dalam gelap. Tahun-tahun berlalu, dan ketiga pohon tersebut lupa tentang mimpi mereka.

Kemudian suatu hari, seorang pria dan wanita datang ke lumbung. Dia melahirkan dan mereka menempatkan bayi di atas jerami dalam kotak pakan yang terbuat dari pohon pertama. Pria itu berharap bahwa ia bisa membuat boks untuk bayi. Pohon itu bisa merasakan pentingnya hal ini dan tahu bahwa mereka telah memegang harta terbesar sepanjang masa. Bertahun-tahun kemudian, sekelompok pria naik ke perahu nelayan yang dibuat dari pohon kedua. Salah satunya merasa lelah dan memilih untuk tidur. Sementara mereka berlayar, badai besar muncul dan pohon tersebut menganggap dirinya tidak cukup kuat untuk menjaga orang-orang ini agar tetap aman. Beberapa orang membangunkan si pria yang tertidur, dan dia berdiri lalu berkata "Perdamaian" dan badaipun berhenti. Pada saat ini, pohon itu tahu bahwa ia telah membawa Raja segala raja di perahunya.

Akhirnya, seseorang datang dan mengambil pohon ketiga. Ia dibawa melalui jalan-jalan berliku menuju puncak bukit. Ketika mereka tiba, beberapa orang memotong, memahat dan membangun sebuah rumah ibadah yang sederhana namun kokoh dari potongan kayu tersebut. Pohon itupun menyadari bahwa ia cukup kuat untuk berdiri di puncak bukit dan menjadi seperti dekat dengan Tuhan seperti yang dimungkinkan, karena ia telah menjadi salah satu rumahNya.

-
RENUNGAN
dari cerita ini adalah bahwa ketika hal-hal tampaknya tidak berjalan seperti keinginan kita, selalu ingat bahwa Tuhan memiliki rencana untuk kita. Jika kita menempatkan kepercayaan kita pada-Nya, Ia akan memberikan hadiah terbaik. Masing-masing pohon mendapatkan apa yang mereka inginkan, hanya saja tidak dengan cara yang mereka bayangkan. Kita tidak selalu tahu apa rencana Tuhan bagi kita. Kita hanya tahu bahwa jalan-Nya bukanlah jalan kita, tapi jalan-Nya selalu yang terbaik.

Inspirational Quote:
“God moves in a mysterious way His wonders to perform; He plants His footsteps in the sea, and rides upon the storm.” – William Cowpersource : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Kisah 2 ekor anjing kecil


Terkisahlah dua ekor anjing scottie muda yang bersahabat, Buster dan Didi. Kemana pun mereka pergi selalu bersama dan ada saja petualangan yang mereka lalui setiap harinya. Namun meskipun begitu, kedua sahabat itu sangatlah bertolak belakang kepribadiannya. Buster adalah sosok anjing yang penuh dengan semangat dan selalu berani menghadapi rintangan apapun, sementara sahabatnya Didi sedikit lebih pendiam dan selalu ragu dalam bertindak.

Suatu hari di Kota Binatang diadakanlah perlombaan adu bakat untuk para anjing-anjing. Dan pemenangnya selain akan dikukuhkan sebagai anjing terbaik di kota akan pula dihadiahkan stok tulang selama setahun. Seluruh anjing penghuni kota menjadi tergiur untuk ikut ambil serta dalam perlombaan tersebut, tak terkecuali Buster muda.

Buster pun mengajak sahabatnya, Didi, untuk ikut perlombaan. Namun belum saja mereka mendaftar, Didi telah merasa gentar terlebih dahulu setelah mengetahui ternyata anjing-anjing yang akan menjadi lawan mereka bukanlah sekedar anjing geladak biasa, melainkan anjing-anjing juara yang lebih memiliki banyak pengalaman, bahkan konon berita yang mereka dapatkan beberapa anjing ras collie dan rottweiller juga akan ikut ambil bagian. Tak urung nyali Didi semakin ciut, dalam pikirannya bagaimana mungkin anjing kecil seperti dirinya bisa menang melawan para raksasa-raksasa anjing tersebut, bisa-bisa nanti justru dirinya jadi bulan-bulanan anjing-anjing tersebut.

Sementara sahabatnya, Buster, yang tak pernah mengenal kata menyerah tentunya tetap mendaftarkan diri dalam perlombaan tersebut. Buster masih mencoba untuk membujuk Didi, diberitahunya pada Didi bahwa tak ada salahnya mereka mencoba, urusan menang atau kalah itu hal belakangan. Tapi Didi tetap kukuh pada pendiriannya.

Tak terasa waktu perlombaan itu pun akhirnya tiba. Rupanya banyak juga peserta yang turut berlomba.

Perlombaan dibagi dalam tiga babak. Babak ‘Uji Nyali’, babak ‘Ketangkasan’, dan babak ‘Kecepatan’.

Babak pertama pun dimulai, para peserta diharuskan untuk mengambil masing-masing 3 buah tulang emas yang dipersiapkan panitia dan ditaruh di tempat-tempat yang cukup berbahaya. Satu tulang ditaruh di bebatuan yang berada di tengah-tengah sungai di dekat air terjun, tentu hal yang sangat sulit dilakukan mengingat arus sungai yang sangat deras. Tulang yang kedua diletakkan di puncak sebuah bukit namun untuk mendapatkannya para peserta mesti melewati jalanan di lereng yang terjal, sedikit saja mereka salah melangkah maka jurang telah menanti mereka jauh di bawah. Sementara tulang yang terakhir berada di dalam sebuah gua yang katanya ada begitu banyak ular berbisa yang menempati tempat tersebut.

Beberapa anjing-anjing collie dan rottweiller dengan cukup mudah melewati rintangan-rintangan itu. Walau begitu beberapa ada yang gagal dan terhanyut di sungai atau menderita luka-luka karena terjatuh di jurang sementara ada pula yang karena tak berani menghadapi ular berbisa akhirnya menolak memasuki gua yang gelap itu.

Sementara Buster sendiri pun cukup kepayahan melewati babak pertama ini. Ia sempat terseret arus walau akhirnya berhasil menyelamatkan diri dengan buru-buru melompat ke atas sebuah batu. Namun sayangnya Buster hanya berhasil membawa dua buah tulang emas. Sementara tulang yang ketiga tak berhasil di dapatnya karena ketika hendak mengambil tulang tersebut tiba-tiba seekor ular jenis python membelit tubuhnya, dia hampir saja menjadi santapan ular tersebut kalau saja dia dengan cukup cerdik berhasil meloloskan diri.

Namun meskipun begitu, Buster tetap lolos untuk maju dalam babak selanjutnya. Pada babak kedua, babak ‘Ketangkasan’, Buster yang memang cukup cerdas berhasil memperoleh skor tertinggi dan melangkah dengan mudah menuju babak terakhir.

Sahabatnya Didi terus setia menyaksikan perlombaan dan mendukung Buster. Walau Ia merasa ngeri saat menyaksikan perlombaan pada babak pertama, namun terbersit sedikit rasa sesal di hatinya karena tak ikut mendaftarkan diri. Ditatapnya Buster yang tersenyum karena berhasil mengalahkan para anjing-anjing raksasa tersebut di babak kedua. ‘Bisa saja akulah yang berdiri disana dengan senyum menghiasi wajah’ lirihnya.

Setelah peserta yang tersisa diberi waktu 30 menit untuk istirahat, akhirnya tibalah babak terakhir, babak penentuan.

Seluruh peserta yang kini hanya tersisa lima ekor terdiri dari Buster, Sebas (seekor anjing Collie), Ruffy dan Rockie yang merupakan anjing ras Rottweiller dan satu lagi Spotty (anjing jenis Dalmatian), akan melakukan perlombaan lari melintasi lapangan rumput disisi luar kota dan kemudian mereka akan melewati sebuah bukit kecil lalu kembali melintasi sungai menuju hutan untuk kembali ke kota.

Dan siapapun yang tiba terlebih dahulu dialah yang akan keluar menjadi pemenang dan berhak untuk mendapatkan hadiah yang telah dijanjikan. Peluit dibunyikan dan peserta mulai berlari sekencang yang mereka bisa. Dengan mudah Rockie, anjing yang memang sudah terkenal dengan segala kelebihannya, berhasil mengungguli peserta lainnya. Perlombaan berlangsung cukup seru, keempat anjing raksasa Sebas, Ruffy, Rockie dan Spottie saling bersaing merebut posisi pertama. Sementara Buster sendiri, cukup kesulitan mengejar empat anjing lainnya. Ia sudah mengerahkan segala tenaganya untuk mengejar, namun sepertinya mereka semua memang bukan tandingan Buster.

Dan akhirnya seperti yang telah diperkirakan para penduduk Kota Binatang, Rockie-lah yang akhirnya berhasil memenangkan pertandingan.

Buster yang finish di urutan terakhir, sesaat merasa begitu kecewa saat melihat Rockie yang naik ke atas podium.

“Aksi yang kamu tunjukkan dalam perlombaan ini sangatlah menarik anjing muda, aku sangat menikmatinya.” ujar seekor anjing tua.

Dan Buster pun tersenyum bangga melupakan rasa kecewa terhadap kekalahannya.

Renungan:

Terkadang karena rasa takut berlebihan yang telah meliputi pikiran kita tentang sebuah kegagalan, kita malah tak jarang justru melepas sebuah kesempatan yang ada di depan mata. Seperti halnya yang terjadi pada Didi, si anjing kecil. Pikiran negatif yang menguasai dirinya justru mengaburkan pandangannya akan semua kelebihan-kelebihan yang sebenarnya dimilikinya. Dan apa yang tersisa? Tentu hanyalah penyesalan.

Maka baiklah jika kiranya kita bisa seperti Buster muda, yang di dalam kamusnya tak ada kata menyerah sebelum mencoba. Tiada yang tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dan jika kita ingin berhasil tentulah kita harus melakukan aksi. Walaupun ternyata kita akhirnya gagal, tapi itu jauh lebih baik daripada kita tidak melakukan sesuatu apapun.source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Saturday, October 6, 2012

Kisah Serigala Berhati Domba


Pada suatu sore terjadi gempa di sebuah desa terpencil. Pohon tumbang, ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal, beberapa sawah menjadi sungai, dan beberapa gua menjadi bukit. Bencana itu mengantarkan seekor anak serigala ke kandang domba. Induk domba yang baru beranak menganggap anak serigala itu sebagai anaknya. Namun wajah serigala itu memang sangat berbeda. Domba berwajah serigala tersebut diberi nama Midas.

Seiring waktu berlalu, Midas diasuh induk domba dengan penuh kasih sayang, sama seperti saudaranya-saudaranya yang lainnya. Midas disusui dan diselimuti oleh bulu induknya setiap malam tiba, Midas diajarkan bagaimana mencari sayur untuk mengenyangkan perutnya. Induk domba menanamkan kepada Midas bahwa ia adalah domba. Midas selalu berpikir bahwa ia adalah domba yang lemah, tak berdaya, dan selalu diburu. Lingkungan Midas pun memperlakukannya sebagai domba yang selalu diburu yang perlu berlari dan bersembunyi.

Seringkali Midas terkagum dengan serigala yang dianggapnya hebat karena bisa mengalahkan semua domba. Sering ia bermimpi mau melawan serigala karena merasa kuat dan bisa berlari kencang. Namun, ibunya selalu mengatakan bahwa Midas adalah binatang yang sangat lemah. Saudara-saudaranya selalu mengejek ketika mendengar mimpi Midas. Semua kawanan domba merendahkannya karena mimpi Midas.

Suatu hari keluarga Midas dikejar segerombolan serigala. Beberapa domba tertangkap oleh serigala, termasuk Midas. Serigalapun melahap domba satu persatu, kecuali Midas.

“Tunggu… binatang apakah engkau ini?” lolong serigala tua kepada Midas.

Midas sangat ketakutan, “Aku domba, tolong jangan makan aku.”

Serigala tua membentaknya, “Engkau bukan domba!!! Engkau bagian dari kami, serigala!!!”

Midas diseret para serigala ke tepi sungai, “Coba engkau lihat ke sungai! Lihat wajahmu baik-baik!!!” Kata serigala Tua.

Midas bercermin ke sungai, tertegun dan membolak balik badan. Midas menjawab, “Wajah dan tubuhku memang mirip serigala, tetapi kata ibuku wajahku saja yang mirip serigala. Aku tetaplah domba.”

Serigala tua marah dan melolong dengan keras, “Oke, Midas, sekarang buka mulutmu yang besar, mulailah melolong.”

Midas melakukannya dan mulailah dia percaya. Midas berlari, melolong dan bergulat dengan serigala.

Tercapailah impian midas untuk bergulat dengan serigala. Midas sungguh jadi serigala yang kuat dan perkasa. Midas menemukan dirinya tidak selemah yang diajari domba-domba untuk mencapai impiannya. Hanya satu yang midas belum terbiasa, memakan daging domba.source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Friday, September 28, 2012

Sifat Welas Asih dan Kejujuran

Dengan sifat welas asih dan kejujuran, maka akan membangkitkan sifat watak dasar manusia yang baik. Seorang yang welas asih, keinginan hatinya adalah untuk membebaskan semua umat dari penderitaan tanpa memikirkan dirinya sendiri.

Seekor induk rusa ketika kedua anaknya sudah mulai belajar berjalan, pagi buta ketika kedua anaknya masih tidur sudah keluar mencari makanan.

Dia bermaksud setelah pulang dari mencari makanan akan mengajar anak-anaknya mencari makan serta menjaga diri menghindari dari bahaya.
Setelah mendapat makanan rumput hijau yang segar, saat perjalanan pulang dia terjebak dalam perangkap yang dibuat oleh pemburu. Induk rusa itu sambil menangis memikirkan kedua anaknya.

Pemburu akhirnya tiba, induk rusa berlutut memohon kepada pemburu untuk membiarkannya pulang ke rumah memberi makan serta mengajari anaknya mencari makan, dia berjanji keesokkan harinya akan kembali  ke sini menyerahkan diri.

Pemburu melihat rusa ini dapat berbicara, di dalam hatinya sangat terkejut dan gembira. Dia memutuskan akan mempersembahkan rusa ajaib ini kepada raja, supaya dia menjadi terkenal dan mendapat hadiah dari raja. Tetapi setelah berpikir sejenak, dia berubah pikiran dan melepaskan induk rusa pulang.

Induk rusa bergegas berlari pulang, suasana hatinya sangat sedih memikirkan kedua anaknya. Setelah sampai dirumah dia berkata kepada kedua anaknya, “Anak ku, mama akan menceritakan sebuah kebenaran dan ketidakkekalan di dunia ini kepada kalian. Jika kalian sudah memahami kebenaran ini, maka kelak jika kalian menghadapi masalah apa pun kalian nantinya tidak akan terlalu sedih lagi. Kalian harus ingat hidup ini sangat singkat, segalanya akan berubah tidak pernah abadi, nilai dari keluarga, kasih sayang semuanya tidak abadi….,” ujar induk rusa itu.

Anak-anaknya sambil menangis bertanya, “Lalu kenapa mama masih harus menepati janji kepada orang jahat tersebut?." Induk rusa berkata, “Tanpa Iman, dunia akan hancur, tidak ada kejujuran dunia akan runtuh, demi kelangsungan dan harapan dunia, saya rela berkorban, daripada menipu orang lain. Mama rela mati demi integritas dari pada menipu untuk hidup.”

Setelah selesai berkata, sambil menahan tangisannya induk rusa berlari keluar. Anak-anak rusa pun mengejarnya dengan sekuat tenaga. Ketika sang Pemburu melihat induk rusa memenuhi janjinya datang kembali, dia menjadi sangat terharu. Dengan tangan merangkap di depan dada dan berlutut dia berkata kepada induk rusa, “Engkau bukan seekor rusa biasa, engkau pasti jelmaan dari Budha.”

“Welas asihmu membuat orang sangat terharu, kejujuran dan imanmu membuat saya sangat malu. Silahkan engkau kembali, saya tidak akan menyakiti Anda lagi dan bahkan mulai saat ini saya tidak akan menyakiti seekor binatang pun,” kata si pemburu itu.

Dari cerita di atas diketahui bahwa sifat welas asih dan kejujuran dari induk rusa ini akhirnya membangkitkan niat baik serta membangkitkan watak dasar dan sisi baik dari pemburu tersebut.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Monday, September 17, 2012

KISAH MATAHARI DAN BULAN


Zaman dahulu kala, ada dua matahari dan sungguh sangat panas. Kedua matahari tersebut bertugas secara bergiliran, di saat matahari yang satu bersinar, yang lainnya tidur. Begitu juga sebaliknya.

Semua mahkluk di bumi sangat mengeluh tentang rasa panas dari kedua matahari ini.

Suatu hari, diselenggarakan pertemuan dan salah satu mahkluk mengusulkan menghilangkan salah satu matahari. Tanpa ragu-ragu semua mahkluk setuju. Tetapi pertanyaannya adalah siapa yang mau melaksanakan tugas tersebut ? dan bagaimana tugas tersebut dilakukan ?

Setelah beberapa lama, pertemuan itu memutuskan untuk memilih semut sebagai eksekutornya. Saat itu semut sangat terkenal dengan keahliannya memanah yang luar biasa. Mulai saat itu, semut berusaha membidik matahari.

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya semut tersebut pun berhasil memanah satu matahari. Tetapi ternyata matahari yang lain mengetahui tentang hal ini, dan entah mengapa kedua matahari itu tiba-tiba tidak tampak lagi. Kesedihan pun melanda seluruh bumi, karena kedua matahari menghilang, maka seluruh alam semesta menjadi gelap gulita.

Semua mahkluk menjadi sadar, mereka tidak dapat melakukan apapun tanpa cahaya matahari. Mereka sadar, bahwa telah melakukan kesalahan fatal dengan meminta semut memanah matahari. Lalu semua mahkluk mengadakan pertemuan lagi. Tema diskusi kali ini adalah bagaimana cara membuat matahari-matahari itu mau menampakkan diri. Akhirnya, setelah melalui perdebatan yang panjang dan melelahkan, mereka memutuskan untuk meminta maaf dan memohon para matahari untuk kembali ke bumi. Sebagai utusan, manusialah yang diminta untuk mengemban misi ini. Karena saat itu manusia terkenal cerdik dan pandai mengolah kata.

Dengan harapan tinggi, manusia pun menengadahkan diri di langit, dan mulai berteriak-teriak meminta maaf kepada para matahari, dan ternyata gagal. Berikutnya, mahkluk-mahkluk meminta kepada burung gagak untuk meminta maaf, tetapi gagal lagi. Akhirnya berbagai mahkluk pun bergiliran satu-persatu meminta maaf kepada matahari, tetapi semuanya tetap juga gagal.

Setelah beberapa lama, mahkluk-mahkluk tersebut mendapatkan ide baru. Mahkluk-mahkluk tersebut berpikir mungkin saat ini kedua matahari sedang tidur bersama, sehingga tidak mendengar permintaan maaf para mahkluk. Lalu mereka memutuskan untuk meminta semua ayam jago berkokok untuk membangunkan kedua matahari tersebut.

Lalu semua ayam jago berkokok, tetapi tidak terjadi apa-apa. Semua ayam jago pun berkokok lagi untuk kedua kalinya, kali ini lebih keras lagi. Dan semua mahkluk merasakan mulai ada udara hangat mengalir di bumi, tetapi mereka belum melihat matahari muncul.

Ayam-ayam pun makin bersemangat, mereka berkokok dan melengking lebih keras lagi untuk ketiga kalinya. Dan perlahan-lahan, salah satu matahari muncul di ufuk timur, kemudian makin bersinar dan bersinar. Bumi pun kembali terang. Seluruh mahkluk pun bersorak dan berteriak kegirangan menyambut datangnya matahari.

Lalu bagaimana dengan nasib matahari yang lain ? ternyata ia masih tertidur, dan ia baru terbangun saat matahari yang lain mulai tidur. Dan ternyata, setelah matahari kedua tersebut terbangun, para mahkluk melihat bahwa dia telah buta, dia tidak mampu lagi bersinar terang dan panas seperti dulu lagi. Rupanya hasil bidikan semut beberapa waktu lalu telah berhasil, semut telah berhasil membutakan mata matahari. Matahari yang buta tersebut kemudian dinamai ‘bulan’ oleh para mahkluk.

Inilah mengapa ayam jago selalu berkokok tiga kali sebelum matahari terbit. Dan hingga saat ini penduduk Myanmar masih sering bersorak-sorak menyambut matahari di pagi hari.

Beberapa hal yang bisa dipetik dari cerita ini :

Semut, hewan yang sangat kecil, tetapi berhasil ‘memanah’ matahari
Manusia yang cerdik dan pandai mengolah kata ternyata gagal ‘meminta maaf’ kepada alam.
Ayam jago harus berusaha ‘tiga kali’ untuk membangunkan matahari.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

ANJING YANG CERDAS


Seorang tukang daging heran ketika melihat ada anjing yang masuk ke tokonya, dia beberapa kali mencoba mengusir anjing itu, tetapi beberapa kali juga anjing itu selalu kembali lagi ke tokonya.

“Dengan penuh tanda tanya, akhirnya tukang daging tersebut mulai mendekati dan mengamati anjing tersebut. Penjual daging itu terkejut ketika ia mendapati bahwa ada sebuah kertas kecil yang tergantung di leher anjing itu dan bertuliskan : “Berikan aku 12 sosis dan 1 paha kambing”. Penjual daging itupun makin terkejut lagi ketika ia mendapati bahwa anjing itu juga menggigit uang 20 dollar – jumlah yang cukup untuk membeli ‘pesanan’ anjing itu.

“Dengan merasa agak aneh, penjual daging itu mengambil uang dari mulut anjing itu, menyiapkan ‘pesanannya’, membungkus 12 sosis dan 1 paha kambing ke dalam sebuah tas plastik, lalu memberikannya kepada anjing itu. Anjing itu pun dengan sigap menggigit pegangan tas plastik itu … lalu ngeloyor pergi.

“Penjual daging sangat penasaran dengan anjing tersebut. Kebetulan saat itu sekitar pukul 5 sore.. “Waktu tutup toko !” penjual daging itu berkata. Ia lalu bergegas menutup tokonya secepat mungkin, dan segera mengikuti ke mana anjing itu pergi.

“Saat anjing itu akan menyeberangi jalan – penjual daging mengamatinya – anjing itu meletakkan tas plastiknya, lalu melompat untuk menekan Tombo Penyeberangan. Sesaat, anjing itu menunggu lalu-lintas aman, dan anjing itu pun menyeberang jalan bersama tas plastiknya.

“Disudut jalan, anjing itu berhenti di sebuah halte bus, lalu mengamati Jadwal Bus yang ada di situ. Lalu dengan sabar, anjing itu duduk di kursi tunggu – menunggu bus datang.

” Sebuah bus pun datang, anjing itu segera berlari-lari berusaha melihat bagian belakang bus – yang biasanya terpampang no seri tujuannya, rupanya itu bukan bus yang ia cari, dan anjing itu pun kembali duduk di kursi tunggu.

“Beberapa menit kemudian, bus lain datang. Seperti tadi, anjing itu langsung berlari ke belakang bus untuk melihat nomor serinya. Dan dengan segera, anjing – dengan tas plastik yang masih dimulutnya – segera bergegas masuk ke dalam bus. Si tukang daging pun ikut-ikutan masuk ke dalam bus – kali ini dengan mulut melongo.

“Setelah sekitar 20 menit perjalanan, Anjing itu pun lalu turun di depan sebuah rumah megah, sambil berlari-lari kecil dengan barang bawaannya, anjing itu masuk ke pelataran rumah itu. Sang tukang daging pun juga ikut turun dari bus dan mengamatinya.

“Saat sampai di depan pintu depan, anjing itu lalu meletakkan barang bawaannya di tangga – mundur beberapa langkah – lalu lari dan membenturkan badannya ke pintu. Hal ini dilakukannya beberapa kali.

“Merasa tidak berhasil membuka pintu depan, anjing itu lalu berlari ke samping rumah – memanjat tembok kecil yang ada di situ – lalu membentur-benturkan kepalanya pada sebuah jendela. Lalu ia turun dan segera berlari ke depan pintu depan lagi.

Beberapa saat kemudian seorang pria gemuk keluar dari pintu depan, sambil berteriak, “Dasar anjing bodoh !” Pria itu pun membentak-bentak anjing itu, memukulnya, dan menendangnya, sambil mengumpat beberapa kali.

“Merasa ‘tidak terima’ , si tukang daging itu pun menghampiri si pemilik rumah sambil berseru, “Hey ! apa yang kau lakukan ? anjing ini jenius, bahkan anjingmu ini layak untuk muncul di TV !”

Tidak mau kalah, Pria pemilik rumah itu pun menjawab, “Apa kau bilang ? jenius ?” Pria gemuk itu melanjutkan, “Sudah dua kali dalam seminggu – anjing ini lupa membawa kunci pintu depan ! benar-benar bodoh ! dasar anjing tolol !”.

…Orang kadang kala tidak pernah puas dengan apa yang ia dapatkan. Seperti halnya dalam perusahaan, sering kita lihat, bahwa pimpinan sering tidak tau bagaimana cara menghargai pegawai-pegawainya – yang telah dengan setia melayani dan ‘mencarikan uang’ baginya. Saya sendiri sering sekali melihat, bagaimana banyak perusahaan kehilangan orang-orang terbaiknya – karena sang pemimpin gagal memberikan penghargaan yang pantas bagi para pegawainya.

Pegawai seringkali harus pasrah menerima kenyataan, bahwa bagaimanapun pimpinan tetap memiliki kekuatan dan otoritas yang ‘tak terlawan’. Si pimpinan sendiri pun terus berusaha menonjolkan superioritasnya – lewat cara mereka memberikan perintah dan ‘teladan’ – seolah-olah ‘aku’ adalah ‘luar biasa’ dan ‘segalanya’.

Kalo boleh dibilang, mereka ini adalah orang-orang tolol. Dan semua orangpun tahu akan hal ini (kecuali mereka sendiri). Mereka tidak akan pernah puas, sekalipun orang-orang telah memberikan pelayanan terbaiknya.

Orang orang seperti ini tidak akan pernah mau menerima opini dan ide dari orang-orang dibawahnya. Kenapa ? karena mereka terlalu bangga pada dirinya sendiri.

Kenapa mereka tidak pernah puas ? karena mereka terlalu sibuk menutupi kekurangannya sendiri – dan kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa mereka ‘tidak sempurna’. Padahal, fakta selalu membuktikan bahwa orang yang produktif adalah orang yang lebih berorientasi pada “others-centered” dari pada “self-centered”.

Ada sebuah konsep terindah : pimpinan bukan berarti ‘penekan’, melainkan sebagai ‘pendorong’ . Ia adalah seorang ‘motivator’ bukannya ‘manipulator’. Kebahagiaannya adalah ketika ia dapat melihat bawahannya dapat bekerja penuh semangat, tanpa terpaksa, tanpa harus diawasi, dan tanpa diancam.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Saturday, September 15, 2012

Tanaman Sebenarnya Memiliki Perasaan


telah menunjukkan, tanaman benar-benar memiliki perasaan. "Tanaman adalah makhluk hidup yang dapat bernapas dan berkomunikasi." Fakta bahwa 'tanaman memiliki perasaan' telah dicatat berulangkali dalam buku-buku pada jaman Tiongkok kuno.

Berikut merupakan salah satu catatan yang terjadi selama Dinasti Tang, Biksu Su dari Kuil Xing-Shan memiliki beberapa pohon kemiri yang dia tanam beberapa puluh tahun sebelumnya.

Pada musim panas getah kemiri tersebut menetes dari pohonnya. Apabila getah kemiri itu mengenai pakaian anda, persis seperti oli motor dan tidak dapat dicuci. Biasanya banyak pejabat dari lingkungan kerajaan datang ke kuil itu selama musim panas.

Suatu hari pejabat tinggi dari negeri Zhao, datang ke kuil itu menikmati musim panas, namun mereka sangat membenci pohon kemiri karena getahnya yang selalu menetes. Mereka berkata kepada Biksu Su, "Tolong tebang semua pohon-pohon kemiri itu dan kami akan menggantinya dengan pohon pinus untuk setiap pohon."

Pada suatu malam, Biksu Su secara berkelakar berkata kepada pohon-pohon tersebut, "Aku telah menanam kamu puluhan tahun yang lalu, namun orang-orang tidak menyukai getahmu. Tahun depan, jika getahmu menetes lagi, aku akan menebangmu untuk kayu bakar," Sejak saat itu, getah pohon kemiri tersebut tidak menetes lagi. source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Tuesday, September 11, 2012

Kisah Misteri Kotak Hitam Bu Beri


Poka dan Beka adalah dua ekor bebek yang masih muda. Umur keduanya sepantaran dengan manusia yang sedang dalam masa ABG. Si Poka sendiri umurnya sedikit lebih tua dibanding Beka, selisih 3 bulan.

Meskipun masih muda, kedua bebek tua (kalau manusia kan orang tua, berarti kalau bebek ya bebek tua, hehehe) mereka sudah meminta Poka dan Beka untuk hidup sendiri. Bukan apa-apa. Dibanding kelima saudara mereka yang lain, Poka dan Beka ternyata memiliki sifat yang kurang baik, yaitu suka curiga dan sinis terhadap binatang yang lain. Agar keduanya bisa sadar dan berubah, bebek tua mereka menyuruh Poka dan Beka untuk mendirikan rumah sendiri dan hidup mandiri.

Pinggir sungai adalah tempat yang dipilih oleh Poka dan Beka. Selain nyaman, juga dekat dengan sumber makanan dan air. Kebetulan, tempat yang mereka berseberangan dengan rumah kayu milik Bu Beri Berang-berang.

Suatu hari, dari balik jendela, Beka melihat Soni Semut membawa sebuah kotak ke rumah Bu Beri.

Kotaknya besar. Cukup untuk memasukkan Horas ke dalamnya. Sedang bagian luarnya terbungkus oleh kain berwarna hitam.

‘Hei Poka, coba lihat itu”, panggil Beka.

Poka yang sedang menggunting kukunya berhenti dan melangkah menuju jendela.

“Apaan sih?”

“Itu”, tunjuk Beka dari balik korden, “kotak hitam itu. Kira-kira apa ya isinya?”

“Wah, gede banget”, ujar Poka, terkejut. “Jangan-jangan isinya sampah tuh!”

“Kok sampah?”. Beka kebingungan.

“Coba ingat, si Soni itu kan tinggalnya dekat pembuangan sampah hutan ini.”, Poka menjelaskan teorinya dengan serius. Tangannya ia letakkan ke belakang, persis seperti seorang profesor yang sedang berpikir. Lanjutnya, “Pasti itu isinya sampah-sampah yang sudah busuk, trus ia kumpulkan dan masukkan ke dalam kotak agar tidak bau.”

Di seberang tampak Soni sedang meletakkan kotak tersebut di ruang tamu Bu Beri.

“Hmmm, bisa jadi”, Beka mengangguk-anggukkan paruhnya. “Dan jangan-jangan, Bu Beri itu punya hobi ngumpulin sampah. Dia kan tinggal sendirian sekarang, siapa tahu karena nganggur jadinya punya hobi aneh.”

“Ih, jorok juga ya”, Poka menjawab dengan raut muka jijik.

Dari luar terdengar suara pintu rumah Bu Beri ditutup. Tampaknya Soni Semut sudah pulang, meninggalkan kotak hitam tersebut di rumah Bu Beri.

***

Tiga hari sudah berlalu sejak kotak hitam itu datang. Setiap hari, Poka dan Beka mengamatinya secara diam-diam dari seberang sungai. Meskipun tidak begitu jelas karena terhalang korden rumah bu Beri, tampak bahwa bu Beri sibuk sekali dengan isi kotak hitam tersebut.

Sesekali Soni mampir dan mereka berdua terlihat antusias sekali mendiskusikan sesuatu.

Selama tiga hari itu pula, Poka dan Beka tak henti-hentinya menduga-duga dan berasumsi mengenai “sampah” yang ada di dalam kotak hitam tersebut. Prediksi mereka yang terbaru, Bu Beri dan Soni sedang berkonspirasi untuk mengumpulkan sampah-sampah terbusuk dari seluruh penjuru hutan, dan sedikit demi sedikit mengubah hutan mereka menjadi hutan sampah!

***

Keesokan harinya, dengan diantar oleh Kaka Kancil, Bu Beri menyeberangi sungai dan menuju ke rumah Poka dan Beka. Poka, yang sedang asik berjemur di atap rumah, kaget melihat kedatangan mereka berdua. Buru-buru ia menyusup masuk ke dalam rumah, menutup dan mengunci pintu dan jendela, serta menyuruh Beka untuk bersembunyi.

“Aku tidak menyangka kalau Kaka sekarang ikut bersekongkol dengan Bu Beri. Mereka ke sini pasti ingin mengajak kita untuk bergabung dengan organisasi menjijikkan mereka itu. Ih, amit-amit deh.”, bisik Poka pada Beka dari balik kulkas, tempat keduanya bersembunyi.

Beka mengangguk, tanda setuju.

Tok. Tok. Tok.

Poka dan Beka menahan nafas mendengar suara pintu diketok.

Tok. Tok. Tok.

Tok. Tok. Tok.

Tok. Tok. Tok.

Kaki Beka mulai kesemutan.

Tok. Tok. Tok.

“Hmmm, sepertinya mereka sedang tidak ada di rumah”, samar-samar terdengar perkataan Kaka kepada bu Beri.

“Iya, kalau begitu sebaiknya kita kembali saja.”, jawab bu Beri.

Sejurus kemudian terdengar suara langkah-langkah kaki menjauh.

“Phew”, ujar Beka sambil melemaskan kaki-kakinya. “Akhirnya mereka pergi juga. Hampir saja kita terjerumus ke dalam kelompok sampah itu.”

Poka mengintip dari balik jendela, menatap perahu yang dinaiki Kaka dan Bu Beri menjauh.

“Iya, untung saja tadi mereka tidak melihatku di atap.”, ujarnya, lega. “Tidur siang saja yuk, malas aku memikirkan sampah-sampah itu”.

“Yukkkk”.

***

Beberapa jam kemudian Beka terbangun. Terdengar suara ramai dari seberang sungai. Ia meloncat dari tempat tidur dan menuju ke jendela.

Tampak rumah Bu Beri terang benderang. Ramai. Binatang-binatang hutan sedang berkumpul di sana. Mereka asik mengobrol, tertawa, dan menyanyi. Di sisi kanan, bu Tutul Macan dan kak Boni Ulat sibuk menyiapkan makanan yang harumnya terasa sampai ke hidung Beka. Di sisi kiri, Kuri Kura bernyanyi dengan lantang sambil diiringi petikan gitar Kaka Kancil.

Beka sejenak bengong.

18 detik kemudian ia tersadar, dan bergegas membangunkan Poka.

“Poka, Poka, cepat bangun”.

“Apa sih”, jawab Poka sambil cemberut.

“Itu lihat, di rumah Bu Beri”

Mendengar kata kunci ‘Bu Beri’, Poka langsung loncat dari tempat tidurnya dan berlari ke arah jendela.

“Hah, ada apa itu???”, giliran Poka yang bengong.

Di seberang, Bu Beri keluar dari dalam rumahnya sambil membawa kotak besar hitam.

“Ayo semuanya kumpul sini”, teriaknya lantang sambil tersenyum.

Setelah semua binatang berkumpul mengelilingi bu Beri dan kotak hitamnya, Soni Semut tiba-tiba muncul dari balik kotak dan berkata, “Teman-teman, berhubung sekarang adalah hari ulang tahunku dan Bu Beri, yang kebetulan tanggalnya sama, maka kita berdua memutuskan untuk memberikan kado kepada seluruh penghuni hutan!!!”

Seluruh binatang bersorak dan bertepuk tangan. Saking semangatnya bertepuk tangan, Kuri Kura bahkan sampai terjengkang ke belakang.

“Dan terimalah kado dari kami berdua”, ujar Bu Beri Berang dan Soni Semut sembari menggulingkan kotak hitam tersebut.

Poka dan Beka tercekat. Tidak sadar, keduanya berpengangan tangan dan bergumam, “Pasti sampah… pasti sampah.. pasti sampah…”

Kotak terguling. Tutupnya terlepas dan menggelinding, diiringi dengan tumpahnya puluhan bahkan ratusan mainan yang sudah dibungkus kado manis dari dalam kotak.

“Horeeeee!!!!”, sorak penghuni hutan.

Sekali lagi, Poka dan Beka bengong.

***

Malam itu Poka dan Beka terdiam. Sejak melihat mainan-mainan yang ada di dalam kotak hitam bu Beri, mereka tidak bercakap-cakap apapun. Masing-masing sibuk dengan penyesalannya.

Tok. Tok. Tok.

Tiba-tiba terdengar suara ketokan di pintu.

Beka dan Poka berpandangan. Bingung.

“Anak-anak, kalian ada di rumah?”, terdengar suara Bu Beri dari balik pintu.

Kedua bebek kecil itu tersenyum dan langsung berlomba membukakan pintu bagi Bu Beri.

Renungan:
"Bukanlah sebuah tindakan bijaksana untuk mengambil keputusan tanpa mengetahui secara jelas duduk persoalannya."
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Monday, September 10, 2012

Kuda Berkacamata Hitam


Kaku adalah kuda yang paling gagah di hutan. Tidak hanya gagah, ia pun kuat dan dapat berlari dengan cepat. Saking hebatnya, warga hutan yang lain memberikan gelar “Kuda Perkasa” padanya. Disingkat “kuper”, hehehe.

Sayangnya, perilaku Kaku tidak sehebat kemampuannya. Karena merasa dirinya yang paling jago, ia menjadi sombong dan sering menganggap remeh orang binatang lain. Tabiat buruknya yang lain adalah selalu ingin dipuja. Itu sebabnya ia iri 1/2 mati terhadap Horas.

Ya, Horas adalah kuda gemuk yang cenderung pendiam. Walaupun begitu, penghuni hutan lainnya senang kepadanya karena ia suka menolong dan ramah. Berbeda 180 derajat dengan Kaku.

Suatu hari Kaku pun mendatangi Horas yang sedang makan rumput di pinggir sungai.

“Hei Horas, ayo kita berlomba mengelilingi bukit timur itu”, tantang Kaku tanpa berbasa-basi. “Aku ingin tahu, siapa diantara kita yang paling hebat”.

Horas menoleh dengan santai ke arah Kaku.

“Buat apa ah”, jawabnya, “Kan sudah jelas, kamulah kuda paling hebat di hutan ini. Aku jelas gak mungkin menang melawanmu.”

“Tidak peduli!”, tukas Kaku. Kasar. “Pokoknya aku ingin kita bertanding. Kalau tidak, aku akan hancurkan rumah kayu milik Bu Beri Berang-berang yang kamu buat untuknya bulan lalu.”

Horas tertegun. Ingatannya melayang ke Bu Beri. Badannya yang sudah tua. Bulu-bulunya yang mulai memutih. Tongkat penyangga jalannya.

“Baiklah”, ujarnya sambil mengangguk lirih. “Kapan kita bertanding?”

Kaku menjawab sambil tersenyum sinis, “Besok sore.”

Malamnya Kaku mulai membayangkan dirinya yang tengah berlari di bukit timur dengan gagah. Bulunya yang hitam berkilauan terkena cahaya matahari sunset. Kakinya yang kokoh menapak mantap di atas tanah bukit timur yang berbatuan menimbulkan suara yang keras.

Ketepok. Ketepok. Ketepok.

Mendadak ia terkikik. Ia membayangkan Horas yang gemuk berlari dengan terengah-engah menaiki bukit dan akhirnya tersungkur kecapekan.

“Kemenangan sudah jelas ada di tanganku.”, batin Kaku. “Apabila aku menang, penduduk hutan akan makin menyadari bahwa aku lah kuda terhebat di sini. Popularitasku pasti akan jauh melebihi Horas. Sekarang aku harus cari cara agar aku tampak keren di hadapan mereka saat masuk ke garis finish.”

Ia berpikir. Tiba-tiba ia teringat pada majalah mingguan “Kueren” yang ia beli minggu lalu. Kaku pun mengambil majalah tersebut dari laci lemarinya dan mulai membuka lembar demi lembar. Sampai akhirnya…

“Ini dia!!!”, teriak Kaku sambil menunjukkan jarinya tangannya ke sebuah iklan tentang kacamata hitam. “Dengan ini aku pasti akan tambah cool di depan warga hutan”.

Keesokan harinya, Kaku menyempatkan diri untuk pergi ke mall dan membeli kacamata hitam yang paling mentereng. Setelah bersiap dengan menggunakan tapal kudanya yang berbalut emas, ia pun bergegas menuju ke bukit timur, tempat ia akan bertanding dengan Horas.

Sesampainya di sana, tampak Horas sedang berbincang riang dengan teman-temannya. Ada Kuri si Kura-Kura, Nur si burung Nuri, dan bu Beri Berang-Berang. Warga hutan lainnya pun berjejer di sepanjang jalur, bersiap untuk menyaksikan lomba antara Horas dan Kaku.

“Ayo segera kita mulai”, kata Kaku sembari memakai kacamata hitamnya yang baru.

Horas memandang Kaku dengan wajah aneh. Perhatiannya tertuju pada kacamata hitam Kaku dan label harganya yang entah sengaja atau tidak, lupa dicopotnya.

Namun Horas tidak berkata apa-apa. Sebaliknya, ia meminta Nur untuk membantu memasangkan kacamata kudanya yang sudah agak butut.

Kedua kuda itu pun bersiap di garis Start. Pak Hori Harimau yang bertugas sebagai penjaga garis melambai-lambaikan bendera putih di depan mereka. Dalam hitungan ketiga, ia menurunkan bendera dengan bersemangat sambil berteriak lantang, “Mulai!!!”

Kaku langsung melesat. Julukannya sebagai “Kuda Perkasa” memang bukan main-main. Dalam hitungan detik, ia sudah tidak tampak di balik bukit. Sebaliknya, Horas melaju dengan sambil menjaga kecepatan dan staminanya. Ia sadari bahwa dalam urusan keduanya, ia bukan tandingan Kaku, oleh karena itu ia harus berhati-hati dan tidak boleh gegabah.

Kaku yang jauh memimpin di depan tertawa lebar-lebar sambil terus memacu kecepatannya. Ia sudah tidak kuasa lagi membayangkan kemenangannya. Di hadapannya sudah tampak Bukit Curam, bukit terakhir dari deretan Bukit Timur.

Bukit Curam terkenal sebagai bukit paling berbahaya di daerah itu. Berbatu dan memiliki sudut tanjakan yang sempit. Siapa saja yang tidak berhati-hati pasti akan celaka. Di sisi lain, pemandangan dari atas Bukit Curam cukup indah. Dari sana terlihat jelas pemandangan hutan serta danau Leka yang luas dan banyak ikannya. Warga hutan sering berkumpul di danau tersebut, baik untuk mandi maupun sekedar untuk bersantai dan bersosialisasi.

Beberapa langkah menuruni Bukit Curam, perhatian Kaku terpecah. Di bawah, tampak Kutik, kuda betina yang jadi incarannya sejak masa sekolah dulu, sedang mematut-matut tubuhnya di hamparan air danau yang jernih. Tidak lagi konsentrasi terhadap jalan di depannya, kaki kanan Kaku tanpa sengaja menabrak sebuah batu yang cukup besar.

Kaku oleng. Ia terjungkal dan menggelinding ke sisi kiri bukit sebelum akhirnya mencapai garis finish barunya di sebuah kubangan tepat di samping Kutik yang melongo melihat adegan akrobat gratis.

Byurrrrr.

Sejurus kemudian, Kutik tertawa terbahak-bahak. ROTGLOL. Tanpa mempedulikan Kaku yang kesakitan setelah terguling-guling di bukit berbatu. Tanpa mempedulikan wajah Kaku yang merah padam. Tanpa mempedulikan kacamata hitam Kaku yang patah. Tanpa mempedulikan perasaan Kaku yang bingung antara menahan sakit dengan menahan malu.

Saat ia mencoba untuk berdiri (dengan diiringi tawa Kutik yang masih berkesinambungan), terdengar sorak sorai warga hutan. Rupanya Horas telah tiba di garis finish. Agak terengah-engah, tapi setidaknya ia sampai ke tujuan dengan berlari, bukan dengan menggelinding.

Dari kejauhan, ia menatap Kaku (yang masih mencoba berdiri) dan Kutik (yang masih terus tertawa). Horas juga suka pada Kutik dan ia mungkin akan melakukan kesalahan yang sama seperti Kaku seandainya ia tidak menggunakan kacamata kudanya. Ya, kacamata itulah yang membantunya untuk tetap berkonsentrasi sepanjang lomba.

Horas mengangkat kaki kanannya, ingin berjalan ke arah Kaku. Tapi kawan-kawan dan penghuni hutan lainnya mulai mengerubunginya, sibuk memberinya selamat dan memintanya bercerita tentang perasaannya. Akhirnya Horas pun membatalkan niatnya untuk membantu Kaku.

“Semoga ia baik-baik saja”, gumamnya.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Pilih Ikan Atau Kail?


“Duh, kok kemaraunya gak berhenti-berhenti yah”, keluh Kaka si kancil.

“Iya nih”, jawab Kuri si kura-kura lirih, “kalau begini terus dua tiga hari lagi persediaan makanan kita bakal habis.”

Kaka dan Kuri memang tinggal bersama. Mereka membuat rumah yang cukup nyaman di dalam sebuah gua kecil. Di sekitar gua sejatinya banyak ditumbuhi tanaman-tanaman yang menjadi pengisi perut mereka sehari-hari. Namun sayangnya, sejak beberapa minggu terakhir ini, panas yang berkepanjangan melanda, sehingga sedikit demi sedikit tanaman yang ada mati kekeringan.

“Coba kita bisa memancing seperti pak Beri Beruang”, lanjut Kuri, “pastinya kita tidak perlu pusing seperti ini.”

BRAKKKK!!!!

Kaka tiba-tiba meloncat dari kursinya hingga tidak sengaja menjatuhkan kursi tersebut.

“Aku ada ide!”, teriak Kaka dengan semangat ’45.

“Ada ide ya ada ide”, gerutu Kuri yang sempat jantungan gara-gara ulah Kaka tadi, “tapi jangan bikin aku mati muda dong.”

“Dengar dulu”, potong Kaka sebelum Kuri melanjutkan omelannya. “Bagaimana kalau kita minta ikan ke pak Beri? Kan seringkali dia dapat ikan banyak, yang lebih dari jatah makan perut gendutnya. Pasti bakal diberi deh.”

“Memangnya kita akan minta-minta ikan terus ke dia? Lama-lama juga pasti pak Beri gak akan mau memberi ikan ke kita.”, jawab Kuri sambil membetulkan kursi yang tadi terjatuh. Lanjutnya, “Lebih baik kita minta diajari cara memancing ikan saja.”

“Ah, tahu sendiri kan pak Beri seperti apa sifatnya”, tukas Kaka. “Galak. Bicaranya keras, tapi susah dicerna maksudnya. Mendingan minta langsung aja. Lagipula aku malas kalau harus belajar segala.”

Kaka melangkah mendekati jendela. Matanya berbinar-binar nakal.

“Nanti aku akan cari alasan yang berbeda setiap harinya agar pak Beri mau memberikan ikan kepadaku.”, katanya. “Gimana Kur, setuju tidak?”

Kuri termenung. Di satu sisi, ia membayangkan nikmatnya duduk santai di tepi jalan setapak ke sungai sambil menunggu pak Beri lewat membawa hasil pancingannya. Ia kenal Kaka sejak lama. Kawannya yang cerdas ini pasti dapat menemukan cara untuk membuat satu dua ikan pak Beri berpindah tangan.

Di sisi lain, ia tidak ingin hanya berpangku tangan dan bergantung kepada binatang lain. Ia juga ingin dapat memancing ikan sendiri sehingga tidak kebingungan apabila suatu saat kemarau datang lagi.

“Hei, kok malah melamun”, ujar Kaka sambil mendorong pelan tempurung Kuri.

“Aku tidak ikutan deh”, jawab Kuri.

“Loh kok…”

“Iya, aku ingin coba memancing saja. Pasti terasa lebih lezat kalau ikannya hasil pancinganku sendiri”.

Mata Kaka tercenung. Ia menatap tajam ke arah Kuri. Beberapa detik kemudian ia tertawa terbahak-bahak.

“HAHAHAHAH!!! Kamu bercanda kan? Memangnya kamu mau belajar darimana? Pak Beri? Bisa tambah lapar kalau kamu kelamaan ngobrol dengan dia!”, kata Kaka lantang. “Lagipula”, lanjutnya, “semua binatang di hutan ini kan tahu kalau kamu itu lambat berpikirnya.”

Kuri tersenyum mendengar sindiran Kaka.

“Biar saja”, jawabnya. Pede. “Aku yakin kalau aku berusaha pasti aku akan bisa”.

Begitulah. Keesokan harinya, Kuri mulai mengikuti dan mengamati pak Beri yang sedang memancing. Ia kemudian mencoba untuk membuat tongkat pancingnya sendiri dan menanyakan kepada pak Beri, apakah kailnya sudah benar atau belum. Dengan tekun ia berusaha memahami apa maksud perkataan pak Beri hingga akhirnya ia berhasil membuat tongkat pancing yang kuat dan kokoh.

Si kancil? Sesuai rencananya, Kaka menunggu di ujung jalan hingga pak Beri lewat dan mengiba-iba kepadanya untuk meminta seekor ikan hasil tangkapannya. Dasar cerdik, pak Beri pun tidak kuasa menolak permintaannya.

“Lihat nih,” ujar Kaka pada Kuri sesampainya di rumah, “ikan pemberian pak Beri. Besar bukan? Pasti lezat jika dibumbu rujak dan dimakan dengan sambal mangga. Mana ikanmu?”

Kuri menunjukkan kail buatannya dengan bangga.

“Nih”, katanya sambil tersenyum. “Hari ini aku memang belum bisa membawa ikan, tapi aku sudah bisa membuat tongkat pancingku sendiri.”

“Terserahlah,” tukas Kaka. “Kok mau-maunya sih repot begitu.”

Hari demi hari berlalu. Kuri terus berusaha untuk belajar tehnik memancing ikan dari pak Beri. Mulai dari memilih umpan, mencari tempat yang banyak ikannya, hingga cara menarik ikan agar tidak terlepas dari kaitannya. Kaka pun melalui hari-harinya dengan seribu satu alasan untuk dapat menaklukkan hati pak Beri.

Lama kelamaan, pak Beri pun jenuh. Ia tidak mau lagi memberikan ikannya kepada Kaka meskipun Kaka sudah memohon sambil berguling-guling di tanah. Sebaliknya, Kuri semakin ahli dalam memancing dan sudah dapat menangkap ikan sendiri. Melihat Kaka yang menangis tersedu-sedu karena tidak mendapatkan makanan hari itu, Kuri pun membagikan ikan hasil tangkapannya pada Kaka.

“Tuh kan, benar yang aku bilang”, kata Kuri bijak. “Lebih baik kita berusaha sendiri daripada selalu bergantung kepada orang lain. Meskipun kelihatannya susah, jika terus mencoba, pasti kita akan bisa.”

Kaka mengangguk perlahan. Kali ini dia setuju dengan pendapat Kuri.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com

Friday, September 7, 2012

Anjing Yang Rajin Menyapu


Jika tidak ada suatu hal yang kita lakukan, maka pertanyaan yang sama akan disampaikan kepada kita,” Apakah kerjamu disini kawan?” Jika anda yang mendapat pertanyaan ini, bagaimanakah kira-kira tanggapan anda?

Nah, kapan saja kita sedang malas melakukan sesuatu yang bermanfaat, maka kisah anjing yang rajin menyapu jalan ini pasti dapat menginspirasi kita untuk bersemangat kembali. Moral kisah ini tentu adalah supaya kita bangkit dari kemalasan untuk melakukan suatu aksi nyata.

Seakan-akan tidak mau melewatkan waktu berlalu tanpa melakukan hal yang berarti, seekor anjing berjenis golden retriever memilih untuk menyapu jalanan yang dilaluinya.

Kegemarannya menyapu jalaanan ini menyadarkan sang pemiliknya, yaitu Xu Ming untuk membuatkan sapu kecil yang bisa dibawa kemana-mana oleh anjing ini.Dengan ditemani sang pemiliknya, sang anjing rajin ini berlari zigzag dan mampu menyapu jalanan hingga bersih dari sampah.

Aksi anjing ini menjadi berita yang menghebohkan, apalagi ketika “kerja bakti sapu jalanan” yang dilakukannya di kota Changchun, China diabadikan dengan foto. (sumber: Okezone.com)

Renungan
Jika anjing saja tidak ingin melewatkan hidupnya dengan kegiatan yang tidak berguna, masakan kita membiarkan waktu hidup berlalu tanpa melakukan apa-apa? Mari kita belajar melakukan suatu hal yang berguna, baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama kita.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : ceritabos.blogspot.com